Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Kamis, 06 Agustus 2015

Ayah, you're my Hero

Pagi itu tepat jam 12.20 WIB aku terjaga dari tidurku. Mataku seakan enggan mengatup. Hanya berkali-kali aksi guling badan kekiri dan kekanan itu ku lakukan. Al-hasil tak kutemukan sedikitpun ketenangan. Bergegas aku berjalan ke kamar mandi. Ritual wudhu itu telah berhasil meleburkan sedikit kegelisahan dalam hatiku. Aaah,, mushaf kudus ukuran sedang inilah sahabat karibku. Kutemukan damai disetiap sajak-sajak indahNYA. Sesekali daun telingaku melebar, menangkap desis-desis lembut dari ayah dan bundaku. Percakapan dua insan yang tengah melawan rindu yang kian membara. Rindu yang belum sepenuhnya terobati itu akan merangkai jaring-jaring rindu selanjutnya. Dua insan yang harus rela menjalin cinta kasih dalan jauh. Melebur rindu dalam do'a. Begitulah cara ayah dan bundaku menjaga ikatan suci yang telah mereka ikrarkan. Dengan berbagai keadaan, rasa syukurlah yang mereka jadikan landasan. Dan sejenak lantunan sajak indah ini tak mampu ku lantunkan. Aku berhenti sejenak. Ada rasa sakit di ulu hatiku saat daun telingaku menangkap kata yang begitu tulus darinya. Lelaki luar biasa. Sosok tegar dan kuat."Rasanya enggan kaki ini melangkah meninggalkan keluarga, meninggalkan orang-orang yang dicintai, melangkah kembali ke tempat perantauan" begitu lirih laki-laki yang kini rambut hitamnya muali bercampur warna putih. Bibirku seakan membeku. Kristal-kristal itu berhasil menetesi mushaf kecil yang dari q genggam. Hatiku bergetar mendengarnya. Seakan aku merasakan sesak yang dirasakan ayah dan bundaku.

Kamis, 06 Agustus 2015

Ayah, you're my Hero

Pagi itu tepat jam 12.20 WIB aku terjaga dari tidurku. Mataku seakan enggan mengatup. Hanya berkali-kali aksi guling badan kekiri dan kekanan itu ku lakukan. Al-hasil tak kutemukan sedikitpun ketenangan. Bergegas aku berjalan ke kamar mandi. Ritual wudhu itu telah berhasil meleburkan sedikit kegelisahan dalam hatiku. Aaah,, mushaf kudus ukuran sedang inilah sahabat karibku. Kutemukan damai disetiap sajak-sajak indahNYA. Sesekali daun telingaku melebar, menangkap desis-desis lembut dari ayah dan bundaku. Percakapan dua insan yang tengah melawan rindu yang kian membara. Rindu yang belum sepenuhnya terobati itu akan merangkai jaring-jaring rindu selanjutnya. Dua insan yang harus rela menjalin cinta kasih dalan jauh. Melebur rindu dalam do'a. Begitulah cara ayah dan bundaku menjaga ikatan suci yang telah mereka ikrarkan. Dengan berbagai keadaan, rasa syukurlah yang mereka jadikan landasan. Dan sejenak lantunan sajak indah ini tak mampu ku lantunkan. Aku berhenti sejenak. Ada rasa sakit di ulu hatiku saat daun telingaku menangkap kata yang begitu tulus darinya. Lelaki luar biasa. Sosok tegar dan kuat."Rasanya enggan kaki ini melangkah meninggalkan keluarga, meninggalkan orang-orang yang dicintai, melangkah kembali ke tempat perantauan" begitu lirih laki-laki yang kini rambut hitamnya muali bercampur warna putih. Bibirku seakan membeku. Kristal-kristal itu berhasil menetesi mushaf kecil yang dari q genggam. Hatiku bergetar mendengarnya. Seakan aku merasakan sesak yang dirasakan ayah dan bundaku.