Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Jumat, 27 Desember 2013

CINTA ??

Entah dimulai dari mana jika harus berbicara tentang cinta. Sepertinya rasa itu telah menjelma menjadi topik yang tak hanya diperbincangkan oleh orang-orang dewasa saja. Tapi banyak kalangan. Bahkan anak ABG pun cenderung gandrung dengan kata yang satu ini. Banyak dari mereka yang harus putus sekolah hanya karena masalah cinta. Harus memendam cita-cita yang telah terukir demi sebuah hasrat untuk memiliki.

Teringat masa aku berseragam putih abu-abu dulu. Dimana semua orang sibuk memperbincangkan masalah cinta. Hingga tiap waktu istirahatpun tidak hanya di kantin di ruang kelaspun, topik itu memjadi bahan pokok pembicara'an.

Pernah suatu ketika sahabatku yang kerap di panggil mocin itu terlihat murung dan uring-uringan. Semangat yang terpancar seakan bersembunyi di balik senyum yang dipaksakan. Waktu aku bertanya kepadanya " kamu kenapa?" dia hanya diam. Menatapku denga peluh di ujung matanya. "Aku benci dengan wanita"timpalnya.
"kenapa? berarti kamu benci juga sama aku?'' ucapku sedikit menahan rasa sabar.
"Tidak semua. TApi kau tau sahabat gadis yang teramat diam itu. Kini pergi dengan menancapkan seribu sembilu dalam peluhku, haaah aku bosan dengan kata maaf yang tiap kali dia ucapkan di balik sikap munafiknya itu. Aku hanya mampu berkata cinta itu omong kosong." aku resapi apa yang ia rasakan. Kubiarkan dia sejenak dengan amarahnya. Ku katakan padanya bahwa cinta memang demikian. Jika memang sudah siap untuk merasakan bahagia dan kecewa maka rasa cinta itu hadir sebagai jembatan pembentukan mental.

Pernah juga aku diajaknya hadir ke acara pernikahan mantan kekasinya itu. Hanya dengan tertunduk dia berjalan di sebelahku. Senyum palsu yang harus di suguhkannya. Rasa malu yang harus disimpan saat semua teman mengulang kembali kisah cinta masa purbanya. Aku seakan merasakan sakit yang ia rasakan. Apalagi saat mempelai perempuan menyambutnya dengan menggandeng mesra tangan imam hidupnya. Tak tau bagaimana aku mengungkapkannya. Yang jelas aku hanya melihatnya terus tertunduk.

Benar memang kawan, cinta itu mampu mengubah segalanya. Orang yang kuat menjadi lemah dan orang yang lemah menjadi kuat.. Semua tergantung bagaimana kita mampu menyikapinya.

Sabtu, 07 Desember 2013

SEBELAH MATA



“Menunggu bus nak?” Tanya seorang bapak-bapak kembali menyadarkanku dalam lamunan. Aku hanya mengangguk. Ku tatap wajah lelaki yang tadi membuat lamunanku berlari menjauh. Tampak kerutan-kerutan diwajahnya. Tubuhnya yang tinggi kurus itu menenteng sebuah karung putih. Entah apa isinya. Berhasil membuatku penasaran, tapi aku malu menanyakannya. Diusapnya beberapa kali peluh yang menetes diwajahnya dengan sapu tangan lusuh bertuliskan Indonesia. Mungkin karena rasa cintanya terhadap Negara ini yang terlalu dalam.
“Bapak mau kemana?” tanyaku membuka percakapan.
“Ke pasar wlingi nak, oya panggil saja saya pak Rahmat.”
“iya pak, saya Tina pak. Sepertinya kita searah pak.”
“Nak Tina mau ke wlingi juga?”
“Iya pak ke rumah saudara. Bapak ada perlu apa ke pasar wlingi?”
“Ini nak mengantarkan pesanan singkong.” Diperlihatkannya umbi singkong yang masih berbau tanah itu padaku.
“Wah jauh sekali pak dari kepanjen ke wlingi. Kenapa tidak di jual di pasar kepanjen saja pak?”
“Iya biasanya dijual disana nak, tapi karena kemaren pembelinya membawa barang bawaan banyak, bapak di minta mengantarkannya kesana.” Belum sempat bertanya lagi. Bus putih bertuliskan Bagong itu berhenti di depan kami. Kutuntun pak Rahmat. Kuraih karung putih yang dibawanya. Bekas merah bertengger di jemariku.
“Jangan nak berat” kata pak Rahmat tertelan bising mesin bus. Aku hanya tersenyum mendengar samar tuturnya. “Ternyata berat juga” batinku. Aku ingin bertanya banyak hal padanya. Bertanya tentang kisahnya dan bertanya tentang keluarganya. Beruntung masih ada dua kursi kosong untuk aku dan pak Rahmat. Kami duduk bersebelahan. Ku tahan beribu Tanya yang berkecamuk. Ku biarkan pak Rahmat menyandarkan tubuhnya sejenak di kursi bus.
            Koaran-koaran kernet bus memekikkan gendang telingaku. Bau kecut keringat perjuangannya singgah ke bulu-bulu hidungku.hehe Lantunan-lantunan syair pengamen jalanan berhasil menggambarkan senyum di wajahku. Ku tatap pak Rahmat yang mulai terbangun dari rangkaian mimpinya.
“Sudah bangun pak?” pak Rahmat tersenyum dan mengucek-ngucek matanya.
“ini dimana nak?”
“Bendungan lahor Karang Kates pak, masih jauh kok pak. Bapak kenapa ke wlingi sendirian pak?”
“Lha mau minta diantar siapa nak. Semua keluarga bapak sudah tidak ada.” Aku tak berani bertanya lagi. Seperti ada sesuatu yang mengganjal tenggorokanku. “Kabeh dadi korbane Londo nduk,,” lanjut pak Rahmat dengan nada suara yang bergetar. Pandangannya menerawang jauh. Bibirnya yang mulai kelu itu mulai berkisah masa purba. Masa ia masih bergabung dengan geraka pemuda yang melawan penindasan belanda. Terlihat disudut matanya butiran yang jatuh tanpa tertahan.
“Dentuman bom dan peluru itu menyatu. Seakan telah menjadi sahabat dalam hariku. Menjadi hal yang tak asing lagi. Benda panas yang merenggut beribu nyawa sahabat-sahabatku. Meski aliran darah segar terasa mengalir di keningku. Aku enggan menghentikan langkah. Aku berlari menuju gubuk kecil tempat anak dan istriku bersembunyi. Rasa perih tak lagi aku gubris. Hanya ada bayangan senyuman anak-anak dan istriku. Teringat masa kita habiskan waktu bersama dalam panas terik mentari dan dinginnya guyuran hujan. Saat harus berlari dari ganasnya serdadu belanda. Kupercepat langkah saat ku lihat pintu gubuk berantakan. Terdengar jeritan wanita yang menyayat. Seorang wanita yang sangat ku sayangi tergeletak dengan baju setengah terbuka. Terlihat goresan-goresan luka di tubuh anak-anakku yang terbujur dengan berselimut cairan merah. Hilang kesabaranku. Hatiku menjerit melihat oaring-orang yang kusayangi tergeletak untuk selamanya. Tanpa berpikir panjang ku tembakkan senapan tepat dikepala laki-laki berwajah belanda itu. “Binataaaaang,,, Bajingaaaan”teriakku berkali-kali. Tanganku bergetar. Ku peluk tubuh anak-anak dan istriku. Kusematkan janji dalam hatiku. Aku tak akan berhenti berjuang. Meneriakkan kemerdekaan dari mereka manusia behati setan. Penjajahan dan kekejaman dengan janji tanpa pembuktiaan. Kuraih sapu tangan yang menyatu dengan darah istriku. Sapu tangan yang dijahinya semalam. Sapu tangan tanda cinta akan tanah air. Dalam tiap jahitannya tersimpan harapan kemerdekaan, kebebasan dan kedamaian.” Ia tak melanjutkan lagi ceritannya. Hanya terdiam dalam terawang kenangan perjuangan. Matanya menatap jendela bus yang mulai buram.
“Lihat nak,, mereka anak-anak jalanan itu” tangannya menunjuk ke jalanan trotoar. Anak-anak kecil berpakaian compang-camping membawa gitar kecil. Berkoor lagu punk rock jalanan. Menghampiri toko-toko kecil di pinggir jalan. “Lihat disana nak,, dibawah jembatan itu” aku mengalihkan pandanganku mengikuti petunjuk jari pak Rahmat. Dibawah jembatan beton ini. Ku lihat seorang wanita mencuci beberapa potong baju di genangan air keruh. Dibelakangnya terlihat rumah kardus reot dengan warna yang mulai luntur. “Dan itu nak,,” tunjuknya lagi. Di sebuah caffe di pojok jalan. Darah muda berseragam putih abu-abu asyik bercengkraman. Sesekali terdengar deruman mesin motor ninja yang di gas kuat-kuat. Dan sebagian lainnya mengankat kakinya diatas kursi dengan ditemani segelas kopi dan beberapa batang rokok yang mengepul membentuk lingkaran di udara. “Kau mengerti tak nak? Seharusnya anak-anak jalanan tadi mendapatkan pendidikan yang layak dan wanita di bawah jembatan tadi harusnya mendapat tempat yang layak. Tapi siapa yang akan menjamin kelayakan itu. Pemimpin negeri sibuk berjanji. Sibuk berkompetisi. Generasi muda sibuk mempersenang diri. Bagi mereka yang berkesempatan mengenyam dunia pendidikan, sibuk dengan gaya pribadi. Sibuk mencari teknologi. Sibuk mencari pasangan hati. Sedikit dari mereka yang sibuk memahami kondisi negeri. Korupsi yang saat ini telah menjadi raja di bumi pertiwi. Yang diperankan oleh kaum-kaum berpendidikan tanpa iman. Tanpa memikirkan nasib rakyat yang lama menahan demo cacing-cacing perutmya. Tapi mereka yang memegang jabatan dan kekuasaan sibuk menggemukkan diri dengan uang rakyat yang terdholimi”lanjutnya. Diusapnya air mata dengan sapu tangan kenangan masa purbanya. Aku terdiam memikirkan apa yang di ucapkan pak Rahmat.
“Bapakkan pernah berjuang untuk negeri ini. Kenapa bapak tidak meminta tunjangan dari Negara?”
“Kenapa harus mengharapkan tunjangan nak.. Bapak berjuang bukan karena uang. Tapi keinginan untuk merdeka. Agar generasi muda tak lagi merasakan pedihnya hidup dibawah ketiak belanda. Bekerja dengan keterpaksaan. Panindasan tanpa keperdulian. Bukankah hidup ini perjuangan. Saat perjuanganku meneriakkan kemerdekaan menjadi sebuah kenyataan aku tak kan mengharapkan upah. Meski banyak ribuan nyawa yang melayang. Itu semua adalah bagian dari sejarah panjang perjuangan. Kini saatnya bapak berjuang melawan rasa lapar, berjuang melawan himpitan ekonomi, berjuang untuk tetap bertahan. Kabeh iku kudu dilakoni tansah roso ikhlas nduuk,, Biarkan mata yang tinggal sebelah ini yang akan menjadi saksi kisah perjuanganku di masa purba itu” Ada aliran rasa kagum yang menelusup. Tak dapat ku pungkiri aku berkali-kali  memujinya dalam hati. Keikhlasannya, kesabaran dan keperduliaannya. Meski hanya dengan sebelah mata. Ia tetap berjuang.

Selasa, 09 April 2013

MSAA


                Kulangkahkan kakiku gontai. Sepi. Seperti tanpa penghuni. Sekilas satu dua mahasantri hilir mudik membawa barang-barangnya. Ku dongakkan kepalaku, “oh tidak,,,masih kurang satu tangga lagi”ucapku pasrah sembari membopong barang-barangku menuju lantai 4. “Kreeek,,” ku buka pintu kamar 61 lantai 4. “iya tidak salah lagi inilah kamar yang akan ku tempati”gumamku lesu. Ku lirik kanan-kiri. Woow kosong tanpa penghuni. Aku yang pertama sampai dan sebagai pendatang pertama kupaksa diriku untuk membersihkan kamar. Hingga teman-temanku datang dan lengkap 8 orang. Perkenalan singkat kami itu sedikit terkesan malu-malu. Mungkin karena kita baru pertama kenal. Tapi perkenalan itu menjadi kesan unik untuk kita.
                Tepat pukul 05.30 suara bising di isti’lamat mulai terdengar. Para mbak-mbak musrifah mulai beraksi dengan celoteh-celoteh dan nyanyian-nyanyiannya ala DIVA Indonesia. Derapan langkah masantri terdengar bising saat mbak-mbak musrifah menghitung mundur mulai 10-1. Ya, sebuah senjata ampuh untuk menggerakkan hati adek-adek mahasantri yang mulai terserang penyakit malas saat shobahul lughoh. Dengan 1001 cara para mbak-mbak devisi bahasa menghidupkan suasana shobahul lughoh agar tak terkesan membosankan. Namun tak banyak dari mahasantri tetap berpegang teguh dengan manyunan bibirnya yang hampir mencapai 5 meter hehe. Tak banyak dari mereka yang mengikuti intruksi mbak musrifah. Bahkan saat kegiatan shobahul lughoh dan ta’lim berlangsung ada diantara mereka yang sibuk menenteng tugas kuliah, Ya ibarat kata pepatah “sambil menyelam minum air”. Mungkin hal itu  sudah menjadi tradisi turun temurun. Bahkan ada juga yang meyempatkan matanya untuk terpejam sejenak. Sudah bukan hal yang tabu lagi bagi kita para mahasantri yang selain mendapat tugas kuliah juga mendapat tugas di ma’had. Apalagi saat ujian ma’had dan ujian PKPBA yang berlangsung hampir bersamaan membuat mahasantri kelabakan. Sistem belajar SKS selalu diterapkan. Tapi tak semua mahasantri demikian. Ada juga diantara mereka yang bersikap bagai malaikat tanpa cela. Mengerjakan segala macam tugas dengan on time. Tidak ada istilah SKS dalam hidupnya. Prinsip belajarnya adalah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Benar memang. Bukit-bukit emas itu membuatnya memiliki nilai lebih dari yang lainnya.
                Hari minggu merupakan hari yang selalu dinanti bagi kami para mahasantri. Hari bebas. Hari istirahat tanpa syarat. Hari tidur pulas tanpa batas. Hari kami memanjakan diri.
‘’Diiiil,,,,,banguuun” digoyang-goyangkannya tubuhku.
“Hemmm,,” sahutku
“Ayoo banguuun diiil.. Jalan-jalan pagi yuuk” aku tak menggubris panggilan temanku. Mataku masih mengatup. Rasa kantuk membuatku enggan beranjak dari tidurku. Begadang semalaman dengan tumpukan tugas membuatku sedikit frustasi. Hinggan berat tubuhku beranjak dari buaian mimpi-mimpi indahku.
“Diiiil,,,,dilaaa,,,diiiiiiilll” benar-benar membuat benakku menggerutu dari A sampai Z. Kupaksakan kakiku beranjak.
“Hiiih kamu itu seneng banget lihat temen menderita” kulirik temanku sewot.
“Iiih justru aku ini baik. Tidur pagi-pagi itu gak baik tau. Makannya  ada shobahul lughoh dan ta’lim itu tujuannya biar mahasantri tidak tidur pagi-pagi. Mau kamu begadang atau tidak itu sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang mahasiswi dan mahasantri.
“Iya-iya,,, bu nyaiii” jawabku ketus. Temanku hanya tersenyum melihat tingkahku. Sebenarnya tausiyahnya pagi itu sedikit memberikan energy positive pada diriku. “Hmmm benar juga kata temanku. Pasti suatu saat nanti aku akan merindukan saat-saat indah di MSAA” gumam hati kecilku.

FLP MALIKI

FLP MALIKI
            07-04-2013  15:51
            Celoteh segerombol mahasantri kala itu menerobos celah-celah embun pagi. Tawa-tawa renyah itu mulai melempem tat kala rasa lelah menelusup tulang kaki. Langkah kaki mencari alur menuju gedung serbaguna sedikit menyematkan tumpukan gerutu kekesalan. Mondar-mandir bertanya ke penduduk sekitar taman merjosari. Rasa jengkel sedikit terealisasi saat mata tertuju pada gedung ber cat hijau muda yang terdapat tulisan FLP Uin Maliki Malang. Ya, tidak salah lagi. Itulah gedung yang kita cari. Sambutan senyum ceria dari panitia OR FLP Uin Maliki mengembangkan kuncup-kuncup kecemberutan. Tegur sapa dan perkenalan antar calon anggota FLP Uin Maliki menjadi pemandangan di forum kecil itu. Forum kecil yang dihadiri kurang lebih 90 calon anggota baru FLP Uin Maliki. Namun ada yang berbeda. Terus kuamati dan kulirikkan mataku kekanan-kekiri. Bak ditektif conan mencari alibi. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan. Cukup. Hanya 9. Tak lebih dan tak kurang. Kugigit bibir bawahku. Benar-benar tak dapat dipercaya. Hanya 9 orang panitia OR FLP Uin Maliki. Jumlah yang minim sekali. Apa karena sebuah forum kecil hingga jarang ada yang berminat berkecimpung didalamnya. Tapi senyum tulus mereka benar-benar membuatku yakin mereka adalah orang-orang hebat yang mampu bertahan dalam  eliminasi alam. Melihat mereka mengingatkanku pada tokoh 9 wali. Mungkin bedanya kalau 9 wali berjuang dalam menyebarkan islam. Kalau mereka berjuang mempertahankan dan mengembangkan FLP Uin Maliki. Benar-benar berhasil membuatku berdecak kagum. (^_^)
            Kekecewaan singgah di hati calon anggota FLP Uin Maliki saat mas Fahri selaku ketua FLP Uin Maliki mengumumkan bahwa kedua pemateri berhalangan hadir. Seketika mas Fahri mencoba menghidupkan suasana. Sembari menggenggap mikorofon. Ia kisahkan perjalanan FLP Uin Maliki. Program-program kerja dipaparkannya panjang lebar. Dengan sedikit sentuhan motivasi. “Karya seorang penulis akan tetap hidup meskipun dia sudah mati” begitu tuturnya yang merupakan filosofi seorang penulis. Juga tak luput ia perkenalkan rekannya seorang ketua FLP MALANG. Mas Mahfud namannya. Ada yang sama dari kedua ketua FLP ini. Merka sama-sama berkaca mata. Yang membedakan hanya kecondongan keduannya. Mas Fahri lebih condong ke satra dan mas Mahfud lebih condong ke cerita humor. Itulah uniknya FLP. Ada beragam imajinasi disana.
            Gema tepuk tangan memenuhi gedung serbaguna. Senyum mengembang lebar menampakkan barisan-barisan putih berjejer rapi. Tak ada beban. Sang pemateri yang kerap dipanggil Masdar Zainal itu telah menggenggam ribuan motivasi. Seorang penulis cerpen dan novel sekaligus seorang guru anak kelas satu SD ini terkesan sangat santai. Gaya pakaiannya yang rapi manambah kesan kewibawaannya. Sesekali senyum mengiringi suntikan stimulusnya. “Suarakan pikiranmu pada dunia, biarkan penamu berbicara, menyampaikan kata-kata yang pemalu” itu kata-kata pertamannya saat menyampaikan materi tentang dasar-dasar kepenulisan. Perjalanannya menuju dunia imajinatif tak pernah ia duga. Seorang alumni Uin Maliki Malang jurusan PAI ini tak pernah mempunyai impian untuk jadi seorang penulis. Berawal dari banyaknya waktu kosong setelah ujian skripsi. Ia mencoba menuangkan tarian kata-katanya. Berkali-kali ia jatuh. Berkali-kali ditolak media. Berkali-kali mondar-mandir ke rental. Tak membuatnya jera untuk terus berkarya. “Penolakan karya bukanlah kiamat” ucapnya. Berbagai tips di beberkannya.
“MALAS obati dengan KEDISIPLINAN”
“TAKUT obati dengan TERUS MENCOBA”
“TIDAk BISA obati dengan TERUS BERKARYA”
“TAK TAHU obati dengan TERUS MEMBACA”
Kata-kata yang terjebak dalam memory otakku. Terus bersemayam dan mengalahkan sedikit rasa malasku.
            Pemateri selanjutnya tak kalah heboh. Laki-laki berambut agak gelombang. Bertubuh sedikit bulat dan tingginya kira-kira 160cm. Bermata lebar dan berwajah oval ini kerap disapa dengan nama yang tak asing. Mas Hafid. Seorang mahasiswa Uin Maliki semester 8 jurusan ekonomi ini ternyata berjiwa sastra.  Sifatnya yang humoris membuat orang betah lama-lama didekatnya. Penyampaian materi tentang diksi terasa hidup saat ia mengkoarkan “Apa arti diksi menurut kalian? Saya minta jawaban yang nakal, yang nyleneh, tapi masuk akal” begitu ucapnya sembari mondar-mandir kebelakang dan kedepan calon anggota baru FLP Uin Maliki.
“Diksi itu selingkuhan kata”
“Diksi itu nyawa tulisan kita”
“Diksi itu oksigen kehidupan” diksi itu bla,,,bla,,bla,, begitu seterusnya. Mereka saling bersahut-sahutan menanggapi pertannyaan mas hafid. Tidak berhenti dari situ. Mas Hafid terus memacu daya fikir kami. Bagai mengolah adonan kue. Terus ia putar kata. Dengan tanpa ba-bi-bu dia menyuruh kami untuk membuat rangkaian kata ini itu. Sedikit membuatku pusing. Kemampuan mengarangku yang masih kurang. Tak bisa jika langsung dipaksakan. Dibatasi waktu. Dan di tentukan. Karena bagiku mengarangku terserah bagaimana mauku. Tentang apa kisah yang ku torehkan. Perkara apa yang ku jabarkan. Karena aku masih belajar. Di forum ini ku tanam ke yakinan kelak akupun bisa seperti mereka. Menciptakan karya dengan berbagai ketentuan dan batasan. FLP Maliki. Disini aku akan berproses.

Jumat, 27 Desember 2013

CINTA ??

Entah dimulai dari mana jika harus berbicara tentang cinta. Sepertinya rasa itu telah menjelma menjadi topik yang tak hanya diperbincangkan oleh orang-orang dewasa saja. Tapi banyak kalangan. Bahkan anak ABG pun cenderung gandrung dengan kata yang satu ini. Banyak dari mereka yang harus putus sekolah hanya karena masalah cinta. Harus memendam cita-cita yang telah terukir demi sebuah hasrat untuk memiliki.

Teringat masa aku berseragam putih abu-abu dulu. Dimana semua orang sibuk memperbincangkan masalah cinta. Hingga tiap waktu istirahatpun tidak hanya di kantin di ruang kelaspun, topik itu memjadi bahan pokok pembicara'an.

Pernah suatu ketika sahabatku yang kerap di panggil mocin itu terlihat murung dan uring-uringan. Semangat yang terpancar seakan bersembunyi di balik senyum yang dipaksakan. Waktu aku bertanya kepadanya " kamu kenapa?" dia hanya diam. Menatapku denga peluh di ujung matanya. "Aku benci dengan wanita"timpalnya.
"kenapa? berarti kamu benci juga sama aku?'' ucapku sedikit menahan rasa sabar.
"Tidak semua. TApi kau tau sahabat gadis yang teramat diam itu. Kini pergi dengan menancapkan seribu sembilu dalam peluhku, haaah aku bosan dengan kata maaf yang tiap kali dia ucapkan di balik sikap munafiknya itu. Aku hanya mampu berkata cinta itu omong kosong." aku resapi apa yang ia rasakan. Kubiarkan dia sejenak dengan amarahnya. Ku katakan padanya bahwa cinta memang demikian. Jika memang sudah siap untuk merasakan bahagia dan kecewa maka rasa cinta itu hadir sebagai jembatan pembentukan mental.

Pernah juga aku diajaknya hadir ke acara pernikahan mantan kekasinya itu. Hanya dengan tertunduk dia berjalan di sebelahku. Senyum palsu yang harus di suguhkannya. Rasa malu yang harus disimpan saat semua teman mengulang kembali kisah cinta masa purbanya. Aku seakan merasakan sakit yang ia rasakan. Apalagi saat mempelai perempuan menyambutnya dengan menggandeng mesra tangan imam hidupnya. Tak tau bagaimana aku mengungkapkannya. Yang jelas aku hanya melihatnya terus tertunduk.

Benar memang kawan, cinta itu mampu mengubah segalanya. Orang yang kuat menjadi lemah dan orang yang lemah menjadi kuat.. Semua tergantung bagaimana kita mampu menyikapinya.

Sabtu, 07 Desember 2013

SEBELAH MATA



“Menunggu bus nak?” Tanya seorang bapak-bapak kembali menyadarkanku dalam lamunan. Aku hanya mengangguk. Ku tatap wajah lelaki yang tadi membuat lamunanku berlari menjauh. Tampak kerutan-kerutan diwajahnya. Tubuhnya yang tinggi kurus itu menenteng sebuah karung putih. Entah apa isinya. Berhasil membuatku penasaran, tapi aku malu menanyakannya. Diusapnya beberapa kali peluh yang menetes diwajahnya dengan sapu tangan lusuh bertuliskan Indonesia. Mungkin karena rasa cintanya terhadap Negara ini yang terlalu dalam.
“Bapak mau kemana?” tanyaku membuka percakapan.
“Ke pasar wlingi nak, oya panggil saja saya pak Rahmat.”
“iya pak, saya Tina pak. Sepertinya kita searah pak.”
“Nak Tina mau ke wlingi juga?”
“Iya pak ke rumah saudara. Bapak ada perlu apa ke pasar wlingi?”
“Ini nak mengantarkan pesanan singkong.” Diperlihatkannya umbi singkong yang masih berbau tanah itu padaku.
“Wah jauh sekali pak dari kepanjen ke wlingi. Kenapa tidak di jual di pasar kepanjen saja pak?”
“Iya biasanya dijual disana nak, tapi karena kemaren pembelinya membawa barang bawaan banyak, bapak di minta mengantarkannya kesana.” Belum sempat bertanya lagi. Bus putih bertuliskan Bagong itu berhenti di depan kami. Kutuntun pak Rahmat. Kuraih karung putih yang dibawanya. Bekas merah bertengger di jemariku.
“Jangan nak berat” kata pak Rahmat tertelan bising mesin bus. Aku hanya tersenyum mendengar samar tuturnya. “Ternyata berat juga” batinku. Aku ingin bertanya banyak hal padanya. Bertanya tentang kisahnya dan bertanya tentang keluarganya. Beruntung masih ada dua kursi kosong untuk aku dan pak Rahmat. Kami duduk bersebelahan. Ku tahan beribu Tanya yang berkecamuk. Ku biarkan pak Rahmat menyandarkan tubuhnya sejenak di kursi bus.
            Koaran-koaran kernet bus memekikkan gendang telingaku. Bau kecut keringat perjuangannya singgah ke bulu-bulu hidungku.hehe Lantunan-lantunan syair pengamen jalanan berhasil menggambarkan senyum di wajahku. Ku tatap pak Rahmat yang mulai terbangun dari rangkaian mimpinya.
“Sudah bangun pak?” pak Rahmat tersenyum dan mengucek-ngucek matanya.
“ini dimana nak?”
“Bendungan lahor Karang Kates pak, masih jauh kok pak. Bapak kenapa ke wlingi sendirian pak?”
“Lha mau minta diantar siapa nak. Semua keluarga bapak sudah tidak ada.” Aku tak berani bertanya lagi. Seperti ada sesuatu yang mengganjal tenggorokanku. “Kabeh dadi korbane Londo nduk,,” lanjut pak Rahmat dengan nada suara yang bergetar. Pandangannya menerawang jauh. Bibirnya yang mulai kelu itu mulai berkisah masa purba. Masa ia masih bergabung dengan geraka pemuda yang melawan penindasan belanda. Terlihat disudut matanya butiran yang jatuh tanpa tertahan.
“Dentuman bom dan peluru itu menyatu. Seakan telah menjadi sahabat dalam hariku. Menjadi hal yang tak asing lagi. Benda panas yang merenggut beribu nyawa sahabat-sahabatku. Meski aliran darah segar terasa mengalir di keningku. Aku enggan menghentikan langkah. Aku berlari menuju gubuk kecil tempat anak dan istriku bersembunyi. Rasa perih tak lagi aku gubris. Hanya ada bayangan senyuman anak-anak dan istriku. Teringat masa kita habiskan waktu bersama dalam panas terik mentari dan dinginnya guyuran hujan. Saat harus berlari dari ganasnya serdadu belanda. Kupercepat langkah saat ku lihat pintu gubuk berantakan. Terdengar jeritan wanita yang menyayat. Seorang wanita yang sangat ku sayangi tergeletak dengan baju setengah terbuka. Terlihat goresan-goresan luka di tubuh anak-anakku yang terbujur dengan berselimut cairan merah. Hilang kesabaranku. Hatiku menjerit melihat oaring-orang yang kusayangi tergeletak untuk selamanya. Tanpa berpikir panjang ku tembakkan senapan tepat dikepala laki-laki berwajah belanda itu. “Binataaaaang,,, Bajingaaaan”teriakku berkali-kali. Tanganku bergetar. Ku peluk tubuh anak-anak dan istriku. Kusematkan janji dalam hatiku. Aku tak akan berhenti berjuang. Meneriakkan kemerdekaan dari mereka manusia behati setan. Penjajahan dan kekejaman dengan janji tanpa pembuktiaan. Kuraih sapu tangan yang menyatu dengan darah istriku. Sapu tangan yang dijahinya semalam. Sapu tangan tanda cinta akan tanah air. Dalam tiap jahitannya tersimpan harapan kemerdekaan, kebebasan dan kedamaian.” Ia tak melanjutkan lagi ceritannya. Hanya terdiam dalam terawang kenangan perjuangan. Matanya menatap jendela bus yang mulai buram.
“Lihat nak,, mereka anak-anak jalanan itu” tangannya menunjuk ke jalanan trotoar. Anak-anak kecil berpakaian compang-camping membawa gitar kecil. Berkoor lagu punk rock jalanan. Menghampiri toko-toko kecil di pinggir jalan. “Lihat disana nak,, dibawah jembatan itu” aku mengalihkan pandanganku mengikuti petunjuk jari pak Rahmat. Dibawah jembatan beton ini. Ku lihat seorang wanita mencuci beberapa potong baju di genangan air keruh. Dibelakangnya terlihat rumah kardus reot dengan warna yang mulai luntur. “Dan itu nak,,” tunjuknya lagi. Di sebuah caffe di pojok jalan. Darah muda berseragam putih abu-abu asyik bercengkraman. Sesekali terdengar deruman mesin motor ninja yang di gas kuat-kuat. Dan sebagian lainnya mengankat kakinya diatas kursi dengan ditemani segelas kopi dan beberapa batang rokok yang mengepul membentuk lingkaran di udara. “Kau mengerti tak nak? Seharusnya anak-anak jalanan tadi mendapatkan pendidikan yang layak dan wanita di bawah jembatan tadi harusnya mendapat tempat yang layak. Tapi siapa yang akan menjamin kelayakan itu. Pemimpin negeri sibuk berjanji. Sibuk berkompetisi. Generasi muda sibuk mempersenang diri. Bagi mereka yang berkesempatan mengenyam dunia pendidikan, sibuk dengan gaya pribadi. Sibuk mencari teknologi. Sibuk mencari pasangan hati. Sedikit dari mereka yang sibuk memahami kondisi negeri. Korupsi yang saat ini telah menjadi raja di bumi pertiwi. Yang diperankan oleh kaum-kaum berpendidikan tanpa iman. Tanpa memikirkan nasib rakyat yang lama menahan demo cacing-cacing perutmya. Tapi mereka yang memegang jabatan dan kekuasaan sibuk menggemukkan diri dengan uang rakyat yang terdholimi”lanjutnya. Diusapnya air mata dengan sapu tangan kenangan masa purbanya. Aku terdiam memikirkan apa yang di ucapkan pak Rahmat.
“Bapakkan pernah berjuang untuk negeri ini. Kenapa bapak tidak meminta tunjangan dari Negara?”
“Kenapa harus mengharapkan tunjangan nak.. Bapak berjuang bukan karena uang. Tapi keinginan untuk merdeka. Agar generasi muda tak lagi merasakan pedihnya hidup dibawah ketiak belanda. Bekerja dengan keterpaksaan. Panindasan tanpa keperdulian. Bukankah hidup ini perjuangan. Saat perjuanganku meneriakkan kemerdekaan menjadi sebuah kenyataan aku tak kan mengharapkan upah. Meski banyak ribuan nyawa yang melayang. Itu semua adalah bagian dari sejarah panjang perjuangan. Kini saatnya bapak berjuang melawan rasa lapar, berjuang melawan himpitan ekonomi, berjuang untuk tetap bertahan. Kabeh iku kudu dilakoni tansah roso ikhlas nduuk,, Biarkan mata yang tinggal sebelah ini yang akan menjadi saksi kisah perjuanganku di masa purba itu” Ada aliran rasa kagum yang menelusup. Tak dapat ku pungkiri aku berkali-kali  memujinya dalam hati. Keikhlasannya, kesabaran dan keperduliaannya. Meski hanya dengan sebelah mata. Ia tetap berjuang.

Selasa, 09 April 2013

MSAA


                Kulangkahkan kakiku gontai. Sepi. Seperti tanpa penghuni. Sekilas satu dua mahasantri hilir mudik membawa barang-barangnya. Ku dongakkan kepalaku, “oh tidak,,,masih kurang satu tangga lagi”ucapku pasrah sembari membopong barang-barangku menuju lantai 4. “Kreeek,,” ku buka pintu kamar 61 lantai 4. “iya tidak salah lagi inilah kamar yang akan ku tempati”gumamku lesu. Ku lirik kanan-kiri. Woow kosong tanpa penghuni. Aku yang pertama sampai dan sebagai pendatang pertama kupaksa diriku untuk membersihkan kamar. Hingga teman-temanku datang dan lengkap 8 orang. Perkenalan singkat kami itu sedikit terkesan malu-malu. Mungkin karena kita baru pertama kenal. Tapi perkenalan itu menjadi kesan unik untuk kita.
                Tepat pukul 05.30 suara bising di isti’lamat mulai terdengar. Para mbak-mbak musrifah mulai beraksi dengan celoteh-celoteh dan nyanyian-nyanyiannya ala DIVA Indonesia. Derapan langkah masantri terdengar bising saat mbak-mbak musrifah menghitung mundur mulai 10-1. Ya, sebuah senjata ampuh untuk menggerakkan hati adek-adek mahasantri yang mulai terserang penyakit malas saat shobahul lughoh. Dengan 1001 cara para mbak-mbak devisi bahasa menghidupkan suasana shobahul lughoh agar tak terkesan membosankan. Namun tak banyak dari mahasantri tetap berpegang teguh dengan manyunan bibirnya yang hampir mencapai 5 meter hehe. Tak banyak dari mereka yang mengikuti intruksi mbak musrifah. Bahkan saat kegiatan shobahul lughoh dan ta’lim berlangsung ada diantara mereka yang sibuk menenteng tugas kuliah, Ya ibarat kata pepatah “sambil menyelam minum air”. Mungkin hal itu  sudah menjadi tradisi turun temurun. Bahkan ada juga yang meyempatkan matanya untuk terpejam sejenak. Sudah bukan hal yang tabu lagi bagi kita para mahasantri yang selain mendapat tugas kuliah juga mendapat tugas di ma’had. Apalagi saat ujian ma’had dan ujian PKPBA yang berlangsung hampir bersamaan membuat mahasantri kelabakan. Sistem belajar SKS selalu diterapkan. Tapi tak semua mahasantri demikian. Ada juga diantara mereka yang bersikap bagai malaikat tanpa cela. Mengerjakan segala macam tugas dengan on time. Tidak ada istilah SKS dalam hidupnya. Prinsip belajarnya adalah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Benar memang. Bukit-bukit emas itu membuatnya memiliki nilai lebih dari yang lainnya.
                Hari minggu merupakan hari yang selalu dinanti bagi kami para mahasantri. Hari bebas. Hari istirahat tanpa syarat. Hari tidur pulas tanpa batas. Hari kami memanjakan diri.
‘’Diiiil,,,,,banguuun” digoyang-goyangkannya tubuhku.
“Hemmm,,” sahutku
“Ayoo banguuun diiil.. Jalan-jalan pagi yuuk” aku tak menggubris panggilan temanku. Mataku masih mengatup. Rasa kantuk membuatku enggan beranjak dari tidurku. Begadang semalaman dengan tumpukan tugas membuatku sedikit frustasi. Hinggan berat tubuhku beranjak dari buaian mimpi-mimpi indahku.
“Diiiil,,,,dilaaa,,,diiiiiiilll” benar-benar membuat benakku menggerutu dari A sampai Z. Kupaksakan kakiku beranjak.
“Hiiih kamu itu seneng banget lihat temen menderita” kulirik temanku sewot.
“Iiih justru aku ini baik. Tidur pagi-pagi itu gak baik tau. Makannya  ada shobahul lughoh dan ta’lim itu tujuannya biar mahasantri tidak tidur pagi-pagi. Mau kamu begadang atau tidak itu sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang mahasiswi dan mahasantri.
“Iya-iya,,, bu nyaiii” jawabku ketus. Temanku hanya tersenyum melihat tingkahku. Sebenarnya tausiyahnya pagi itu sedikit memberikan energy positive pada diriku. “Hmmm benar juga kata temanku. Pasti suatu saat nanti aku akan merindukan saat-saat indah di MSAA” gumam hati kecilku.

FLP MALIKI

FLP MALIKI
            07-04-2013  15:51
            Celoteh segerombol mahasantri kala itu menerobos celah-celah embun pagi. Tawa-tawa renyah itu mulai melempem tat kala rasa lelah menelusup tulang kaki. Langkah kaki mencari alur menuju gedung serbaguna sedikit menyematkan tumpukan gerutu kekesalan. Mondar-mandir bertanya ke penduduk sekitar taman merjosari. Rasa jengkel sedikit terealisasi saat mata tertuju pada gedung ber cat hijau muda yang terdapat tulisan FLP Uin Maliki Malang. Ya, tidak salah lagi. Itulah gedung yang kita cari. Sambutan senyum ceria dari panitia OR FLP Uin Maliki mengembangkan kuncup-kuncup kecemberutan. Tegur sapa dan perkenalan antar calon anggota FLP Uin Maliki menjadi pemandangan di forum kecil itu. Forum kecil yang dihadiri kurang lebih 90 calon anggota baru FLP Uin Maliki. Namun ada yang berbeda. Terus kuamati dan kulirikkan mataku kekanan-kekiri. Bak ditektif conan mencari alibi. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan. Cukup. Hanya 9. Tak lebih dan tak kurang. Kugigit bibir bawahku. Benar-benar tak dapat dipercaya. Hanya 9 orang panitia OR FLP Uin Maliki. Jumlah yang minim sekali. Apa karena sebuah forum kecil hingga jarang ada yang berminat berkecimpung didalamnya. Tapi senyum tulus mereka benar-benar membuatku yakin mereka adalah orang-orang hebat yang mampu bertahan dalam  eliminasi alam. Melihat mereka mengingatkanku pada tokoh 9 wali. Mungkin bedanya kalau 9 wali berjuang dalam menyebarkan islam. Kalau mereka berjuang mempertahankan dan mengembangkan FLP Uin Maliki. Benar-benar berhasil membuatku berdecak kagum. (^_^)
            Kekecewaan singgah di hati calon anggota FLP Uin Maliki saat mas Fahri selaku ketua FLP Uin Maliki mengumumkan bahwa kedua pemateri berhalangan hadir. Seketika mas Fahri mencoba menghidupkan suasana. Sembari menggenggap mikorofon. Ia kisahkan perjalanan FLP Uin Maliki. Program-program kerja dipaparkannya panjang lebar. Dengan sedikit sentuhan motivasi. “Karya seorang penulis akan tetap hidup meskipun dia sudah mati” begitu tuturnya yang merupakan filosofi seorang penulis. Juga tak luput ia perkenalkan rekannya seorang ketua FLP MALANG. Mas Mahfud namannya. Ada yang sama dari kedua ketua FLP ini. Merka sama-sama berkaca mata. Yang membedakan hanya kecondongan keduannya. Mas Fahri lebih condong ke satra dan mas Mahfud lebih condong ke cerita humor. Itulah uniknya FLP. Ada beragam imajinasi disana.
            Gema tepuk tangan memenuhi gedung serbaguna. Senyum mengembang lebar menampakkan barisan-barisan putih berjejer rapi. Tak ada beban. Sang pemateri yang kerap dipanggil Masdar Zainal itu telah menggenggam ribuan motivasi. Seorang penulis cerpen dan novel sekaligus seorang guru anak kelas satu SD ini terkesan sangat santai. Gaya pakaiannya yang rapi manambah kesan kewibawaannya. Sesekali senyum mengiringi suntikan stimulusnya. “Suarakan pikiranmu pada dunia, biarkan penamu berbicara, menyampaikan kata-kata yang pemalu” itu kata-kata pertamannya saat menyampaikan materi tentang dasar-dasar kepenulisan. Perjalanannya menuju dunia imajinatif tak pernah ia duga. Seorang alumni Uin Maliki Malang jurusan PAI ini tak pernah mempunyai impian untuk jadi seorang penulis. Berawal dari banyaknya waktu kosong setelah ujian skripsi. Ia mencoba menuangkan tarian kata-katanya. Berkali-kali ia jatuh. Berkali-kali ditolak media. Berkali-kali mondar-mandir ke rental. Tak membuatnya jera untuk terus berkarya. “Penolakan karya bukanlah kiamat” ucapnya. Berbagai tips di beberkannya.
“MALAS obati dengan KEDISIPLINAN”
“TAKUT obati dengan TERUS MENCOBA”
“TIDAk BISA obati dengan TERUS BERKARYA”
“TAK TAHU obati dengan TERUS MEMBACA”
Kata-kata yang terjebak dalam memory otakku. Terus bersemayam dan mengalahkan sedikit rasa malasku.
            Pemateri selanjutnya tak kalah heboh. Laki-laki berambut agak gelombang. Bertubuh sedikit bulat dan tingginya kira-kira 160cm. Bermata lebar dan berwajah oval ini kerap disapa dengan nama yang tak asing. Mas Hafid. Seorang mahasiswa Uin Maliki semester 8 jurusan ekonomi ini ternyata berjiwa sastra.  Sifatnya yang humoris membuat orang betah lama-lama didekatnya. Penyampaian materi tentang diksi terasa hidup saat ia mengkoarkan “Apa arti diksi menurut kalian? Saya minta jawaban yang nakal, yang nyleneh, tapi masuk akal” begitu ucapnya sembari mondar-mandir kebelakang dan kedepan calon anggota baru FLP Uin Maliki.
“Diksi itu selingkuhan kata”
“Diksi itu nyawa tulisan kita”
“Diksi itu oksigen kehidupan” diksi itu bla,,,bla,,bla,, begitu seterusnya. Mereka saling bersahut-sahutan menanggapi pertannyaan mas hafid. Tidak berhenti dari situ. Mas Hafid terus memacu daya fikir kami. Bagai mengolah adonan kue. Terus ia putar kata. Dengan tanpa ba-bi-bu dia menyuruh kami untuk membuat rangkaian kata ini itu. Sedikit membuatku pusing. Kemampuan mengarangku yang masih kurang. Tak bisa jika langsung dipaksakan. Dibatasi waktu. Dan di tentukan. Karena bagiku mengarangku terserah bagaimana mauku. Tentang apa kisah yang ku torehkan. Perkara apa yang ku jabarkan. Karena aku masih belajar. Di forum ini ku tanam ke yakinan kelak akupun bisa seperti mereka. Menciptakan karya dengan berbagai ketentuan dan batasan. FLP Maliki. Disini aku akan berproses.