Bunda,, mungkin
saat ini engkapun merasakan rindu seperti yang aku rasakan. Rasa ingin berjumpa
dan bercanda bersama telah lama menelusup dalam benakku. Banyak hal yang ingin
ku bicarakan denganmu bunda. Lewat pekat malam dan nyanyian angin sepoi ku
titipkan salam rinduku untukmu. Perhatian dan kasih sayang tulusmu terus
terbayang dalam anganku. Perhatianmu pun tak pernah hilang meski aku tak selalu
ada di sisimu.
Bunda,, setiap
kali aku layangkan pesan singkat aku selalu menannyakan kabarmu. Meski
terkadang kau bilang kau sehat-sehat saja, padahal kau sedang terbaring lemah
menahan sakit yang kau derita. Tiap ku dengar suaramu di telefon genggamku. Aku
selalu merasa kita dekat. Ada ikatan diantara kita yang tidak dimiliki orang
lain. Tiap kali berbincang kau selalu bertanya kapan aku pulang, taukah bunda
pertanyaan itu sangat menyiksaku. Siapa yang tak ingin pulang dan merasakan
dekapan hangat kasih sayangmu. Mendengarkan omelan-omelan bunda dan senyum
indah yang merekah di bibir bunda. Mendengarkan bunda berkisah sejarah cinta
masa purba. Melihat bunda bergulat dengan bumbu-bumbu dapur yang seakan telah
menjadi sahabat pagimu. Ditemani asap dan aroma masakan yang menggugah
cacing-cacing perutku yang terkapar menahan lapar. Ya, pagi itu aku sempat
melihatmu menitikkan air mata. Entah kenapa kau tak mau berbagi denganku.
Bunda, kabar baik ataupun buruk tak akan membuatku lemah saat aku didekatmu.Namun
saat ku Tanya kenapa kau menangis. Kau malah memelukku. Mencium hangat
keningku. Membelai lembut rambutku yang terbalut kerudung ungu. Kau bilang “
nduuk,, jika kau mampu menghadapi masalah itu dengan kesabaran, keikhlasan dan
kesabaran. Seperti masakan ini nduuk,, ada berbagai bumbu yang tercampur di
dalamnya. Jika kamu bias mengolahnya dan memadukannya dengan baik. Maka
penikmat hidangan ini tak kan pernah complain. Ya seperti itulah hidup dalam
bermasyarakat. Kelak kau harus bias menempatkan dirimu,nduuk,” kau tak
melanjutkan lagi. Selebihnya hanya ku rasakan dekapan lembutmu dengan beberapa
butiran putih jatuh membasahi kerudung unguku.
Masihkah kau ingat
bunda ?? saat kau bertanya tentang hatiku. Tentang perasaan yang ku pendam
dalam. Dan saat aku menangis kecewa karena rasa yang tak seharusnya ku biarkan
bersemayam dalam jiwa. Dengan lembut kau bilang padaku “nduuk,, kamu sudah
dewasa. Wajar jika kamu merasakan yang namanya cinta. Tapi ingat kamu tidak
boleh mendahului takdir Tuhan. Kalau hanya sekedar kagum tidak apa-apa nduk.
Tapi sebaiknya jauhkan dulu dirimu dengan sesuatu yang belum pasti. Itu ujian
nduuk buat kamu yang saat ini masih menempuh perjalanan mencari ilmu.” Tutur
katamu bunda, membuat aku membisu. Menangisi diriku yang terlalu larut dalam
rasa tanpa daya. Aku malu bunda. Malu dengan apa yang ku rasa. Dengan tingkah
yang belum dewasa.
Bunda, mungkin itu
bagian terkecil dari banyak hal yang ingin ku sampaikan padamu bunda. Bunda tak
perlu mengkhawatirkanku disini. Tak perlu takut aku tak bahagia. Disini di
tempat ini aku selalu tersenyum bahagia, keluarga kecilku di sabros (Sabilurrosyad)
yang selalu berbagi kisah suka maupun duka. Aku juga bertemu dengan beberapa
orang yang sangat menginspirasiku bunda. Masih ingatkah kau bunda? Saat aku
bilang aku ingin berkecimpung di dunia jurnalis, kau tak langsung menyetujui.
Perlu beberapa argument untuk membuatmu berkata “iya”, meski terbilang
ngotot dan ngeyel.Disini bunda di kampus yang terkenal dengan
julukan kampus hijau ini untuk pertama
kalinya aku mendapat dukungan dan motivasi untuk terus berkarya. Meski berawal
dari menulis sebuah buku harian. Kau tau bunda siapa dia? Dia adalah sesosok
pemimpin yang sederhana, di balik sifat pendiam dan gayanya yang santai. Dia
adalah pemimpin yang bijaksana menurutku bunda. Dia seoarang aktivis,
organisatoris namun juga akademis bunda. Darinya bunda aku ingin terus semangat
berkarya. Meski banyak orang yang mengecam tulisanku, tulisan sampah.
Aku tak perduli bunda. Karena dia mengajariku untuk terus menulis. YA menulis
apapun itu. Dan aku juga tak kan lupa untuk selalu berterimakasih atas do’a dan
dukungan bunda. Terimakasih bunda.
Sebenarnya masih
ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu bunda. Tapi karena waktu yang
sudah hampir larut malam. Mungkin cukup sampai disini dulu bunda. Aku akan
terus memberimu kabar tentang study dan organisasiku. Terimakasih bunda, atas
segala kasih tulusmu.. J
Salam sayang dan rindu,
Buah hatimu, Fadilatus Sholikhah.
Malang, 27 november 2013, 23:00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar