Kepada
Yth. Bapak Rektor UIN Malang
Di
Tempat
Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh...
Apa
kabar, Bapak Rektor? Semoga sehat selalu dan dilindungi oleh Allah.
Bapak, perkenalkan nama saya Fadilatus Soliha, mahasiswa Jurusan
Pendidikan Bahasa Arab Semester IV. Jika saya boleh bertutur,saya sangat
bangga memiliki kesempatan bisa menimba ilmu di kamus hijau ini.
Begitulah kebanyakan orang memanggilnya. Semoga banyak keteduhan dan
kebahagiaan yang tersimpan di kampus hijau ini Pak. Begitulah harapan
saya sebagai seorang mahasiswa.
Bapak Prof. Dr. H.
Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, ingatkah bapak dengan tanggal 2
April 2013? tentunya bapak tidak akan melupakannya. Karena di tanggal
tersebut Bapak dilantik dan resmi menjadi rektor UIN Malang. Aku bangga
padamu Pak. Atas tugas dan amanah yang kini kau emban. Jelas hal itu
tidak mudah dan gampang. Bahkan tanggung jawabmu pun lebih besar.
Tanggung jawab yang kelak juga harus dipertanggung jawabkan kepadaNYA.
Bapak
Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, masih terekam dalam
memori saya. Dimana bapak pertama kali berdiri di mimbar gedung Sport
Center dengan menyanyikan sebuah lagu. Entah apa judulnya saya lupa.
Yang jelas kau tampak begitu sederhana. Tak berlebihan dan begitu
bersahabat. Kau turuti para mahasiswa yang ingin bersalaman dan berfoto
denganmu. Kau terus menebarkan senyum tulus. Itulah kesan pertama saya
mengenal Bapak. Bapak begitu sederhana dan berwibawa. Begitulah
penilaian saya tentang Bapak.
Bapak Prof. Dr. H. Mudjia
Rahardjo MSc yang saya hormati, setelah kurun waktu yang hampir satu
Tahun bapak menjabat sebagai Rektor UIN malang. Ada hal yang sedikit
menorehkan kecewa. Bapak Rektor yang saya sayangi, bolehkah saya sedikit
berbagi kisah. Sedikit mewakili apa yang juga dirasakan oleh
sahabat-sahabat saya. Tentang sebuah perasaan dan persahabatan. Bukan
masalah jabatan ataupun kekuasaan. Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo
MSc, saya hargai dan hormati keputusan Bapak untuk memindah jurusan
Pendidikan Bahasa Arab dari Fakultas Humaniora ke Fakultas Tarbiyah.
Saya tidak menyalahkan Bapak. Mungkin ini memang yang terbaik menurut
Bapak. Saya tidak bisa menolak keputusan itu, meski berat hati
menjalaninya. Bukan ingin membangkang. Tapi terlalu banyak kenangan yang
terukir indah dan susah untuk di lupakan. Humaniora sudah seperti rumah
saya. Dosen, Dekan dan Kajur sudah seperti orang tua saya. Mahasiswa
BSA, BSI utamanya PBA sudah seperti keluarga saya.
Pastinya
Bapak tahu berbagai kegiatan yang telah gelar di Fakultas Humaniora
beberapa bulan yang lalu. Dari kegiatan FJA yang diadakan oleh HMJ BSA,
English Fiesta yang diadakan HMJ BSI dan GAZA yang diadakan HMJ PBA.
Taukah Bapak, dibalik semua kegiatan itu tersimpan ribuan do'a,
perjuangan dan air mata. Kerjasama dan tekad yang tak bisa di nilai
biasa-biasa saja. Saat rasa putus asa mulai hadir, pasti ada stimulus
dari tetangga HMJ BSA dan BSI. Tak hanya berbagi pengetahuan, namun juga
saling mendukung dan menyemangati. Itulah yang membuat Humaniora terasa
indah dimata kami. Jelas tak mudah melupakan segala kenangan. Bukan
untuk menunjukkan kesedihan. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang kami
rasakan Pak. Pastinya Bapak juga pernah bergulat dengan rasa yang kami
rasakan.
Bapak, taukah Bapak dibalik seragam hitam
putih yang kami kenakan saat UTS tadi pagi ? banyak cerita dibalik semua
itu Pak. Dari yang baju pinjaman sampai ada yang harus merogoh uang
tabungan untuk membeli seragam tersebut. Sampai pernah saya bertemu
salah seorang teman saya di toko baju beberapa hari sebelum UTS. Saya
kaget dengan apa yang ia beli. Baju putih dan rok hitam. "Buat ujian"
katanya. Saya faham. Namun bagaimana dengan kondisi keuangan yang mepet?
mau pinjam sungkan tapi butuh. Mungkin itu sedikit kisah yang ingin
saya sampaikan kepada Bapak. Saya hanya menyayangkan saja, kenapa Bapak
tidak melakukan sosialisasi dulu sebelum mengambil keputusan. Kenapa
tidak berembuk dengan kami. Setidaknya memberi kami pengertian. Sehingga
tidak hanya kata "Katanya,,, Katanya si itu dan katanya si ini" saja
yang berkembang.
Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc
yang saya hormati, tentunya Bapak pernah menjalin hubungan
persahabatan. Beratkan jika harus meninggalkan?. Tak perlu banyak
penjelasan, saya kira Bapak lebih berpengalaman. Bukankah bersahabat itu
indahh Pak. Dan karena keindahan itulah, maka berat jika harus di
tinggalkan.
Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang
saya cintai, saya sering membayangkan memiliki seorang Rektor yang
dekat dengan mahasiswanya. Yang mau ngobrol di perpustakaan.
Yang sering terjun ke kelas-kelas. Yang tidak malu berjalan ke
Fakultas. Yang mau turun ke tempat umum. Dan yang paling terpenting
adalah lebih bersahabat dengan mahasiswanya. Selama ini yang saya lihat
dimana-mana seorang Rektor selalu memimpin di atas meja-meja Rektorat,
berbicara di depan mimbar, dan berdiri di atas podium untuk
berkoar-koar, hanya untuk mengokohkan wibawa jabatan, tanpa menengok apa
saja yang sudah dihasilkan. Bapak, saya tahu menjadi pemimpin itu
memang tidak mudah. Banyak hal yang mesti dikorbankan dan begitu banyak
hal harus dipikirkan. Tapi inilah bayangan saya.
Mungkin
cukup ini kisah persahabatan yang saya torehkan dalam rangkaian kalimat
yang mungkin tak pantas saya ucapkan. Saya mohon ma'af jika apa yang
saya katakan mencipta luka di hati Bapak. Saya ucapkan terimakasih
banyak atas segala pengabdian dan pengorbanan Bapak untuk UIN Malang.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Salam hormat,
Fadilatus soliha
Minggu, 04 Mei 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Minggu, 04 Mei 2014
Surat Kecil untuk Bapak Rektor
Kepada
Yth. Bapak Rektor UIN Malang
Di
Tempat
Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh...
Apa kabar, Bapak Rektor? Semoga sehat selalu dan dilindungi oleh Allah. Bapak, perkenalkan nama saya Fadilatus Soliha, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Semester IV. Jika saya boleh bertutur,saya sangat bangga memiliki kesempatan bisa menimba ilmu di kamus hijau ini. Begitulah kebanyakan orang memanggilnya. Semoga banyak keteduhan dan kebahagiaan yang tersimpan di kampus hijau ini Pak. Begitulah harapan saya sebagai seorang mahasiswa.
Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, ingatkah bapak dengan tanggal 2 April 2013? tentunya bapak tidak akan melupakannya. Karena di tanggal tersebut Bapak dilantik dan resmi menjadi rektor UIN Malang. Aku bangga padamu Pak. Atas tugas dan amanah yang kini kau emban. Jelas hal itu tidak mudah dan gampang. Bahkan tanggung jawabmu pun lebih besar. Tanggung jawab yang kelak juga harus dipertanggung jawabkan kepadaNYA.
Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, masih terekam dalam memori saya. Dimana bapak pertama kali berdiri di mimbar gedung Sport Center dengan menyanyikan sebuah lagu. Entah apa judulnya saya lupa. Yang jelas kau tampak begitu sederhana. Tak berlebihan dan begitu bersahabat. Kau turuti para mahasiswa yang ingin bersalaman dan berfoto denganmu. Kau terus menebarkan senyum tulus. Itulah kesan pertama saya mengenal Bapak. Bapak begitu sederhana dan berwibawa. Begitulah penilaian saya tentang Bapak.
Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, setelah kurun waktu yang hampir satu Tahun bapak menjabat sebagai Rektor UIN malang. Ada hal yang sedikit menorehkan kecewa. Bapak Rektor yang saya sayangi, bolehkah saya sedikit berbagi kisah. Sedikit mewakili apa yang juga dirasakan oleh sahabat-sahabat saya. Tentang sebuah perasaan dan persahabatan. Bukan masalah jabatan ataupun kekuasaan. Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc, saya hargai dan hormati keputusan Bapak untuk memindah jurusan Pendidikan Bahasa Arab dari Fakultas Humaniora ke Fakultas Tarbiyah. Saya tidak menyalahkan Bapak. Mungkin ini memang yang terbaik menurut Bapak. Saya tidak bisa menolak keputusan itu, meski berat hati menjalaninya. Bukan ingin membangkang. Tapi terlalu banyak kenangan yang terukir indah dan susah untuk di lupakan. Humaniora sudah seperti rumah saya. Dosen, Dekan dan Kajur sudah seperti orang tua saya. Mahasiswa BSA, BSI utamanya PBA sudah seperti keluarga saya.
Pastinya Bapak tahu berbagai kegiatan yang telah gelar di Fakultas Humaniora beberapa bulan yang lalu. Dari kegiatan FJA yang diadakan oleh HMJ BSA, English Fiesta yang diadakan HMJ BSI dan GAZA yang diadakan HMJ PBA. Taukah Bapak, dibalik semua kegiatan itu tersimpan ribuan do'a, perjuangan dan air mata. Kerjasama dan tekad yang tak bisa di nilai biasa-biasa saja. Saat rasa putus asa mulai hadir, pasti ada stimulus dari tetangga HMJ BSA dan BSI. Tak hanya berbagi pengetahuan, namun juga saling mendukung dan menyemangati. Itulah yang membuat Humaniora terasa indah dimata kami. Jelas tak mudah melupakan segala kenangan. Bukan untuk menunjukkan kesedihan. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang kami rasakan Pak. Pastinya Bapak juga pernah bergulat dengan rasa yang kami rasakan.
Bapak, taukah Bapak dibalik seragam hitam putih yang kami kenakan saat UTS tadi pagi ? banyak cerita dibalik semua itu Pak. Dari yang baju pinjaman sampai ada yang harus merogoh uang tabungan untuk membeli seragam tersebut. Sampai pernah saya bertemu salah seorang teman saya di toko baju beberapa hari sebelum UTS. Saya kaget dengan apa yang ia beli. Baju putih dan rok hitam. "Buat ujian" katanya. Saya faham. Namun bagaimana dengan kondisi keuangan yang mepet? mau pinjam sungkan tapi butuh. Mungkin itu sedikit kisah yang ingin saya sampaikan kepada Bapak. Saya hanya menyayangkan saja, kenapa Bapak tidak melakukan sosialisasi dulu sebelum mengambil keputusan. Kenapa tidak berembuk dengan kami. Setidaknya memberi kami pengertian. Sehingga tidak hanya kata "Katanya,,, Katanya si itu dan katanya si ini" saja yang berkembang.
Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, tentunya Bapak pernah menjalin hubungan persahabatan. Beratkan jika harus meninggalkan?. Tak perlu banyak penjelasan, saya kira Bapak lebih berpengalaman. Bukankah bersahabat itu indahh Pak. Dan karena keindahan itulah, maka berat jika harus di tinggalkan.
Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya cintai, saya sering membayangkan memiliki seorang Rektor yang dekat dengan mahasiswanya. Yang mau ngobrol di perpustakaan. Yang sering terjun ke kelas-kelas. Yang tidak malu berjalan ke Fakultas. Yang mau turun ke tempat umum. Dan yang paling terpenting adalah lebih bersahabat dengan mahasiswanya. Selama ini yang saya lihat dimana-mana seorang Rektor selalu memimpin di atas meja-meja Rektorat, berbicara di depan mimbar, dan berdiri di atas podium untuk berkoar-koar, hanya untuk mengokohkan wibawa jabatan, tanpa menengok apa saja yang sudah dihasilkan. Bapak, saya tahu menjadi pemimpin itu memang tidak mudah. Banyak hal yang mesti dikorbankan dan begitu banyak hal harus dipikirkan. Tapi inilah bayangan saya.
Mungkin cukup ini kisah persahabatan yang saya torehkan dalam rangkaian kalimat yang mungkin tak pantas saya ucapkan. Saya mohon ma'af jika apa yang saya katakan mencipta luka di hati Bapak. Saya ucapkan terimakasih banyak atas segala pengabdian dan pengorbanan Bapak untuk UIN Malang.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Salam hormat,
Fadilatus soliha
Yth. Bapak Rektor UIN Malang
Di
Tempat
Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh...
Apa kabar, Bapak Rektor? Semoga sehat selalu dan dilindungi oleh Allah. Bapak, perkenalkan nama saya Fadilatus Soliha, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Semester IV. Jika saya boleh bertutur,saya sangat bangga memiliki kesempatan bisa menimba ilmu di kamus hijau ini. Begitulah kebanyakan orang memanggilnya. Semoga banyak keteduhan dan kebahagiaan yang tersimpan di kampus hijau ini Pak. Begitulah harapan saya sebagai seorang mahasiswa.
Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, ingatkah bapak dengan tanggal 2 April 2013? tentunya bapak tidak akan melupakannya. Karena di tanggal tersebut Bapak dilantik dan resmi menjadi rektor UIN Malang. Aku bangga padamu Pak. Atas tugas dan amanah yang kini kau emban. Jelas hal itu tidak mudah dan gampang. Bahkan tanggung jawabmu pun lebih besar. Tanggung jawab yang kelak juga harus dipertanggung jawabkan kepadaNYA.
Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, masih terekam dalam memori saya. Dimana bapak pertama kali berdiri di mimbar gedung Sport Center dengan menyanyikan sebuah lagu. Entah apa judulnya saya lupa. Yang jelas kau tampak begitu sederhana. Tak berlebihan dan begitu bersahabat. Kau turuti para mahasiswa yang ingin bersalaman dan berfoto denganmu. Kau terus menebarkan senyum tulus. Itulah kesan pertama saya mengenal Bapak. Bapak begitu sederhana dan berwibawa. Begitulah penilaian saya tentang Bapak.
Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, setelah kurun waktu yang hampir satu Tahun bapak menjabat sebagai Rektor UIN malang. Ada hal yang sedikit menorehkan kecewa. Bapak Rektor yang saya sayangi, bolehkah saya sedikit berbagi kisah. Sedikit mewakili apa yang juga dirasakan oleh sahabat-sahabat saya. Tentang sebuah perasaan dan persahabatan. Bukan masalah jabatan ataupun kekuasaan. Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc, saya hargai dan hormati keputusan Bapak untuk memindah jurusan Pendidikan Bahasa Arab dari Fakultas Humaniora ke Fakultas Tarbiyah. Saya tidak menyalahkan Bapak. Mungkin ini memang yang terbaik menurut Bapak. Saya tidak bisa menolak keputusan itu, meski berat hati menjalaninya. Bukan ingin membangkang. Tapi terlalu banyak kenangan yang terukir indah dan susah untuk di lupakan. Humaniora sudah seperti rumah saya. Dosen, Dekan dan Kajur sudah seperti orang tua saya. Mahasiswa BSA, BSI utamanya PBA sudah seperti keluarga saya.
Pastinya Bapak tahu berbagai kegiatan yang telah gelar di Fakultas Humaniora beberapa bulan yang lalu. Dari kegiatan FJA yang diadakan oleh HMJ BSA, English Fiesta yang diadakan HMJ BSI dan GAZA yang diadakan HMJ PBA. Taukah Bapak, dibalik semua kegiatan itu tersimpan ribuan do'a, perjuangan dan air mata. Kerjasama dan tekad yang tak bisa di nilai biasa-biasa saja. Saat rasa putus asa mulai hadir, pasti ada stimulus dari tetangga HMJ BSA dan BSI. Tak hanya berbagi pengetahuan, namun juga saling mendukung dan menyemangati. Itulah yang membuat Humaniora terasa indah dimata kami. Jelas tak mudah melupakan segala kenangan. Bukan untuk menunjukkan kesedihan. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang kami rasakan Pak. Pastinya Bapak juga pernah bergulat dengan rasa yang kami rasakan.
Bapak, taukah Bapak dibalik seragam hitam putih yang kami kenakan saat UTS tadi pagi ? banyak cerita dibalik semua itu Pak. Dari yang baju pinjaman sampai ada yang harus merogoh uang tabungan untuk membeli seragam tersebut. Sampai pernah saya bertemu salah seorang teman saya di toko baju beberapa hari sebelum UTS. Saya kaget dengan apa yang ia beli. Baju putih dan rok hitam. "Buat ujian" katanya. Saya faham. Namun bagaimana dengan kondisi keuangan yang mepet? mau pinjam sungkan tapi butuh. Mungkin itu sedikit kisah yang ingin saya sampaikan kepada Bapak. Saya hanya menyayangkan saja, kenapa Bapak tidak melakukan sosialisasi dulu sebelum mengambil keputusan. Kenapa tidak berembuk dengan kami. Setidaknya memberi kami pengertian. Sehingga tidak hanya kata "Katanya,,, Katanya si itu dan katanya si ini" saja yang berkembang.
Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya hormati, tentunya Bapak pernah menjalin hubungan persahabatan. Beratkan jika harus meninggalkan?. Tak perlu banyak penjelasan, saya kira Bapak lebih berpengalaman. Bukankah bersahabat itu indahh Pak. Dan karena keindahan itulah, maka berat jika harus di tinggalkan.
Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo MSc yang saya cintai, saya sering membayangkan memiliki seorang Rektor yang dekat dengan mahasiswanya. Yang mau ngobrol di perpustakaan. Yang sering terjun ke kelas-kelas. Yang tidak malu berjalan ke Fakultas. Yang mau turun ke tempat umum. Dan yang paling terpenting adalah lebih bersahabat dengan mahasiswanya. Selama ini yang saya lihat dimana-mana seorang Rektor selalu memimpin di atas meja-meja Rektorat, berbicara di depan mimbar, dan berdiri di atas podium untuk berkoar-koar, hanya untuk mengokohkan wibawa jabatan, tanpa menengok apa saja yang sudah dihasilkan. Bapak, saya tahu menjadi pemimpin itu memang tidak mudah. Banyak hal yang mesti dikorbankan dan begitu banyak hal harus dipikirkan. Tapi inilah bayangan saya.
Mungkin cukup ini kisah persahabatan yang saya torehkan dalam rangkaian kalimat yang mungkin tak pantas saya ucapkan. Saya mohon ma'af jika apa yang saya katakan mencipta luka di hati Bapak. Saya ucapkan terimakasih banyak atas segala pengabdian dan pengorbanan Bapak untuk UIN Malang.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Salam hormat,
Fadilatus soliha
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar