"Bruuuaaaakkk" aku tersungkur. Tangan dan kaki kananku membentur
jalanan. Spion kananku patah. Sekilas kulihat mobil putih yang
menyrempetku. Melaju cepat. Tiba-tiba aku teingat masa 5 tahun lalu.
Kejadian yang hampir sama. Hanya saja peristiwa lima tahun lalu membuat
aku tak bisa berjalan selama 1 bulan. Tapi untunglah hari ini ku masih
bisa bangkit. "Wooooyy berhenti" teriak seorang laki-laki beruban
sembari mengulurkan tanga kanannya. Membantuku bangkit. Ku lihat
pemuda-pemuda pengunjung warnet itu berlari, ada yang bergegas
mengendarai motor mengejar mobil putih itu. Setelah itu aku tak tau. Aku
merasa gemetar. Teringat masa lima tahun lalu.
"Tidak apa-apa kan
nak?" tanya bapak-bapak yang menolongku tadi. Disodorkannya sebotol air
putih padaku. Aku tersentum " tidak apa-apa pak,, mungkin hanya kesleo
saja. Soalnya sakit buat jalan. Tangannya juga. Mungkin nanti setelah di
pijet bisa mendingan"
"Jangan takut ya nak,, coba tenangin diri dulu."
"Inggih
pak,," aku mengangguk. Sejenak ku tarik nafas. Ku minum air mineral
pemberian Bapak tadi. Hatiku beristigfar, bersyukur tak parah.
Setidaknya aku masih bisa berjalan meski sedikit pincang.
Tak
lama aku duduk di depan warnet. Mobil putih itu berhenti dikiri jalan.
Nampak seorang laki-laki berbaju koko Biru keluar dari pintu mobil. Di
telangkupkannya kedua tangannya didepan dada "Ma'af ya mb" angguknya
kearahku. Aku hanya tersenyum. Masih terasa gemetar tubuhku. Bukan
karena jatuh tadi. Karena aku teringat masa lima tahun silam.
"Mbak
tidak apa-apa? yang mana yang sakit mb? mau di berobat sekarang?" tanya
laki-laki berbaju koko yang mendekat duduk di sebelahku."Gak pa pa,
mungkin cuma kesleo saja."
"Beneran mb? mana yang sakit" belum
sempat aku menjawab. Bapak berbaju hitam penjaga warnet mendekat.
"Jangan disini, ayo masuk ke dalam. Nanti kalau ada polisi malah panjang
urusannya. Aku beranjak masuk warnet. Duduk di dekat skat pengunjunng
warnet. Dan masih dengan pertanyaan yang sama. Laki-laki berbaju koko
itu menannyakan kondisi. Ku jawab seperti jawabanku semula. Ia tampak
khawatir. Aku tahu mungkin takut atau gugup.
"mb namanya siapa?"
"Fadila"
jawabku singkat."Saya cipta, sekali lagi ma'af ya mb... ini tadi saya
buru-buru. Mau ke tempat murobbi yang ada acara." deg, mendengar kata
murobbi seperti tak asing. Lekas ku tanya mau kemana dia. Ternyata ke
Sumbermanjing, malang selatan. "Sepertinya dia anak uin" duga hati
kecilku. "Saya musrif mb, mb kuliah dimana?""Uin" raut mukanya nampak
kaget. "Lho saya juga kuliah di Uin mb, Mb semester berapa"
"Empat"
"Lho sama, saya juga semester empat. Mb asli mana"
"Malang selatan, daerah kepanjen. Mas nya?"
"Palembang mb" angguk mengangguk.
"Ternyata anak uin ya. Kenal Amin berarti?" aku mengangguk. "Mas musrif mabna apa?"
"Ibnu sina mb. Ini mb beneran gak papa?"
"Iya,
gak papa. Kalo memang buru-buru mau ke acara murobbinya. Gak pap
silakan berangkat mas" ia mengangguk. "Terus mb pulangnya gimana?"
"nanti bisa minta jemput."
"Mb tinggal dimana."
"Gasek"
"Pak imam muslimin?"
"Bukan,
di ustd. Marzuki." di angguk-anggukkan kepalanya tanda faham. Setelah
ngobrol masalah ganti rugi dan sebagainya, ia pamitan pergi. Aku tak mau
mempersulit. Biarlah namanya juga ujian. Istilah jawanya apes. Siapa juga yang mau apes. Semoga ada hikmahnya.
Ku coba beranjak. Tiba-tiba Cipta kembali lagi digandeng Bapak Rusman, laki-laki beruban yang menolongku tadi.
"Nak,
beneran sudah clear. Sampean sudah tidak ada yang dikeluhkan." aku
mengangguk " Sudah pak, saya tidak apa-apa. Namanya juga coba'an.
Sepedanya juga cuma lecet sama spionnya patah. Sudah pak gak papa."
Sekali lagi aku tersenyum. Mencoba menerima. Mungkin Allah ingin aku
belajar sabar. Bahkan lebih sabar. Menghadapi masalah bukan dengan otot
atau lapor polisi. Tapi cukup dengan sama-sama saling memahami dan
menerima segala yang terjadi. Pasti ada hikmahnya. Berkali-kali Cipta
mengucapkan ma'af. Aku hanya mengangguk dan bilang tidak apa-apa.
Beruntung aku masih bisa berjalan. Setidaknya masih bisa berangkat
kuliah hari senin besok.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Minggu, 04 Mei 2014
Memori at Jalan Galunggung ( 26 April 2014 : 10.00)
"Bruuuaaaakkk" aku tersungkur. Tangan dan kaki kananku membentur
jalanan. Spion kananku patah. Sekilas kulihat mobil putih yang
menyrempetku. Melaju cepat. Tiba-tiba aku teingat masa 5 tahun lalu.
Kejadian yang hampir sama. Hanya saja peristiwa lima tahun lalu membuat
aku tak bisa berjalan selama 1 bulan. Tapi untunglah hari ini ku masih
bisa bangkit. "Wooooyy berhenti" teriak seorang laki-laki beruban
sembari mengulurkan tanga kanannya. Membantuku bangkit. Ku lihat
pemuda-pemuda pengunjung warnet itu berlari, ada yang bergegas
mengendarai motor mengejar mobil putih itu. Setelah itu aku tak tau. Aku
merasa gemetar. Teringat masa lima tahun lalu.
"Tidak apa-apa kan nak?" tanya bapak-bapak yang menolongku tadi. Disodorkannya sebotol air putih padaku. Aku tersentum " tidak apa-apa pak,, mungkin hanya kesleo saja. Soalnya sakit buat jalan. Tangannya juga. Mungkin nanti setelah di pijet bisa mendingan"
"Jangan takut ya nak,, coba tenangin diri dulu."
"Inggih pak,," aku mengangguk. Sejenak ku tarik nafas. Ku minum air mineral pemberian Bapak tadi. Hatiku beristigfar, bersyukur tak parah. Setidaknya aku masih bisa berjalan meski sedikit pincang.
Tak lama aku duduk di depan warnet. Mobil putih itu berhenti dikiri jalan. Nampak seorang laki-laki berbaju koko Biru keluar dari pintu mobil. Di telangkupkannya kedua tangannya didepan dada "Ma'af ya mb" angguknya kearahku. Aku hanya tersenyum. Masih terasa gemetar tubuhku. Bukan karena jatuh tadi. Karena aku teringat masa lima tahun silam.
"Mbak tidak apa-apa? yang mana yang sakit mb? mau di berobat sekarang?" tanya laki-laki berbaju koko yang mendekat duduk di sebelahku."Gak pa pa, mungkin cuma kesleo saja."
"Beneran mb? mana yang sakit" belum sempat aku menjawab. Bapak berbaju hitam penjaga warnet mendekat. "Jangan disini, ayo masuk ke dalam. Nanti kalau ada polisi malah panjang urusannya. Aku beranjak masuk warnet. Duduk di dekat skat pengunjunng warnet. Dan masih dengan pertanyaan yang sama. Laki-laki berbaju koko itu menannyakan kondisi. Ku jawab seperti jawabanku semula. Ia tampak khawatir. Aku tahu mungkin takut atau gugup.
"mb namanya siapa?"
"Fadila" jawabku singkat."Saya cipta, sekali lagi ma'af ya mb... ini tadi saya buru-buru. Mau ke tempat murobbi yang ada acara." deg, mendengar kata murobbi seperti tak asing. Lekas ku tanya mau kemana dia. Ternyata ke Sumbermanjing, malang selatan. "Sepertinya dia anak uin" duga hati kecilku. "Saya musrif mb, mb kuliah dimana?""Uin" raut mukanya nampak kaget. "Lho saya juga kuliah di Uin mb, Mb semester berapa"
"Empat"
"Lho sama, saya juga semester empat. Mb asli mana"
"Malang selatan, daerah kepanjen. Mas nya?"
"Palembang mb" angguk mengangguk.
"Ternyata anak uin ya. Kenal Amin berarti?" aku mengangguk. "Mas musrif mabna apa?"
"Ibnu sina mb. Ini mb beneran gak papa?"
"Iya, gak papa. Kalo memang buru-buru mau ke acara murobbinya. Gak pap silakan berangkat mas" ia mengangguk. "Terus mb pulangnya gimana?"
"nanti bisa minta jemput."
"Mb tinggal dimana."
"Gasek"
"Pak imam muslimin?"
"Bukan, di ustd. Marzuki." di angguk-anggukkan kepalanya tanda faham. Setelah ngobrol masalah ganti rugi dan sebagainya, ia pamitan pergi. Aku tak mau mempersulit. Biarlah namanya juga ujian. Istilah jawanya apes. Siapa juga yang mau apes. Semoga ada hikmahnya.
Ku coba beranjak. Tiba-tiba Cipta kembali lagi digandeng Bapak Rusman, laki-laki beruban yang menolongku tadi.
"Nak, beneran sudah clear. Sampean sudah tidak ada yang dikeluhkan." aku mengangguk " Sudah pak, saya tidak apa-apa. Namanya juga coba'an. Sepedanya juga cuma lecet sama spionnya patah. Sudah pak gak papa." Sekali lagi aku tersenyum. Mencoba menerima. Mungkin Allah ingin aku belajar sabar. Bahkan lebih sabar. Menghadapi masalah bukan dengan otot atau lapor polisi. Tapi cukup dengan sama-sama saling memahami dan menerima segala yang terjadi. Pasti ada hikmahnya. Berkali-kali Cipta mengucapkan ma'af. Aku hanya mengangguk dan bilang tidak apa-apa. Beruntung aku masih bisa berjalan. Setidaknya masih bisa berangkat kuliah hari senin besok.
"Tidak apa-apa kan nak?" tanya bapak-bapak yang menolongku tadi. Disodorkannya sebotol air putih padaku. Aku tersentum " tidak apa-apa pak,, mungkin hanya kesleo saja. Soalnya sakit buat jalan. Tangannya juga. Mungkin nanti setelah di pijet bisa mendingan"
"Jangan takut ya nak,, coba tenangin diri dulu."
"Inggih pak,," aku mengangguk. Sejenak ku tarik nafas. Ku minum air mineral pemberian Bapak tadi. Hatiku beristigfar, bersyukur tak parah. Setidaknya aku masih bisa berjalan meski sedikit pincang.
Tak lama aku duduk di depan warnet. Mobil putih itu berhenti dikiri jalan. Nampak seorang laki-laki berbaju koko Biru keluar dari pintu mobil. Di telangkupkannya kedua tangannya didepan dada "Ma'af ya mb" angguknya kearahku. Aku hanya tersenyum. Masih terasa gemetar tubuhku. Bukan karena jatuh tadi. Karena aku teringat masa lima tahun silam.
"Mbak tidak apa-apa? yang mana yang sakit mb? mau di berobat sekarang?" tanya laki-laki berbaju koko yang mendekat duduk di sebelahku."Gak pa pa, mungkin cuma kesleo saja."
"Beneran mb? mana yang sakit" belum sempat aku menjawab. Bapak berbaju hitam penjaga warnet mendekat. "Jangan disini, ayo masuk ke dalam. Nanti kalau ada polisi malah panjang urusannya. Aku beranjak masuk warnet. Duduk di dekat skat pengunjunng warnet. Dan masih dengan pertanyaan yang sama. Laki-laki berbaju koko itu menannyakan kondisi. Ku jawab seperti jawabanku semula. Ia tampak khawatir. Aku tahu mungkin takut atau gugup.
"mb namanya siapa?"
"Fadila" jawabku singkat."Saya cipta, sekali lagi ma'af ya mb... ini tadi saya buru-buru. Mau ke tempat murobbi yang ada acara." deg, mendengar kata murobbi seperti tak asing. Lekas ku tanya mau kemana dia. Ternyata ke Sumbermanjing, malang selatan. "Sepertinya dia anak uin" duga hati kecilku. "Saya musrif mb, mb kuliah dimana?""Uin" raut mukanya nampak kaget. "Lho saya juga kuliah di Uin mb, Mb semester berapa"
"Empat"
"Lho sama, saya juga semester empat. Mb asli mana"
"Malang selatan, daerah kepanjen. Mas nya?"
"Palembang mb" angguk mengangguk.
"Ternyata anak uin ya. Kenal Amin berarti?" aku mengangguk. "Mas musrif mabna apa?"
"Ibnu sina mb. Ini mb beneran gak papa?"
"Iya, gak papa. Kalo memang buru-buru mau ke acara murobbinya. Gak pap silakan berangkat mas" ia mengangguk. "Terus mb pulangnya gimana?"
"nanti bisa minta jemput."
"Mb tinggal dimana."
"Gasek"
"Pak imam muslimin?"
"Bukan, di ustd. Marzuki." di angguk-anggukkan kepalanya tanda faham. Setelah ngobrol masalah ganti rugi dan sebagainya, ia pamitan pergi. Aku tak mau mempersulit. Biarlah namanya juga ujian. Istilah jawanya apes. Siapa juga yang mau apes. Semoga ada hikmahnya.
Ku coba beranjak. Tiba-tiba Cipta kembali lagi digandeng Bapak Rusman, laki-laki beruban yang menolongku tadi.
"Nak, beneran sudah clear. Sampean sudah tidak ada yang dikeluhkan." aku mengangguk " Sudah pak, saya tidak apa-apa. Namanya juga coba'an. Sepedanya juga cuma lecet sama spionnya patah. Sudah pak gak papa." Sekali lagi aku tersenyum. Mencoba menerima. Mungkin Allah ingin aku belajar sabar. Bahkan lebih sabar. Menghadapi masalah bukan dengan otot atau lapor polisi. Tapi cukup dengan sama-sama saling memahami dan menerima segala yang terjadi. Pasti ada hikmahnya. Berkali-kali Cipta mengucapkan ma'af. Aku hanya mengangguk dan bilang tidak apa-apa. Beruntung aku masih bisa berjalan. Setidaknya masih bisa berangkat kuliah hari senin besok.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar