OASE KEHIDUPAN
Pohon-pohon cemara menyambut riang
hiruk-pikuk kendaraan yang lalu lalang. Kesegaran udara pegenungan menyerap
luapan-luapan hitam asap kendaraan. Angin berbisik halus membelai lembut
lapisan epidermis penduduk desa wonosari. Nuansa pegunungan tempat wisata
pesarean gunung kawi yang tak seperti biasanya. Bising kendaraan bermotor
menjadi ajang ketegangan indra pendengaran pagi itu. Antrian panjang kendaraan
sedikit melatih kesabaran.
“Riz,,,RIZAAA
!!!!” teriakan temanku sontak membuatku sedikit refleksi jantung.
“Hiiizzz,,,ada
apa sih kiii?” jawabku sedikit jengkel.
“Yuuk
parkir diatas aja. Disini ramee, antre, bising. Capeeek” rengek temenku yang
super manja itu.
“Huuft,
kamu kira diatas sepi. Sama aja kaleeeee,, uww” kucubit pipi cubbynya. Bibir
mungilnya mulai manyun 5cm. Perlahan tapi pasti sepada tuaku bertengger
diparkiran dekat kantor polisi. Kupandangi wajah kiki yang dari tadi
memandangku datar.
“Ngapain
coba kita ke tempat seperti ini. Gak jelas banget!.” Celetuknya.
“Lho,,
bukannya tadi aku udah bilang ki. Aku penasaran aja. Tadikan aku juga udah
nawarin kamu. Kalau gak mau nemenini gak pa pa. Aku kan gak maksa ki…”
“Iya
sebagai sahabat yang baik ku gak mungkin nolaklah….”
“Yaudah
naik keatas yuk.” Kiki hanya diam. Dia berjalan malas-malasan dibelakangku. Aku
tau ada sesal dalam hatinya. Tapi ku biarkan saja. Biar dia tau niatku kesini
hanya mengobati rasa ingin tau. Mencari asal muasal ritual tahunan ini.
Bagai memasuki perkampungan
tionghoa. Jejeran kios-kios kelontong didepan pelataran kompleks pesarean. Menjual
aneka macam perabot local dan non local. Restoran-restoran dengan aneka makanan
khas jawa sampai makanan khas tionghoa. Ini mungkin yang disebut globalisasi.
Tapi mulutku mlongo. Saat mataku tertuju pada bangunan masjid yang disebelahnya ada tempat yang tak asing. Sebuah
pura lengkap dengan perabot ibadah orang-orang beragama budha. Ada patung
cantik didalamnya. Yang sering disebut dengan panggilan patung quan in. Yaah,,
biasanya aku hanya mendengar ini dari teman-teman sekelasku. Tapi kali ini aku
menyaksikannya sendiri. Sebuah bentuk toleransi dalam beragama menurutku.
Sekilas aku teringat sahabatku kiki. Ku toleh kanan kiri. Nihil. Tak kutemukan
putri keong itu. Sebuah julukan yang menurutku tepat disematkan untuknya. Kupandangi
setiap penjuru. Tepat di pinggir jalan ku lihat sahabatku nampaknya sedang
berbincang dengan seseorang yang menurutku asing. Seorang ibu paruh baya.
Berkulit kuning langsat. Bejilbab panjang menutup dada. Bermata sipit. Seorang
penjual nasi pecel. Bergegas ku hampiri sahabatku.
“ki,
makan gak ajak-ajak..huuh” sungutku
“hihihi,,salahnya
sendiri serius amet kaya ditektif” ledeknya. Tak ku gubris celotehnya. Dengan
santai ku duduk di sebelahnya.
“Bu,
pecelnya satu lagi ya” pesanku
“iya
neng” jawab ibu berjilbab panjang itu. Sekilas ku perhatikan ibu berjilbab
panjang itu. Dengan cekatan ia racik satu porsi nasi pecel pesananku.
“Bu,
ibu asli wonosari?”
“Iya
neng. Ibu juga sudah lama jualan disini. Meskipun kondisi fisik ibu ya seperti
ini.” Kulihat ibu berjilbab itu mengantarkan pesananku sembari memutar kursi
rodanya. Tak tega aku melihatnya. Bergegas ku hampiri ibu berjilbab panjang
itu. Ku dorong kursi roda menuju tempat aku dan kiki duduk.
“Bu,
saya boleh nanya-nanya ke ibu?”
“silahkan
saja neng. Saya akan jawab sebisa saya.”
“oya
kurang afdhol kalau belum saling kenal bu. Ibu namanya siapa?”
“Saya
biasa di panggil bu Ais neng. Neng-neng ini siapa namanya dan asli mana neng?”
“Saya
Kiki bu dan teman saya ini Riza. Kami dari Malang bu.” Jawab kiki sekaligus
mewakiliku.
“Neng
kesini mau ngalap berkah atau hanya sekedar berkunjung neng?”
“Ngalap
berkah itu apa bu?”tannya Kiki.
“Ngalap
berkah itu mencari berkah neng. Biasanya kebanyakan orang yang kesini bertujuan
untuk ngalap berkah ke makam Kanjeng
Kyai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soedjono. Ada yang sekedar berziarah ada
juga yang niatnya lain neng.”
“Kyai Zakaria II
dan Raden Mas Iman Soedjono itu siapa bu?”Tanyanya lagi.
“Kyai Zakaria II
dan Raden Mas Iman Soedjono itu dua tokoh kharismatik yang berasal dari Keraton
Mataram abad ke-19 yang di makamkan dalam satu liang lahat di pesarean.”
“Kalau boleh tau sebenarnya arti dari pesarean
itu sendiri apa bu dan kenapa tempat ini di beri nama pesarean?” Tanyaku
penasaran.
“Nama pesarean itu diambil dari kata "sare" yang
artinya tidur dalam bahasa Jawa. Pesarean berati kuburan atau pemakaman neng. Tempat ini di beri nama pesarean karena menjadi tempat
pemakaman Kyai Zakaria II dan Raden Mas soedjono.” panjang lebar penjelasan
sejarah tentang pesarean. Sedikit mengobati rasa penasaranku. Hampir satu jam ku
berbagi kisah dengan bu Ais. Tentang peringatan satu Suro (muharram) yang
sering disebut dengan istilah suroan di daerah tersebut. Setelah merasa
cukup dengan penjelasan bu Ais aku pamit untuk menikmati pemandangan sekitar di
pesarean. Bu Ais hanya tersenyum saat ku beranjak pergi. Seorang wanita yang
istimewa. Dengan kondisi fisiknya tak membatasinya untuk terus bekerja.
Semangat yang mulai menular. Menjalar merasuk pori-pori nadiku. Perjuangan yang
luar biasa. Hmmm tak sia-sia aku habiskan waktu weekand ku disini.
Senyum terus mengembang dibibirku.
Semangatku bertambah 2 kali lipat. Kulewati lereng-lereng jalan pesarean tanpa
rasa lelah. Ku pandang rekanku Kiki. Yang sepertinya juga mendapatkan stimulus
penghilang rasa malas. Langkahnya bagai pejuang perang melawan mungsuh
bersenjatakan meriam. Matanya terus berbinar. Sebuah sejarah kehidupan yang
tersimpan dan toleransi yang terus berkembang. Menambah rasa damai memupuk
persahabatan. Tiba-tiba saja Kiki berdiri mematung.
“Heeh,,
kenapa Ki?” tanpa menjawab. Jari telunjuknya menunjuk kesuatu arah. Mataku
seakan meloncat bebas. “Tuhan,, tempat bersejarah ini telah menjadi saksi
insiden cinta kasih dua insan yang kasmaran” gumam batinku.
“Benar
kata bu Ais tadi ki. Gak semua orang yang kesini dengan niat berziarah.”
“Semoga
saja tak terus seperti itu.”
“Justru
itu warna-warni kehidupan Ki. Yang juga merupakan tantangan buat kekuatan kita.
Kekuatan untuk tetap bertahan dengan akidah kita atau malah sebaliknya. Hal
semacam ini tak akan pernah lepas dari kehidupan.” Digenggamnya tanganku.
Beruntung aku memiliki sahabat sepertimu Za. Kita saling pandang dan bertukar
senyum.
Perjalanan yang indah. Banyak
pelajaran yang ku dapat. Sebuah sejarah yang tak boleh terlupakan. Sebuah dusun
penuh toleransi. Tanpa batas ras, agama maupun golongan. Tak sabar rasanya
ingin segera sampai dirumah. Ingin segera berbagi cerita dengan keluarga dan
teman-teman.
*****
Jam istirahat siang itu waktuku
menjadi pendongeng di siang bolong. Kiki hanya menjadi saksi dalam petualangan
kisah yang ku paparkan. Teman-temanku dengan kidmat menyimak tiap rangkaian
kataku. Ditemani camilan-camilan ringan dan beberapa gelas minuman. Suasana
kelas sejurus menjadi bioskop mini tanpa ada actor dan aktris pemeran adegan.
Hanya imajinasi yang menjadi pemeran adegan bioskop mini itu. Bak orator ulung
aku berteriak “Jas Merah” jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
Teman-temanku bagai rakyat yang menuruti titah sang Raja. Sambutan senyum ceria
memuncakkan semangat mereka. Seakan tak mau ketinggalan. Ada diantara mereka
yang berniat terjun bebas meneliti sejarah dunia. Ku tanggapi keinginan mereka
dengan sedikit kapsul pantang menyerah. Sorak-sorak bangga berhenti sejenak.
Saat temanku yang menjabat sebagai merpati informasi dikelas berlari
terengah-engah. Gayanya yang super penting dan memang penting informasinya
menurut anak-anak menghentikan gelegak tawa diantara mereka.
“Gaswat,,eeeh
gawat teman-teman. Ada kabar burung eh kabar buruk. Itu,, anu,,itu si itu,,,anu
eh,,,”
“Hedeeechh,,santai
aja fril. Yang jelas dong ngomongnya,,!!” sahut sahabatku Kiki.
“Gini
lho temen-temen. Sahabat kita Firman Nur Fauzan sekarang lagi ada dirumah
sakit. Katanya infeksi. Lukanya yang dulu kena belati tuh kena infeksi
katanya.”
“Hus,
jangan gosip kamu!!” ucapku tak percaya.
“Sumpriiit
di sambar burung empriit dah gue brani.”
“Yaudah
kasih tau temen-temen kelas yang lain. Bagi yang mau ikut menjenguk suruh
konfirmasi ke aku fril.”
“Ongkrik
boos” ucapnya sembari berlagak seperti iklan sampoo.
Segera ku hubungi beberapa guru-guru yang
mungkin hendak ikut menjenguk temanku itu atau mungkin mau menyumbangkan
beberapa rupiah untuk membantu biaya rumah sakit. Ada beberapa teman yang ku
sarankan untuk langsung menuju rumah sakit. Aku dan teman-temanku yang lain
menuju rumah Firman untuk memastikan kebenaran kabar tersebut. Yang katanya
mereka hanya tinggal berdua saja. Ya, seorang janda yang hanya tinggal dengan
satu orang anak laki-lakinya saja.
“Assalamualaikum,,”
koor salam yang terdengar serempak.
“Walaikumsalam”
terdengar dibalik pintu suara wanita paruh baya. “Kreeek” suara derak pintu
tua. Sambutan senyum kami terima. Nampak ada goresan kesedihan yang
disimpannya. Ku perhatikan wajah wanita dihadapanku itu. Memory otakku mulai
bernostalgia dengan wajah wanita itu. Benar-benar tak dapat ku percaya. Wanita
itu. Seorang paruh baya yang ku temui di pesarean. Wanita berjilbab panjang
berkursi roda. Ibu Ais. Ya, berkali-kali ku kucek-kucek kedua mataku tak
percaya. Yang benar saja. Ini sebuah kebetulan atau memang takdir Tuhan.
“Neng
Riza” sapa bu Ais membuatku yakin bahwa ini bukan mimpi tapi nyata.
“Eh,,,I-yaa
bu Ais,,” jawabku terbata.
“Begini
bu saya dan teman-teman kemari karena mendengar kabar bahwa Firman sedang
berada di rumah sakit.” Sambungku.
“Iya
neng, ini ibu baru pulang dari sana. Ibu pulang dulu karena ada pekerjaan yang
harus ibu kerjakan.” Sebuah jawaban yang sedikit menyelipkan pertanyaan dalam
benakku. “Kenapa saat anaknya masih sakit bu Ais masih saja memikirkan tentang
pekerjaan? Atau karena factor ekonomi atau apa??” hmm segera kuusir
pertanyaan-pertanyaan itu dari hatiku. Aku harus berperasangka baik, ku
tekankan kata-kata itu pada hatiku.
“Mari
masuk, maaf rumah ibu sempit”
“Jangan
bilang seperti itu bu. Sama kok dengan rumah kami.”jawab salah satu temanku.
“Oya,
mau minum apa? tapi maaf adanya hanya teh.”
“Gak
perlu repot-repot bu. Kami kesini hanya ingin menemani ibu. Jika memang ibu
tidak bisa kerumah sakit, nanti biyar saya dan teman-teman yang bergantian
menunggui Firman di rumah sakit bu.”jawab sahabatku Kiki.
“Apakah
tidak merepotkan neng? Mungkin ibu tidak bisa menemani jika waktu siang hari
saja neng. Karena ibu harus mencarikan rumput untuk kambing-kambing ibu.”
“Tidak bu,, Ehmm iya biar kami saja bu kalau
siang yang jaga Firman” sahut joko selaku sahabat Firman.
“Iya
nak sebelumnya ibu berterimakasih atas keperdulian kalian dan tawaran kalian
untuk menolong. Tapi setiap siang sudah ada bibi Firman yang menemaninya
disana. Mungkin kalian bisa menjenguknya kesana tapi tak perlu menemaninya
menggantikan ibu. Karena kalian juga pasti memiliki kesibukan masing-masing”
“Iya
tapi kita sahabat bu. Bahkan sudah seperti saudara. Bukankah kalau dalam islam
saudara itu diibaratkan satu tubuh. Satu saja anggota tubuh yang sakit, anggota
yang lain turut merasakannya bu.” Ibu Ais menanggapi dengan senyuman dan
anggukan kepala. Wajahnya mewakili hatinya yang setuju dengan ucapan Joko tadi.
Tanpa bilang apapun bu Ais berpamitan ke belakang. Tak lama setelah itu delapan
teh diatas nampan berada di pangkuannya. Naluri sebagai seorang wanita mendorongku
untuk membantunya. Seperti sebelumnya. Bu Ais hanya tersenyum menanggapi apa
yang ku lakukan. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan. Kebenaran
bahwa beliau hanya tinggal dengan Firman saja. Tapi menurutku itu sebuah
privasi yang tak boleh ku campuri. Dengan keadaannya fisik yang terbatas dan
musibah yang menimpa anak satu-satunya tak menampakkan guratan kesedihan diraut
mukanya. Mungkin bu Ais hanya menyimpan kepedihan-kepedihan itu dalam hatinya.
Setelah banyak berbincang dengan bu Ais kami semua bermpamitan pulang. Dalam
perjalanan pulang kami hanya diam. Merenungi arti kehidupan. Selama ini banyak
waktu kami yang terbuang sia-sia. Tak ada rasa keperdulian terhadap sesama.
Selalu merasa diri paling baik dan benar. Selalu membanggakan diri sendiri
dalam forum kecil dikelas kami. Onggokan-onggokan penyesalan menyelundup
sejenak dalam batin kami. Saat itu juga kami berjanji untuk sering-sering
menjenguk Firman dan menemani bu Ais untuk sementara waktu sebelum Firman
sembuh.
******
Bagaikan ibu-ibu arisan menunggu
giliran. Gemuruh rasa keperdulian menyulap teman sekelasku menjadi seorang
relawan. Satu kelas yang tadinya mengedepankan ego dan individualisme, Sejenak
berubah berjiwa patriotisme yang menciptakan rasa kekeluargaan dan keharmonisan.
Tanpa ragu aku unjuk gigi.
“Dulur-dulur[1] IPA 1,, bagaimana kalau satu minggu kedepan
ini aku saja yang menemani bu Ais. Berhubung jadwal longgar dan banyak tugasku
yang udah pada kelar.” Ucapku mantap.
“Hmmm
boleh tuh. Tapi sendiri atau gimana Za kamu?” Tanya anita sekertaris kelas IPA
1.
“Aku
sih terserah saja. Kalau ada yang menawarkan diri untuk menemani nggeh
monggo[2] ,,,”
jawabku.
“Aku
mau Za.” Sahut Kiki
“Ok
deh.. Mulai ntar siang ya??”
“Seeep”
jawab kiki sembari mengacungkan jempolnya.
Panas sengatan mentari tak
menggugurkan niat yang membara siang itu. Rumah kecil bergaya jawa kuno itu
tampak sepi. Hanya deretan tanaman hias di dekitar rumah yang menari-nari tanpa
beban. Goyanagn-goyangan ranting pepohonan yang seakan menyimpan rasa duka sang
pemilik rumah, mencoba menciptakan nuansa asri yang mendamaikan. Ku parkir
motorku tepat dibawah pohon jambu di depan pelataran rumah bu Asri. Ku ketuk
pintu sembari mengucapkan salam. Hampa. Tak ada jawaban. Aku tak putus asa. Aku
duduk di teras depan. Mengamati jalanan sekitar. Bocah-bocah kecil berlarian
girang. Ku hampiri mereka.
“Dek
,, dek,,,tau ibu Ais gak?” teriakku.
“ooww
kalau jam segini biasanya bu Ais ada di pekarangan belakang rumahnya mencari
rumput mbak.” Jawab bocah-bocah kecil itu.
“Ehmm
,,terimakasih ya dek” tanpa menjawab mereka menggeluyur pergi.
Ku telusuri jalan setapak dengan
barisan pohon-pohon jati yang tumbuh perkasa. Daun-daun rindang berguguran.
Gesekan pohon-pohon bamboo menjadi music alam. Mataku menari-nari kegirangan.
Tak sabar mencari sosok wanita perkasa. Yang sanggup menerima musibah sebagai
berkah. Hambatan sebagai tantangan. Hinaan sebagai kekuatan. Kekurangan sebagai
kelebihan.
“RIIIIZAAAAAAAAAAAAAAAa”
triak Kiki membuatku berlari tunggang-langgang. Kulihat sahabatku itu menangis
sesenggukan. Dirangkulnya seorang wanita yang tergeletak lemas. “
Astagfirullah,, bukankah itu bu Ais”batinku.
“Zaa,,
bu Ais Za,,”
“Bu
Ais kenapa kii??”
“Gak tau,, aku lihat bu Ais sudah tergeletak ditanah. Cepet Za cari bantuan.” Aku hanya mengganggukkan kepala dan berlari mencari bantuan. Bingung bercampur kawatir. Ku panggil segerombol anak muda di pos kampling. Mereka dengan sigap berlari menuju pekarangan belakang rumah bu Ais. Dibopongnya bu Ais. Beberapa menit, detik dan jam. Kuhitung maju mundur. Jantungku berdetak tak karuan. Perasaan tak enak menggerogoti hati kecilku. Keringat dingin bercucuran membanjiri kedua telapak tanganku. Gugup dan takut. Kulihat bibir sahabatku komat-kamit. Sepertinya Kiki juga merasakan apa yang aku rasakan. Dipegangnya tangan bu Ais. Sosok ibu yang sudah kita anggap seperti ibu kita sendiri. Tak lama setelah itu jari bu Ais bergerak-gerak. Perlahan-lahan matanya terbuka.
“Gak tau,, aku lihat bu Ais sudah tergeletak ditanah. Cepet Za cari bantuan.” Aku hanya mengganggukkan kepala dan berlari mencari bantuan. Bingung bercampur kawatir. Ku panggil segerombol anak muda di pos kampling. Mereka dengan sigap berlari menuju pekarangan belakang rumah bu Ais. Dibopongnya bu Ais. Beberapa menit, detik dan jam. Kuhitung maju mundur. Jantungku berdetak tak karuan. Perasaan tak enak menggerogoti hati kecilku. Keringat dingin bercucuran membanjiri kedua telapak tanganku. Gugup dan takut. Kulihat bibir sahabatku komat-kamit. Sepertinya Kiki juga merasakan apa yang aku rasakan. Dipegangnya tangan bu Ais. Sosok ibu yang sudah kita anggap seperti ibu kita sendiri. Tak lama setelah itu jari bu Ais bergerak-gerak. Perlahan-lahan matanya terbuka.
“Neng,,”
sapanya lemas.
“Ibu
istirahat saja. Biar nanti Kiki minta tolong Joko untuk nemenin Firman di rumah
sakit. Ibu istirahat saja.”
“Ibu
gak pa pa neng.”
“Tapi
ibu tadi pingsan.bu Ais sudah makan?”
“Ibu
puasa neng.”
“Ibu
tadi sahur?” Tanya Kiki.
“Iya
neng. Segelas air putih.”
“Ya
Allah ,, bu Ais jangan memaksakan diri jika memang dirasa tidak kuat lagi.”
Ucapku khawatir.
“Iya
neng tapi ibu harus lebih berhemat dan cari kerja tambahan untuk biaya rumah sakit neng. Ibu tidak tega jika
harus menjual kambing-kambing Firman. Kambing-kambing itu harapan Firman untuk
dapat terus melanjutkan pendidikan neng.”
“Masalah
biaya rumah sakit jangan difikirkan dulu bu. Biar Riza dan Kiki bantu cari
solusinya.”
“Saya
gak mau merepotkan siapa-siapa neng. Selama ibu masih mampu. Ibu akan
berusaha.”
“Tapi
ibu juga harus menjaga kesehatan. Ibu gak boleh memaksakan diri.”Sahut Kiki.
“Ibu
gak memaksakan diri. Ibu tidak mengerjakan apa yang ibu rasa itu berat untuk
ibu. Ibu hanya menjalankan apa yang seharusnya ibu jalankan. Firman
satu-satunya keluarga ibu. Anak satu-satunya. Ibu ingin dia menjadi anak yang
berpendidikan. Kambing-kambing itu punya Firman. Ibu tidak tega menjualnya
untuk biaya rumah sakit. Ibu akan cari cara lain untuk melunasi biaya rumah
sakit. Beruntung ibu masih punya tabungan neng. Cita-cita dan semangatnya
mencari ilmu yang tinggi membuat ibu terus bersemangat mengais rizki ALLAH yang
masih tersimpan. Entah dengan cara bagaimanapun ibu akan terus mencarinya
selama itu tidak melanggar laranganNYA. Ibu yakin ALLAH tidak akan menelantarkan hamba-hambaNYA.” Aku
dan Kiki hanya terdiam. Hati kami terenyuh mendengar penuturan bu Ais.
Kondisinya tak mebuatnya menyerah.
“Ibu,
apa ibu tak pernah merasa Allah itu tidak adil?” tanyaku.
‘Kenapa
ibu harus merasa demikian neng. Allah itu maha adil. Maha welas[3]. Ini
jalan yang diberikan Allah untuk ibu. Mungkin saat ini Allah sedang menguji
kesabaran ibu dan Firman. Ini juga merupakan bentuk kasih sayang Allah untuk
hambaNYA. Agar lebih mendekat padaNYA. Bagi ibu hidup itu jika dijalani dengan
rasa syukur bagaikan oase di padang sahara. Memberikan sumber kehidupan dalam
kekeringan. Melapangkan dalam kesempitan. Menyegarkan dahaga dalam
keterpurukan. Menjadikan kegersangan itu sebagai oase kehidupan.”
“kata-kata
yang membuat diriku dan sahabatku merasa kerdil.” Ku peluk Kiki dan bu Ais
erat. Aku bersyukur Allah mempertemukanku dengan wanita berhati samudera.
Wanita yang membuatku iri dengan kesabaran dan ketegarannya. Satu kata yang
melekat dalam benakku “ Jadikan kegersangan menjadi oase kehidupan”
Oleh : فضيلةالصا
لحة
Tidak ada komentar:
Posting Komentar