Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Minggu, 04 Mei 2014

Surat Kecil untuk Bapak Rektor

Kepada
Yth. Bapak Rektor UIN Malang
Di
      Tempat


Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh...

Apa kabar, Bapak Rektor? Semoga sehat selalu dan dilindungi oleh Allah. Bapak, perkenalkan nama saya Fadilatus Soliha, mahasiswa  Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Semester IV. Jika saya boleh bertutur,saya sangat bangga memiliki kesempatan bisa menimba ilmu di kamus hijau ini. Begitulah kebanyakan orang memanggilnya. Semoga banyak keteduhan dan kebahagiaan yang tersimpan di kampus hijau ini Pak. Begitulah harapan saya sebagai seorang mahasiswa.

Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, ingatkah bapak dengan tanggal 2 April 2013? tentunya bapak tidak akan melupakannya. Karena di tanggal tersebut Bapak dilantik dan resmi menjadi rektor UIN Malang. Aku bangga padamu Pak. Atas tugas dan amanah yang kini kau emban. Jelas hal itu tidak mudah dan gampang. Bahkan tanggung jawabmu pun lebih besar. Tanggung jawab yang kelak juga harus dipertanggung jawabkan kepadaNYA.



Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, masih terekam dalam memori saya. Dimana bapak pertama kali berdiri di mimbar gedung Sport Center dengan menyanyikan sebuah lagu. Entah apa judulnya saya lupa. Yang jelas kau tampak begitu sederhana. Tak berlebihan dan begitu bersahabat. Kau turuti para mahasiswa yang ingin bersalaman dan berfoto denganmu. Kau terus menebarkan senyum tulus. Itulah kesan pertama saya mengenal Bapak. Bapak begitu sederhana dan berwibawa. Begitulah penilaian saya tentang Bapak.

Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, setelah kurun waktu yang hampir satu Tahun bapak menjabat sebagai Rektor UIN malang. Ada hal yang sedikit menorehkan kecewa. Bapak Rektor yang saya sayangi, bolehkah saya sedikit berbagi kisah. Sedikit mewakili apa yang juga dirasakan oleh sahabat-sahabat saya. Tentang sebuah perasaan dan persahabatan. Bukan masalah jabatan ataupun kekuasaan. Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc, saya hargai dan hormati keputusan Bapak untuk memindah jurusan Pendidikan Bahasa Arab dari Fakultas Humaniora ke Fakultas Tarbiyah. Saya tidak menyalahkan Bapak. Mungkin ini memang yang terbaik menurut Bapak. Saya tidak bisa menolak keputusan itu, meski berat hati menjalaninya. Bukan ingin membangkang. Tapi terlalu banyak kenangan yang terukir indah dan susah untuk di lupakan. Humaniora sudah seperti rumah saya. Dosen, Dekan dan Kajur sudah seperti orang tua saya. Mahasiswa BSA, BSI utamanya PBA sudah seperti keluarga saya.

Pastinya Bapak tahu berbagai kegiatan yang telah gelar di Fakultas Humaniora beberapa bulan yang lalu. Dari kegiatan FJA yang diadakan oleh HMJ BSA, English Fiesta yang diadakan HMJ BSI dan GAZA yang diadakan HMJ PBA. Taukah Bapak, dibalik semua kegiatan itu tersimpan ribuan do'a, perjuangan dan air mata. Kerjasama dan tekad yang tak bisa di nilai biasa-biasa saja. Saat rasa putus asa mulai hadir, pasti ada stimulus dari tetangga HMJ BSA dan BSI. Tak hanya berbagi pengetahuan, namun juga saling mendukung dan menyemangati. Itulah yang membuat Humaniora terasa indah dimata kami. Jelas tak mudah melupakan segala kenangan. Bukan untuk menunjukkan kesedihan. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang kami rasakan Pak. Pastinya Bapak juga pernah bergulat dengan rasa yang kami rasakan.

Bapak, taukah Bapak dibalik seragam hitam putih yang kami kenakan saat UTS tadi pagi ? banyak cerita dibalik semua itu Pak. Dari yang baju pinjaman sampai ada yang harus merogoh uang tabungan untuk membeli seragam tersebut. Sampai pernah saya bertemu salah seorang teman saya di toko baju beberapa hari sebelum UTS. Saya kaget dengan apa yang ia beli. Baju putih dan rok hitam. "Buat ujian" katanya. Saya faham. Namun bagaimana dengan kondisi keuangan yang mepet? mau pinjam sungkan tapi butuh. Mungkin itu sedikit kisah yang ingin saya sampaikan kepada Bapak. Saya hanya menyayangkan saja, kenapa Bapak tidak melakukan sosialisasi dulu sebelum mengambil keputusan. Kenapa tidak berembuk dengan kami. Setidaknya memberi kami pengertian. Sehingga tidak hanya kata "Katanya,,, Katanya si itu dan katanya si ini" saja yang berkembang.

Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, tentunya Bapak pernah menjalin hubungan persahabatan. Beratkan jika harus meninggalkan?. Tak perlu banyak penjelasan, saya kira Bapak lebih berpengalaman. Bukankah bersahabat itu indahh Pak. Dan karena keindahan itulah, maka berat jika harus di tinggalkan.

Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya cintai, saya sering membayangkan memiliki seorang Rektor yang dekat dengan mahasiswanya. Yang mau ngobrol di perpustakaan. Yang sering terjun ke kelas-kelas. Yang tidak malu berjalan ke Fakultas. Yang mau turun ke tempat umum. Dan yang paling terpenting adalah lebih bersahabat dengan mahasiswanya. Selama ini yang saya lihat dimana-mana seorang Rektor selalu memimpin di atas meja-meja Rektorat, berbicara di depan mimbar, dan berdiri di atas podium untuk berkoar-koar, hanya untuk mengokohkan wibawa jabatan, tanpa menengok apa saja yang sudah dihasilkan. Bapak, saya tahu menjadi pemimpin itu memang tidak mudah. Banyak hal yang mesti dikorbankan dan begitu banyak hal harus dipikirkan. Tapi inilah bayangan saya.

Mungkin cukup ini kisah persahabatan yang saya torehkan dalam rangkaian kalimat yang mungkin tak pantas saya ucapkan. Saya mohon ma'af jika apa yang saya katakan mencipta luka di hati Bapak. Saya ucapkan terimakasih banyak atas segala pengabdian dan pengorbanan Bapak untuk UIN Malang.




Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Salam hormat,


Fadilatus soliha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minggu, 04 Mei 2014

Surat Kecil untuk Bapak Rektor

Kepada
Yth. Bapak Rektor UIN Malang
Di
      Tempat


Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh...

Apa kabar, Bapak Rektor? Semoga sehat selalu dan dilindungi oleh Allah. Bapak, perkenalkan nama saya Fadilatus Soliha, mahasiswa  Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Semester IV. Jika saya boleh bertutur,saya sangat bangga memiliki kesempatan bisa menimba ilmu di kamus hijau ini. Begitulah kebanyakan orang memanggilnya. Semoga banyak keteduhan dan kebahagiaan yang tersimpan di kampus hijau ini Pak. Begitulah harapan saya sebagai seorang mahasiswa.

Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, ingatkah bapak dengan tanggal 2 April 2013? tentunya bapak tidak akan melupakannya. Karena di tanggal tersebut Bapak dilantik dan resmi menjadi rektor UIN Malang. Aku bangga padamu Pak. Atas tugas dan amanah yang kini kau emban. Jelas hal itu tidak mudah dan gampang. Bahkan tanggung jawabmu pun lebih besar. Tanggung jawab yang kelak juga harus dipertanggung jawabkan kepadaNYA.



Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, masih terekam dalam memori saya. Dimana bapak pertama kali berdiri di mimbar gedung Sport Center dengan menyanyikan sebuah lagu. Entah apa judulnya saya lupa. Yang jelas kau tampak begitu sederhana. Tak berlebihan dan begitu bersahabat. Kau turuti para mahasiswa yang ingin bersalaman dan berfoto denganmu. Kau terus menebarkan senyum tulus. Itulah kesan pertama saya mengenal Bapak. Bapak begitu sederhana dan berwibawa. Begitulah penilaian saya tentang Bapak.

Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, setelah kurun waktu yang hampir satu Tahun bapak menjabat sebagai Rektor UIN malang. Ada hal yang sedikit menorehkan kecewa. Bapak Rektor yang saya sayangi, bolehkah saya sedikit berbagi kisah. Sedikit mewakili apa yang juga dirasakan oleh sahabat-sahabat saya. Tentang sebuah perasaan dan persahabatan. Bukan masalah jabatan ataupun kekuasaan. Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc, saya hargai dan hormati keputusan Bapak untuk memindah jurusan Pendidikan Bahasa Arab dari Fakultas Humaniora ke Fakultas Tarbiyah. Saya tidak menyalahkan Bapak. Mungkin ini memang yang terbaik menurut Bapak. Saya tidak bisa menolak keputusan itu, meski berat hati menjalaninya. Bukan ingin membangkang. Tapi terlalu banyak kenangan yang terukir indah dan susah untuk di lupakan. Humaniora sudah seperti rumah saya. Dosen, Dekan dan Kajur sudah seperti orang tua saya. Mahasiswa BSA, BSI utamanya PBA sudah seperti keluarga saya.

Pastinya Bapak tahu berbagai kegiatan yang telah gelar di Fakultas Humaniora beberapa bulan yang lalu. Dari kegiatan FJA yang diadakan oleh HMJ BSA, English Fiesta yang diadakan HMJ BSI dan GAZA yang diadakan HMJ PBA. Taukah Bapak, dibalik semua kegiatan itu tersimpan ribuan do'a, perjuangan dan air mata. Kerjasama dan tekad yang tak bisa di nilai biasa-biasa saja. Saat rasa putus asa mulai hadir, pasti ada stimulus dari tetangga HMJ BSA dan BSI. Tak hanya berbagi pengetahuan, namun juga saling mendukung dan menyemangati. Itulah yang membuat Humaniora terasa indah dimata kami. Jelas tak mudah melupakan segala kenangan. Bukan untuk menunjukkan kesedihan. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang kami rasakan Pak. Pastinya Bapak juga pernah bergulat dengan rasa yang kami rasakan.

Bapak, taukah Bapak dibalik seragam hitam putih yang kami kenakan saat UTS tadi pagi ? banyak cerita dibalik semua itu Pak. Dari yang baju pinjaman sampai ada yang harus merogoh uang tabungan untuk membeli seragam tersebut. Sampai pernah saya bertemu salah seorang teman saya di toko baju beberapa hari sebelum UTS. Saya kaget dengan apa yang ia beli. Baju putih dan rok hitam. "Buat ujian" katanya. Saya faham. Namun bagaimana dengan kondisi keuangan yang mepet? mau pinjam sungkan tapi butuh. Mungkin itu sedikit kisah yang ingin saya sampaikan kepada Bapak. Saya hanya menyayangkan saja, kenapa Bapak tidak melakukan sosialisasi dulu sebelum mengambil keputusan. Kenapa tidak berembuk dengan kami. Setidaknya memberi kami pengertian. Sehingga tidak hanya kata "Katanya,,, Katanya si itu dan katanya si ini" saja yang berkembang.

Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, tentunya Bapak pernah menjalin hubungan persahabatan. Beratkan jika harus meninggalkan?. Tak perlu banyak penjelasan, saya kira Bapak lebih berpengalaman. Bukankah bersahabat itu indahh Pak. Dan karena keindahan itulah, maka berat jika harus di tinggalkan.

Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya cintai, saya sering membayangkan memiliki seorang Rektor yang dekat dengan mahasiswanya. Yang mau ngobrol di perpustakaan. Yang sering terjun ke kelas-kelas. Yang tidak malu berjalan ke Fakultas. Yang mau turun ke tempat umum. Dan yang paling terpenting adalah lebih bersahabat dengan mahasiswanya. Selama ini yang saya lihat dimana-mana seorang Rektor selalu memimpin di atas meja-meja Rektorat, berbicara di depan mimbar, dan berdiri di atas podium untuk berkoar-koar, hanya untuk mengokohkan wibawa jabatan, tanpa menengok apa saja yang sudah dihasilkan. Bapak, saya tahu menjadi pemimpin itu memang tidak mudah. Banyak hal yang mesti dikorbankan dan begitu banyak hal harus dipikirkan. Tapi inilah bayangan saya.

Mungkin cukup ini kisah persahabatan yang saya torehkan dalam rangkaian kalimat yang mungkin tak pantas saya ucapkan. Saya mohon ma'af jika apa yang saya katakan mencipta luka di hati Bapak. Saya ucapkan terimakasih banyak atas segala pengabdian dan pengorbanan Bapak untuk UIN Malang.




Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Salam hormat,


Fadilatus soliha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar