Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Kamis, 20 Februari 2014

Ibu - ibu dan pak Satpol PP lagi pada Ricuh tuh,, Yuuk kita intip :)

Razia PKL dan Preman di Kawasan Monas (© ANTARA FOTO / Wahyu Putro A)

http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/m-_140219155542-382.jpg 


Apa kabar indonesiaku? Hmm,, sepertinya itulah kata yang ingin aku tanyakan. Berulang kali bahkan berkali-kali. Bukan tidak tau dengan kondisi yang ada. Hanya miris saja setiap melihat berita-berita yang terpampang di layar TV mungil di Ponpes Sabilurrosyad. Tak jauh-jauh dari berita kriminal. Pencurian, penjambretan, pembunuhan dan sebangsanya. hehe

Apalagi lihat berita yang lagi heboh-hebohnya di Monas. Penertiban yang di lakukan para satpol PP itu berhasil membuat ibu-ibu berteriak-teriak histeris. Bahkan ada yang sampek pingsan tuh. Kenapa harus pakek kekerasan ya? memang sebelumnya sudah di beri peringatan tapi namanya orag cari rizki salah ya bukak lapak di sekitar monas? salah memang, jika karena alasan merusak pemandangan , kenyamanan dan ketertiban di Monas. Lha truss?? kalo masalah perut gimana? kalau mereka gak dagang di situ mau cari nafkah dimana? apakah pemerintah bisa menjamin?? waah gak tau dah kalau udah urusan sama pemerintah. Saya gak terlalu ngerti politik. Hehe

Bingung juga nih penulis, yang penting asal nulis aja nih. Buat ngluarin unek-unek. Jadi ingat novel 99 cahaya di langit eropa, pesannya amin rais pada putrinya Hanum. Dimana kalau sudah menyangkut urusan perut kita tidak dapat berkata-kata bahkan menghakimi seseorang. Bener juga tuh, kaya cerita masa kecilnya pak Dahlan Iskan dalam novel "Sepetu Dahlan". Dimana Dahlan kecil rela mencuri tebu saat ibunya lagi di rawat di rumah sakit. Karena hanya di tinggal di rumah dengan adiknya dan karena alasan perut Dahlan kecil rela mencuri tebu. Ya, hanya karena alasan perut. Sepertinya tak jauh beda dengan kondisi indonesia saat ini ya sobat,, !! coba deh lihat tuh di sekeliling kita, banyak banget anak-anak kecil yang harus mengorbankan masa pendidikannya demi sesuap nasi di jalanan. Ibu-ibu yang rela jadi tukang ojek atau sopir Bemo, bahkan ada juga yang jadi supir Bus. Keren memang jika dilihat, tangguh, benar-benar tidak melihat beratnya pekerjaan. Tapi demi bisa makan dan tetap berlanjutnya pendidikan buah hatinya. Hmm muliakan? 

Tapi sedih juga tuh, kalo lihat ibu-ibu harus beradu mulut dengan para satpol PP. Bisa gak ya mereka bersikap sedikit lembut saja. Bersikap seakan-akan wanita yang ada di hadapan mereka adalah ibu yang melahirkannya, atau istri yang dicintainya, atau anak perempuan atau bahkan adik perempuan terkasihnya. Tak perlu harus dengan tenagakan? cukup dengan tindakan yang tidak terlalu menampakkan penindasan. Wah gimana tuh ya ?? :D

Oke dah sobat, Jika satpol PP melakukan penertiban dengan alasan demi kenyamanan dan para PKL alias Pedagang Kaki Lima tetap membuka lapak karena alasan keuangan dan kebutuhan, siapa dong yang salah? dan siapa yang benar? yang jelas semua sama-sama punya alasan masing-masing. 

Kamis, 13 Februari 2014

Surat Untuk Ayah



13-02-2014 11;20

Surat Untuk Ayah
          Ayah, Apa kabar disana? Di negeri  jiran, negeri yang di kenal dengan menara kembarnya (menara petronas) nya. Ayah ku harap kau selalu dalam lindunganNYA, meski siang tadi ku dengar keadaanmu kurang baik. Suara yang terdengar tak seperti biasannya. Tak ada nada bersemangat seperti biasannya. Ku tanya, apakah kau sedang sakit, kau hanya diam dan hanya bilang hanya sedikit lelah saja. Ayah,,, taukah kau rasa khawatir itu singgah dihatiku. Aku tau kau tak ingin membuatku khawatir, hingga kau tutupi segala rasa getir pahit kehidupanmu. Kau simpan rapat dan tak kau bagi denganku.
            Ayah, aku bukan lagi bayi kecil yang kau timang dulu. Kini akupun siap berbagi berbagai asam manis perjalanan hidupmu. Aku mampu bertahan kalaupun itu butuh sebuah ketegaran hati. Bukankah itu yang dulu kau ajarkan padaku. Sebuah kata yang tak pernah ku lupa “KUAT” satu kata tapi beribu makna. Satu kata yang mampu menjadi sumber sebuah ketegaran dan kesabaran.
            Ayah,, pulanglah jika itu jalan yang terbaik menurutmu. Bekerjalah di rumah jika memang itu pilihan yang terbaik. Akupun tak ingin jauh darimu ayah. Aku tau kaupun menyimpan rindu yang lebih dalam dariku. Kau jauh dari bunda sedari aku masih dalam kandungan dan hanya pulang saat ramadhan datang. Kau tau ayah,,,, meski kau tak mengandungku sembilan bulan. Tapi pengorbanan terbesarmu membuatku enggan menggoreskan luka di hatimu. Meski aku sering membuatmu kecewa.
            Ingatkatkah kau ayah, saat aku masih berseragam putih abu-abu dulu. Aku pernah mengukir luka di hatimu. Hingga aku berjaniji untuk tidak mengulangi hal bodoh itu lagi. Ayah,,, darimulah aku belajar artinya keberanian, tanggung jawab dan kebijaksanaan. Ayah aku tau di balik senyum dan tegarmu itu hatimu menahan rindu dan luka yang tak kau ungkapkan.
            Ayah,, masih ingatkah saat kau menangis mendengar aku di terima di sebuah perguruan tinggi negeri. Berkali-kali kau berucap syukur. Hatiku terenyuh ayah, hingga kau rela lebaran tak pulang demi membayar uang regristasiku. Aku berangkat dengan pengorbanan, do’a dan air mata syukurmu dan bundaku. Aku tak berhenti terisak saat kau bilang saudaramu menjauhimu sejak mendengar aku di terima di sebuah perguruan tinggi negeri. Mereka seperti tak menginnginkan itu terjadi. Tak perlulah bersu’udzon. Biarlah apa kata mereka, yang jelas pengorbananmu dan ibu yang mengantarku bertemu dengan merekaenorang-orang yg menggenggam mimpi-mimpi besar.
            Dari do’amu dan bunda yah,, aku bisa bertemu dengan mereka para pecinta al-qur’an. Hingga ku putuskan untuk mengikuti langkah-langkah mereka. Saat ku kabarkan itu padamu. Kau nampak begitu bahagia. Kau bilang kau tak butuh hharta berlimpah. Tak butuh mobil mewah. Cukuplah anak yang solih solihah sebagai penentram jiwa. Kata-katamu itu yah mampu membuatku terus bersemangat untuk memperbaiki diri. Menjadi muslimah yang lebih baik lagi.
            Sebenarnya banyak yang ingin ku sampaikan padamu yah. Tapi cukup ini dulu yah. Hanya rasa terimakasih yang teramat dalam yang tersemat di hatiku untukmu dan bunda. Lekaslah sembuh yah,,,,
Usah kau fikirkan kondisiku disini. Kesehatanmu lebih berharga dari segalanya yah,,
Salam sayang dan rindu

Putrimu, Malang 14 februari 2014 , 10;24


Ananda Fadilatus Soliha


SURAT UNTUK BUNDA




            Bunda,, mungkin saat ini engkapun merasakan rindu seperti yang aku rasakan. Rasa ingin berjumpa dan bercanda bersama telah lama menelusup dalam benakku. Banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu bunda. Lewat pekat malam dan nyanyian angin sepoi ku titipkan salam rinduku untukmu. Perhatian dan kasih sayang tulusmu terus terbayang dalam anganku. Perhatianmu pun tak pernah hilang meski aku tak selalu ada di sisimu.
            Bunda,, setiap kali aku layangkan pesan singkat aku selalu menannyakan kabarmu. Meski terkadang kau bilang kau sehat-sehat saja, padahal kau sedang terbaring lemah menahan sakit yang kau derita. Tiap ku dengar suaramu di telefon genggamku. Aku selalu merasa kita dekat. Ada ikatan diantara kita yang tidak dimiliki orang lain. Tiap kali berbincang kau selalu bertanya kapan aku pulang, taukah bunda pertanyaan itu sangat menyiksaku. Siapa yang tak ingin pulang dan merasakan dekapan hangat kasih sayangmu. Mendengarkan omelan-omelan bunda dan senyum indah yang merekah di bibir bunda. Mendengarkan bunda berkisah sejarah cinta masa purba. Melihat bunda bergulat dengan bumbu-bumbu dapur yang seakan telah menjadi sahabat pagimu. Ditemani asap dan aroma masakan yang menggugah cacing-cacing perutku yang terkapar menahan lapar. Ya, pagi itu aku sempat melihatmu menitikkan air mata. Entah kenapa kau tak mau berbagi denganku. Bunda, kabar baik ataupun buruk tak akan membuatku lemah saat aku didekatmu.Namun saat ku Tanya kenapa kau menangis. Kau malah memelukku. Mencium hangat keningku. Membelai lembut rambutku yang terbalut kerudung ungu. Kau bilang “ nduuk,, jika kau mampu menghadapi masalah itu dengan kesabaran, keikhlasan dan kesabaran. Seperti masakan ini nduuk,, ada berbagai bumbu yang tercampur di dalamnya. Jika kamu bias mengolahnya dan memadukannya dengan baik. Maka penikmat hidangan ini tak kan pernah complain. Ya seperti itulah hidup dalam bermasyarakat. Kelak kau harus bias menempatkan dirimu,nduuk,” kau tak melanjutkan lagi. Selebihnya hanya ku rasakan dekapan lembutmu dengan beberapa butiran putih jatuh membasahi kerudung unguku.
            Masihkah kau ingat bunda ?? saat kau bertanya tentang hatiku. Tentang perasaan yang ku pendam dalam. Dan saat aku menangis kecewa karena rasa yang tak seharusnya ku biarkan bersemayam dalam jiwa. Dengan lembut kau bilang padaku “nduuk,, kamu sudah dewasa. Wajar jika kamu merasakan yang namanya cinta. Tapi ingat kamu tidak boleh mendahului takdir Tuhan. Kalau hanya sekedar kagum tidak apa-apa nduk. Tapi sebaiknya jauhkan dulu dirimu dengan sesuatu yang belum pasti. Itu ujian nduuk buat kamu yang saat ini masih menempuh perjalanan mencari ilmu.” Tutur katamu bunda, membuat aku membisu. Menangisi diriku yang terlalu larut dalam rasa tanpa daya. Aku malu bunda. Malu dengan apa yang ku rasa. Dengan tingkah yang belum dewasa.
            Bunda, mungkin itu bagian terkecil dari banyak hal yang ingin ku sampaikan padamu bunda. Bunda tak perlu mengkhawatirkanku disini. Tak perlu takut aku tak bahagia. Disini di tempat ini aku selalu tersenyum bahagia, keluarga kecilku di sabros (Sabilurrosyad) yang selalu berbagi kisah suka maupun duka. Aku juga bertemu dengan beberapa orang yang sangat menginspirasiku bunda. Masih ingatkah kau bunda? Saat aku bilang aku ingin berkecimpung di dunia jurnalis, kau tak langsung menyetujui. Perlu beberapa argument untuk membuatmu berkata “iya”, meski terbilang ngotot dan ngeyel.Disini bunda di kampus yang terkenal dengan julukan  kampus hijau ini untuk pertama kalinya aku mendapat dukungan dan motivasi untuk terus berkarya. Meski berawal dari menulis sebuah buku harian. Kau tau bunda siapa dia? Dia adalah sesosok pemimpin yang sederhana, di balik sifat pendiam dan gayanya yang santai. Dia adalah pemimpin yang bijaksana menurutku bunda. Dia seoarang aktivis, organisatoris namun juga akademis bunda. Darinya bunda aku ingin terus semangat berkarya. Meski banyak orang yang mengecam tulisanku, tulisan sampah. Aku tak perduli bunda. Karena dia mengajariku untuk terus menulis. YA menulis apapun itu. Dan aku juga tak kan lupa untuk selalu berterimakasih atas do’a dan dukungan bunda. Terimakasih bunda.
            Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu bunda. Tapi karena waktu yang sudah hampir larut malam. Mungkin cukup sampai disini dulu bunda. Aku akan terus memberimu kabar tentang study dan organisasiku. Terimakasih bunda, atas segala kasih tulusmu.. J


Salam sayang dan rindu,

Buah hatimu, Fadilatus Sholikhah.
Malang, 27 november 2013, 23:00

Ayah

Ayah,,
Kau lebih dari sekedar karang dalam lautan
Cintamu tak pernah kau tampakkan
Perhatianmu tak pernah kau tunjukkan
Tapi aku merasakan sebuah ketulusan

Tat kala kau  mampu menyimpan rindu dalam jauh
Hanya demi terwujudnya sebuah impian
Segala pengorbanan yang tak kau ungkit
Membuat semangat ini terus bangkit

Ayah,,
Tak pernah kau perlihatkan perih
Hanya senyum yang kau tunjukan
Kau simpan luka
Demi kata BAHAGIA

Senin, 10 Februari 2014

Wanita ??


Kenapa sih harus berjilbab?? Ribet tau, gerah, gak nyaman, gak gaul banget. Berjilbab itu gak bisa buat kita ngrasa bebas. Semua jadi serba terbatas. Mau ngelakuin hal gila, pasti di tegur "ingat, malu tuh sama jilbabmu". Lagian jilbab juga gak mempengaruhi akhlak kan?? banyak tuh muslimah yang berjilbab tapi kelakuannya gak sesuai syariat islam.

Dan Bla,,,bla,,,bla,,
Masih banyak banget tuh alasan para anak muda buat gak make jilbab. Yang belum siaplah, takut gak bebaslah, masih takut gak sesuai dengan jilbab yang dikenakanlah. Hmmm kalau nurutin itu semua, terus kapan donk siapnya?? nunggu jadi ibu rumah tangga dulu? nunggu kalau udah dapat suami ustadz? nunggu punya cucu dulu? nunggu kalau,,, hmmm ya kalau kita tau kapan nih jantung berhenti berdegup, darah berhenti mengalir dan oksigen udah ogah-ogahan masuk ke lubang hidung. Nah lho,, kalau udah gitu mau bilang apa?. Ya kalau ada kupon antrian buat kita antri nunggu giliran panggilan, saat antrian sudah mulai berkurang mulai deh memperbaiki diri. Enak tuh kalau mau di jemput malaikat pati ( malaikat pencabut nyawa dalam istilah jawa ) ada surat peringatannya dulu atau kita bisa pesen tiket antara surga atau neraka. HMm emang sih, berjilbab gak bisa jadi jaminan kita masuk surga atau neraka.

Tapi coba deh kita merenung sejenak. Kebanyakan dari pelecehan seksual yang marak terjadi di lingkungan remaja pada umumnya itu karena ulah siapa?? gak mungkin dong ada asap kalau gak ada api? gak mungkin dong kucing nolak dikasih ikan?? sumbernya ya satu itu dah, pakaian minim kurang bahan. Ehmm teringat kata guru Aliyah dulu, "Suatu negara itu baik, jika wanitanya baik dan begitu juga sebaliknya". Nah jadi sumbernya wanitakan?? Marah kalo naik angkot atau ojek terus ada yang colek kanan colek kiri atau ada yang matanya nakal melotot gak jelas dengan gaya sedikit menggoda. Dari pada grutu dan gak pewe dengan ulah-ulah jagoan centil itu mending intropeksi diri dah. Coba kalau baju minim kurang bahan itu sedikit di perpanjang. Kaos ketat sedikit diperlonggar. Selain gak bikin sesak napas. Juga gak bikin sesak mata-mata nakal buat berebut pemandangan geratiskan?? hehehe oops ma'af kalau sedikit blak-blak an.

Kalau udah gitu gak ada salahnyakan kita sedia payung sebelum hujan. Menjaga dirikan berarti menjaga segala keindahaNYA. Bukankah wanita itu diciptakan dengan tujuan yang jelas, seperti apa yang pernah ku baca dalam buku "Wanita Seribu Pesona" karya Hendi Kerniah dan Aka Abdi yang begitu memulyakan wanita. "Kaum hawa begitu dimulyakan oleh Allah SWT,  kehadirannya bukan untuk dinistakan. Karena dia bukan diciptakan dari tulang kaki yang terletak dibawah, dia bukan untuk dihinakan atau untuk di injak-injak. Bukan pula diciptakan dari tulang tangan untuk diperkerjakan kesana kemari, dijadikan pembantu atau dieksploitasi untuk kepentingan kaum adam. Dan sekali-kali bukanlah untuk disanjung-sanjung penuh kabasa-basian, karena dia bukan diciptakan dari tengkorak kepala. Namun dia bermula dari tulang rusuk, tulang yang posisinya ada di tulang badan, yang menutup organ-organ utama tubuh, dekat dengan dada dan hati yang berfungsi sebagai PENENTRAM JIWA bagi suami dan anak-anaknya" begitulah kata-kata Hendi Kerniah dan Aka Abdi dalam bukunya.

Ok guys,,, jelas bukan?? wanita itu begitu mulia. Jadi muliakanlah dirimu sendiri dengan mulai melihat kepada dirimu. Bahwa kau begitu BERHARGA, kau begitu MEMPESONA dan kau begitu LUAR BIASA, jika kau mampu menyadarinya. :D

Minggu, 09 Februari 2014

ANGIIINN ???



Waah,, dengar tuh suara angin. Bukan lagi berbisik tapi seperti bergumam. Mengingatkan kita akan kebesarannya. Entah angin apa namanya. Kekuatannya lebih dasyat sari biasanya. Disini di gubuk kecil, tepatnya rumah bamboo tanpa jendela aku berharap tak ada hal buruk apapun yang terjadi. Mohon lindunganMU ya Rabb,,,

Jadwal les privat ngaji sore ini gak boleh batal hanya karena masalah angin. Mungkin ini sebuah teguran agar kita terus mengingatNYA. Terus mengucap syukur dan do'a yang tiada henti. 

Angin ini seperti mengajak berbicara. Menyampaikan pesan, dengan sedikit membubuhkan rasa ketakutan. Sepertinya ia gerah. Entah karena apa? apa karena ulah manusia?? yang semakin hari semakin menjadi. Kalau dulu anak kecil gak kenal yang namanya pacaran. Kalau sekarang sepertinya sudah menjadi trend bahkan, tradisi. Wah kalau gak pacaran berarti gak gaul. Semboyan itu sepertinya tak asing mampir ke gendag telingaku. Miris memang mendengarnya. Hanya karena ingin dibilang gaul sampai ada yang rela menanggalkan jilbab indah yang menutup rambut indahnya. Ada juga yang rela termakan janji palsu para penjajah cinta palsu.

Angin ini seperti mewakili teguran Tuhan. Sedikit menyentil hamba-hambaNYA yang mulai lalai. Membangunkan kembali hambaNYA yang sedang lelap dalam gelap. Memanggil kembali hambaNYA yang salah jalan. Dan semoga kita senantiasa mampu terus memperbaiki diri.. AAMIIN

Syukur


Setelah seminggu mendapat tawaran untuk memberi privat mengaji di perumahan lembah Dieng MAlang. Baru hari ini tanggal 7 Februari saya bisa bertemu dengan ibunya langsung. Dengan putri cantiknya yang kerap di sapa Cleo. Wajah mirip2 orang cina, kulit putih bersih ini ternyata orang asli Jombang. Aku lupa tak menannyakan nama ibunya cleo. Aku terkesan kelembutan dan keramahan diwajah wanita yang sekitar berusia 45 an ini. Sepertinya dia sosok yang tegas dan tidak suka membuang-buang waktu. Terlihat dari gaya bicaranya dalam memutuskan jadwalku memberi privat. Di hari pertama bertemu dia langsung memintaku untuk mulai memberi privat mengaji besok. Sontak kaget itu menghampiri hatiku. Rasa tak percaya.
"Bisakan?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk pasti.
"Bisa Bu.. insya Allah"
"Ehmm baik, honornya berapa?" tanyanya membuat aku seperti tersengat lebah. Aku hanya tertunduk " ehmm itu terserah ibu saja, saya kan masih belajar untuk pengalaman saja buk,," ucapku jujur
"Kok terserah saya kan ya bingung"
"Seikhlasnya saja bu" ucapku mantap. Ku lihat hanya senyum yang menegagembang dibibir Mama Cleo. Setelah dirasa perbincangan itu cukup, segera aku pamit undur diri. Dengan ditemani mb Kiki guru privat bahasa Inggrisnya Cleo aku stater motor Smas hitamku yang selalu setia menemaniku kemanapun.
"Dil, yang tegas ya,, lakukan yang terbaik." Katanya sebelum berhambur meninggalkanku. Aku hanya mengangguk mantap.

Berkali-kali kalimat syukur ku ucapkan sembari ku kendarai motor hitamku. Tak pernah aku bayangkan, jalan hidupku bisa berubah seperti ini. Meski belum seratus persen aku bisa bermanfa'at bagi sesama, setidaknya aku masih di butuhkan. Tak terasa air mata ini melukisakan parit2 di pipi gembulku. Rasa yang berkecamuk dalam dada sukar untuk ku ucapkan. Benar memang, jika kita hidup dengan mengedepankan ilmu maka semua akan terasa indah.

Sesampai di Ponnpes Sabilurrosyad segera ku parkir motor hitamku dan bergegas menunaikan sholat dzuhur di kamar. Belum sempat ku merebahkan diri. Pomselku berdering. Ada pesan masuk,
"Dila ini mb kiki, ternyata muridku yg rumahnya di belakang Cleo itu juga mau les ngaji. Minta 2x seminggu. Yang jelas hari sabtu sesudah Cleo sama hari satunya lagi masih nyari" Sontak hatiku berdegup kencang. Rasa syukur itu benar-benar membumbung memenuhi relung2 qolbuku. Tanpa berfikir pabjang lagi ku sanggupi tawaran mb kiki. Selama aku bisa dan mampu akan ku usahakan. Apalagi ini menyangkut masalah agama. BElajar mengaji itu sebuah niat yang mulia. Tak mungkin aku menolaknya. Beberapa detik kemudaian mb Kiki mengabarkan bahwa lesnya Hari Sabtu jam 11-12 dan hari Senin jam 15.30-16.30. Aku tak merasa keberatan meski seharusnya hari jum'at sabtu dan minggu adalah hari dimana aku biasa pulang kampung. tapi sepertinya waktu pulangku harus diminimalisir. Meski rindu pada ibu itu terus menjalar menohok qolbuku. Tapi aku yakin ada do'a darinya yang tak pernah putus untukku. Demikian pula denganku mungkin hanya lewat bait-bait do'alah kusampaikan rinduku padanya ( ibu terkasihku).

Aku tak bisa berhenti mengucapkan syukur padaNYA. Yang telah menuntutku menuju hidup yang lebih baik :D

Rabu, 05 Februari 2014

Sebatas Rasa.


Entah harus diawali dari mana. Hati tak mampu menutupi  meski mulut terus mengatup tat kala diri berada dalam sisi yang menaburkan rasa canggung. Tak pernah juga aku berfikir untuk bisa mengenalmu lebih dekat. "Bang" begitulah aku menyapamu. Bukan sebagai abang sate, gule ato bakso. Tapi karena rasa seganku padamu. Pernah aku memanggilmu ustadz, tapi kau tak memperkenankan aku memanggil demikian.

"Bang", ingatkah saat kita pertama berkenalan. Menjadi satu kelompok masa Orientasi Fakultas ( OSFAK ) humbud Uin Maliki Malang. Aku melihat kecanggunggan diwajahmu. Wajah polos santri jombang yang masih melekat padamu. Jangankan berbicara, menyapa wanita saja sepertinya kau enggan. hahaha lucu jika aku mengingat itu. Dan tanpa di sangka, sampai semester 3 kita tetap sekelas. Bahkan sering satu kelompok presentasi ataupun observasi.

Mengenalmu lebih dekat membuatku terus menitikkan air mata. Bukan karena aku terluka. Tapi rasa syukur dan kagumku bisa mengenal hambaNYA yang begitu menjaga cinta pada Rabbnya. Akupun sering melihatmu menghabiskan waktu di masjid At-Tarbiyah Uin Maliki. tentunya dengan mushaf kecil yang selalu ada di saku kecilmu. Ya, baru aku sadari kalau kau juga seorang hafidz ( penghafal Al-Qur'an ). Berkali-kali hati ini mengharap dan memohon agar kelak akupun memiliki imam hidup yang sepaertimu.

Jika dibilang sebagai motivasi, aku tak bisa bilang "tidak atau iya", karena secara tidak langsung akupun ingin sepertimu. Aku iri padamu "Bang'', sifat santai, kalem, dan ketekunanmu itu membuatku ingin sepertimu. Menjadi sosok yang biasa namun menyimpan sesuatu yang luar biasa. Iya aku ingin sepertimu "Bang" !! :D

Mungkin kau sudah lupa dengan kata-katamu "bang". Saat kau bertanya aku sudah hafal berpa juz. Aku hanya tertunduk, dan kau bilang jika aku mampu hafal 30 juz dalam satu tahun. Kau akan menyayangiku. Tapi kata sayang itu ambigu "Bang". Sayang karena apa?? tapi entahlah apapun itu. Tapi kata itu mampu membuatku terus bersemangat...

"Bang" taukah kamu. saat aku sedang membicaran masalah pemograman KRS dengan sahabatmu yang kerap ku sapa "Om" lewat tlf genggamku. Adilmu pun ikut nimbrung yang tiba-tiba membicarakanmu. Bertanya maukah aku jadi kakaknya, tapi dengan syarat aku harus menjadi seorang yang hafidzah. Akupun ingin demikian "Bang". Tapi bukan karena aku ingin bersanding denganmu. Menjadi permaisuri yang akan menemani perjuanganmu. Tapi 30 itu untuk kedua orang tuaku. Dan akupun sadar diri. Disana, di sudut pesantren jombang ada sosok bidadari yang telah terikat denganmu. :D

Kamis, 20 Februari 2014

Ibu - ibu dan pak Satpol PP lagi pada Ricuh tuh,, Yuuk kita intip :)

Razia PKL dan Preman di Kawasan Monas (© ANTARA FOTO / Wahyu Putro A)

http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/m-_140219155542-382.jpg 


Apa kabar indonesiaku? Hmm,, sepertinya itulah kata yang ingin aku tanyakan. Berulang kali bahkan berkali-kali. Bukan tidak tau dengan kondisi yang ada. Hanya miris saja setiap melihat berita-berita yang terpampang di layar TV mungil di Ponpes Sabilurrosyad. Tak jauh-jauh dari berita kriminal. Pencurian, penjambretan, pembunuhan dan sebangsanya. hehe

Apalagi lihat berita yang lagi heboh-hebohnya di Monas. Penertiban yang di lakukan para satpol PP itu berhasil membuat ibu-ibu berteriak-teriak histeris. Bahkan ada yang sampek pingsan tuh. Kenapa harus pakek kekerasan ya? memang sebelumnya sudah di beri peringatan tapi namanya orag cari rizki salah ya bukak lapak di sekitar monas? salah memang, jika karena alasan merusak pemandangan , kenyamanan dan ketertiban di Monas. Lha truss?? kalo masalah perut gimana? kalau mereka gak dagang di situ mau cari nafkah dimana? apakah pemerintah bisa menjamin?? waah gak tau dah kalau udah urusan sama pemerintah. Saya gak terlalu ngerti politik. Hehe

Bingung juga nih penulis, yang penting asal nulis aja nih. Buat ngluarin unek-unek. Jadi ingat novel 99 cahaya di langit eropa, pesannya amin rais pada putrinya Hanum. Dimana kalau sudah menyangkut urusan perut kita tidak dapat berkata-kata bahkan menghakimi seseorang. Bener juga tuh, kaya cerita masa kecilnya pak Dahlan Iskan dalam novel "Sepetu Dahlan". Dimana Dahlan kecil rela mencuri tebu saat ibunya lagi di rawat di rumah sakit. Karena hanya di tinggal di rumah dengan adiknya dan karena alasan perut Dahlan kecil rela mencuri tebu. Ya, hanya karena alasan perut. Sepertinya tak jauh beda dengan kondisi indonesia saat ini ya sobat,, !! coba deh lihat tuh di sekeliling kita, banyak banget anak-anak kecil yang harus mengorbankan masa pendidikannya demi sesuap nasi di jalanan. Ibu-ibu yang rela jadi tukang ojek atau sopir Bemo, bahkan ada juga yang jadi supir Bus. Keren memang jika dilihat, tangguh, benar-benar tidak melihat beratnya pekerjaan. Tapi demi bisa makan dan tetap berlanjutnya pendidikan buah hatinya. Hmm muliakan? 

Tapi sedih juga tuh, kalo lihat ibu-ibu harus beradu mulut dengan para satpol PP. Bisa gak ya mereka bersikap sedikit lembut saja. Bersikap seakan-akan wanita yang ada di hadapan mereka adalah ibu yang melahirkannya, atau istri yang dicintainya, atau anak perempuan atau bahkan adik perempuan terkasihnya. Tak perlu harus dengan tenagakan? cukup dengan tindakan yang tidak terlalu menampakkan penindasan. Wah gimana tuh ya ?? :D

Oke dah sobat, Jika satpol PP melakukan penertiban dengan alasan demi kenyamanan dan para PKL alias Pedagang Kaki Lima tetap membuka lapak karena alasan keuangan dan kebutuhan, siapa dong yang salah? dan siapa yang benar? yang jelas semua sama-sama punya alasan masing-masing. 

Kamis, 13 Februari 2014

Surat Untuk Ayah



13-02-2014 11;20

Surat Untuk Ayah
          Ayah, Apa kabar disana? Di negeri  jiran, negeri yang di kenal dengan menara kembarnya (menara petronas) nya. Ayah ku harap kau selalu dalam lindunganNYA, meski siang tadi ku dengar keadaanmu kurang baik. Suara yang terdengar tak seperti biasannya. Tak ada nada bersemangat seperti biasannya. Ku tanya, apakah kau sedang sakit, kau hanya diam dan hanya bilang hanya sedikit lelah saja. Ayah,,, taukah kau rasa khawatir itu singgah dihatiku. Aku tau kau tak ingin membuatku khawatir, hingga kau tutupi segala rasa getir pahit kehidupanmu. Kau simpan rapat dan tak kau bagi denganku.
            Ayah, aku bukan lagi bayi kecil yang kau timang dulu. Kini akupun siap berbagi berbagai asam manis perjalanan hidupmu. Aku mampu bertahan kalaupun itu butuh sebuah ketegaran hati. Bukankah itu yang dulu kau ajarkan padaku. Sebuah kata yang tak pernah ku lupa “KUAT” satu kata tapi beribu makna. Satu kata yang mampu menjadi sumber sebuah ketegaran dan kesabaran.
            Ayah,, pulanglah jika itu jalan yang terbaik menurutmu. Bekerjalah di rumah jika memang itu pilihan yang terbaik. Akupun tak ingin jauh darimu ayah. Aku tau kaupun menyimpan rindu yang lebih dalam dariku. Kau jauh dari bunda sedari aku masih dalam kandungan dan hanya pulang saat ramadhan datang. Kau tau ayah,,,, meski kau tak mengandungku sembilan bulan. Tapi pengorbanan terbesarmu membuatku enggan menggoreskan luka di hatimu. Meski aku sering membuatmu kecewa.
            Ingatkatkah kau ayah, saat aku masih berseragam putih abu-abu dulu. Aku pernah mengukir luka di hatimu. Hingga aku berjaniji untuk tidak mengulangi hal bodoh itu lagi. Ayah,,, darimulah aku belajar artinya keberanian, tanggung jawab dan kebijaksanaan. Ayah aku tau di balik senyum dan tegarmu itu hatimu menahan rindu dan luka yang tak kau ungkapkan.
            Ayah,, masih ingatkah saat kau menangis mendengar aku di terima di sebuah perguruan tinggi negeri. Berkali-kali kau berucap syukur. Hatiku terenyuh ayah, hingga kau rela lebaran tak pulang demi membayar uang regristasiku. Aku berangkat dengan pengorbanan, do’a dan air mata syukurmu dan bundaku. Aku tak berhenti terisak saat kau bilang saudaramu menjauhimu sejak mendengar aku di terima di sebuah perguruan tinggi negeri. Mereka seperti tak menginnginkan itu terjadi. Tak perlulah bersu’udzon. Biarlah apa kata mereka, yang jelas pengorbananmu dan ibu yang mengantarku bertemu dengan merekaenorang-orang yg menggenggam mimpi-mimpi besar.
            Dari do’amu dan bunda yah,, aku bisa bertemu dengan mereka para pecinta al-qur’an. Hingga ku putuskan untuk mengikuti langkah-langkah mereka. Saat ku kabarkan itu padamu. Kau nampak begitu bahagia. Kau bilang kau tak butuh hharta berlimpah. Tak butuh mobil mewah. Cukuplah anak yang solih solihah sebagai penentram jiwa. Kata-katamu itu yah mampu membuatku terus bersemangat untuk memperbaiki diri. Menjadi muslimah yang lebih baik lagi.
            Sebenarnya banyak yang ingin ku sampaikan padamu yah. Tapi cukup ini dulu yah. Hanya rasa terimakasih yang teramat dalam yang tersemat di hatiku untukmu dan bunda. Lekaslah sembuh yah,,,,
Usah kau fikirkan kondisiku disini. Kesehatanmu lebih berharga dari segalanya yah,,
Salam sayang dan rindu

Putrimu, Malang 14 februari 2014 , 10;24


Ananda Fadilatus Soliha


SURAT UNTUK BUNDA




            Bunda,, mungkin saat ini engkapun merasakan rindu seperti yang aku rasakan. Rasa ingin berjumpa dan bercanda bersama telah lama menelusup dalam benakku. Banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu bunda. Lewat pekat malam dan nyanyian angin sepoi ku titipkan salam rinduku untukmu. Perhatian dan kasih sayang tulusmu terus terbayang dalam anganku. Perhatianmu pun tak pernah hilang meski aku tak selalu ada di sisimu.
            Bunda,, setiap kali aku layangkan pesan singkat aku selalu menannyakan kabarmu. Meski terkadang kau bilang kau sehat-sehat saja, padahal kau sedang terbaring lemah menahan sakit yang kau derita. Tiap ku dengar suaramu di telefon genggamku. Aku selalu merasa kita dekat. Ada ikatan diantara kita yang tidak dimiliki orang lain. Tiap kali berbincang kau selalu bertanya kapan aku pulang, taukah bunda pertanyaan itu sangat menyiksaku. Siapa yang tak ingin pulang dan merasakan dekapan hangat kasih sayangmu. Mendengarkan omelan-omelan bunda dan senyum indah yang merekah di bibir bunda. Mendengarkan bunda berkisah sejarah cinta masa purba. Melihat bunda bergulat dengan bumbu-bumbu dapur yang seakan telah menjadi sahabat pagimu. Ditemani asap dan aroma masakan yang menggugah cacing-cacing perutku yang terkapar menahan lapar. Ya, pagi itu aku sempat melihatmu menitikkan air mata. Entah kenapa kau tak mau berbagi denganku. Bunda, kabar baik ataupun buruk tak akan membuatku lemah saat aku didekatmu.Namun saat ku Tanya kenapa kau menangis. Kau malah memelukku. Mencium hangat keningku. Membelai lembut rambutku yang terbalut kerudung ungu. Kau bilang “ nduuk,, jika kau mampu menghadapi masalah itu dengan kesabaran, keikhlasan dan kesabaran. Seperti masakan ini nduuk,, ada berbagai bumbu yang tercampur di dalamnya. Jika kamu bias mengolahnya dan memadukannya dengan baik. Maka penikmat hidangan ini tak kan pernah complain. Ya seperti itulah hidup dalam bermasyarakat. Kelak kau harus bias menempatkan dirimu,nduuk,” kau tak melanjutkan lagi. Selebihnya hanya ku rasakan dekapan lembutmu dengan beberapa butiran putih jatuh membasahi kerudung unguku.
            Masihkah kau ingat bunda ?? saat kau bertanya tentang hatiku. Tentang perasaan yang ku pendam dalam. Dan saat aku menangis kecewa karena rasa yang tak seharusnya ku biarkan bersemayam dalam jiwa. Dengan lembut kau bilang padaku “nduuk,, kamu sudah dewasa. Wajar jika kamu merasakan yang namanya cinta. Tapi ingat kamu tidak boleh mendahului takdir Tuhan. Kalau hanya sekedar kagum tidak apa-apa nduk. Tapi sebaiknya jauhkan dulu dirimu dengan sesuatu yang belum pasti. Itu ujian nduuk buat kamu yang saat ini masih menempuh perjalanan mencari ilmu.” Tutur katamu bunda, membuat aku membisu. Menangisi diriku yang terlalu larut dalam rasa tanpa daya. Aku malu bunda. Malu dengan apa yang ku rasa. Dengan tingkah yang belum dewasa.
            Bunda, mungkin itu bagian terkecil dari banyak hal yang ingin ku sampaikan padamu bunda. Bunda tak perlu mengkhawatirkanku disini. Tak perlu takut aku tak bahagia. Disini di tempat ini aku selalu tersenyum bahagia, keluarga kecilku di sabros (Sabilurrosyad) yang selalu berbagi kisah suka maupun duka. Aku juga bertemu dengan beberapa orang yang sangat menginspirasiku bunda. Masih ingatkah kau bunda? Saat aku bilang aku ingin berkecimpung di dunia jurnalis, kau tak langsung menyetujui. Perlu beberapa argument untuk membuatmu berkata “iya”, meski terbilang ngotot dan ngeyel.Disini bunda di kampus yang terkenal dengan julukan  kampus hijau ini untuk pertama kalinya aku mendapat dukungan dan motivasi untuk terus berkarya. Meski berawal dari menulis sebuah buku harian. Kau tau bunda siapa dia? Dia adalah sesosok pemimpin yang sederhana, di balik sifat pendiam dan gayanya yang santai. Dia adalah pemimpin yang bijaksana menurutku bunda. Dia seoarang aktivis, organisatoris namun juga akademis bunda. Darinya bunda aku ingin terus semangat berkarya. Meski banyak orang yang mengecam tulisanku, tulisan sampah. Aku tak perduli bunda. Karena dia mengajariku untuk terus menulis. YA menulis apapun itu. Dan aku juga tak kan lupa untuk selalu berterimakasih atas do’a dan dukungan bunda. Terimakasih bunda.
            Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu bunda. Tapi karena waktu yang sudah hampir larut malam. Mungkin cukup sampai disini dulu bunda. Aku akan terus memberimu kabar tentang study dan organisasiku. Terimakasih bunda, atas segala kasih tulusmu.. J


Salam sayang dan rindu,

Buah hatimu, Fadilatus Sholikhah.
Malang, 27 november 2013, 23:00

Ayah

Ayah,,
Kau lebih dari sekedar karang dalam lautan
Cintamu tak pernah kau tampakkan
Perhatianmu tak pernah kau tunjukkan
Tapi aku merasakan sebuah ketulusan

Tat kala kau  mampu menyimpan rindu dalam jauh
Hanya demi terwujudnya sebuah impian
Segala pengorbanan yang tak kau ungkit
Membuat semangat ini terus bangkit

Ayah,,
Tak pernah kau perlihatkan perih
Hanya senyum yang kau tunjukan
Kau simpan luka
Demi kata BAHAGIA

Senin, 10 Februari 2014

Wanita ??


Kenapa sih harus berjilbab?? Ribet tau, gerah, gak nyaman, gak gaul banget. Berjilbab itu gak bisa buat kita ngrasa bebas. Semua jadi serba terbatas. Mau ngelakuin hal gila, pasti di tegur "ingat, malu tuh sama jilbabmu". Lagian jilbab juga gak mempengaruhi akhlak kan?? banyak tuh muslimah yang berjilbab tapi kelakuannya gak sesuai syariat islam.

Dan Bla,,,bla,,,bla,,
Masih banyak banget tuh alasan para anak muda buat gak make jilbab. Yang belum siaplah, takut gak bebaslah, masih takut gak sesuai dengan jilbab yang dikenakanlah. Hmmm kalau nurutin itu semua, terus kapan donk siapnya?? nunggu jadi ibu rumah tangga dulu? nunggu kalau udah dapat suami ustadz? nunggu punya cucu dulu? nunggu kalau,,, hmmm ya kalau kita tau kapan nih jantung berhenti berdegup, darah berhenti mengalir dan oksigen udah ogah-ogahan masuk ke lubang hidung. Nah lho,, kalau udah gitu mau bilang apa?. Ya kalau ada kupon antrian buat kita antri nunggu giliran panggilan, saat antrian sudah mulai berkurang mulai deh memperbaiki diri. Enak tuh kalau mau di jemput malaikat pati ( malaikat pencabut nyawa dalam istilah jawa ) ada surat peringatannya dulu atau kita bisa pesen tiket antara surga atau neraka. HMm emang sih, berjilbab gak bisa jadi jaminan kita masuk surga atau neraka.

Tapi coba deh kita merenung sejenak. Kebanyakan dari pelecehan seksual yang marak terjadi di lingkungan remaja pada umumnya itu karena ulah siapa?? gak mungkin dong ada asap kalau gak ada api? gak mungkin dong kucing nolak dikasih ikan?? sumbernya ya satu itu dah, pakaian minim kurang bahan. Ehmm teringat kata guru Aliyah dulu, "Suatu negara itu baik, jika wanitanya baik dan begitu juga sebaliknya". Nah jadi sumbernya wanitakan?? Marah kalo naik angkot atau ojek terus ada yang colek kanan colek kiri atau ada yang matanya nakal melotot gak jelas dengan gaya sedikit menggoda. Dari pada grutu dan gak pewe dengan ulah-ulah jagoan centil itu mending intropeksi diri dah. Coba kalau baju minim kurang bahan itu sedikit di perpanjang. Kaos ketat sedikit diperlonggar. Selain gak bikin sesak napas. Juga gak bikin sesak mata-mata nakal buat berebut pemandangan geratiskan?? hehehe oops ma'af kalau sedikit blak-blak an.

Kalau udah gitu gak ada salahnyakan kita sedia payung sebelum hujan. Menjaga dirikan berarti menjaga segala keindahaNYA. Bukankah wanita itu diciptakan dengan tujuan yang jelas, seperti apa yang pernah ku baca dalam buku "Wanita Seribu Pesona" karya Hendi Kerniah dan Aka Abdi yang begitu memulyakan wanita. "Kaum hawa begitu dimulyakan oleh Allah SWT,  kehadirannya bukan untuk dinistakan. Karena dia bukan diciptakan dari tulang kaki yang terletak dibawah, dia bukan untuk dihinakan atau untuk di injak-injak. Bukan pula diciptakan dari tulang tangan untuk diperkerjakan kesana kemari, dijadikan pembantu atau dieksploitasi untuk kepentingan kaum adam. Dan sekali-kali bukanlah untuk disanjung-sanjung penuh kabasa-basian, karena dia bukan diciptakan dari tengkorak kepala. Namun dia bermula dari tulang rusuk, tulang yang posisinya ada di tulang badan, yang menutup organ-organ utama tubuh, dekat dengan dada dan hati yang berfungsi sebagai PENENTRAM JIWA bagi suami dan anak-anaknya" begitulah kata-kata Hendi Kerniah dan Aka Abdi dalam bukunya.

Ok guys,,, jelas bukan?? wanita itu begitu mulia. Jadi muliakanlah dirimu sendiri dengan mulai melihat kepada dirimu. Bahwa kau begitu BERHARGA, kau begitu MEMPESONA dan kau begitu LUAR BIASA, jika kau mampu menyadarinya. :D

Minggu, 09 Februari 2014

ANGIIINN ???



Waah,, dengar tuh suara angin. Bukan lagi berbisik tapi seperti bergumam. Mengingatkan kita akan kebesarannya. Entah angin apa namanya. Kekuatannya lebih dasyat sari biasanya. Disini di gubuk kecil, tepatnya rumah bamboo tanpa jendela aku berharap tak ada hal buruk apapun yang terjadi. Mohon lindunganMU ya Rabb,,,

Jadwal les privat ngaji sore ini gak boleh batal hanya karena masalah angin. Mungkin ini sebuah teguran agar kita terus mengingatNYA. Terus mengucap syukur dan do'a yang tiada henti. 

Angin ini seperti mengajak berbicara. Menyampaikan pesan, dengan sedikit membubuhkan rasa ketakutan. Sepertinya ia gerah. Entah karena apa? apa karena ulah manusia?? yang semakin hari semakin menjadi. Kalau dulu anak kecil gak kenal yang namanya pacaran. Kalau sekarang sepertinya sudah menjadi trend bahkan, tradisi. Wah kalau gak pacaran berarti gak gaul. Semboyan itu sepertinya tak asing mampir ke gendag telingaku. Miris memang mendengarnya. Hanya karena ingin dibilang gaul sampai ada yang rela menanggalkan jilbab indah yang menutup rambut indahnya. Ada juga yang rela termakan janji palsu para penjajah cinta palsu.

Angin ini seperti mewakili teguran Tuhan. Sedikit menyentil hamba-hambaNYA yang mulai lalai. Membangunkan kembali hambaNYA yang sedang lelap dalam gelap. Memanggil kembali hambaNYA yang salah jalan. Dan semoga kita senantiasa mampu terus memperbaiki diri.. AAMIIN

Syukur


Setelah seminggu mendapat tawaran untuk memberi privat mengaji di perumahan lembah Dieng MAlang. Baru hari ini tanggal 7 Februari saya bisa bertemu dengan ibunya langsung. Dengan putri cantiknya yang kerap di sapa Cleo. Wajah mirip2 orang cina, kulit putih bersih ini ternyata orang asli Jombang. Aku lupa tak menannyakan nama ibunya cleo. Aku terkesan kelembutan dan keramahan diwajah wanita yang sekitar berusia 45 an ini. Sepertinya dia sosok yang tegas dan tidak suka membuang-buang waktu. Terlihat dari gaya bicaranya dalam memutuskan jadwalku memberi privat. Di hari pertama bertemu dia langsung memintaku untuk mulai memberi privat mengaji besok. Sontak kaget itu menghampiri hatiku. Rasa tak percaya.
"Bisakan?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk pasti.
"Bisa Bu.. insya Allah"
"Ehmm baik, honornya berapa?" tanyanya membuat aku seperti tersengat lebah. Aku hanya tertunduk " ehmm itu terserah ibu saja, saya kan masih belajar untuk pengalaman saja buk,," ucapku jujur
"Kok terserah saya kan ya bingung"
"Seikhlasnya saja bu" ucapku mantap. Ku lihat hanya senyum yang menegagembang dibibir Mama Cleo. Setelah dirasa perbincangan itu cukup, segera aku pamit undur diri. Dengan ditemani mb Kiki guru privat bahasa Inggrisnya Cleo aku stater motor Smas hitamku yang selalu setia menemaniku kemanapun.
"Dil, yang tegas ya,, lakukan yang terbaik." Katanya sebelum berhambur meninggalkanku. Aku hanya mengangguk mantap.

Berkali-kali kalimat syukur ku ucapkan sembari ku kendarai motor hitamku. Tak pernah aku bayangkan, jalan hidupku bisa berubah seperti ini. Meski belum seratus persen aku bisa bermanfa'at bagi sesama, setidaknya aku masih di butuhkan. Tak terasa air mata ini melukisakan parit2 di pipi gembulku. Rasa yang berkecamuk dalam dada sukar untuk ku ucapkan. Benar memang, jika kita hidup dengan mengedepankan ilmu maka semua akan terasa indah.

Sesampai di Ponnpes Sabilurrosyad segera ku parkir motor hitamku dan bergegas menunaikan sholat dzuhur di kamar. Belum sempat ku merebahkan diri. Pomselku berdering. Ada pesan masuk,
"Dila ini mb kiki, ternyata muridku yg rumahnya di belakang Cleo itu juga mau les ngaji. Minta 2x seminggu. Yang jelas hari sabtu sesudah Cleo sama hari satunya lagi masih nyari" Sontak hatiku berdegup kencang. Rasa syukur itu benar-benar membumbung memenuhi relung2 qolbuku. Tanpa berfikir pabjang lagi ku sanggupi tawaran mb kiki. Selama aku bisa dan mampu akan ku usahakan. Apalagi ini menyangkut masalah agama. BElajar mengaji itu sebuah niat yang mulia. Tak mungkin aku menolaknya. Beberapa detik kemudaian mb Kiki mengabarkan bahwa lesnya Hari Sabtu jam 11-12 dan hari Senin jam 15.30-16.30. Aku tak merasa keberatan meski seharusnya hari jum'at sabtu dan minggu adalah hari dimana aku biasa pulang kampung. tapi sepertinya waktu pulangku harus diminimalisir. Meski rindu pada ibu itu terus menjalar menohok qolbuku. Tapi aku yakin ada do'a darinya yang tak pernah putus untukku. Demikian pula denganku mungkin hanya lewat bait-bait do'alah kusampaikan rinduku padanya ( ibu terkasihku).

Aku tak bisa berhenti mengucapkan syukur padaNYA. Yang telah menuntutku menuju hidup yang lebih baik :D

Rabu, 05 Februari 2014

Sebatas Rasa.


Entah harus diawali dari mana. Hati tak mampu menutupi  meski mulut terus mengatup tat kala diri berada dalam sisi yang menaburkan rasa canggung. Tak pernah juga aku berfikir untuk bisa mengenalmu lebih dekat. "Bang" begitulah aku menyapamu. Bukan sebagai abang sate, gule ato bakso. Tapi karena rasa seganku padamu. Pernah aku memanggilmu ustadz, tapi kau tak memperkenankan aku memanggil demikian.

"Bang", ingatkah saat kita pertama berkenalan. Menjadi satu kelompok masa Orientasi Fakultas ( OSFAK ) humbud Uin Maliki Malang. Aku melihat kecanggunggan diwajahmu. Wajah polos santri jombang yang masih melekat padamu. Jangankan berbicara, menyapa wanita saja sepertinya kau enggan. hahaha lucu jika aku mengingat itu. Dan tanpa di sangka, sampai semester 3 kita tetap sekelas. Bahkan sering satu kelompok presentasi ataupun observasi.

Mengenalmu lebih dekat membuatku terus menitikkan air mata. Bukan karena aku terluka. Tapi rasa syukur dan kagumku bisa mengenal hambaNYA yang begitu menjaga cinta pada Rabbnya. Akupun sering melihatmu menghabiskan waktu di masjid At-Tarbiyah Uin Maliki. tentunya dengan mushaf kecil yang selalu ada di saku kecilmu. Ya, baru aku sadari kalau kau juga seorang hafidz ( penghafal Al-Qur'an ). Berkali-kali hati ini mengharap dan memohon agar kelak akupun memiliki imam hidup yang sepaertimu.

Jika dibilang sebagai motivasi, aku tak bisa bilang "tidak atau iya", karena secara tidak langsung akupun ingin sepertimu. Aku iri padamu "Bang'', sifat santai, kalem, dan ketekunanmu itu membuatku ingin sepertimu. Menjadi sosok yang biasa namun menyimpan sesuatu yang luar biasa. Iya aku ingin sepertimu "Bang" !! :D

Mungkin kau sudah lupa dengan kata-katamu "bang". Saat kau bertanya aku sudah hafal berpa juz. Aku hanya tertunduk, dan kau bilang jika aku mampu hafal 30 juz dalam satu tahun. Kau akan menyayangiku. Tapi kata sayang itu ambigu "Bang". Sayang karena apa?? tapi entahlah apapun itu. Tapi kata itu mampu membuatku terus bersemangat...

"Bang" taukah kamu. saat aku sedang membicaran masalah pemograman KRS dengan sahabatmu yang kerap ku sapa "Om" lewat tlf genggamku. Adilmu pun ikut nimbrung yang tiba-tiba membicarakanmu. Bertanya maukah aku jadi kakaknya, tapi dengan syarat aku harus menjadi seorang yang hafidzah. Akupun ingin demikian "Bang". Tapi bukan karena aku ingin bersanding denganmu. Menjadi permaisuri yang akan menemani perjuanganmu. Tapi 30 itu untuk kedua orang tuaku. Dan akupun sadar diri. Disana, di sudut pesantren jombang ada sosok bidadari yang telah terikat denganmu. :D