Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Kamis, 13 Februari 2014

Surat Untuk Ayah



13-02-2014 11;20

Surat Untuk Ayah
          Ayah, Apa kabar disana? Di negeri  jiran, negeri yang di kenal dengan menara kembarnya (menara petronas) nya. Ayah ku harap kau selalu dalam lindunganNYA, meski siang tadi ku dengar keadaanmu kurang baik. Suara yang terdengar tak seperti biasannya. Tak ada nada bersemangat seperti biasannya. Ku tanya, apakah kau sedang sakit, kau hanya diam dan hanya bilang hanya sedikit lelah saja. Ayah,,, taukah kau rasa khawatir itu singgah dihatiku. Aku tau kau tak ingin membuatku khawatir, hingga kau tutupi segala rasa getir pahit kehidupanmu. Kau simpan rapat dan tak kau bagi denganku.
            Ayah, aku bukan lagi bayi kecil yang kau timang dulu. Kini akupun siap berbagi berbagai asam manis perjalanan hidupmu. Aku mampu bertahan kalaupun itu butuh sebuah ketegaran hati. Bukankah itu yang dulu kau ajarkan padaku. Sebuah kata yang tak pernah ku lupa “KUAT” satu kata tapi beribu makna. Satu kata yang mampu menjadi sumber sebuah ketegaran dan kesabaran.
            Ayah,, pulanglah jika itu jalan yang terbaik menurutmu. Bekerjalah di rumah jika memang itu pilihan yang terbaik. Akupun tak ingin jauh darimu ayah. Aku tau kaupun menyimpan rindu yang lebih dalam dariku. Kau jauh dari bunda sedari aku masih dalam kandungan dan hanya pulang saat ramadhan datang. Kau tau ayah,,,, meski kau tak mengandungku sembilan bulan. Tapi pengorbanan terbesarmu membuatku enggan menggoreskan luka di hatimu. Meski aku sering membuatmu kecewa.
            Ingatkatkah kau ayah, saat aku masih berseragam putih abu-abu dulu. Aku pernah mengukir luka di hatimu. Hingga aku berjaniji untuk tidak mengulangi hal bodoh itu lagi. Ayah,,, darimulah aku belajar artinya keberanian, tanggung jawab dan kebijaksanaan. Ayah aku tau di balik senyum dan tegarmu itu hatimu menahan rindu dan luka yang tak kau ungkapkan.
            Ayah,, masih ingatkah saat kau menangis mendengar aku di terima di sebuah perguruan tinggi negeri. Berkali-kali kau berucap syukur. Hatiku terenyuh ayah, hingga kau rela lebaran tak pulang demi membayar uang regristasiku. Aku berangkat dengan pengorbanan, do’a dan air mata syukurmu dan bundaku. Aku tak berhenti terisak saat kau bilang saudaramu menjauhimu sejak mendengar aku di terima di sebuah perguruan tinggi negeri. Mereka seperti tak menginnginkan itu terjadi. Tak perlulah bersu’udzon. Biarlah apa kata mereka, yang jelas pengorbananmu dan ibu yang mengantarku bertemu dengan merekaenorang-orang yg menggenggam mimpi-mimpi besar.
            Dari do’amu dan bunda yah,, aku bisa bertemu dengan mereka para pecinta al-qur’an. Hingga ku putuskan untuk mengikuti langkah-langkah mereka. Saat ku kabarkan itu padamu. Kau nampak begitu bahagia. Kau bilang kau tak butuh hharta berlimpah. Tak butuh mobil mewah. Cukuplah anak yang solih solihah sebagai penentram jiwa. Kata-katamu itu yah mampu membuatku terus bersemangat untuk memperbaiki diri. Menjadi muslimah yang lebih baik lagi.
            Sebenarnya banyak yang ingin ku sampaikan padamu yah. Tapi cukup ini dulu yah. Hanya rasa terimakasih yang teramat dalam yang tersemat di hatiku untukmu dan bunda. Lekaslah sembuh yah,,,,
Usah kau fikirkan kondisiku disini. Kesehatanmu lebih berharga dari segalanya yah,,
Salam sayang dan rindu

Putrimu, Malang 14 februari 2014 , 10;24


Ananda Fadilatus Soliha


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamis, 13 Februari 2014

Surat Untuk Ayah



13-02-2014 11;20

Surat Untuk Ayah
          Ayah, Apa kabar disana? Di negeri  jiran, negeri yang di kenal dengan menara kembarnya (menara petronas) nya. Ayah ku harap kau selalu dalam lindunganNYA, meski siang tadi ku dengar keadaanmu kurang baik. Suara yang terdengar tak seperti biasannya. Tak ada nada bersemangat seperti biasannya. Ku tanya, apakah kau sedang sakit, kau hanya diam dan hanya bilang hanya sedikit lelah saja. Ayah,,, taukah kau rasa khawatir itu singgah dihatiku. Aku tau kau tak ingin membuatku khawatir, hingga kau tutupi segala rasa getir pahit kehidupanmu. Kau simpan rapat dan tak kau bagi denganku.
            Ayah, aku bukan lagi bayi kecil yang kau timang dulu. Kini akupun siap berbagi berbagai asam manis perjalanan hidupmu. Aku mampu bertahan kalaupun itu butuh sebuah ketegaran hati. Bukankah itu yang dulu kau ajarkan padaku. Sebuah kata yang tak pernah ku lupa “KUAT” satu kata tapi beribu makna. Satu kata yang mampu menjadi sumber sebuah ketegaran dan kesabaran.
            Ayah,, pulanglah jika itu jalan yang terbaik menurutmu. Bekerjalah di rumah jika memang itu pilihan yang terbaik. Akupun tak ingin jauh darimu ayah. Aku tau kaupun menyimpan rindu yang lebih dalam dariku. Kau jauh dari bunda sedari aku masih dalam kandungan dan hanya pulang saat ramadhan datang. Kau tau ayah,,,, meski kau tak mengandungku sembilan bulan. Tapi pengorbanan terbesarmu membuatku enggan menggoreskan luka di hatimu. Meski aku sering membuatmu kecewa.
            Ingatkatkah kau ayah, saat aku masih berseragam putih abu-abu dulu. Aku pernah mengukir luka di hatimu. Hingga aku berjaniji untuk tidak mengulangi hal bodoh itu lagi. Ayah,,, darimulah aku belajar artinya keberanian, tanggung jawab dan kebijaksanaan. Ayah aku tau di balik senyum dan tegarmu itu hatimu menahan rindu dan luka yang tak kau ungkapkan.
            Ayah,, masih ingatkah saat kau menangis mendengar aku di terima di sebuah perguruan tinggi negeri. Berkali-kali kau berucap syukur. Hatiku terenyuh ayah, hingga kau rela lebaran tak pulang demi membayar uang regristasiku. Aku berangkat dengan pengorbanan, do’a dan air mata syukurmu dan bundaku. Aku tak berhenti terisak saat kau bilang saudaramu menjauhimu sejak mendengar aku di terima di sebuah perguruan tinggi negeri. Mereka seperti tak menginnginkan itu terjadi. Tak perlulah bersu’udzon. Biarlah apa kata mereka, yang jelas pengorbananmu dan ibu yang mengantarku bertemu dengan merekaenorang-orang yg menggenggam mimpi-mimpi besar.
            Dari do’amu dan bunda yah,, aku bisa bertemu dengan mereka para pecinta al-qur’an. Hingga ku putuskan untuk mengikuti langkah-langkah mereka. Saat ku kabarkan itu padamu. Kau nampak begitu bahagia. Kau bilang kau tak butuh hharta berlimpah. Tak butuh mobil mewah. Cukuplah anak yang solih solihah sebagai penentram jiwa. Kata-katamu itu yah mampu membuatku terus bersemangat untuk memperbaiki diri. Menjadi muslimah yang lebih baik lagi.
            Sebenarnya banyak yang ingin ku sampaikan padamu yah. Tapi cukup ini dulu yah. Hanya rasa terimakasih yang teramat dalam yang tersemat di hatiku untukmu dan bunda. Lekaslah sembuh yah,,,,
Usah kau fikirkan kondisiku disini. Kesehatanmu lebih berharga dari segalanya yah,,
Salam sayang dan rindu

Putrimu, Malang 14 februari 2014 , 10;24


Ananda Fadilatus Soliha


Tidak ada komentar:

Posting Komentar