Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Kamis, 13 Februari 2014

SURAT UNTUK BUNDA




            Bunda,, mungkin saat ini engkapun merasakan rindu seperti yang aku rasakan. Rasa ingin berjumpa dan bercanda bersama telah lama menelusup dalam benakku. Banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu bunda. Lewat pekat malam dan nyanyian angin sepoi ku titipkan salam rinduku untukmu. Perhatian dan kasih sayang tulusmu terus terbayang dalam anganku. Perhatianmu pun tak pernah hilang meski aku tak selalu ada di sisimu.
            Bunda,, setiap kali aku layangkan pesan singkat aku selalu menannyakan kabarmu. Meski terkadang kau bilang kau sehat-sehat saja, padahal kau sedang terbaring lemah menahan sakit yang kau derita. Tiap ku dengar suaramu di telefon genggamku. Aku selalu merasa kita dekat. Ada ikatan diantara kita yang tidak dimiliki orang lain. Tiap kali berbincang kau selalu bertanya kapan aku pulang, taukah bunda pertanyaan itu sangat menyiksaku. Siapa yang tak ingin pulang dan merasakan dekapan hangat kasih sayangmu. Mendengarkan omelan-omelan bunda dan senyum indah yang merekah di bibir bunda. Mendengarkan bunda berkisah sejarah cinta masa purba. Melihat bunda bergulat dengan bumbu-bumbu dapur yang seakan telah menjadi sahabat pagimu. Ditemani asap dan aroma masakan yang menggugah cacing-cacing perutku yang terkapar menahan lapar. Ya, pagi itu aku sempat melihatmu menitikkan air mata. Entah kenapa kau tak mau berbagi denganku. Bunda, kabar baik ataupun buruk tak akan membuatku lemah saat aku didekatmu.Namun saat ku Tanya kenapa kau menangis. Kau malah memelukku. Mencium hangat keningku. Membelai lembut rambutku yang terbalut kerudung ungu. Kau bilang “ nduuk,, jika kau mampu menghadapi masalah itu dengan kesabaran, keikhlasan dan kesabaran. Seperti masakan ini nduuk,, ada berbagai bumbu yang tercampur di dalamnya. Jika kamu bias mengolahnya dan memadukannya dengan baik. Maka penikmat hidangan ini tak kan pernah complain. Ya seperti itulah hidup dalam bermasyarakat. Kelak kau harus bias menempatkan dirimu,nduuk,” kau tak melanjutkan lagi. Selebihnya hanya ku rasakan dekapan lembutmu dengan beberapa butiran putih jatuh membasahi kerudung unguku.
            Masihkah kau ingat bunda ?? saat kau bertanya tentang hatiku. Tentang perasaan yang ku pendam dalam. Dan saat aku menangis kecewa karena rasa yang tak seharusnya ku biarkan bersemayam dalam jiwa. Dengan lembut kau bilang padaku “nduuk,, kamu sudah dewasa. Wajar jika kamu merasakan yang namanya cinta. Tapi ingat kamu tidak boleh mendahului takdir Tuhan. Kalau hanya sekedar kagum tidak apa-apa nduk. Tapi sebaiknya jauhkan dulu dirimu dengan sesuatu yang belum pasti. Itu ujian nduuk buat kamu yang saat ini masih menempuh perjalanan mencari ilmu.” Tutur katamu bunda, membuat aku membisu. Menangisi diriku yang terlalu larut dalam rasa tanpa daya. Aku malu bunda. Malu dengan apa yang ku rasa. Dengan tingkah yang belum dewasa.
            Bunda, mungkin itu bagian terkecil dari banyak hal yang ingin ku sampaikan padamu bunda. Bunda tak perlu mengkhawatirkanku disini. Tak perlu takut aku tak bahagia. Disini di tempat ini aku selalu tersenyum bahagia, keluarga kecilku di sabros (Sabilurrosyad) yang selalu berbagi kisah suka maupun duka. Aku juga bertemu dengan beberapa orang yang sangat menginspirasiku bunda. Masih ingatkah kau bunda? Saat aku bilang aku ingin berkecimpung di dunia jurnalis, kau tak langsung menyetujui. Perlu beberapa argument untuk membuatmu berkata “iya”, meski terbilang ngotot dan ngeyel.Disini bunda di kampus yang terkenal dengan julukan  kampus hijau ini untuk pertama kalinya aku mendapat dukungan dan motivasi untuk terus berkarya. Meski berawal dari menulis sebuah buku harian. Kau tau bunda siapa dia? Dia adalah sesosok pemimpin yang sederhana, di balik sifat pendiam dan gayanya yang santai. Dia adalah pemimpin yang bijaksana menurutku bunda. Dia seoarang aktivis, organisatoris namun juga akademis bunda. Darinya bunda aku ingin terus semangat berkarya. Meski banyak orang yang mengecam tulisanku, tulisan sampah. Aku tak perduli bunda. Karena dia mengajariku untuk terus menulis. YA menulis apapun itu. Dan aku juga tak kan lupa untuk selalu berterimakasih atas do’a dan dukungan bunda. Terimakasih bunda.
            Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu bunda. Tapi karena waktu yang sudah hampir larut malam. Mungkin cukup sampai disini dulu bunda. Aku akan terus memberimu kabar tentang study dan organisasiku. Terimakasih bunda, atas segala kasih tulusmu.. J


Salam sayang dan rindu,

Buah hatimu, Fadilatus Sholikhah.
Malang, 27 november 2013, 23:00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamis, 13 Februari 2014

SURAT UNTUK BUNDA




            Bunda,, mungkin saat ini engkapun merasakan rindu seperti yang aku rasakan. Rasa ingin berjumpa dan bercanda bersama telah lama menelusup dalam benakku. Banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu bunda. Lewat pekat malam dan nyanyian angin sepoi ku titipkan salam rinduku untukmu. Perhatian dan kasih sayang tulusmu terus terbayang dalam anganku. Perhatianmu pun tak pernah hilang meski aku tak selalu ada di sisimu.
            Bunda,, setiap kali aku layangkan pesan singkat aku selalu menannyakan kabarmu. Meski terkadang kau bilang kau sehat-sehat saja, padahal kau sedang terbaring lemah menahan sakit yang kau derita. Tiap ku dengar suaramu di telefon genggamku. Aku selalu merasa kita dekat. Ada ikatan diantara kita yang tidak dimiliki orang lain. Tiap kali berbincang kau selalu bertanya kapan aku pulang, taukah bunda pertanyaan itu sangat menyiksaku. Siapa yang tak ingin pulang dan merasakan dekapan hangat kasih sayangmu. Mendengarkan omelan-omelan bunda dan senyum indah yang merekah di bibir bunda. Mendengarkan bunda berkisah sejarah cinta masa purba. Melihat bunda bergulat dengan bumbu-bumbu dapur yang seakan telah menjadi sahabat pagimu. Ditemani asap dan aroma masakan yang menggugah cacing-cacing perutku yang terkapar menahan lapar. Ya, pagi itu aku sempat melihatmu menitikkan air mata. Entah kenapa kau tak mau berbagi denganku. Bunda, kabar baik ataupun buruk tak akan membuatku lemah saat aku didekatmu.Namun saat ku Tanya kenapa kau menangis. Kau malah memelukku. Mencium hangat keningku. Membelai lembut rambutku yang terbalut kerudung ungu. Kau bilang “ nduuk,, jika kau mampu menghadapi masalah itu dengan kesabaran, keikhlasan dan kesabaran. Seperti masakan ini nduuk,, ada berbagai bumbu yang tercampur di dalamnya. Jika kamu bias mengolahnya dan memadukannya dengan baik. Maka penikmat hidangan ini tak kan pernah complain. Ya seperti itulah hidup dalam bermasyarakat. Kelak kau harus bias menempatkan dirimu,nduuk,” kau tak melanjutkan lagi. Selebihnya hanya ku rasakan dekapan lembutmu dengan beberapa butiran putih jatuh membasahi kerudung unguku.
            Masihkah kau ingat bunda ?? saat kau bertanya tentang hatiku. Tentang perasaan yang ku pendam dalam. Dan saat aku menangis kecewa karena rasa yang tak seharusnya ku biarkan bersemayam dalam jiwa. Dengan lembut kau bilang padaku “nduuk,, kamu sudah dewasa. Wajar jika kamu merasakan yang namanya cinta. Tapi ingat kamu tidak boleh mendahului takdir Tuhan. Kalau hanya sekedar kagum tidak apa-apa nduk. Tapi sebaiknya jauhkan dulu dirimu dengan sesuatu yang belum pasti. Itu ujian nduuk buat kamu yang saat ini masih menempuh perjalanan mencari ilmu.” Tutur katamu bunda, membuat aku membisu. Menangisi diriku yang terlalu larut dalam rasa tanpa daya. Aku malu bunda. Malu dengan apa yang ku rasa. Dengan tingkah yang belum dewasa.
            Bunda, mungkin itu bagian terkecil dari banyak hal yang ingin ku sampaikan padamu bunda. Bunda tak perlu mengkhawatirkanku disini. Tak perlu takut aku tak bahagia. Disini di tempat ini aku selalu tersenyum bahagia, keluarga kecilku di sabros (Sabilurrosyad) yang selalu berbagi kisah suka maupun duka. Aku juga bertemu dengan beberapa orang yang sangat menginspirasiku bunda. Masih ingatkah kau bunda? Saat aku bilang aku ingin berkecimpung di dunia jurnalis, kau tak langsung menyetujui. Perlu beberapa argument untuk membuatmu berkata “iya”, meski terbilang ngotot dan ngeyel.Disini bunda di kampus yang terkenal dengan julukan  kampus hijau ini untuk pertama kalinya aku mendapat dukungan dan motivasi untuk terus berkarya. Meski berawal dari menulis sebuah buku harian. Kau tau bunda siapa dia? Dia adalah sesosok pemimpin yang sederhana, di balik sifat pendiam dan gayanya yang santai. Dia adalah pemimpin yang bijaksana menurutku bunda. Dia seoarang aktivis, organisatoris namun juga akademis bunda. Darinya bunda aku ingin terus semangat berkarya. Meski banyak orang yang mengecam tulisanku, tulisan sampah. Aku tak perduli bunda. Karena dia mengajariku untuk terus menulis. YA menulis apapun itu. Dan aku juga tak kan lupa untuk selalu berterimakasih atas do’a dan dukungan bunda. Terimakasih bunda.
            Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu bunda. Tapi karena waktu yang sudah hampir larut malam. Mungkin cukup sampai disini dulu bunda. Aku akan terus memberimu kabar tentang study dan organisasiku. Terimakasih bunda, atas segala kasih tulusmu.. J


Salam sayang dan rindu,

Buah hatimu, Fadilatus Sholikhah.
Malang, 27 november 2013, 23:00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar