Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Jumat, 04 April 2014

Aku Gagal Tuhan !!!



Aku Gagal Tuhan !!!

            Kau tau kawan, harusnya pagi ini senyum bahagia menghiasi wajahku. Harusnya bahagia ada dalam hatiku. Tapi tidak untuk hari ini. karena dia. Ya dia. Perempuan berambut panjang menggelombang itu. Bola mata coklatnya yang tak lepas menatapku. Dia adalah Rena. Gadis yang pernah singgah dihatiku.  Aku dibuatnya merasa canggung. Hatiku memberontak ingin meraih tangannya. Ingin ku katakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Menjalani apa yang tak ingin ku jalani. Tapi tak lama dia berdiri mematung. Kaki kecilnya melangkah pergi meninggalkan pelataran rumahku yang ramai tamu undangan. Ku tebarkan pandangan. Ku telusuri jejaknya. Hanya sia-sia yang ku dapat. Perih dan sesak membumbung membentuk tetesan embun.
“Rizaaaal” terdengar panggilan yang sontak membuat kedua tanganku reflek mengusap buliran luka dipipiku. Ku toleh sosok wanita parubaya yang tergopoh mendekatiku. “Le penghulunya sudah datang” kata wanita yang sering ku panggil bude. Anggukku berat. Ku ikuti langkahnya.
“Sudah siap?” tanya seorang lelaki tua dengan sedikit uban yang mengintip di celah-celah kopyah rajutan hitam. Untuk ke dua kalinya pertanyaan itu dilontarkan padaku dan tanggapankupun sama. Hanya diam. Datar.
“Heh husst” sikut bibiku geeram melihat ekspresi wajahku. Aku mengengguk pelan. “iya saya siap” ku ulurkan tangan kananku perlahan. Ku ucapkan ikrar. Janji setia dalam pernikahan. Janjiku pada Rabbku. Pada wanita yang saat ini telah sah jadi istriku. Ku tatap wajah syila. Wanita yang akan menemaniku mengarungi warna-warni kehidupan. Terlihat senyum terpancar diwajahnya. Keanggunan dan ketulusan yang membuatku enggan menyakitinya. Aku mengenalnya karena keluargaku yang dekat dengan keluarganya. Meski rasa terpaksa menelusup dalam benakku. Tapi ada tempat disudut hatiku untuknya. Meski tak sebesar tempat untuk nama Rena. Gadis bermata coklat yang telah mengikatku dengan cinta. Pertama ku mengenalnya di tempat aku bekerja. Menjadi satu staff penerbangan di bandara Surabaya membuatku semakin akrab dengannya.
“Rena” di ulurkannya tangan ramping dengan jemari-jemari mungilnya.
“Rizal, asli mana?” tanyaku sekenanya.
“Lombok, kamu?”
“Malang” tanpa bertanya lagi dia berlalu dengan senyum yang masih melekat di hatiku. Ya, senyum yang sampai saat ini tetap melekat di hatiku. Benar saja. Aku bertanya pada hatiku. Bagaimana aku harus bersikap, saat harus menjadi partner kerjanya. Bagaimana aku harus menyembunyikan apa yang sebenarnya ada pada hatiku? Pertanyaan demi pertanyaan mulai berjubel di hatiku. Kacau. Fikiranku telah kacau. Mentari mulai tenggelam meninggalkan sisa-sisa cahaya dalam angan. Aku masih enggan beranjak setelah akad berlangsung. Aku masih duduk manis. Berbincang dengan teman-teman SMA ku. Setidaknya itu mampu membuatku sedikit tenang. Inilah tradisi di desaku, acara nikahan bisa berlangsung 2 hari dua malam. Tapi aku hanya minta bibiku untuk mempersiapkannya satu hari satu malam saja. Cukup, yang penting ijab qobulnya. Alasanku padanya. Padahal, aku tak ingin berpesta terlalu lama, sedangkan hati kecilku tak menginginkannya.
            Satu persatu tamu undangan berpamitan. Kulirik Syila yang tersenyum padaku. Ku membalas dengan desiran getir hatiku. TIDAK.. Aku tak boleh menyakitinya. Dia tidak salah. Ku melangkah pergi. Ku putar keran. Air mengucur bersama butiran-butiran lukaku. Berulangkali ku ucapkan istigfar.
“Mas,,” sentuhannya berhasil membuatku menghapus butiran-butiran luka itu. Aku menoleh ke arahnya. Sebisa mungkin aku bersikap sewajarnya. Ku suguhkan senyum yang terpaksa.
“Kenapa?” dipandangnya mataku dalam. Aku berusaha berdalih.
“Kamu tidak capek? Ayo istirahat.” Wajahnya tampak terkejut. “Kamu,, mas kenapa masih manggil kamu. Ehhmm bukannya kita sudah menjadi suami istri jelasnya.” Deg,, hatiku sepertinya ingin berhenti berdetak. “ehhmm mau di panggil apa? Sayang, adek atau dinda” sengaja ku ucapkan kata dengan sedikit menggodanya. Agar tak ada luka di hatinya. Tapi hatiku?? Aku tak bisa membohonginya. Aku ingin bilang, sayangku hanya untuk Rena. Tapi itu tidak mungkin kulakukan.
            Baju tidur bergambar teddy bear dipadu dengan warna pink. Berhasil membuatku tertegun lama. Warna itu,, itu warna favorit Rena. Tiba-tiba saja wajah Rena berkelebat. Aku seakan dihantui rasa bersalah. “Mas,, kenapa melihatnya seperti itu?” rona merah nampak di wajah putih Syila. Ku sentuh pipinya lembut. Meski ribut dan gemuruh yang ku rasa. Tapi sku tak boleh membuatnya terluka. Aku akan belajar untuk mencintainya. Ku peluk Syila erat. “Sayang,,, “ tak sanggup ku melanjutkan. “iya,, kenapa mas?” didongakkannya kepalanya yang masih dalam dekapanku. Aku hanya tersenyum. Ku kecup keningnya. Ku lihat dia tampak bahagia. Sesekali ia bergelayut manja.
            Satu tahun  pernikahan, Tuhan memberikan amanah untuk kita. Seorang bayi laki-laki yang gagah hadir dalam hari kita. Ya, dialah jagoan kecilku. Muhammad Rizki, yang selalu membuatku ingin segera pulang kerumah. Yang menjadi alasan, kenapa aku tetap bersama Syila. Meski sudah satu tahun, aku belum bisa mencitainya. Entah kenapa..
            Sampai suatu biduk rumah tangga sejenak singgah dalam hidup kita. Kami bertengkar hebat. Hingga tanpa sadar selama ini aku telah menyia-nyiakannya. Aku terlalu acuh dengan segala perhatiannya. Aku tak tau bagaimana harus bersikap. Semakin berusaha mencintainya, semakin sakit yang aku rasa. Bahkan, setiap melihat wajah istri ku ,serasa hati tersayat oleh bagian tubuhq sendiri. Ketika aku sudah mulai menikmati rasa sakit itu. Wajah Rizki anak ku selalu menjadi obat luka. Dan semua itu tetus terulang lagi ketika wajah istri saya berada di hadapanku. Itulah rasanya berada satu atap dalam satu ikatan tanpa dasar CINTA. Bagaimana aku harus bersikap jika aku melihat wajah istriku setiap hari. Hampir kata talak ku ucapkan padanya. Tapi bagaiman dengan Rizki. Aku tak ingin jagoan kecilku menjadi korban. Mungkinkah aku akan terus belajar mencintainya?
            Malam ini ku beranikan diri mengungkapkan yang sebenarnya pada Syila. Aku hanya diam saat melihatnya menangis sesenggukkan di balik bantal. Aku tau dia tidak ingin mencipta keributan atau mungkin tak ingin mengganggu tidur nyenyak Rizki.
“Kenapa mas?? Kenapa mas tega” ia tetap menangis di balik bantal. “Jika mas masih mencintai wanita itu, aku ikhlas jika mas mau menikah lagi. Aku ikhlas, asal mas tak lupa tanggung jawab mas sebagai seorang ayah. Jika memang dengan jalan itu mas bahagia. A-a-aku juga b-aa-a-hagia mas” ucapnya terbata. Hatiku teriris mendengarnya. Sudut mataku basah, aku menyesal. Ku rengkuh syila. Ia menghindar, di tampiknya tanganku. “Biarkan Syila menangis malam ini mas,” aku hanya diam. Ya, aku telah GAGAL. Aku gagal untuk belajar mencintainya. Aku gagal untuk membahagiakannya. Akupun gagal mempertahankan Rena dan malam ini sepertinya aku akan gagal mempertahankan ikatanku dengan Syila. Aku gagal. “Aku GAGAL Tuhan” lirih hati kecilku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jumat, 04 April 2014

Aku Gagal Tuhan !!!



Aku Gagal Tuhan !!!

            Kau tau kawan, harusnya pagi ini senyum bahagia menghiasi wajahku. Harusnya bahagia ada dalam hatiku. Tapi tidak untuk hari ini. karena dia. Ya dia. Perempuan berambut panjang menggelombang itu. Bola mata coklatnya yang tak lepas menatapku. Dia adalah Rena. Gadis yang pernah singgah dihatiku.  Aku dibuatnya merasa canggung. Hatiku memberontak ingin meraih tangannya. Ingin ku katakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Menjalani apa yang tak ingin ku jalani. Tapi tak lama dia berdiri mematung. Kaki kecilnya melangkah pergi meninggalkan pelataran rumahku yang ramai tamu undangan. Ku tebarkan pandangan. Ku telusuri jejaknya. Hanya sia-sia yang ku dapat. Perih dan sesak membumbung membentuk tetesan embun.
“Rizaaaal” terdengar panggilan yang sontak membuat kedua tanganku reflek mengusap buliran luka dipipiku. Ku toleh sosok wanita parubaya yang tergopoh mendekatiku. “Le penghulunya sudah datang” kata wanita yang sering ku panggil bude. Anggukku berat. Ku ikuti langkahnya.
“Sudah siap?” tanya seorang lelaki tua dengan sedikit uban yang mengintip di celah-celah kopyah rajutan hitam. Untuk ke dua kalinya pertanyaan itu dilontarkan padaku dan tanggapankupun sama. Hanya diam. Datar.
“Heh husst” sikut bibiku geeram melihat ekspresi wajahku. Aku mengengguk pelan. “iya saya siap” ku ulurkan tangan kananku perlahan. Ku ucapkan ikrar. Janji setia dalam pernikahan. Janjiku pada Rabbku. Pada wanita yang saat ini telah sah jadi istriku. Ku tatap wajah syila. Wanita yang akan menemaniku mengarungi warna-warni kehidupan. Terlihat senyum terpancar diwajahnya. Keanggunan dan ketulusan yang membuatku enggan menyakitinya. Aku mengenalnya karena keluargaku yang dekat dengan keluarganya. Meski rasa terpaksa menelusup dalam benakku. Tapi ada tempat disudut hatiku untuknya. Meski tak sebesar tempat untuk nama Rena. Gadis bermata coklat yang telah mengikatku dengan cinta. Pertama ku mengenalnya di tempat aku bekerja. Menjadi satu staff penerbangan di bandara Surabaya membuatku semakin akrab dengannya.
“Rena” di ulurkannya tangan ramping dengan jemari-jemari mungilnya.
“Rizal, asli mana?” tanyaku sekenanya.
“Lombok, kamu?”
“Malang” tanpa bertanya lagi dia berlalu dengan senyum yang masih melekat di hatiku. Ya, senyum yang sampai saat ini tetap melekat di hatiku. Benar saja. Aku bertanya pada hatiku. Bagaimana aku harus bersikap, saat harus menjadi partner kerjanya. Bagaimana aku harus menyembunyikan apa yang sebenarnya ada pada hatiku? Pertanyaan demi pertanyaan mulai berjubel di hatiku. Kacau. Fikiranku telah kacau. Mentari mulai tenggelam meninggalkan sisa-sisa cahaya dalam angan. Aku masih enggan beranjak setelah akad berlangsung. Aku masih duduk manis. Berbincang dengan teman-teman SMA ku. Setidaknya itu mampu membuatku sedikit tenang. Inilah tradisi di desaku, acara nikahan bisa berlangsung 2 hari dua malam. Tapi aku hanya minta bibiku untuk mempersiapkannya satu hari satu malam saja. Cukup, yang penting ijab qobulnya. Alasanku padanya. Padahal, aku tak ingin berpesta terlalu lama, sedangkan hati kecilku tak menginginkannya.
            Satu persatu tamu undangan berpamitan. Kulirik Syila yang tersenyum padaku. Ku membalas dengan desiran getir hatiku. TIDAK.. Aku tak boleh menyakitinya. Dia tidak salah. Ku melangkah pergi. Ku putar keran. Air mengucur bersama butiran-butiran lukaku. Berulangkali ku ucapkan istigfar.
“Mas,,” sentuhannya berhasil membuatku menghapus butiran-butiran luka itu. Aku menoleh ke arahnya. Sebisa mungkin aku bersikap sewajarnya. Ku suguhkan senyum yang terpaksa.
“Kenapa?” dipandangnya mataku dalam. Aku berusaha berdalih.
“Kamu tidak capek? Ayo istirahat.” Wajahnya tampak terkejut. “Kamu,, mas kenapa masih manggil kamu. Ehhmm bukannya kita sudah menjadi suami istri jelasnya.” Deg,, hatiku sepertinya ingin berhenti berdetak. “ehhmm mau di panggil apa? Sayang, adek atau dinda” sengaja ku ucapkan kata dengan sedikit menggodanya. Agar tak ada luka di hatinya. Tapi hatiku?? Aku tak bisa membohonginya. Aku ingin bilang, sayangku hanya untuk Rena. Tapi itu tidak mungkin kulakukan.
            Baju tidur bergambar teddy bear dipadu dengan warna pink. Berhasil membuatku tertegun lama. Warna itu,, itu warna favorit Rena. Tiba-tiba saja wajah Rena berkelebat. Aku seakan dihantui rasa bersalah. “Mas,, kenapa melihatnya seperti itu?” rona merah nampak di wajah putih Syila. Ku sentuh pipinya lembut. Meski ribut dan gemuruh yang ku rasa. Tapi sku tak boleh membuatnya terluka. Aku akan belajar untuk mencintainya. Ku peluk Syila erat. “Sayang,,, “ tak sanggup ku melanjutkan. “iya,, kenapa mas?” didongakkannya kepalanya yang masih dalam dekapanku. Aku hanya tersenyum. Ku kecup keningnya. Ku lihat dia tampak bahagia. Sesekali ia bergelayut manja.
            Satu tahun  pernikahan, Tuhan memberikan amanah untuk kita. Seorang bayi laki-laki yang gagah hadir dalam hari kita. Ya, dialah jagoan kecilku. Muhammad Rizki, yang selalu membuatku ingin segera pulang kerumah. Yang menjadi alasan, kenapa aku tetap bersama Syila. Meski sudah satu tahun, aku belum bisa mencitainya. Entah kenapa..
            Sampai suatu biduk rumah tangga sejenak singgah dalam hidup kita. Kami bertengkar hebat. Hingga tanpa sadar selama ini aku telah menyia-nyiakannya. Aku terlalu acuh dengan segala perhatiannya. Aku tak tau bagaimana harus bersikap. Semakin berusaha mencintainya, semakin sakit yang aku rasa. Bahkan, setiap melihat wajah istri ku ,serasa hati tersayat oleh bagian tubuhq sendiri. Ketika aku sudah mulai menikmati rasa sakit itu. Wajah Rizki anak ku selalu menjadi obat luka. Dan semua itu tetus terulang lagi ketika wajah istri saya berada di hadapanku. Itulah rasanya berada satu atap dalam satu ikatan tanpa dasar CINTA. Bagaimana aku harus bersikap jika aku melihat wajah istriku setiap hari. Hampir kata talak ku ucapkan padanya. Tapi bagaiman dengan Rizki. Aku tak ingin jagoan kecilku menjadi korban. Mungkinkah aku akan terus belajar mencintainya?
            Malam ini ku beranikan diri mengungkapkan yang sebenarnya pada Syila. Aku hanya diam saat melihatnya menangis sesenggukkan di balik bantal. Aku tau dia tidak ingin mencipta keributan atau mungkin tak ingin mengganggu tidur nyenyak Rizki.
“Kenapa mas?? Kenapa mas tega” ia tetap menangis di balik bantal. “Jika mas masih mencintai wanita itu, aku ikhlas jika mas mau menikah lagi. Aku ikhlas, asal mas tak lupa tanggung jawab mas sebagai seorang ayah. Jika memang dengan jalan itu mas bahagia. A-a-aku juga b-aa-a-hagia mas” ucapnya terbata. Hatiku teriris mendengarnya. Sudut mataku basah, aku menyesal. Ku rengkuh syila. Ia menghindar, di tampiknya tanganku. “Biarkan Syila menangis malam ini mas,” aku hanya diam. Ya, aku telah GAGAL. Aku gagal untuk belajar mencintainya. Aku gagal untuk membahagiakannya. Akupun gagal mempertahankan Rena dan malam ini sepertinya aku akan gagal mempertahankan ikatanku dengan Syila. Aku gagal. “Aku GAGAL Tuhan” lirih hati kecilku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar