Kulangkahkan
kakiku gontai. Sepi. Seperti tanpa penghuni. Sekilas satu dua mahasantri hilir
mudik membawa barang-barangnya. Ku dongakkan kepalaku, “oh tidak,,,masih kurang
satu tangga lagi”ucapku pasrah sembari membopong barang-barangku menuju lantai
4. “Kreeek,,” ku buka pintu kamar 61 lantai 4. “iya tidak salah lagi inilah
kamar yang akan ku tempati”gumamku lesu. Ku lirik kanan-kiri. Woow kosong tanpa
penghuni. Aku yang pertama sampai dan sebagai pendatang pertama kupaksa diriku
untuk membersihkan kamar. Hingga teman-temanku datang dan lengkap 8 orang. Perkenalan
singkat kami itu sedikit terkesan malu-malu. Mungkin karena kita baru pertama
kenal. Tapi perkenalan itu menjadi kesan unik untuk kita.
Tepat
pukul 05.30 suara bising di isti’lamat mulai terdengar. Para mbak-mbak musrifah
mulai beraksi dengan celoteh-celoteh dan nyanyian-nyanyiannya ala DIVA
Indonesia. Derapan langkah masantri terdengar bising saat mbak-mbak musrifah
menghitung mundur mulai 10-1. Ya, sebuah senjata ampuh untuk menggerakkan hati
adek-adek mahasantri yang mulai terserang penyakit malas saat shobahul lughoh. Dengan
1001 cara para mbak-mbak devisi bahasa menghidupkan suasana shobahul lughoh
agar tak terkesan membosankan. Namun tak banyak dari mahasantri tetap berpegang
teguh dengan manyunan bibirnya yang hampir mencapai 5 meter hehe. Tak banyak
dari mereka yang mengikuti intruksi mbak musrifah. Bahkan saat kegiatan shobahul
lughoh dan ta’lim berlangsung ada diantara mereka yang sibuk menenteng tugas
kuliah, Ya ibarat kata pepatah “sambil menyelam minum air”. Mungkin hal itu sudah menjadi tradisi turun temurun. Bahkan
ada juga yang meyempatkan matanya untuk terpejam sejenak. Sudah bukan hal yang
tabu lagi bagi kita para mahasantri yang selain mendapat tugas kuliah juga
mendapat tugas di ma’had. Apalagi saat ujian ma’had dan ujian PKPBA yang
berlangsung hampir bersamaan membuat mahasantri kelabakan. Sistem belajar SKS
selalu diterapkan. Tapi tak semua mahasantri demikian. Ada juga diantara mereka
yang bersikap bagai malaikat tanpa cela. Mengerjakan segala macam tugas dengan
on time. Tidak ada istilah SKS dalam hidupnya. Prinsip belajarnya adalah
sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Benar memang. Bukit-bukit emas
itu membuatnya memiliki nilai lebih dari yang lainnya.
Hari
minggu merupakan hari yang selalu dinanti bagi kami para mahasantri. Hari
bebas. Hari istirahat tanpa syarat. Hari tidur pulas tanpa batas. Hari kami
memanjakan diri.
‘’Diiiil,,,,,banguuun” digoyang-goyangkannya tubuhku.
“Hemmm,,” sahutku
“Ayoo banguuun diiil.. Jalan-jalan pagi yuuk” aku tak
menggubris panggilan temanku. Mataku masih mengatup. Rasa kantuk membuatku
enggan beranjak dari tidurku. Begadang semalaman dengan tumpukan tugas
membuatku sedikit frustasi. Hinggan berat tubuhku beranjak dari buaian
mimpi-mimpi indahku.
“Diiiil,,,,dilaaa,,,diiiiiiilll” benar-benar membuat benakku
menggerutu dari A sampai Z. Kupaksakan kakiku beranjak.
“Hiiih kamu itu seneng banget lihat temen menderita” kulirik
temanku sewot.
“Iiih justru aku ini baik. Tidur pagi-pagi itu gak baik tau.
Makannya ada shobahul lughoh dan ta’lim
itu tujuannya biar mahasantri tidak tidur pagi-pagi. Mau kamu begadang atau
tidak itu sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang mahasiswi dan mahasantri.
“Iya-iya,,, bu nyaiii” jawabku ketus. Temanku hanya tersenyum
melihat tingkahku. Sebenarnya tausiyahnya pagi itu sedikit memberikan energy
positive pada diriku. “Hmmm benar juga kata temanku. Pasti suatu saat nanti aku
akan merindukan saat-saat indah di MSAA” gumam hati kecilku.