Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Minggu, 09 Februari 2014

Syukur


Setelah seminggu mendapat tawaran untuk memberi privat mengaji di perumahan lembah Dieng MAlang. Baru hari ini tanggal 7 Februari saya bisa bertemu dengan ibunya langsung. Dengan putri cantiknya yang kerap di sapa Cleo. Wajah mirip2 orang cina, kulit putih bersih ini ternyata orang asli Jombang. Aku lupa tak menannyakan nama ibunya cleo. Aku terkesan kelembutan dan keramahan diwajah wanita yang sekitar berusia 45 an ini. Sepertinya dia sosok yang tegas dan tidak suka membuang-buang waktu. Terlihat dari gaya bicaranya dalam memutuskan jadwalku memberi privat. Di hari pertama bertemu dia langsung memintaku untuk mulai memberi privat mengaji besok. Sontak kaget itu menghampiri hatiku. Rasa tak percaya.
"Bisakan?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk pasti.
"Bisa Bu.. insya Allah"
"Ehmm baik, honornya berapa?" tanyanya membuat aku seperti tersengat lebah. Aku hanya tertunduk " ehmm itu terserah ibu saja, saya kan masih belajar untuk pengalaman saja buk,," ucapku jujur
"Kok terserah saya kan ya bingung"
"Seikhlasnya saja bu" ucapku mantap. Ku lihat hanya senyum yang menegagembang dibibir Mama Cleo. Setelah dirasa perbincangan itu cukup, segera aku pamit undur diri. Dengan ditemani mb Kiki guru privat bahasa Inggrisnya Cleo aku stater motor Smas hitamku yang selalu setia menemaniku kemanapun.
"Dil, yang tegas ya,, lakukan yang terbaik." Katanya sebelum berhambur meninggalkanku. Aku hanya mengangguk mantap.

Berkali-kali kalimat syukur ku ucapkan sembari ku kendarai motor hitamku. Tak pernah aku bayangkan, jalan hidupku bisa berubah seperti ini. Meski belum seratus persen aku bisa bermanfa'at bagi sesama, setidaknya aku masih di butuhkan. Tak terasa air mata ini melukisakan parit2 di pipi gembulku. Rasa yang berkecamuk dalam dada sukar untuk ku ucapkan. Benar memang, jika kita hidup dengan mengedepankan ilmu maka semua akan terasa indah.

Sesampai di Ponnpes Sabilurrosyad segera ku parkir motor hitamku dan bergegas menunaikan sholat dzuhur di kamar. Belum sempat ku merebahkan diri. Pomselku berdering. Ada pesan masuk,
"Dila ini mb kiki, ternyata muridku yg rumahnya di belakang Cleo itu juga mau les ngaji. Minta 2x seminggu. Yang jelas hari sabtu sesudah Cleo sama hari satunya lagi masih nyari" Sontak hatiku berdegup kencang. Rasa syukur itu benar-benar membumbung memenuhi relung2 qolbuku. Tanpa berfikir pabjang lagi ku sanggupi tawaran mb kiki. Selama aku bisa dan mampu akan ku usahakan. Apalagi ini menyangkut masalah agama. BElajar mengaji itu sebuah niat yang mulia. Tak mungkin aku menolaknya. Beberapa detik kemudaian mb Kiki mengabarkan bahwa lesnya Hari Sabtu jam 11-12 dan hari Senin jam 15.30-16.30. Aku tak merasa keberatan meski seharusnya hari jum'at sabtu dan minggu adalah hari dimana aku biasa pulang kampung. tapi sepertinya waktu pulangku harus diminimalisir. Meski rindu pada ibu itu terus menjalar menohok qolbuku. Tapi aku yakin ada do'a darinya yang tak pernah putus untukku. Demikian pula denganku mungkin hanya lewat bait-bait do'alah kusampaikan rinduku padanya ( ibu terkasihku).

Aku tak bisa berhenti mengucapkan syukur padaNYA. Yang telah menuntutku menuju hidup yang lebih baik :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minggu, 09 Februari 2014

Syukur


Setelah seminggu mendapat tawaran untuk memberi privat mengaji di perumahan lembah Dieng MAlang. Baru hari ini tanggal 7 Februari saya bisa bertemu dengan ibunya langsung. Dengan putri cantiknya yang kerap di sapa Cleo. Wajah mirip2 orang cina, kulit putih bersih ini ternyata orang asli Jombang. Aku lupa tak menannyakan nama ibunya cleo. Aku terkesan kelembutan dan keramahan diwajah wanita yang sekitar berusia 45 an ini. Sepertinya dia sosok yang tegas dan tidak suka membuang-buang waktu. Terlihat dari gaya bicaranya dalam memutuskan jadwalku memberi privat. Di hari pertama bertemu dia langsung memintaku untuk mulai memberi privat mengaji besok. Sontak kaget itu menghampiri hatiku. Rasa tak percaya.
"Bisakan?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk pasti.
"Bisa Bu.. insya Allah"
"Ehmm baik, honornya berapa?" tanyanya membuat aku seperti tersengat lebah. Aku hanya tertunduk " ehmm itu terserah ibu saja, saya kan masih belajar untuk pengalaman saja buk,," ucapku jujur
"Kok terserah saya kan ya bingung"
"Seikhlasnya saja bu" ucapku mantap. Ku lihat hanya senyum yang menegagembang dibibir Mama Cleo. Setelah dirasa perbincangan itu cukup, segera aku pamit undur diri. Dengan ditemani mb Kiki guru privat bahasa Inggrisnya Cleo aku stater motor Smas hitamku yang selalu setia menemaniku kemanapun.
"Dil, yang tegas ya,, lakukan yang terbaik." Katanya sebelum berhambur meninggalkanku. Aku hanya mengangguk mantap.

Berkali-kali kalimat syukur ku ucapkan sembari ku kendarai motor hitamku. Tak pernah aku bayangkan, jalan hidupku bisa berubah seperti ini. Meski belum seratus persen aku bisa bermanfa'at bagi sesama, setidaknya aku masih di butuhkan. Tak terasa air mata ini melukisakan parit2 di pipi gembulku. Rasa yang berkecamuk dalam dada sukar untuk ku ucapkan. Benar memang, jika kita hidup dengan mengedepankan ilmu maka semua akan terasa indah.

Sesampai di Ponnpes Sabilurrosyad segera ku parkir motor hitamku dan bergegas menunaikan sholat dzuhur di kamar. Belum sempat ku merebahkan diri. Pomselku berdering. Ada pesan masuk,
"Dila ini mb kiki, ternyata muridku yg rumahnya di belakang Cleo itu juga mau les ngaji. Minta 2x seminggu. Yang jelas hari sabtu sesudah Cleo sama hari satunya lagi masih nyari" Sontak hatiku berdegup kencang. Rasa syukur itu benar-benar membumbung memenuhi relung2 qolbuku. Tanpa berfikir pabjang lagi ku sanggupi tawaran mb kiki. Selama aku bisa dan mampu akan ku usahakan. Apalagi ini menyangkut masalah agama. BElajar mengaji itu sebuah niat yang mulia. Tak mungkin aku menolaknya. Beberapa detik kemudaian mb Kiki mengabarkan bahwa lesnya Hari Sabtu jam 11-12 dan hari Senin jam 15.30-16.30. Aku tak merasa keberatan meski seharusnya hari jum'at sabtu dan minggu adalah hari dimana aku biasa pulang kampung. tapi sepertinya waktu pulangku harus diminimalisir. Meski rindu pada ibu itu terus menjalar menohok qolbuku. Tapi aku yakin ada do'a darinya yang tak pernah putus untukku. Demikian pula denganku mungkin hanya lewat bait-bait do'alah kusampaikan rinduku padanya ( ibu terkasihku).

Aku tak bisa berhenti mengucapkan syukur padaNYA. Yang telah menuntutku menuju hidup yang lebih baik :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar