17-05-2014
“Drrrtttt.....drrrtttt....drrrttt “ ponselku bergetar. Ku picingkan mataku. Ada satu pesan masuk. Klik.
Dil, brangkat jam berapa?( Tian.)
Ntar yan, jam 7.30 aja. Hehehe pengalaman dari tmen2 kemaren, molor katanya. :D
Ok. Ntar kabari ya kalo mau berangkat. (Tian)
Swiiipp J
Jam
karet. Hmm seperti sudah menjadi tradisi. Ya seperti saat ini. Hari
sabtu. Dimana aku harus mengikuti pembekalan KKM ( Kuliah Kerja
Mahasiswa ). Otakku mulai membayangkan kebosanan. Suntuk dan ngantuk
sepertinya sudah membayang dalam anganku. Teringat beberapa pesan
teman-temanku.
Dil, jangan lupa bawa banyak camilan, permen, dan bla,,,bla,,,bla,,, . Hanya karena satu alasan. Biar gak ngantuk. “Bunsyeet dah itu mau ikut pembekalan atau mau pindah tempat makan.. hahaha” batinku
Ternyata rasa takut terlambat itu muncul juga. Terpaksa pukul 7.30 pagi
aku segera menstater motor smas hitamku. Motor kesayangan, yang selalu
menemaniku dari kelas 2 MTS dulu. Penuh sejarah dan kenangan. Sepertinya
si hitam ini juga sudah menjadi saksi segala kisahku. Dari kisah cinta
sampai persahabatanku. Menjadi teman perjalananku menapaki lautan ilmu.
Baiklah, kita tinggalkan dulu masalah si hitam. Sekarang kembali ke
pembekalan pertamaku. Keberuntungan sepertinya masih berpihak padaku.
Kata telat sepertinya tidak mampir di hariku. “Tiiit” ku pencet tombol
lift no 4. Belum usai. Perjalananku kurang 1 tangga lagi. “Huuuh,,
nanggung sekali yak, buat lift gak sekalian sampai lantai 5” gerutuku
gak jelas. Ku paksa kakiku menaiki satu persatu anak tangga. Mulutku
melongo. Mataku celingukan memandang sekitar. Sepii. Hanya ada beberapa
mahasiswa bergerombol dihiasi dengan bibir yang mulai berbusa. Ngobrol ngalor-ngidul. Entah
diskusi tentang apa. Aku segera mengisi daftar hadir. Ku cari kursi
yang bertuliskan angka kelompok KKMku. 146. Pandanganku terhenti. Aku
duduk tepat di belakang angka 146. Ada dua perempuan duduk di sebelahku.
Ku ulurkan tangan.
“Dila”
“Lila” ku ulurkan lagi tanganku pada perempuan di sebelah Lila.
“Yuli”
kami saling senyum. Memulai percakapan dengan menanyakan asal dan
jurusan. Sampai kursi biru itu mulai penuh. Pertanda acara pembekalanpun
akan segera dimulai.
Jauh dari yang aku bayangan.
Seru. Rame. Apalagi melihat semangat Bu Mufidah selaku ketua LP2M (
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat ). Semangatnya menggebu.
Usia tak lagi jadi alasan. Berguna dan bermanfaat yang menjadi tujuan.
Tak banyak alasan, demi mewujudkan sebuah impian. Bukan memberi harapan,
namun sebuah perubahan. Ya, perubahan demi kemajuan.
Belum selesai ia memaparkan program posdaya berbasis Masjid. Satu, dua,
tiga hingga sepuluh lebih mahasiswa-mahasiswi terlambat dan harus duduk
di depan. Beliau melarang mereka duduk di kursi biru. Lama. Tapi
ternyata itu bukan hukumannya. Bu Mufidah menyuruh operator memutarkan
musik. Mengintruksi mereka yang terlambat untuk bergoyang. Tak seperti
yang diharapkan. Mereka tercengang. Dangdut. Musik itu membuat mereka
terpaksa menggoyangkan badan dan jempol. Malu-malu. Semua yang melihat
tak henti-henti bersorak. Seperti bangga melihat temannya meringis
dengan iringan musik dangdut.
“Kalian disini itu di kasih
pembekalan buat mengabdikan diri di masyarakat, kalau masih awal saja
sudah terlambat. Bagaimana nanti kalau sudah di masyarakat? Harus
disiplin jika besok tidak ingin goyang dangdut lagi.” Ucap Bu Mufidah di
sela-sela mereka bergoyang. Kami menyambutnya dengan tepuk tangan.
Benar juga apa yang beliau sampaikan. Jika kita yang mau mengabdikan
diri saja sudah jauh dari kata disiplin. Bagaimana kita bisa menghimbau
masyarakat untuk bisa disiplin. Yups, sepertinya harus dimulai dari diri
sendiri. Bismillah,,,
Senin, 19 Mei 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senin, 19 Mei 2014
Pembekalan KKM 1
17-05-2014
“Drrrtttt.....drrrtttt....drrrttt “ ponselku bergetar. Ku picingkan mataku. Ada satu pesan masuk. Klik.
Dil, brangkat jam berapa?( Tian.)
Ntar yan, jam 7.30 aja. Hehehe pengalaman dari tmen2 kemaren, molor katanya. :D
Ok. Ntar kabari ya kalo mau berangkat. (Tian)
Swiiipp J
Jam karet. Hmm seperti sudah menjadi tradisi. Ya seperti saat ini. Hari sabtu. Dimana aku harus mengikuti pembekalan KKM ( Kuliah Kerja Mahasiswa ). Otakku mulai membayangkan kebosanan. Suntuk dan ngantuk sepertinya sudah membayang dalam anganku. Teringat beberapa pesan teman-temanku.
Dil, jangan lupa bawa banyak camilan, permen, dan bla,,,bla,,,bla,,, . Hanya karena satu alasan. Biar gak ngantuk. “Bunsyeet dah itu mau ikut pembekalan atau mau pindah tempat makan.. hahaha” batinku
Ternyata rasa takut terlambat itu muncul juga. Terpaksa pukul 7.30 pagi aku segera menstater motor smas hitamku. Motor kesayangan, yang selalu menemaniku dari kelas 2 MTS dulu. Penuh sejarah dan kenangan. Sepertinya si hitam ini juga sudah menjadi saksi segala kisahku. Dari kisah cinta sampai persahabatanku. Menjadi teman perjalananku menapaki lautan ilmu.
Baiklah, kita tinggalkan dulu masalah si hitam. Sekarang kembali ke pembekalan pertamaku. Keberuntungan sepertinya masih berpihak padaku. Kata telat sepertinya tidak mampir di hariku. “Tiiit” ku pencet tombol lift no 4. Belum usai. Perjalananku kurang 1 tangga lagi. “Huuuh,, nanggung sekali yak, buat lift gak sekalian sampai lantai 5” gerutuku gak jelas. Ku paksa kakiku menaiki satu persatu anak tangga. Mulutku melongo. Mataku celingukan memandang sekitar. Sepii. Hanya ada beberapa mahasiswa bergerombol dihiasi dengan bibir yang mulai berbusa. Ngobrol ngalor-ngidul. Entah diskusi tentang apa. Aku segera mengisi daftar hadir. Ku cari kursi yang bertuliskan angka kelompok KKMku. 146. Pandanganku terhenti. Aku duduk tepat di belakang angka 146. Ada dua perempuan duduk di sebelahku. Ku ulurkan tangan.
“Dila”
“Lila” ku ulurkan lagi tanganku pada perempuan di sebelah Lila.
“Yuli” kami saling senyum. Memulai percakapan dengan menanyakan asal dan jurusan. Sampai kursi biru itu mulai penuh. Pertanda acara pembekalanpun akan segera dimulai.
Jauh dari yang aku bayangan. Seru. Rame. Apalagi melihat semangat Bu Mufidah selaku ketua LP2M ( Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat ). Semangatnya menggebu. Usia tak lagi jadi alasan. Berguna dan bermanfaat yang menjadi tujuan. Tak banyak alasan, demi mewujudkan sebuah impian. Bukan memberi harapan, namun sebuah perubahan. Ya, perubahan demi kemajuan.
Belum selesai ia memaparkan program posdaya berbasis Masjid. Satu, dua, tiga hingga sepuluh lebih mahasiswa-mahasiswi terlambat dan harus duduk di depan. Beliau melarang mereka duduk di kursi biru. Lama. Tapi ternyata itu bukan hukumannya. Bu Mufidah menyuruh operator memutarkan musik. Mengintruksi mereka yang terlambat untuk bergoyang. Tak seperti yang diharapkan. Mereka tercengang. Dangdut. Musik itu membuat mereka terpaksa menggoyangkan badan dan jempol. Malu-malu. Semua yang melihat tak henti-henti bersorak. Seperti bangga melihat temannya meringis dengan iringan musik dangdut.
“Kalian disini itu di kasih pembekalan buat mengabdikan diri di masyarakat, kalau masih awal saja sudah terlambat. Bagaimana nanti kalau sudah di masyarakat? Harus disiplin jika besok tidak ingin goyang dangdut lagi.” Ucap Bu Mufidah di sela-sela mereka bergoyang. Kami menyambutnya dengan tepuk tangan.
Benar juga apa yang beliau sampaikan. Jika kita yang mau mengabdikan diri saja sudah jauh dari kata disiplin. Bagaimana kita bisa menghimbau masyarakat untuk bisa disiplin. Yups, sepertinya harus dimulai dari diri sendiri. Bismillah,,,
“Drrrtttt.....drrrtttt....drrrttt “ ponselku bergetar. Ku picingkan mataku. Ada satu pesan masuk. Klik.
Dil, brangkat jam berapa?( Tian.)
Ntar yan, jam 7.30 aja. Hehehe pengalaman dari tmen2 kemaren, molor katanya. :D
Ok. Ntar kabari ya kalo mau berangkat. (Tian)
Swiiipp J
Jam karet. Hmm seperti sudah menjadi tradisi. Ya seperti saat ini. Hari sabtu. Dimana aku harus mengikuti pembekalan KKM ( Kuliah Kerja Mahasiswa ). Otakku mulai membayangkan kebosanan. Suntuk dan ngantuk sepertinya sudah membayang dalam anganku. Teringat beberapa pesan teman-temanku.
Dil, jangan lupa bawa banyak camilan, permen, dan bla,,,bla,,,bla,,, . Hanya karena satu alasan. Biar gak ngantuk. “Bunsyeet dah itu mau ikut pembekalan atau mau pindah tempat makan.. hahaha” batinku
Ternyata rasa takut terlambat itu muncul juga. Terpaksa pukul 7.30 pagi aku segera menstater motor smas hitamku. Motor kesayangan, yang selalu menemaniku dari kelas 2 MTS dulu. Penuh sejarah dan kenangan. Sepertinya si hitam ini juga sudah menjadi saksi segala kisahku. Dari kisah cinta sampai persahabatanku. Menjadi teman perjalananku menapaki lautan ilmu.
Baiklah, kita tinggalkan dulu masalah si hitam. Sekarang kembali ke pembekalan pertamaku. Keberuntungan sepertinya masih berpihak padaku. Kata telat sepertinya tidak mampir di hariku. “Tiiit” ku pencet tombol lift no 4. Belum usai. Perjalananku kurang 1 tangga lagi. “Huuuh,, nanggung sekali yak, buat lift gak sekalian sampai lantai 5” gerutuku gak jelas. Ku paksa kakiku menaiki satu persatu anak tangga. Mulutku melongo. Mataku celingukan memandang sekitar. Sepii. Hanya ada beberapa mahasiswa bergerombol dihiasi dengan bibir yang mulai berbusa. Ngobrol ngalor-ngidul. Entah diskusi tentang apa. Aku segera mengisi daftar hadir. Ku cari kursi yang bertuliskan angka kelompok KKMku. 146. Pandanganku terhenti. Aku duduk tepat di belakang angka 146. Ada dua perempuan duduk di sebelahku. Ku ulurkan tangan.
“Dila”
“Lila” ku ulurkan lagi tanganku pada perempuan di sebelah Lila.
“Yuli” kami saling senyum. Memulai percakapan dengan menanyakan asal dan jurusan. Sampai kursi biru itu mulai penuh. Pertanda acara pembekalanpun akan segera dimulai.
Jauh dari yang aku bayangan. Seru. Rame. Apalagi melihat semangat Bu Mufidah selaku ketua LP2M ( Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat ). Semangatnya menggebu. Usia tak lagi jadi alasan. Berguna dan bermanfaat yang menjadi tujuan. Tak banyak alasan, demi mewujudkan sebuah impian. Bukan memberi harapan, namun sebuah perubahan. Ya, perubahan demi kemajuan.
Belum selesai ia memaparkan program posdaya berbasis Masjid. Satu, dua, tiga hingga sepuluh lebih mahasiswa-mahasiswi terlambat dan harus duduk di depan. Beliau melarang mereka duduk di kursi biru. Lama. Tapi ternyata itu bukan hukumannya. Bu Mufidah menyuruh operator memutarkan musik. Mengintruksi mereka yang terlambat untuk bergoyang. Tak seperti yang diharapkan. Mereka tercengang. Dangdut. Musik itu membuat mereka terpaksa menggoyangkan badan dan jempol. Malu-malu. Semua yang melihat tak henti-henti bersorak. Seperti bangga melihat temannya meringis dengan iringan musik dangdut.
“Kalian disini itu di kasih pembekalan buat mengabdikan diri di masyarakat, kalau masih awal saja sudah terlambat. Bagaimana nanti kalau sudah di masyarakat? Harus disiplin jika besok tidak ingin goyang dangdut lagi.” Ucap Bu Mufidah di sela-sela mereka bergoyang. Kami menyambutnya dengan tepuk tangan.
Benar juga apa yang beliau sampaikan. Jika kita yang mau mengabdikan diri saja sudah jauh dari kata disiplin. Bagaimana kita bisa menghimbau masyarakat untuk bisa disiplin. Yups, sepertinya harus dimulai dari diri sendiri. Bismillah,,,
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar