13-02-2014 11;20
Surat Untuk
Ayah
Ayah, Apa
kabar disana? Di negeri jiran, negeri
yang di kenal dengan menara kembarnya (menara petronas) nya. Ayah ku harap kau
selalu dalam lindunganNYA, meski siang tadi ku dengar keadaanmu kurang baik.
Suara yang terdengar tak seperti biasannya. Tak ada nada bersemangat seperti
biasannya. Ku tanya, apakah kau sedang sakit, kau hanya diam dan hanya bilang
hanya sedikit lelah saja. Ayah,,, taukah kau rasa khawatir itu singgah
dihatiku. Aku tau kau tak ingin membuatku khawatir, hingga kau tutupi segala
rasa getir pahit kehidupanmu. Kau simpan rapat dan tak kau bagi denganku.
Ayah, aku bukan
lagi bayi kecil yang kau timang dulu. Kini akupun siap berbagi berbagai asam
manis perjalanan hidupmu. Aku mampu bertahan kalaupun itu butuh sebuah ketegaran
hati. Bukankah itu yang dulu kau ajarkan padaku. Sebuah kata yang tak pernah ku
lupa “KUAT” satu kata tapi beribu makna. Satu kata yang mampu menjadi sumber
sebuah ketegaran dan kesabaran.
Ayah,, pulanglah
jika itu jalan yang terbaik menurutmu. Bekerjalah di rumah jika memang itu
pilihan yang terbaik. Akupun tak ingin jauh darimu ayah. Aku tau kaupun
menyimpan rindu yang lebih dalam dariku. Kau jauh dari bunda sedari aku masih
dalam kandungan dan hanya pulang saat ramadhan datang. Kau tau ayah,,,, meski
kau tak mengandungku sembilan bulan. Tapi pengorbanan terbesarmu membuatku
enggan menggoreskan luka di hatimu. Meski aku sering membuatmu kecewa.
Ingatkatkah kau
ayah, saat aku masih berseragam putih abu-abu dulu. Aku pernah mengukir luka di
hatimu. Hingga aku berjaniji untuk tidak mengulangi hal bodoh itu lagi. Ayah,,,
darimulah aku belajar artinya keberanian, tanggung jawab dan kebijaksanaan.
Ayah aku tau di balik senyum dan tegarmu itu hatimu menahan rindu dan luka yang
tak kau ungkapkan.
Ayah,, masih
ingatkah saat kau menangis mendengar aku di terima di sebuah perguruan tinggi
negeri. Berkali-kali kau berucap syukur. Hatiku terenyuh ayah, hingga kau rela
lebaran tak pulang demi membayar uang regristasiku. Aku berangkat dengan
pengorbanan, do’a dan air mata syukurmu dan bundaku. Aku tak berhenti terisak
saat kau bilang saudaramu menjauhimu sejak mendengar aku di terima di sebuah
perguruan tinggi negeri. Mereka seperti tak menginnginkan itu terjadi. Tak
perlulah bersu’udzon. Biarlah apa kata mereka, yang jelas pengorbananmu dan ibu
yang mengantarku bertemu dengan merekaenorang-orang yg menggenggam mimpi-mimpi
besar.
Dari do’amu dan
bunda yah,, aku bisa bertemu dengan mereka para pecinta al-qur’an. Hingga ku
putuskan untuk mengikuti langkah-langkah mereka. Saat ku kabarkan itu padamu.
Kau nampak begitu bahagia. Kau bilang kau tak butuh hharta berlimpah. Tak butuh
mobil mewah. Cukuplah anak yang solih solihah sebagai penentram jiwa.
Kata-katamu itu yah mampu membuatku terus bersemangat untuk memperbaiki diri. Menjadi
muslimah yang lebih baik lagi.
Sebenarnya banyak
yang ingin ku sampaikan padamu yah. Tapi cukup ini dulu yah. Hanya rasa
terimakasih yang teramat dalam yang tersemat di hatiku untukmu dan bunda.
Lekaslah sembuh yah,,,,
Usah kau fikirkan kondisiku disini. Kesehatanmu lebih berharga dari segalanya yah,,
Salam sayang dan rindu
Usah kau fikirkan kondisiku disini. Kesehatanmu lebih berharga dari segalanya yah,,
Salam sayang dan rindu
Putrimu, Malang 14 februari 2014 , 10;24
Ananda Fadilatus Soliha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar