Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Senin, 31 Maret 2014

Cahaya Metropolitan 2


Tidak pernah ada hawa sejuk yang kurasakan selama di kota metropolitan ini. Apalagi musim panas semacam ini. Matahari sepertinya tidak lagi memperdulikan kulit yang mulai demo massal. "Hooaaamm,," berkali-kali aku menguap. Terpaksa aku bolos kuliah. Segera aku berhambur menuju kamar kos ku yang tidak jauh dari tempat kuliah. Sekitar 30 meter. Menjadi mahasiswa jurusa HI di Universitas Bung Karno tak membuatku merasakan beban berat tinggal di ibu kota. Tapi semenjak mendengar kabar ayahku di malang sakit. Aku memutar otak. Bagaimana caranya agar aku bisa kulliah sambil bekerja. Beberapa teman sudah ku hubungi tapi belum ada yang memberiku kabar. Tak taulah aku tiba-tiba merasa bosan. Aku ingin marah. Tapi kenapa dan pada siapa? entahlah. Ku paksa mataku untuk terpejam.

Belum sempat aku merambat kealam mimpi, ponselku berdering.
"Hallo.. hallo" tak ada jawaban hening. "Hellooooo... ini siapa???" ucapku sedikit membentak.
"Diinn ini gue. Tanti."
"ooh elu tan. Ada apa?"
"Eh lu katanya butuh pekerjaan ya? ntr malem bisa ketemu gak nih. Gue ada partner nih buat lu."
"Partner apa? kerja apaan emang?"
"Yaaa hanya sekedar menghibur mereka cowok-cowok kesepian."
"Gilaaaa luu. Lu pikir gue pelacur apa. Tan jangan gitu lu. Masak lu mau hancurin temen lu sendiri"
"Lu mau kagak? ini jakarta boook... jakarta keras buuuk." aku diam sejenak. Ku fikir matang-matang. Tak ada salahnya. Selama aku tidak melakukan free sex saja. Just Fun. "Ok" jawabku singkat.
Apa yang sebenarnya kupikirkan. Kenapa aku bilang iya. Entahlah, lihat saja apa yang terjadi nanti.

Malam itu ku temui Tanti di cafe pisa menteng. Sesuai perjanjian dia bersama dengan seorang laki-laki. Usianya berkisar antara 24-26. Wajanya sedikit bolat. Nampak lesung pipi saat dia tersenyum. "Sini din" tanti melambai ke arahku. Aku menganguk menuju tempatnya.
"Tio, kenalin ini temen gue Dinda. Din kenalin ini Tio." kami saling bersalaman. Aku hanya diam. Ku biarkan tanti nyerocos menjelaskan.
"Tenang saja Din, gue bukan orang yang suka free sex kok. Gue gak minta lu buat nemenin gue buat gitu. Ehmm lebih tepatnya gue butuh partner buat jadi Baby Sitter buat adek gue. Gue hanya tinggal sama adek dan pembantu saja. Gimana Din? Keberatan" aku menggeleng. "Ya boleh, tapi gue belum ada pengalaman."
"gak papa. cuma butuh kesabaran aja. Adek gue masih kelas 5 SD kok"
"Baiklah" ucapku mantap. Aku merasa sedikit lega. "Kapan gue bisa mulai kerja?"
"Besok gimana? bisa?"
"Yuups, tapi kalo waktunya kuliah, gue boleh izin?"
"Boleh, tinggal kasih gue jadwal kuliah lu aja. entar kalo pas lu kuliah, gue bisa jemput dan nganter adek gue. Gimana" aku mengangguk. Kita sudai pertemuan malam ini. Tio menawarkan diri mengantarkanku dan Tanti. Tapi aku menolak. Tapi Tanti tampak begitu antusias.Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Sepertinya dia berhasil mengerjaiku. Dari pertama tadi dia nampak cengar-cengir sendiri. "Awaaas yaaa" batinku saat melihatnya tersenyum jahil.

Aku tak bisa memejamkan mata. Bayanganku masih menerawang jauuh. Bagaimana besok au harus bersikap. Ini adalah pengalaman pertamaku.

Rabu, 19 Maret 2014

Cahaya Metropolitan


Menunggu. Pria berkemeja putih itu nampak berkali-kali menatap jam tangan putih yang melingkar dipergelangan tangannya. Risau. Tampak diraut mukanya. Detikkan jarum jam mewakili detak jantungnya yang berbisik pada sang waktu.
"Hhaas masih setengah jam lagi" gerutunya sendiri. Tanpa menghiraukan pandangan orang-orang di sekelilingnya. Nyanyian lagu campur sari nampaknya tak mampu sedikit memalingkan perhatiannya. Asap rokok para penghuni statiun semut tak juga membuatnya terganggu. Tetap saja ia bermain dengan gejolak hatinya. Tangan kanannya merogoh saku celana jeans abu-abu panjangnya Dari dompet kulit hitam, ia cermati foto wanita berambut pirang yang nampak mesra dengannya.
"Assalamualaikum,,,"sapa seorang wanita berkerudung biru."Assalamualaikum !!" salam kedua yang sama tak mendapatkan tanggapan. "Assalamualaikum.. mas dika .." sapa perempuan itu untuk yang ke tiga kalinya. Pria berkemeja putih itu menoleh. Raut mukanya berubah. Nama Dika tak asing baginya. Tapi perempuan yang ada di hadapannya begitu asing. Meski hatinya merasa begitu dekat.
"Mas.."sapa perempuan berkerudung biru itu. Dijentikkannya jemari didepan Dika.
"Kamu siapa?"
"Mas lupa dengan saya?" Dika mencoba menyelami memori kenangan-kenangannya. Wajah yang tak asing.
"Dinda??" Perempuan berkerudung biru itu hanya mengangguk dan tersenyum. "Tapiii.."
"Tapi kenapa mas? Ada yang beda?" Dika mengangguk. Dinda hanya tersenyum tanpa menjelaskan.
"Kita maka dulu yuk mas, nanti saya akan berbagi cerita. Kenapa saya berkerudung" meski tampak ragu-ragu. Dika beranjak menuruti pinta perempuan yang di panggilnya dinda. Hatinya di penuhi ribuan pertanyaan. Antara percaya dan tidak percaya.
  Berjalan dengan perempuan berjilbab agaknya tak membuat tangan nakalnya taubat. Diraihnya tangan mungil Dinda. Dinda yang tekejut dengan segera menarik pergelangan tangannya.
"kanapa? bukankah kita masih kekasih?"
"Sepertinya saya sudah kenyang. Lebih baik kita pulang sekarang mas. Biar saya pulang naik angkot saja." tanpa menunggu jawaban Dika. Dinda berbalik arah dan segera berlari kecil mencari angkot di sekitar stasiun.
"Ada apa dengan gadis ini." Dika membatin. "Dia tampak begitu berbeda, sebenarnya apa yang terjadi. Rasa penasaranlah yang kini merajai hati Dika. Ia tak segera pulang kerumah. Mobil kijangnya ia balikkan arah menuju rumah Dinda. Mobilnya berhenti tepat dipelataran rumah Dika. Aneh. Rumah besteksturadat jawa kuno itu ramai. Banyak saudara-saudara dinda yang tak asing baginya disana.
"Eeehh nak Dika,, mana Dinda??" tanya ibu Dinda begitu mengetahui sosok Dika yang berada di ambang pintu.
"Dinda belum sampai rumah bu?? tadi dia pulang duluan naik angkot."
"Lho, kok bisa begitu. Kenapa? Kalian bertengkar? Bukannya sudah lama kalian tidak bertemu" ibu Dinda heran. Segera diajaknya Dika duduk bergabung dengan semua keluarganya.
"Assalamualaikum,,," terdengar salam seorang perempuan dibalik pintu. Semua mata terkejut. Begitu juga dengan ibu Dinda. "Ini Dinda Bu,,"
"Kau begitu berbeda sayang" Dinda menghampiri Ibunya dan memeluknya erat. Dinda terisak di pelukan Ibunya. Pelukan yang lama tk dirasakannya. Pelukan yng dirindukannya.
"Izinkanlah sejenak Dinda bercerita kenapa Dinda berjilbab bu."
....
Bersambung,,

Selasa, 18 Maret 2014

Doa Untuk "Calon Imamku????"

Rabb ku...
Aku berdoa untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku...
Seorang pria yang sungguh mencintaiMU lebih dari sesuatu....
Seorang pria yang akan meletakkan ku di hatinya setelah Engkau, Muhammad, dan Kedua  Orang tuanya...
Seorang pria yang berkata dan berhati bijak,bukan hanya cerdas semata
Seorang pria yang tidak hanya mampu mencintaiku, tapi juga menghargaiku, juga keluarga kecilku
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga mampu mendidikku..
Seorang pria yang mencintaiku bukan hanya rupaku tetapi karena apa yang ada di hatiku
Rabb ku...
Aku berdoa untuk seorang pria yang aku cinta karena Engkau
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagaikekuatannya
Seorang pria yang membutuhkan daku bagi hidupnya
Seorang pria yang membutuhkan senyumku untuk sedihnya
Seorang pria yang membutuhkan hadirku untuk membuat hidupnya lebih sempurna
Seorang pria yang membutuhkan sifat rahimku untuk menjadi ibu bagi anak anak kami
Seorang pria yang akan menjadi imamku
Rabb ku...
Demi AgungMU dan KesucianMU
Ijinkanlah aku menjadi wanita yang kuat
Agar selalu mampu menjadi sandaran ketika ia mulai rapuh
Ijinkanlah aku menjadi wanita yang tegar
Agar selalu mampu membuatnya tetap tersenyum untuk dunia
Ijinkanlah aku menjadi wanita yang sabar
Agar selalu bisa mencintainya dengan kekurangan dan kelebihannya
Ijinkanlah aku untuk tetap ceria
Agar selalu mampu hadirkan gelak tawa ketika ia merasa jenuh
Rabb ku...
Berika aku kesehatan disisa usiaku
Agar aku mampu melantunkan ayat-ayat suciMU untuknya disetiap malam
Melayaninya dengan ikhlasku dan bahagiaku
Agar aku selalu bisa mengucap salam disetiap pagi dan malamnya 
Agar aku selalu mampu melihat dan temaninya dalam lelahnya
Rabb ku...
Ijinkanlah aku mampu merasakan ikhlas
Bukan dengan ambisiku, bukan pula dengan egoku
Tapi dengan ikhlasku untuk mencintainya
Satu bentuk cinta yang tak mengenal istilah menyakiti, disakiti, dan tersakiti karena mencinta
Ijinkanlah agar aku  menjadi wanita pembawa berkah bagi hidup dan kehidupannya
Bagi umur serta rizkinya
Rabb ku...
Dengan doa dan keyakinan, dengan sabar dan ikhlas
Serta dengan ikhtiar dan tawakkal ku
Aku akan menunggu masa itu datang
Akan aku perbaiki diriku untuk pertemuan itu
Akan ku pantaskan pribadiku untuk pria itu
Rabb ku... terima kasihku untukMU
Karena aku tau inilah bukti bahwa Engkau mencintai kami
Bahwa Engkau selalu menjaga kami dari perbuatan yang sia-sia
dan aku akan bersamaMU Rabb ku...
Menunggu masa itu datang
Masa dimana pada akhirnya pertemuan itu engkau ridhoi
Masa dimana dua insan ini memetik buah kerinduan atas nafas cintaMU
YA ALLAH... YA TUHANKU
Allah Azza Wa Jalla
Seolah timur dan barat Engkau pisahkan raga ini
Tapi akau yakin dengan ijin dan ridhomu tidak ada yang tidak mungkin
Bahagia itu akan tiba pada masanya
Karena hari ini kami menebar bibit bibit keindahan dan kebahagiaan
Rabb ku...
Ketika masa itu tiba, ijinkan kami berucap syukur
Betapa besar Engkau Dzat yang Maha Agung
Karena menganugerahkan seseorang yang mampu membuat hidup kami lebih sempurna...

Kamis, 13 Maret 2014

Belajar tentang Kesetiaan



 Jika berbicara tentang kesetiaan, mungkin tak akan jauh-jauh dari kata ketulusan. Ada yang bilang kesetiaan itu adalah sebuah perjuangan.Perjuangan untuk tetap bertahan dengan pilihan. Perjuangan untuk tetap menjaga ikatan ( bagi mereka yang dilanda kata kasmaran). Yah seperti itulah jika kata setia telah tersemat. Seakan tak ada lagi kata curiga. Sebuah rasa yang dipadukan dengan keikhlasan dan kesabaran.

Akan panjang jika kita bahas itu semua. Cukup saja kau tau setia itu tak hanya untuk belahan jiwa saja, kekasihlah tepatnya atau yang sering disebut pacar. Hmmm tidak ada yang bisa disalahkan jika jiwa-jiwa muda itu mulai terikat dengan rasa yang nano-nano (Wuuiiih enak tuuh asem2 manis hehehe) tapi sepertinya kita juga harus pandai-pandai jaga diri dan jaga hati. Jangan sampai kata setia dijadikan alasan untuk kita merelakan segalanya. Kalian pasti tau apa maksudku merelakan segalanya,,, merelakan mahkota berharga (bagi yang cewek nih) kepada para penjahat cinta yang berlebel setia. Huuuffftt terlalu ciut kalau kitamengartikan setia hanya sebatas itu saja.

Setia itu banyak guys.. Gak harus dengan pacar kok. TApi juga pada sahabat, partner kerja, dan banyak lagi. Sebenarnya kita bisa belajar setia dari kedua ortu kita. Dari kesabaran, keikhlasan dan pengorbanan mereka. Pernah nggak kalian berfikir tentang bagaimana perasaan ortu kita, satu hari dalam agenda harianmu mungkin atau satu jam saja,, atau 1 meniit saja. Pernah nggak berfikir kalau kalian itu lagi menabung kekecewaan di hatimereka, saat kamu lagi asyik ngobrol gak jelas ngalor-ngidul, lagi ngabisin jatah bulanan buat beliin pacar kosmetik atau baju baru, lagi males-malesan ato ogah-ogahan buat masuk kuliah atau sekolah. Eiiitttss penulis bilang sgini bukanberarti penulis gak pernah ngalamin lhoo !!! pernah kok rasa malas itu hadir. TApi ya kudu dipikir lagi kita ini lagi memegang harapan kedua ortu kita.

Coba deh belajar setia kaya ortu kita. Meski berkali-kali kita salah, berkali-kali buat airmata beharga mengalir, berkali-kali mengukir kekecewaan. Tetap saja mereka sayang sama kita. Selalu setia menanti perubahan kita, selalu setia mema'afkan kesalahan kita yang berulang-ulang kali, selalu setiamenasehati dan ngingetin kita. Hmmm banyak banget deh pkoknya. Lha kalo dah gitu masih mau terus-terusan buat mereka kecewa ??? Kalau mereka bisa mengamalkan ilmu setia,, kenapa kita tidak ?? 

Minggu, 09 Maret 2014

CINTA BERUJUNG MAUT



                         


          Lelah.. itu pasti. Tapi itu bukan alasan bagi seorang mahasiswa untuk berleha-leha. Tugas itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Buku itu sudah menjadi sahabat setia. Organisasi itu menjadi wadah bersosialisasi. Kosong rasanya kalau hanya kuliah trus tidur di kamar. Monoton. Itu alasan mengapa aku terjun ( uups,, jangan diartikan terjun bebas ya ,,, hehehe) ke dunia organisasi. Sampai-sampai ada banyak kisah tuh yang terjalin di organisasi. Dari yang nemu temen baru sampai ada yang dari temen jadi demen. But,, jangan sampai tuh rasa di jadikan alasan buat ikut organisasi. Waaah gak bakal langgeng tuh ujung-ujungnya bertahan dalam dunia organisasi. Bayangin deh kalo lagi bete, brantem ato bahkan putus ma someone, organisasi jadi korban. Banyak juga tuh para pemimpin yang terjerat cinta dan yang akhirnya melupakan nasib rakyatnya. Hanya berfikir tanpa tindakan... Uuupss ma’af ya bagi yang tersindir. Ini hanya ungkapan hati aja... hehehe
          Hmmm ngomong-ngomong soal hubungan asmara. Banyak banget tuh yang awalnya manis tapi akhirnya tragis. Waauuu,, gimana tuh katanya cinta itu indah, cinta itu membuat hidup berwarna dan bla,, bla,,bla,, . Tapi jangan salahkan cinta deh, Itu tergantung para pelaku cinta saja. Tergantung mereka yang terikat dalam kata “pacaran” yang saat ini lagi banyak-banyaknya digandrungi para remaja.
          Cinta yang berawal manis dan berakhir tragis. Sepertinya lagi musim tuh. Seperti yang penulis tahu siih,, dari berita di surat kabar, TV, berita online sampai isu-isu yang sering mampir. Kebanyakan remaja sekarang tuh gak mikir dua kali. Awalnya janji manis yang terucap. Cinta yang di jadikan alasan menjalin hubungan yang di kenal dengan istilah “pacaran”. Bilangnya siih supaya entar kalo nikah sudah saling memahami. Tapi kalo udah putus.... jangankan bilang cinta memandang aja ogah-ogahan. Jadi mungsuhan. Bahkan ada yang dendam hingga membuat nyawa melayang. Wiiidiiih ngeri broooww !!!!  niatnya jalin hubungan biar bahagia tapi malah ngrangkai sejarah hitam di hidupnya. Kaya berita yang lagi heboh saat ini nih. Kisahnya ade seorang mahasiswi yang dibunuh mantan pabcar SMAnya. Hanya karena diajak balikan gak mau. Tragisnya lagi si cowok yang bernama Hafid ini kerjasama lho ma pacarnya sekarang. Naaah kalo udah gini mau salahin siapa?? Cinta?? Salah apa cinta. Cinta hanya jadi kambing hitam aja tuuh. Kasihan banget ya cinta,,, L hiks hiks.
          Sepertinya peran orang tua sangat di butuhin nih bagi pergaulan para remaja saat ini. Perhatian yang lebih. Bukan hanya perhatian dengan masalah ekonomi ajalaah. Tapi ya perkembangan sang buah hati juga perlu di perhatikan. Hmmm selain itu kita sebagai generasi muda harus berfikir lebih cerdas. Lebih tepatnya berfikir dulu sebelum bertindak. Mau jalin hubungan “pacaran”??? fikir dulu dah banyak positifnya atau negatifnya... toh dalam islamkan ndak ada istilahnya pacarankan?? ( bagi generasi muslim ) lebih baik difikirkan dulu deh ya,,,
          Mau seperti apa kita?? Ya tergantung bagaimana kita berfikir dan bertindak,, :D

Senin, 31 Maret 2014

Cahaya Metropolitan 2


Tidak pernah ada hawa sejuk yang kurasakan selama di kota metropolitan ini. Apalagi musim panas semacam ini. Matahari sepertinya tidak lagi memperdulikan kulit yang mulai demo massal. "Hooaaamm,," berkali-kali aku menguap. Terpaksa aku bolos kuliah. Segera aku berhambur menuju kamar kos ku yang tidak jauh dari tempat kuliah. Sekitar 30 meter. Menjadi mahasiswa jurusa HI di Universitas Bung Karno tak membuatku merasakan beban berat tinggal di ibu kota. Tapi semenjak mendengar kabar ayahku di malang sakit. Aku memutar otak. Bagaimana caranya agar aku bisa kulliah sambil bekerja. Beberapa teman sudah ku hubungi tapi belum ada yang memberiku kabar. Tak taulah aku tiba-tiba merasa bosan. Aku ingin marah. Tapi kenapa dan pada siapa? entahlah. Ku paksa mataku untuk terpejam.

Belum sempat aku merambat kealam mimpi, ponselku berdering.
"Hallo.. hallo" tak ada jawaban hening. "Hellooooo... ini siapa???" ucapku sedikit membentak.
"Diinn ini gue. Tanti."
"ooh elu tan. Ada apa?"
"Eh lu katanya butuh pekerjaan ya? ntr malem bisa ketemu gak nih. Gue ada partner nih buat lu."
"Partner apa? kerja apaan emang?"
"Yaaa hanya sekedar menghibur mereka cowok-cowok kesepian."
"Gilaaaa luu. Lu pikir gue pelacur apa. Tan jangan gitu lu. Masak lu mau hancurin temen lu sendiri"
"Lu mau kagak? ini jakarta boook... jakarta keras buuuk." aku diam sejenak. Ku fikir matang-matang. Tak ada salahnya. Selama aku tidak melakukan free sex saja. Just Fun. "Ok" jawabku singkat.
Apa yang sebenarnya kupikirkan. Kenapa aku bilang iya. Entahlah, lihat saja apa yang terjadi nanti.

Malam itu ku temui Tanti di cafe pisa menteng. Sesuai perjanjian dia bersama dengan seorang laki-laki. Usianya berkisar antara 24-26. Wajanya sedikit bolat. Nampak lesung pipi saat dia tersenyum. "Sini din" tanti melambai ke arahku. Aku menganguk menuju tempatnya.
"Tio, kenalin ini temen gue Dinda. Din kenalin ini Tio." kami saling bersalaman. Aku hanya diam. Ku biarkan tanti nyerocos menjelaskan.
"Tenang saja Din, gue bukan orang yang suka free sex kok. Gue gak minta lu buat nemenin gue buat gitu. Ehmm lebih tepatnya gue butuh partner buat jadi Baby Sitter buat adek gue. Gue hanya tinggal sama adek dan pembantu saja. Gimana Din? Keberatan" aku menggeleng. "Ya boleh, tapi gue belum ada pengalaman."
"gak papa. cuma butuh kesabaran aja. Adek gue masih kelas 5 SD kok"
"Baiklah" ucapku mantap. Aku merasa sedikit lega. "Kapan gue bisa mulai kerja?"
"Besok gimana? bisa?"
"Yuups, tapi kalo waktunya kuliah, gue boleh izin?"
"Boleh, tinggal kasih gue jadwal kuliah lu aja. entar kalo pas lu kuliah, gue bisa jemput dan nganter adek gue. Gimana" aku mengangguk. Kita sudai pertemuan malam ini. Tio menawarkan diri mengantarkanku dan Tanti. Tapi aku menolak. Tapi Tanti tampak begitu antusias.Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Sepertinya dia berhasil mengerjaiku. Dari pertama tadi dia nampak cengar-cengir sendiri. "Awaaas yaaa" batinku saat melihatnya tersenyum jahil.

Aku tak bisa memejamkan mata. Bayanganku masih menerawang jauuh. Bagaimana besok au harus bersikap. Ini adalah pengalaman pertamaku.

Rabu, 19 Maret 2014

Cahaya Metropolitan


Menunggu. Pria berkemeja putih itu nampak berkali-kali menatap jam tangan putih yang melingkar dipergelangan tangannya. Risau. Tampak diraut mukanya. Detikkan jarum jam mewakili detak jantungnya yang berbisik pada sang waktu.
"Hhaas masih setengah jam lagi" gerutunya sendiri. Tanpa menghiraukan pandangan orang-orang di sekelilingnya. Nyanyian lagu campur sari nampaknya tak mampu sedikit memalingkan perhatiannya. Asap rokok para penghuni statiun semut tak juga membuatnya terganggu. Tetap saja ia bermain dengan gejolak hatinya. Tangan kanannya merogoh saku celana jeans abu-abu panjangnya Dari dompet kulit hitam, ia cermati foto wanita berambut pirang yang nampak mesra dengannya.
"Assalamualaikum,,,"sapa seorang wanita berkerudung biru."Assalamualaikum !!" salam kedua yang sama tak mendapatkan tanggapan. "Assalamualaikum.. mas dika .." sapa perempuan itu untuk yang ke tiga kalinya. Pria berkemeja putih itu menoleh. Raut mukanya berubah. Nama Dika tak asing baginya. Tapi perempuan yang ada di hadapannya begitu asing. Meski hatinya merasa begitu dekat.
"Mas.."sapa perempuan berkerudung biru itu. Dijentikkannya jemari didepan Dika.
"Kamu siapa?"
"Mas lupa dengan saya?" Dika mencoba menyelami memori kenangan-kenangannya. Wajah yang tak asing.
"Dinda??" Perempuan berkerudung biru itu hanya mengangguk dan tersenyum. "Tapiii.."
"Tapi kenapa mas? Ada yang beda?" Dika mengangguk. Dinda hanya tersenyum tanpa menjelaskan.
"Kita maka dulu yuk mas, nanti saya akan berbagi cerita. Kenapa saya berkerudung" meski tampak ragu-ragu. Dika beranjak menuruti pinta perempuan yang di panggilnya dinda. Hatinya di penuhi ribuan pertanyaan. Antara percaya dan tidak percaya.
  Berjalan dengan perempuan berjilbab agaknya tak membuat tangan nakalnya taubat. Diraihnya tangan mungil Dinda. Dinda yang tekejut dengan segera menarik pergelangan tangannya.
"kanapa? bukankah kita masih kekasih?"
"Sepertinya saya sudah kenyang. Lebih baik kita pulang sekarang mas. Biar saya pulang naik angkot saja." tanpa menunggu jawaban Dika. Dinda berbalik arah dan segera berlari kecil mencari angkot di sekitar stasiun.
"Ada apa dengan gadis ini." Dika membatin. "Dia tampak begitu berbeda, sebenarnya apa yang terjadi. Rasa penasaranlah yang kini merajai hati Dika. Ia tak segera pulang kerumah. Mobil kijangnya ia balikkan arah menuju rumah Dinda. Mobilnya berhenti tepat dipelataran rumah Dika. Aneh. Rumah besteksturadat jawa kuno itu ramai. Banyak saudara-saudara dinda yang tak asing baginya disana.
"Eeehh nak Dika,, mana Dinda??" tanya ibu Dinda begitu mengetahui sosok Dika yang berada di ambang pintu.
"Dinda belum sampai rumah bu?? tadi dia pulang duluan naik angkot."
"Lho, kok bisa begitu. Kenapa? Kalian bertengkar? Bukannya sudah lama kalian tidak bertemu" ibu Dinda heran. Segera diajaknya Dika duduk bergabung dengan semua keluarganya.
"Assalamualaikum,,," terdengar salam seorang perempuan dibalik pintu. Semua mata terkejut. Begitu juga dengan ibu Dinda. "Ini Dinda Bu,,"
"Kau begitu berbeda sayang" Dinda menghampiri Ibunya dan memeluknya erat. Dinda terisak di pelukan Ibunya. Pelukan yang lama tk dirasakannya. Pelukan yng dirindukannya.
"Izinkanlah sejenak Dinda bercerita kenapa Dinda berjilbab bu."
....
Bersambung,,

Selasa, 18 Maret 2014

Doa Untuk "Calon Imamku????"

Rabb ku...
Aku berdoa untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku...
Seorang pria yang sungguh mencintaiMU lebih dari sesuatu....
Seorang pria yang akan meletakkan ku di hatinya setelah Engkau, Muhammad, dan Kedua  Orang tuanya...
Seorang pria yang berkata dan berhati bijak,bukan hanya cerdas semata
Seorang pria yang tidak hanya mampu mencintaiku, tapi juga menghargaiku, juga keluarga kecilku
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga mampu mendidikku..
Seorang pria yang mencintaiku bukan hanya rupaku tetapi karena apa yang ada di hatiku
Rabb ku...
Aku berdoa untuk seorang pria yang aku cinta karena Engkau
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagaikekuatannya
Seorang pria yang membutuhkan daku bagi hidupnya
Seorang pria yang membutuhkan senyumku untuk sedihnya
Seorang pria yang membutuhkan hadirku untuk membuat hidupnya lebih sempurna
Seorang pria yang membutuhkan sifat rahimku untuk menjadi ibu bagi anak anak kami
Seorang pria yang akan menjadi imamku
Rabb ku...
Demi AgungMU dan KesucianMU
Ijinkanlah aku menjadi wanita yang kuat
Agar selalu mampu menjadi sandaran ketika ia mulai rapuh
Ijinkanlah aku menjadi wanita yang tegar
Agar selalu mampu membuatnya tetap tersenyum untuk dunia
Ijinkanlah aku menjadi wanita yang sabar
Agar selalu bisa mencintainya dengan kekurangan dan kelebihannya
Ijinkanlah aku untuk tetap ceria
Agar selalu mampu hadirkan gelak tawa ketika ia merasa jenuh
Rabb ku...
Berika aku kesehatan disisa usiaku
Agar aku mampu melantunkan ayat-ayat suciMU untuknya disetiap malam
Melayaninya dengan ikhlasku dan bahagiaku
Agar aku selalu bisa mengucap salam disetiap pagi dan malamnya 
Agar aku selalu mampu melihat dan temaninya dalam lelahnya
Rabb ku...
Ijinkanlah aku mampu merasakan ikhlas
Bukan dengan ambisiku, bukan pula dengan egoku
Tapi dengan ikhlasku untuk mencintainya
Satu bentuk cinta yang tak mengenal istilah menyakiti, disakiti, dan tersakiti karena mencinta
Ijinkanlah agar aku  menjadi wanita pembawa berkah bagi hidup dan kehidupannya
Bagi umur serta rizkinya
Rabb ku...
Dengan doa dan keyakinan, dengan sabar dan ikhlas
Serta dengan ikhtiar dan tawakkal ku
Aku akan menunggu masa itu datang
Akan aku perbaiki diriku untuk pertemuan itu
Akan ku pantaskan pribadiku untuk pria itu
Rabb ku... terima kasihku untukMU
Karena aku tau inilah bukti bahwa Engkau mencintai kami
Bahwa Engkau selalu menjaga kami dari perbuatan yang sia-sia
dan aku akan bersamaMU Rabb ku...
Menunggu masa itu datang
Masa dimana pada akhirnya pertemuan itu engkau ridhoi
Masa dimana dua insan ini memetik buah kerinduan atas nafas cintaMU
YA ALLAH... YA TUHANKU
Allah Azza Wa Jalla
Seolah timur dan barat Engkau pisahkan raga ini
Tapi akau yakin dengan ijin dan ridhomu tidak ada yang tidak mungkin
Bahagia itu akan tiba pada masanya
Karena hari ini kami menebar bibit bibit keindahan dan kebahagiaan
Rabb ku...
Ketika masa itu tiba, ijinkan kami berucap syukur
Betapa besar Engkau Dzat yang Maha Agung
Karena menganugerahkan seseorang yang mampu membuat hidup kami lebih sempurna...

Kamis, 13 Maret 2014

Belajar tentang Kesetiaan



 Jika berbicara tentang kesetiaan, mungkin tak akan jauh-jauh dari kata ketulusan. Ada yang bilang kesetiaan itu adalah sebuah perjuangan.Perjuangan untuk tetap bertahan dengan pilihan. Perjuangan untuk tetap menjaga ikatan ( bagi mereka yang dilanda kata kasmaran). Yah seperti itulah jika kata setia telah tersemat. Seakan tak ada lagi kata curiga. Sebuah rasa yang dipadukan dengan keikhlasan dan kesabaran.

Akan panjang jika kita bahas itu semua. Cukup saja kau tau setia itu tak hanya untuk belahan jiwa saja, kekasihlah tepatnya atau yang sering disebut pacar. Hmmm tidak ada yang bisa disalahkan jika jiwa-jiwa muda itu mulai terikat dengan rasa yang nano-nano (Wuuiiih enak tuuh asem2 manis hehehe) tapi sepertinya kita juga harus pandai-pandai jaga diri dan jaga hati. Jangan sampai kata setia dijadikan alasan untuk kita merelakan segalanya. Kalian pasti tau apa maksudku merelakan segalanya,,, merelakan mahkota berharga (bagi yang cewek nih) kepada para penjahat cinta yang berlebel setia. Huuuffftt terlalu ciut kalau kitamengartikan setia hanya sebatas itu saja.

Setia itu banyak guys.. Gak harus dengan pacar kok. TApi juga pada sahabat, partner kerja, dan banyak lagi. Sebenarnya kita bisa belajar setia dari kedua ortu kita. Dari kesabaran, keikhlasan dan pengorbanan mereka. Pernah nggak kalian berfikir tentang bagaimana perasaan ortu kita, satu hari dalam agenda harianmu mungkin atau satu jam saja,, atau 1 meniit saja. Pernah nggak berfikir kalau kalian itu lagi menabung kekecewaan di hatimereka, saat kamu lagi asyik ngobrol gak jelas ngalor-ngidul, lagi ngabisin jatah bulanan buat beliin pacar kosmetik atau baju baru, lagi males-malesan ato ogah-ogahan buat masuk kuliah atau sekolah. Eiiitttss penulis bilang sgini bukanberarti penulis gak pernah ngalamin lhoo !!! pernah kok rasa malas itu hadir. TApi ya kudu dipikir lagi kita ini lagi memegang harapan kedua ortu kita.

Coba deh belajar setia kaya ortu kita. Meski berkali-kali kita salah, berkali-kali buat airmata beharga mengalir, berkali-kali mengukir kekecewaan. Tetap saja mereka sayang sama kita. Selalu setia menanti perubahan kita, selalu setia mema'afkan kesalahan kita yang berulang-ulang kali, selalu setiamenasehati dan ngingetin kita. Hmmm banyak banget deh pkoknya. Lha kalo dah gitu masih mau terus-terusan buat mereka kecewa ??? Kalau mereka bisa mengamalkan ilmu setia,, kenapa kita tidak ?? 

Minggu, 09 Maret 2014

CINTA BERUJUNG MAUT



                         


          Lelah.. itu pasti. Tapi itu bukan alasan bagi seorang mahasiswa untuk berleha-leha. Tugas itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Buku itu sudah menjadi sahabat setia. Organisasi itu menjadi wadah bersosialisasi. Kosong rasanya kalau hanya kuliah trus tidur di kamar. Monoton. Itu alasan mengapa aku terjun ( uups,, jangan diartikan terjun bebas ya ,,, hehehe) ke dunia organisasi. Sampai-sampai ada banyak kisah tuh yang terjalin di organisasi. Dari yang nemu temen baru sampai ada yang dari temen jadi demen. But,, jangan sampai tuh rasa di jadikan alasan buat ikut organisasi. Waaah gak bakal langgeng tuh ujung-ujungnya bertahan dalam dunia organisasi. Bayangin deh kalo lagi bete, brantem ato bahkan putus ma someone, organisasi jadi korban. Banyak juga tuh para pemimpin yang terjerat cinta dan yang akhirnya melupakan nasib rakyatnya. Hanya berfikir tanpa tindakan... Uuupss ma’af ya bagi yang tersindir. Ini hanya ungkapan hati aja... hehehe
          Hmmm ngomong-ngomong soal hubungan asmara. Banyak banget tuh yang awalnya manis tapi akhirnya tragis. Waauuu,, gimana tuh katanya cinta itu indah, cinta itu membuat hidup berwarna dan bla,, bla,,bla,, . Tapi jangan salahkan cinta deh, Itu tergantung para pelaku cinta saja. Tergantung mereka yang terikat dalam kata “pacaran” yang saat ini lagi banyak-banyaknya digandrungi para remaja.
          Cinta yang berawal manis dan berakhir tragis. Sepertinya lagi musim tuh. Seperti yang penulis tahu siih,, dari berita di surat kabar, TV, berita online sampai isu-isu yang sering mampir. Kebanyakan remaja sekarang tuh gak mikir dua kali. Awalnya janji manis yang terucap. Cinta yang di jadikan alasan menjalin hubungan yang di kenal dengan istilah “pacaran”. Bilangnya siih supaya entar kalo nikah sudah saling memahami. Tapi kalo udah putus.... jangankan bilang cinta memandang aja ogah-ogahan. Jadi mungsuhan. Bahkan ada yang dendam hingga membuat nyawa melayang. Wiiidiiih ngeri broooww !!!!  niatnya jalin hubungan biar bahagia tapi malah ngrangkai sejarah hitam di hidupnya. Kaya berita yang lagi heboh saat ini nih. Kisahnya ade seorang mahasiswi yang dibunuh mantan pabcar SMAnya. Hanya karena diajak balikan gak mau. Tragisnya lagi si cowok yang bernama Hafid ini kerjasama lho ma pacarnya sekarang. Naaah kalo udah gini mau salahin siapa?? Cinta?? Salah apa cinta. Cinta hanya jadi kambing hitam aja tuuh. Kasihan banget ya cinta,,, L hiks hiks.
          Sepertinya peran orang tua sangat di butuhin nih bagi pergaulan para remaja saat ini. Perhatian yang lebih. Bukan hanya perhatian dengan masalah ekonomi ajalaah. Tapi ya perkembangan sang buah hati juga perlu di perhatikan. Hmmm selain itu kita sebagai generasi muda harus berfikir lebih cerdas. Lebih tepatnya berfikir dulu sebelum bertindak. Mau jalin hubungan “pacaran”??? fikir dulu dah banyak positifnya atau negatifnya... toh dalam islamkan ndak ada istilahnya pacarankan?? ( bagi generasi muslim ) lebih baik difikirkan dulu deh ya,,,
          Mau seperti apa kita?? Ya tergantung bagaimana kita berfikir dan bertindak,, :D