Apa kabar indonesiaku? Hmm,, sepertinya itulah kata yang ingin aku tanyakan. Berulang kali bahkan berkali-kali. Bukan tidak tau dengan kondisi yang ada. Hanya miris saja setiap melihat berita-berita yang terpampang di layar TV mungil di Ponpes Sabilurrosyad. Tak jauh-jauh dari berita kriminal. Pencurian, penjambretan, pembunuhan dan sebangsanya. hehe
Apalagi lihat berita yang lagi heboh-hebohnya di Monas. Penertiban yang di lakukan para satpol PP itu berhasil membuat ibu-ibu berteriak-teriak histeris. Bahkan ada yang sampek pingsan tuh. Kenapa harus pakek kekerasan ya? memang sebelumnya sudah di beri peringatan tapi namanya orag cari rizki salah ya bukak lapak di sekitar monas? salah memang, jika karena alasan merusak pemandangan , kenyamanan dan ketertiban di Monas. Lha truss?? kalo masalah perut gimana? kalau mereka gak dagang di situ mau cari nafkah dimana? apakah pemerintah bisa menjamin?? waah gak tau dah kalau udah urusan sama pemerintah. Saya gak terlalu ngerti politik. Hehe
Bingung juga nih penulis, yang penting asal nulis aja nih. Buat ngluarin unek-unek. Jadi ingat novel 99 cahaya di langit eropa, pesannya amin rais pada putrinya Hanum. Dimana kalau sudah menyangkut urusan perut kita tidak dapat berkata-kata bahkan menghakimi seseorang. Bener juga tuh, kaya cerita masa kecilnya pak Dahlan Iskan dalam novel "Sepetu Dahlan". Dimana Dahlan kecil rela mencuri tebu saat ibunya lagi di rawat di rumah sakit. Karena hanya di tinggal di rumah dengan adiknya dan karena alasan perut Dahlan kecil rela mencuri tebu. Ya, hanya karena alasan perut. Sepertinya tak jauh beda dengan kondisi indonesia saat ini ya sobat,, !! coba deh lihat tuh di sekeliling kita, banyak banget anak-anak kecil yang harus mengorbankan masa pendidikannya demi sesuap nasi di jalanan. Ibu-ibu yang rela jadi tukang ojek atau sopir Bemo, bahkan ada juga yang jadi supir Bus. Keren memang jika dilihat, tangguh, benar-benar tidak melihat beratnya pekerjaan. Tapi demi bisa makan dan tetap berlanjutnya pendidikan buah hatinya. Hmm muliakan?
Tapi sedih juga tuh, kalo lihat ibu-ibu harus beradu mulut dengan para satpol PP. Bisa gak ya mereka bersikap sedikit lembut saja. Bersikap seakan-akan wanita yang ada di hadapan mereka adalah ibu yang melahirkannya, atau istri yang dicintainya, atau anak perempuan atau bahkan adik perempuan terkasihnya. Tak perlu harus dengan tenagakan? cukup dengan tindakan yang tidak terlalu menampakkan penindasan. Wah gimana tuh ya ?? :D
Oke dah sobat, Jika satpol PP melakukan penertiban dengan alasan demi kenyamanan dan para PKL alias Pedagang Kaki Lima tetap membuka lapak karena alasan keuangan dan kebutuhan, siapa dong yang salah? dan siapa yang benar? yang jelas semua sama-sama punya alasan masing-masing.
