Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Jumat, 11 Maret 2016

Surat untuk Hati


Hati... bagaimanakah kabarmu saat ini? adakah yang menyelinap menggeser namaNYA ? Apakah kau merasa tenang saat ini? Atau bahkan kau tengah dilanda kecewa luar biasa. Atau mungkin kau berjuang melawan takutmu? Atau kau sedang berusaha meredam khawatirmu?

Kamis, 06 Agustus 2015

Ayah, you're my Hero

Pagi itu tepat jam 12.20 WIB aku terjaga dari tidurku. Mataku seakan enggan mengatup. Hanya berkali-kali aksi guling badan kekiri dan kekanan itu ku lakukan. Al-hasil tak kutemukan sedikitpun ketenangan. Bergegas aku berjalan ke kamar mandi. Ritual wudhu itu telah berhasil meleburkan sedikit kegelisahan dalam hatiku. Aaah,, mushaf kudus ukuran sedang inilah sahabat karibku. Kutemukan damai disetiap sajak-sajak indahNYA. Sesekali daun telingaku melebar, menangkap desis-desis lembut dari ayah dan bundaku. Percakapan dua insan yang tengah melawan rindu yang kian membara. Rindu yang belum sepenuhnya terobati itu akan merangkai jaring-jaring rindu selanjutnya. Dua insan yang harus rela menjalin cinta kasih dalan jauh. Melebur rindu dalam do'a. Begitulah cara ayah dan bundaku menjaga ikatan suci yang telah mereka ikrarkan. Dengan berbagai keadaan, rasa syukurlah yang mereka jadikan landasan. Dan sejenak lantunan sajak indah ini tak mampu ku lantunkan. Aku berhenti sejenak. Ada rasa sakit di ulu hatiku saat daun telingaku menangkap kata yang begitu tulus darinya. Lelaki luar biasa. Sosok tegar dan kuat."Rasanya enggan kaki ini melangkah meninggalkan keluarga, meninggalkan orang-orang yang dicintai, melangkah kembali ke tempat perantauan" begitu lirih laki-laki yang kini rambut hitamnya muali bercampur warna putih. Bibirku seakan membeku. Kristal-kristal itu berhasil menetesi mushaf kecil yang dari q genggam. Hatiku bergetar mendengarnya. Seakan aku merasakan sesak yang dirasakan ayah dan bundaku.

Jumat, 20 Maret 2015

Furqon 1

Entah bgmn memulainya, tak pernah terfikir aku bisa berjalan smpai pada pilihan ini. Aku berhenti sejenak diantara riuhnya kerinduan. Ah kerinduan yang begitu membuncah.berharap Rabbnya menghamparkan ridhoNYA.
Semangatku sempat naik turun. Tapi kali itu berbeda, aku merasa ada yang hilang tanpanya.
Aku tertunduk, entah hari itu tanggal berapa aku lupa. Yang kuingat, aku harus lancar saat setoran. Ah, tp apa semua hilang saat aku tepat duduk disebelah ustadz. Yang benar saja, semua hafalanku seakan menguap perlahan... Aaahhh gustiiii ada apa ini.. Pekikku dalam hati.
"Nderes dulu" kata ustadz seakan mengerti jeritan hatiku.Aku hanya mengangguk. Satu dua santri sudah menyelesaikan tugas setorannya dengan baik. Tiba giliranku lagi. Aku baca basmalah berkali-kali.Alhamdulillah aku bisa melewatinya.Ku coba beranikan bertanya pada ustad."ustad bagaimana mengatasi hafalan yang kocar-kacir?"
"Qur'an itu kuncinya cuma tiga FOKuS,SABaR dan TELATEN"

Jumat, 19 Desember 2014

Jawaban dari Tuhan




Suntuk. Satu-satunya kata yang tepat untukku saat ini. Tugas kantor yang berjibun membuat fikiranku sedikit senewen. Tapi sudahlah aku enggan mengeluh. Segera aku beranjak berwudhu. Sayang, jika waktu sepertiga malam mini kulewati dengan sia-sia.
            Baca’an Qur’anku hari ini telah sampai pada surat Al-Luqman. Aku baca ayat 12-19. Dari ayat ke 14, aku berhenti sejenak. Aku baca maknannya berulang-ulang. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.

Jumat, 27 Juni 2014

Kau tau,
Rasaku tak mampu ku urai
Bibirku hanya membisu
Aku tertunduk malu
Tat kala mata saling bertemu

Senin, 19 Mei 2014

Pembekalan KKM 1

17-05-2014


“Drrrtttt.....drrrtttt....drrrttt “ ponselku bergetar. Ku picingkan mataku. Ada satu pesan masuk. Klik.
Dil, brangkat jam berapa?( Tian.)
Ntar yan, jam 7.30 aja. Hehehe pengalaman dari tmen2 kemaren, molor katanya. :D
Ok. Ntar kabari ya kalo mau berangkat. (Tian)
Swiiipp J 
Jam karet. Hmm seperti sudah menjadi tradisi. Ya seperti saat ini. Hari sabtu. Dimana aku harus mengikuti pembekalan KKM ( Kuliah Kerja Mahasiswa ). Otakku mulai membayangkan kebosanan. Suntuk dan ngantuk sepertinya sudah membayang dalam anganku. Teringat beberapa pesan teman-temanku.

Sejuta Cinta untuk Pak Imam Suprayogo



"Diiilll,,, mana surat cinta buatku?" tanya teman sebangku. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. "Eh, emangnya bener ta kasus nya pak imam itu?" tanyanya lagi.
"Hanya Allah yang tau, tapi aku percaya dan yakin kalo pak imam itu gak salah."
"kenapa?"
"Lihat dan nilai dengan hati" jawabku singkat. Tak ada pertanyaan lagi. Ia nampak berfikir. ku tinggalkan ia duduk sendiri dengan ribuan kata tanya. Pagi ini jadwal kuliahku lumayan padat. Bergegas ku percepat langkah menuju gedung C. Ruang 104. Ku duduk sejenak.
"Dil, kamu dapat sms buat ikut TTD sebagai dukungan buat pak Imam suprayogo gak?" tanya teman di sebelahku yang kerap ku panggil Tian. Segera ku cek ponselku. Aku mengangguk. "mau ke sebelah perpus sekarang?" tanyaku. Ia mengangguk. Kebetulan dosennya juga belum datang. Segera ku titip pesan ke temanku, Syifaul "Ul, nanti kalo ustadz sudah datang sms ya,, aku mau TTD tanda sayang dan hormat dulu buat Bapakku"

Jumat, 11 Maret 2016

Surat untuk Hati


Hati... bagaimanakah kabarmu saat ini? adakah yang menyelinap menggeser namaNYA ? Apakah kau merasa tenang saat ini? Atau bahkan kau tengah dilanda kecewa luar biasa. Atau mungkin kau berjuang melawan takutmu? Atau kau sedang berusaha meredam khawatirmu?

Kamis, 06 Agustus 2015

Ayah, you're my Hero

Pagi itu tepat jam 12.20 WIB aku terjaga dari tidurku. Mataku seakan enggan mengatup. Hanya berkali-kali aksi guling badan kekiri dan kekanan itu ku lakukan. Al-hasil tak kutemukan sedikitpun ketenangan. Bergegas aku berjalan ke kamar mandi. Ritual wudhu itu telah berhasil meleburkan sedikit kegelisahan dalam hatiku. Aaah,, mushaf kudus ukuran sedang inilah sahabat karibku. Kutemukan damai disetiap sajak-sajak indahNYA. Sesekali daun telingaku melebar, menangkap desis-desis lembut dari ayah dan bundaku. Percakapan dua insan yang tengah melawan rindu yang kian membara. Rindu yang belum sepenuhnya terobati itu akan merangkai jaring-jaring rindu selanjutnya. Dua insan yang harus rela menjalin cinta kasih dalan jauh. Melebur rindu dalam do'a. Begitulah cara ayah dan bundaku menjaga ikatan suci yang telah mereka ikrarkan. Dengan berbagai keadaan, rasa syukurlah yang mereka jadikan landasan. Dan sejenak lantunan sajak indah ini tak mampu ku lantunkan. Aku berhenti sejenak. Ada rasa sakit di ulu hatiku saat daun telingaku menangkap kata yang begitu tulus darinya. Lelaki luar biasa. Sosok tegar dan kuat."Rasanya enggan kaki ini melangkah meninggalkan keluarga, meninggalkan orang-orang yang dicintai, melangkah kembali ke tempat perantauan" begitu lirih laki-laki yang kini rambut hitamnya muali bercampur warna putih. Bibirku seakan membeku. Kristal-kristal itu berhasil menetesi mushaf kecil yang dari q genggam. Hatiku bergetar mendengarnya. Seakan aku merasakan sesak yang dirasakan ayah dan bundaku.

Jumat, 20 Maret 2015

Furqon 1

Entah bgmn memulainya, tak pernah terfikir aku bisa berjalan smpai pada pilihan ini. Aku berhenti sejenak diantara riuhnya kerinduan. Ah kerinduan yang begitu membuncah.berharap Rabbnya menghamparkan ridhoNYA.
Semangatku sempat naik turun. Tapi kali itu berbeda, aku merasa ada yang hilang tanpanya.
Aku tertunduk, entah hari itu tanggal berapa aku lupa. Yang kuingat, aku harus lancar saat setoran. Ah, tp apa semua hilang saat aku tepat duduk disebelah ustadz. Yang benar saja, semua hafalanku seakan menguap perlahan... Aaahhh gustiiii ada apa ini.. Pekikku dalam hati.
"Nderes dulu" kata ustadz seakan mengerti jeritan hatiku.Aku hanya mengangguk. Satu dua santri sudah menyelesaikan tugas setorannya dengan baik. Tiba giliranku lagi. Aku baca basmalah berkali-kali.Alhamdulillah aku bisa melewatinya.Ku coba beranikan bertanya pada ustad."ustad bagaimana mengatasi hafalan yang kocar-kacir?"
"Qur'an itu kuncinya cuma tiga FOKuS,SABaR dan TELATEN"

Jumat, 19 Desember 2014

Jawaban dari Tuhan




Suntuk. Satu-satunya kata yang tepat untukku saat ini. Tugas kantor yang berjibun membuat fikiranku sedikit senewen. Tapi sudahlah aku enggan mengeluh. Segera aku beranjak berwudhu. Sayang, jika waktu sepertiga malam mini kulewati dengan sia-sia.
            Baca’an Qur’anku hari ini telah sampai pada surat Al-Luqman. Aku baca ayat 12-19. Dari ayat ke 14, aku berhenti sejenak. Aku baca maknannya berulang-ulang. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.

Jumat, 27 Juni 2014

Kau tau,
Rasaku tak mampu ku urai
Bibirku hanya membisu
Aku tertunduk malu
Tat kala mata saling bertemu

Senin, 19 Mei 2014

Pembekalan KKM 1

17-05-2014


“Drrrtttt.....drrrtttt....drrrttt “ ponselku bergetar. Ku picingkan mataku. Ada satu pesan masuk. Klik.
Dil, brangkat jam berapa?( Tian.)
Ntar yan, jam 7.30 aja. Hehehe pengalaman dari tmen2 kemaren, molor katanya. :D
Ok. Ntar kabari ya kalo mau berangkat. (Tian)
Swiiipp J 
Jam karet. Hmm seperti sudah menjadi tradisi. Ya seperti saat ini. Hari sabtu. Dimana aku harus mengikuti pembekalan KKM ( Kuliah Kerja Mahasiswa ). Otakku mulai membayangkan kebosanan. Suntuk dan ngantuk sepertinya sudah membayang dalam anganku. Teringat beberapa pesan teman-temanku.

Sejuta Cinta untuk Pak Imam Suprayogo



"Diiilll,,, mana surat cinta buatku?" tanya teman sebangku. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. "Eh, emangnya bener ta kasus nya pak imam itu?" tanyanya lagi.
"Hanya Allah yang tau, tapi aku percaya dan yakin kalo pak imam itu gak salah."
"kenapa?"
"Lihat dan nilai dengan hati" jawabku singkat. Tak ada pertanyaan lagi. Ia nampak berfikir. ku tinggalkan ia duduk sendiri dengan ribuan kata tanya. Pagi ini jadwal kuliahku lumayan padat. Bergegas ku percepat langkah menuju gedung C. Ruang 104. Ku duduk sejenak.
"Dil, kamu dapat sms buat ikut TTD sebagai dukungan buat pak Imam suprayogo gak?" tanya teman di sebelahku yang kerap ku panggil Tian. Segera ku cek ponselku. Aku mengangguk. "mau ke sebelah perpus sekarang?" tanyaku. Ia mengangguk. Kebetulan dosennya juga belum datang. Segera ku titip pesan ke temanku, Syifaul "Ul, nanti kalo ustadz sudah datang sms ya,, aku mau TTD tanda sayang dan hormat dulu buat Bapakku"