Belajar itu tidak hanya di dunia pendidikan. Tapi bisa dimana saja dan kapan saja. Yang penting positif. Begitu juga belajar tentang kesabaran, utamanya di universitas kehidupan. Inilah pelajaran berharga yang dapat ku ambil dari gadis kecil bernama aisyah. Di usianya yang masih 8 tahun harus berjuang merawat ayahnya. Tidur, makan dan menghabiskan waktu di atas becak. Hanya beberapa dari 1000 mata yang memberi simpati kepadanya. Entah kemana perginya keperdulian dalam nurani. Apakah hijrah atau masih singgah ?? tapi bukan itu yang ingin penulis paparkan. Penulis hanya ingin berbagi rasa keperdulian.
Aisyah kecil ini mengingatkanku dengan adik perempuanku di rumah. Usianya yang 3 tahun lebih tua dari aisya, masih sering merajuk saat minta dibelikan sesuatu. Bahkan saat minta uang jajanpun tak jarang sampai merengek manja. Tak dapat ku bayangkan bagaimana hati kecil aisyah, tat kala melihat teman-temannya berseragam merah putih berjalan di depannya. Dengan membawa tas ransel dan memakai sepatu serta tangan kanan menjinjing beberapa buku paket. Aku yakin dibenak kecilnya, iapun ingin mengenakan seragam merah putih itu. Berjalan menusuri jalan setapak menuju gerbang sekolah. Tapi ia begitu rapi memendam segala ingin dan impiannya. Bibirnya yang kering akibat terik matahari hanya mampu berdo'a, berharap Allah memberikan jalan keluar dan kebahagiaan.Kesembuhan ayahnyalah yang ia harapkan.
Harusnya gadis kecil ini, duduk manis di bangku sekolah. Belajar dan bermain bersama dengan teman-temannya. Harusnya gadis kecil ini bergelayut manja di pelukan ayah dan ibunya. Pergi untuk belajar kelompok. Aku yakin pasti bayangan itupun ada dalam benaknya. Namun ia tak mengungkapnya. Ia takut ayahnya terluka. Hatinya bersih, sebersih mutiara.
Menjadi seorang tunawisma selama 3 tahun bukanlah waktu yang singkat. Bayangkan saja, saat semua anak berpesta merayakan hari raya idhul fitri dengan beberapa potong baju baru. Ia hanya diam tanpa mengukir harapan. Saat gema takbir dan kembang api melukis keindahan kemenangan bulan ramadhan, ia hanya mampu merayakannya di atas becak setianya. Di temani sang ayah yang terbaring sakit. Terkadang tetes air mata itu ia simpan dalam gelapnya malam. Ia ungkapkan gejolak hati dalam isak yang terdalam. Ia tak memberontak dengan segala ketentuan. Ia hanya berharap ayahnya segera diberi kesembuhan. Baginya ayahnyalah satu-satunya harapan dalam hidupnya, setelah 7 tahun ia tak pernah berjumpa dengan ibunya. Karena suatu perpisahan. Hanya ayahnyalah yang selalu ada untuknya. Tapi iapun berharap dapat bertemu dan berkumpul kembali dengan sosok wanita yang telah melahirkannya.
Subhanallah, bakti gadis kecil inilah yang membuat aku kerdil. Keikhlasan dan kesabaran yang aku sendiri masih belajar untuk 2 kata itu. Seperti tak ada keluh dalam harinya, meski beban itu ada. Ia hadapi semua dengan lapang. Dengan kebesaran hati dan ketegaran. Dengan senyum yang tulus tanpa kedustaan. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari segala problema hidup yang ada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar