Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Minggu, 13 April 2014

OASE KEHIDUPAN




OASE KEHIDUPAN
            Pohon-pohon cemara menyambut riang hiruk-pikuk kendaraan yang lalu lalang. Kesegaran udara pegenungan menyerap luapan-luapan hitam asap kendaraan. Angin berbisik halus membelai lembut lapisan epidermis penduduk desa wonosari. Nuansa pegunungan tempat wisata pesarean gunung kawi yang tak seperti biasanya. Bising kendaraan bermotor menjadi ajang ketegangan indra pendengaran pagi itu. Antrian panjang kendaraan sedikit melatih kesabaran.
“Riz,,,RIZAAA !!!!” teriakan temanku sontak membuatku sedikit refleksi jantung.
“Hiiizzz,,,ada apa sih kiii?” jawabku sedikit jengkel.
“Yuuk parkir diatas aja. Disini ramee, antre, bising. Capeeek” rengek temenku yang super manja itu.
“Huuft, kamu kira diatas sepi. Sama aja kaleeeee,, uww” kucubit pipi cubbynya. Bibir mungilnya mulai manyun 5cm. Perlahan tapi pasti sepada tuaku bertengger diparkiran dekat kantor polisi. Kupandangi wajah kiki yang dari tadi memandangku datar.

 
“Ngapain coba kita ke tempat seperti ini. Gak jelas banget!.” Celetuknya.
“Lho,, bukannya tadi aku udah bilang ki. Aku penasaran aja. Tadikan aku juga udah nawarin kamu. Kalau gak mau nemenini gak pa pa. Aku kan gak maksa ki…”
“Iya sebagai sahabat yang baik ku gak mungkin nolaklah….”
“Yaudah naik keatas yuk.” Kiki hanya diam. Dia berjalan malas-malasan dibelakangku. Aku tau ada sesal dalam hatinya. Tapi ku biarkan saja. Biar dia tau niatku kesini hanya mengobati rasa ingin tau. Mencari asal muasal ritual tahunan ini.
            Bagai memasuki perkampungan tionghoa. Jejeran kios-kios kelontong didepan pelataran kompleks pesarean. Menjual aneka macam perabot local dan non local. Restoran-restoran dengan aneka makanan khas jawa sampai makanan khas tionghoa. Ini mungkin yang disebut globalisasi. Tapi mulutku mlongo. Saat mataku tertuju pada bangunan masjid yang  disebelahnya ada tempat yang tak asing. Sebuah pura lengkap dengan perabot ibadah orang-orang beragama budha. Ada patung cantik didalamnya. Yang sering disebut dengan panggilan patung quan in. Yaah,, biasanya aku hanya mendengar ini dari teman-teman sekelasku. Tapi kali ini aku menyaksikannya sendiri. Sebuah bentuk toleransi dalam beragama menurutku. Sekilas aku teringat sahabatku kiki. Ku toleh kanan kiri. Nihil. Tak kutemukan putri keong itu. Sebuah julukan yang menurutku tepat disematkan untuknya. Kupandangi setiap penjuru. Tepat di pinggir jalan ku lihat sahabatku nampaknya sedang berbincang dengan seseorang yang menurutku asing. Seorang ibu paruh baya. Berkulit kuning langsat. Bejilbab panjang menutup dada. Bermata sipit. Seorang penjual nasi pecel. Bergegas ku hampiri sahabatku.
“ki, makan gak ajak-ajak..huuh” sungutku
“hihihi,,salahnya sendiri serius amet kaya ditektif” ledeknya. Tak ku gubris celotehnya. Dengan santai  ku duduk di sebelahnya.
“Bu, pecelnya satu lagi ya” pesanku
“iya neng” jawab ibu berjilbab panjang itu. Sekilas ku perhatikan ibu berjilbab panjang itu. Dengan cekatan ia racik satu porsi nasi pecel pesananku.
“Bu, ibu asli wonosari?”
“Iya neng. Ibu juga sudah lama jualan disini. Meskipun kondisi fisik ibu ya seperti ini.” Kulihat ibu berjilbab itu mengantarkan pesananku sembari memutar kursi rodanya. Tak tega aku melihatnya. Bergegas ku hampiri ibu berjilbab panjang itu. Ku dorong kursi roda menuju tempat aku dan kiki duduk.
“Bu, saya boleh nanya-nanya ke ibu?”
“silahkan saja neng. Saya akan jawab sebisa saya.”
“oya kurang afdhol kalau belum saling kenal bu. Ibu namanya siapa?”
“Saya biasa di panggil bu Ais neng. Neng-neng ini siapa namanya dan asli mana neng?”
“Saya Kiki bu dan teman saya ini Riza. Kami dari Malang bu.” Jawab kiki sekaligus mewakiliku.
“Neng kesini mau ngalap berkah atau hanya sekedar berkunjung neng?”
“Ngalap berkah itu apa bu?”tannya Kiki.
“Ngalap berkah itu mencari berkah neng. Biasanya kebanyakan orang yang kesini bertujuan untuk ngalap berkah ke makam  Kanjeng Kyai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soedjono. Ada yang sekedar berziarah ada juga yang niatnya lain neng.”
Kyai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soedjono itu siapa bu?”Tanyanya lagi.
Kyai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soedjono itu dua tokoh kharismatik yang berasal dari Keraton Mataram abad ke-19 yang di makamkan dalam satu liang lahat di pesarean.”
“Kalau boleh tau sebenarnya arti dari pesarean itu sendiri apa bu dan kenapa tempat ini di beri nama pesarean?” Tanyaku penasaran.
Nama pesarean itu diambil dari kata "sare" yang artinya tidur dalam bahasa Jawa. Pesarean berati kuburan atau pemakaman neng. Tempat ini di beri nama pesarean karena menjadi tempat pemakaman Kyai Zakaria II dan Raden Mas soedjono.” panjang lebar penjelasan sejarah tentang pesarean. Sedikit mengobati rasa penasaranku. Hampir satu jam ku berbagi kisah dengan bu Ais. Tentang peringatan satu Suro (muharram) yang sering disebut dengan istilah suroan di daerah tersebut. Setelah merasa cukup dengan penjelasan bu Ais aku pamit untuk menikmati pemandangan sekitar di pesarean. Bu Ais hanya tersenyum saat ku beranjak pergi. Seorang wanita yang istimewa. Dengan kondisi fisiknya tak membatasinya untuk terus bekerja. Semangat yang mulai menular. Menjalar merasuk pori-pori nadiku. Perjuangan yang luar biasa. Hmmm tak sia-sia aku habiskan waktu weekand ku disini.
            Senyum terus mengembang dibibirku. Semangatku bertambah 2 kali lipat. Kulewati lereng-lereng jalan pesarean tanpa rasa lelah. Ku pandang rekanku Kiki. Yang sepertinya juga mendapatkan stimulus penghilang rasa malas. Langkahnya bagai pejuang perang melawan mungsuh bersenjatakan meriam. Matanya terus berbinar. Sebuah sejarah kehidupan yang tersimpan dan toleransi yang terus berkembang. Menambah rasa damai memupuk persahabatan. Tiba-tiba saja Kiki berdiri mematung.
“Heeh,, kenapa Ki?” tanpa menjawab. Jari telunjuknya menunjuk kesuatu arah. Mataku seakan meloncat bebas. “Tuhan,, tempat bersejarah ini telah menjadi saksi insiden cinta kasih dua insan yang kasmaran” gumam batinku.
“Benar kata bu Ais tadi ki. Gak semua orang yang kesini dengan niat berziarah.”
“Semoga saja tak terus seperti itu.”
“Justru itu warna-warni kehidupan Ki. Yang juga merupakan tantangan buat kekuatan kita. Kekuatan untuk tetap bertahan dengan akidah kita atau malah sebaliknya. Hal semacam ini tak akan pernah lepas dari kehidupan.” Digenggamnya tanganku. Beruntung aku memiliki sahabat sepertimu Za. Kita saling pandang dan bertukar senyum.
            Perjalanan yang indah. Banyak pelajaran yang ku dapat. Sebuah sejarah yang tak boleh terlupakan. Sebuah dusun penuh toleransi. Tanpa batas ras, agama maupun golongan. Tak sabar rasanya ingin segera sampai dirumah. Ingin segera berbagi cerita dengan keluarga dan teman-teman.
*****
            Jam istirahat siang itu waktuku menjadi pendongeng di siang bolong. Kiki hanya menjadi saksi dalam petualangan kisah yang ku paparkan. Teman-temanku dengan kidmat menyimak tiap rangkaian kataku. Ditemani camilan-camilan ringan dan beberapa gelas minuman. Suasana kelas sejurus menjadi bioskop mini tanpa ada actor dan aktris pemeran adegan. Hanya imajinasi yang menjadi pemeran adegan bioskop mini itu. Bak orator ulung aku berteriak “Jas Merah” jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Teman-temanku bagai rakyat yang menuruti titah sang Raja. Sambutan senyum ceria memuncakkan semangat mereka. Seakan tak mau ketinggalan. Ada diantara mereka yang berniat terjun bebas meneliti sejarah dunia. Ku tanggapi keinginan mereka dengan sedikit kapsul pantang menyerah. Sorak-sorak bangga berhenti sejenak. Saat temanku yang menjabat sebagai merpati informasi dikelas berlari terengah-engah. Gayanya yang super penting dan memang penting informasinya menurut anak-anak menghentikan gelegak tawa diantara mereka.
“Gaswat,,eeeh gawat teman-teman. Ada kabar burung eh kabar buruk. Itu,, anu,,itu si itu,,,anu eh,,,”
“Hedeeechh,,santai aja fril. Yang jelas dong ngomongnya,,!!” sahut sahabatku Kiki.
“Gini lho temen-temen. Sahabat kita Firman Nur Fauzan sekarang lagi ada dirumah sakit. Katanya infeksi. Lukanya yang dulu kena belati tuh kena infeksi katanya.”
“Hus, jangan gosip kamu!!” ucapku tak percaya.
“Sumpriiit di sambar burung empriit dah gue brani.”
“Yaudah kasih tau temen-temen kelas yang lain. Bagi yang mau ikut menjenguk suruh konfirmasi ke aku fril.”
“Ongkrik boos” ucapnya sembari berlagak seperti iklan sampoo.
 Segera ku hubungi beberapa guru-guru yang mungkin hendak ikut menjenguk temanku itu atau mungkin mau menyumbangkan beberapa rupiah untuk membantu biaya rumah sakit. Ada beberapa teman yang ku sarankan untuk langsung menuju rumah sakit. Aku dan teman-temanku yang lain menuju rumah Firman untuk memastikan kebenaran kabar tersebut. Yang katanya mereka hanya tinggal berdua saja. Ya, seorang janda yang hanya tinggal dengan satu orang anak laki-lakinya saja.
“Assalamualaikum,,” koor salam yang terdengar serempak.
“Walaikumsalam” terdengar dibalik pintu suara wanita paruh baya. “Kreeek” suara derak pintu tua. Sambutan senyum kami terima. Nampak ada goresan kesedihan yang disimpannya. Ku perhatikan wajah wanita dihadapanku itu. Memory otakku mulai bernostalgia dengan wajah wanita itu. Benar-benar tak dapat ku percaya. Wanita itu. Seorang paruh baya yang ku temui di pesarean. Wanita berjilbab panjang berkursi roda. Ibu Ais. Ya, berkali-kali ku kucek-kucek kedua mataku tak percaya. Yang benar saja. Ini sebuah kebetulan atau memang takdir Tuhan.
“Neng Riza” sapa bu Ais membuatku yakin bahwa ini bukan mimpi tapi nyata.
“Eh,,,I-yaa bu Ais,,” jawabku terbata.
“Begini bu saya dan teman-teman kemari karena mendengar kabar bahwa Firman sedang berada di rumah sakit.” Sambungku.
“Iya neng, ini ibu baru pulang dari sana. Ibu pulang dulu karena ada pekerjaan yang harus ibu kerjakan.” Sebuah jawaban yang sedikit menyelipkan pertanyaan dalam benakku. “Kenapa saat anaknya masih sakit bu Ais masih saja memikirkan tentang pekerjaan? Atau karena factor ekonomi atau apa??” hmm segera kuusir pertanyaan-pertanyaan itu dari hatiku. Aku harus berperasangka baik, ku tekankan kata-kata itu pada hatiku.
“Mari masuk, maaf rumah ibu sempit”
“Jangan bilang seperti itu bu. Sama kok dengan rumah kami.”jawab salah satu temanku.
“Oya, mau minum apa? tapi maaf adanya hanya teh.”
“Gak perlu repot-repot bu. Kami kesini hanya ingin menemani ibu. Jika memang ibu tidak bisa kerumah sakit, nanti biyar saya dan teman-teman yang bergantian menunggui Firman di rumah sakit bu.”jawab sahabatku Kiki.
“Apakah tidak merepotkan neng? Mungkin ibu tidak bisa menemani jika waktu siang hari saja neng. Karena ibu harus mencarikan rumput untuk kambing-kambing ibu.”
 “Tidak bu,, Ehmm iya biar kami saja bu kalau siang yang jaga Firman” sahut joko selaku sahabat Firman.
“Iya nak sebelumnya ibu berterimakasih atas keperdulian kalian dan tawaran kalian untuk menolong. Tapi setiap siang sudah ada bibi Firman yang menemaninya disana. Mungkin kalian bisa menjenguknya kesana tapi tak perlu menemaninya menggantikan ibu. Karena kalian juga pasti memiliki kesibukan masing-masing”
“Iya tapi kita sahabat bu. Bahkan sudah seperti saudara. Bukankah kalau dalam islam saudara itu diibaratkan satu tubuh. Satu saja anggota tubuh yang sakit, anggota yang lain turut merasakannya bu.” Ibu Ais menanggapi dengan senyuman dan anggukan kepala. Wajahnya mewakili hatinya yang setuju dengan ucapan Joko tadi. Tanpa bilang apapun bu Ais berpamitan ke belakang. Tak lama setelah itu delapan teh diatas nampan berada di pangkuannya. Naluri sebagai seorang wanita mendorongku untuk membantunya. Seperti sebelumnya. Bu Ais hanya tersenyum menanggapi apa yang ku lakukan. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan. Kebenaran bahwa beliau hanya tinggal dengan Firman saja. Tapi menurutku itu sebuah privasi yang tak boleh ku campuri. Dengan keadaannya fisik yang terbatas dan musibah yang menimpa anak satu-satunya tak menampakkan guratan kesedihan diraut mukanya. Mungkin bu Ais hanya menyimpan kepedihan-kepedihan itu dalam hatinya. Setelah banyak berbincang dengan bu Ais kami semua bermpamitan pulang. Dalam perjalanan pulang kami hanya diam. Merenungi arti kehidupan. Selama ini banyak waktu kami yang terbuang sia-sia. Tak ada rasa keperdulian terhadap sesama. Selalu merasa diri paling baik dan benar. Selalu membanggakan diri sendiri dalam forum kecil dikelas kami. Onggokan-onggokan penyesalan menyelundup sejenak dalam batin kami. Saat itu juga kami berjanji untuk sering-sering menjenguk Firman dan menemani bu Ais untuk sementara waktu sebelum Firman sembuh.
******
            Bagaikan ibu-ibu arisan menunggu giliran. Gemuruh rasa keperdulian menyulap teman sekelasku menjadi seorang relawan. Satu kelas yang tadinya mengedepankan ego dan individualisme, Sejenak berubah berjiwa patriotisme yang menciptakan rasa kekeluargaan dan keharmonisan. Tanpa ragu aku unjuk gigi.
Dulur-dulur[1]  IPA 1,, bagaimana kalau satu minggu kedepan ini aku saja yang menemani bu Ais. Berhubung jadwal longgar dan banyak tugasku yang udah pada kelar.” Ucapku mantap.
“Hmmm boleh tuh. Tapi sendiri atau gimana Za kamu?” Tanya anita sekertaris kelas IPA 1.
“Aku sih terserah saja. Kalau ada yang menawarkan diri untuk menemani nggeh monggo[2] ,,,” jawabku.
“Aku mau Za.” Sahut Kiki
“Ok deh.. Mulai ntar siang ya??”
“Seeep” jawab kiki sembari mengacungkan jempolnya.
            Panas sengatan mentari tak menggugurkan niat yang membara siang itu. Rumah kecil bergaya jawa kuno itu tampak sepi. Hanya deretan tanaman hias di dekitar rumah yang menari-nari tanpa beban. Goyanagn-goyangan ranting pepohonan yang seakan menyimpan rasa duka sang pemilik rumah, mencoba menciptakan nuansa asri yang mendamaikan. Ku parkir motorku tepat dibawah pohon jambu di depan pelataran rumah bu Asri. Ku ketuk pintu sembari mengucapkan salam. Hampa. Tak ada jawaban. Aku tak putus asa. Aku duduk di teras depan. Mengamati jalanan sekitar. Bocah-bocah kecil berlarian girang. Ku hampiri mereka.
“Dek ,, dek,,,tau ibu Ais gak?” teriakku.
“ooww kalau jam segini biasanya bu Ais ada di pekarangan belakang rumahnya mencari rumput mbak.” Jawab bocah-bocah kecil itu.
“Ehmm ,,terimakasih ya dek” tanpa menjawab mereka menggeluyur pergi.
            Ku telusuri jalan setapak dengan barisan pohon-pohon jati yang tumbuh perkasa. Daun-daun rindang berguguran. Gesekan pohon-pohon bamboo menjadi music alam. Mataku menari-nari kegirangan. Tak sabar mencari sosok wanita perkasa. Yang sanggup menerima musibah sebagai berkah. Hambatan sebagai tantangan. Hinaan sebagai kekuatan. Kekurangan sebagai kelebihan.
“RIIIIZAAAAAAAAAAAAAAAa” triak Kiki membuatku berlari tunggang-langgang. Kulihat sahabatku itu menangis sesenggukan. Dirangkulnya seorang wanita yang tergeletak lemas. “ Astagfirullah,, bukankah itu bu Ais”batinku.
“Zaa,, bu Ais Za,,”
“Bu Ais kenapa kii??”
“Gak tau,, aku lihat bu Ais sudah tergeletak ditanah. Cepet Za cari bantuan.”  Aku hanya mengganggukkan kepala dan berlari mencari bantuan. Bingung bercampur kawatir. Ku panggil segerombol anak muda di pos kampling. Mereka dengan sigap berlari menuju pekarangan belakang rumah bu Ais. Dibopongnya bu Ais. Beberapa menit, detik dan jam. Kuhitung maju mundur. Jantungku berdetak tak karuan. Perasaan tak enak menggerogoti hati kecilku. Keringat dingin bercucuran membanjiri kedua telapak tanganku. Gugup dan takut. Kulihat bibir sahabatku komat-kamit. Sepertinya Kiki juga merasakan apa yang aku rasakan. Dipegangnya tangan bu Ais. Sosok ibu yang sudah kita anggap seperti ibu kita sendiri. Tak lama setelah itu jari bu Ais bergerak-gerak. Perlahan-lahan matanya terbuka.
“Neng,,” sapanya lemas.
“Ibu istirahat saja. Biar nanti Kiki minta tolong Joko untuk nemenin Firman di rumah sakit. Ibu istirahat saja.”
“Ibu gak pa pa neng.”
“Tapi ibu tadi pingsan.bu Ais sudah makan?”
“Ibu puasa neng.”
“Ibu tadi sahur?” Tanya Kiki.
“Iya neng. Segelas air putih.”
“Ya Allah ,, bu Ais jangan memaksakan diri jika memang dirasa tidak kuat lagi.” Ucapku khawatir.
“Iya neng tapi ibu harus lebih berhemat dan cari kerja tambahan untuk  biaya rumah sakit neng. Ibu tidak tega jika harus menjual kambing-kambing Firman. Kambing-kambing itu harapan Firman untuk dapat terus melanjutkan pendidikan neng.”
“Masalah biaya rumah sakit jangan difikirkan dulu bu. Biar Riza dan Kiki bantu cari solusinya.”
“Saya gak mau merepotkan siapa-siapa neng. Selama ibu masih mampu. Ibu akan berusaha.”
“Tapi ibu juga harus menjaga kesehatan. Ibu gak boleh memaksakan diri.”Sahut Kiki.
“Ibu gak memaksakan diri. Ibu tidak mengerjakan apa yang ibu rasa itu berat untuk ibu. Ibu hanya menjalankan apa yang seharusnya ibu jalankan. Firman satu-satunya keluarga ibu. Anak satu-satunya. Ibu ingin dia menjadi anak yang berpendidikan. Kambing-kambing itu punya Firman. Ibu tidak tega menjualnya untuk biaya rumah sakit. Ibu akan cari cara lain untuk melunasi biaya rumah sakit. Beruntung ibu masih punya tabungan neng. Cita-cita dan semangatnya mencari ilmu yang tinggi membuat ibu terus bersemangat mengais rizki ALLAH yang masih tersimpan. Entah dengan cara bagaimanapun ibu akan terus mencarinya selama itu tidak melanggar laranganNYA. Ibu yakin ALLAH  tidak akan menelantarkan hamba-hambaNYA.” Aku dan Kiki hanya terdiam. Hati kami terenyuh mendengar penuturan bu Ais. Kondisinya tak mebuatnya menyerah.
“Ibu, apa ibu tak pernah merasa Allah itu tidak adil?” tanyaku.
‘Kenapa ibu harus merasa demikian neng. Allah itu maha adil. Maha welas[3]. Ini jalan yang diberikan Allah untuk ibu. Mungkin saat ini Allah sedang menguji kesabaran ibu dan Firman. Ini juga merupakan bentuk kasih sayang Allah untuk hambaNYA. Agar lebih mendekat padaNYA. Bagi ibu hidup itu jika dijalani dengan rasa syukur bagaikan oase di padang sahara. Memberikan sumber kehidupan dalam kekeringan. Melapangkan dalam kesempitan. Menyegarkan dahaga dalam keterpurukan. Menjadikan kegersangan itu sebagai oase kehidupan.”
“kata-kata yang membuat diriku dan sahabatku merasa kerdil.” Ku peluk Kiki dan bu Ais erat. Aku bersyukur Allah mempertemukanku dengan wanita berhati samudera. Wanita yang membuatku iri dengan kesabaran dan ketegarannya. Satu kata yang melekat dalam benakku “ Jadikan kegersangan menjadi oase kehidupan”

            Oleh : فضيلةالصا لحة



[1] Istilah jawa yang berarti saudara-saudara.
[2] Ya silakan
[3] Kasih sayang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minggu, 13 April 2014

OASE KEHIDUPAN




OASE KEHIDUPAN
            Pohon-pohon cemara menyambut riang hiruk-pikuk kendaraan yang lalu lalang. Kesegaran udara pegenungan menyerap luapan-luapan hitam asap kendaraan. Angin berbisik halus membelai lembut lapisan epidermis penduduk desa wonosari. Nuansa pegunungan tempat wisata pesarean gunung kawi yang tak seperti biasanya. Bising kendaraan bermotor menjadi ajang ketegangan indra pendengaran pagi itu. Antrian panjang kendaraan sedikit melatih kesabaran.
“Riz,,,RIZAAA !!!!” teriakan temanku sontak membuatku sedikit refleksi jantung.
“Hiiizzz,,,ada apa sih kiii?” jawabku sedikit jengkel.
“Yuuk parkir diatas aja. Disini ramee, antre, bising. Capeeek” rengek temenku yang super manja itu.
“Huuft, kamu kira diatas sepi. Sama aja kaleeeee,, uww” kucubit pipi cubbynya. Bibir mungilnya mulai manyun 5cm. Perlahan tapi pasti sepada tuaku bertengger diparkiran dekat kantor polisi. Kupandangi wajah kiki yang dari tadi memandangku datar.

 
“Ngapain coba kita ke tempat seperti ini. Gak jelas banget!.” Celetuknya.
“Lho,, bukannya tadi aku udah bilang ki. Aku penasaran aja. Tadikan aku juga udah nawarin kamu. Kalau gak mau nemenini gak pa pa. Aku kan gak maksa ki…”
“Iya sebagai sahabat yang baik ku gak mungkin nolaklah….”
“Yaudah naik keatas yuk.” Kiki hanya diam. Dia berjalan malas-malasan dibelakangku. Aku tau ada sesal dalam hatinya. Tapi ku biarkan saja. Biar dia tau niatku kesini hanya mengobati rasa ingin tau. Mencari asal muasal ritual tahunan ini.
            Bagai memasuki perkampungan tionghoa. Jejeran kios-kios kelontong didepan pelataran kompleks pesarean. Menjual aneka macam perabot local dan non local. Restoran-restoran dengan aneka makanan khas jawa sampai makanan khas tionghoa. Ini mungkin yang disebut globalisasi. Tapi mulutku mlongo. Saat mataku tertuju pada bangunan masjid yang  disebelahnya ada tempat yang tak asing. Sebuah pura lengkap dengan perabot ibadah orang-orang beragama budha. Ada patung cantik didalamnya. Yang sering disebut dengan panggilan patung quan in. Yaah,, biasanya aku hanya mendengar ini dari teman-teman sekelasku. Tapi kali ini aku menyaksikannya sendiri. Sebuah bentuk toleransi dalam beragama menurutku. Sekilas aku teringat sahabatku kiki. Ku toleh kanan kiri. Nihil. Tak kutemukan putri keong itu. Sebuah julukan yang menurutku tepat disematkan untuknya. Kupandangi setiap penjuru. Tepat di pinggir jalan ku lihat sahabatku nampaknya sedang berbincang dengan seseorang yang menurutku asing. Seorang ibu paruh baya. Berkulit kuning langsat. Bejilbab panjang menutup dada. Bermata sipit. Seorang penjual nasi pecel. Bergegas ku hampiri sahabatku.
“ki, makan gak ajak-ajak..huuh” sungutku
“hihihi,,salahnya sendiri serius amet kaya ditektif” ledeknya. Tak ku gubris celotehnya. Dengan santai  ku duduk di sebelahnya.
“Bu, pecelnya satu lagi ya” pesanku
“iya neng” jawab ibu berjilbab panjang itu. Sekilas ku perhatikan ibu berjilbab panjang itu. Dengan cekatan ia racik satu porsi nasi pecel pesananku.
“Bu, ibu asli wonosari?”
“Iya neng. Ibu juga sudah lama jualan disini. Meskipun kondisi fisik ibu ya seperti ini.” Kulihat ibu berjilbab itu mengantarkan pesananku sembari memutar kursi rodanya. Tak tega aku melihatnya. Bergegas ku hampiri ibu berjilbab panjang itu. Ku dorong kursi roda menuju tempat aku dan kiki duduk.
“Bu, saya boleh nanya-nanya ke ibu?”
“silahkan saja neng. Saya akan jawab sebisa saya.”
“oya kurang afdhol kalau belum saling kenal bu. Ibu namanya siapa?”
“Saya biasa di panggil bu Ais neng. Neng-neng ini siapa namanya dan asli mana neng?”
“Saya Kiki bu dan teman saya ini Riza. Kami dari Malang bu.” Jawab kiki sekaligus mewakiliku.
“Neng kesini mau ngalap berkah atau hanya sekedar berkunjung neng?”
“Ngalap berkah itu apa bu?”tannya Kiki.
“Ngalap berkah itu mencari berkah neng. Biasanya kebanyakan orang yang kesini bertujuan untuk ngalap berkah ke makam  Kanjeng Kyai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soedjono. Ada yang sekedar berziarah ada juga yang niatnya lain neng.”
Kyai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soedjono itu siapa bu?”Tanyanya lagi.
Kyai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soedjono itu dua tokoh kharismatik yang berasal dari Keraton Mataram abad ke-19 yang di makamkan dalam satu liang lahat di pesarean.”
“Kalau boleh tau sebenarnya arti dari pesarean itu sendiri apa bu dan kenapa tempat ini di beri nama pesarean?” Tanyaku penasaran.
Nama pesarean itu diambil dari kata "sare" yang artinya tidur dalam bahasa Jawa. Pesarean berati kuburan atau pemakaman neng. Tempat ini di beri nama pesarean karena menjadi tempat pemakaman Kyai Zakaria II dan Raden Mas soedjono.” panjang lebar penjelasan sejarah tentang pesarean. Sedikit mengobati rasa penasaranku. Hampir satu jam ku berbagi kisah dengan bu Ais. Tentang peringatan satu Suro (muharram) yang sering disebut dengan istilah suroan di daerah tersebut. Setelah merasa cukup dengan penjelasan bu Ais aku pamit untuk menikmati pemandangan sekitar di pesarean. Bu Ais hanya tersenyum saat ku beranjak pergi. Seorang wanita yang istimewa. Dengan kondisi fisiknya tak membatasinya untuk terus bekerja. Semangat yang mulai menular. Menjalar merasuk pori-pori nadiku. Perjuangan yang luar biasa. Hmmm tak sia-sia aku habiskan waktu weekand ku disini.
            Senyum terus mengembang dibibirku. Semangatku bertambah 2 kali lipat. Kulewati lereng-lereng jalan pesarean tanpa rasa lelah. Ku pandang rekanku Kiki. Yang sepertinya juga mendapatkan stimulus penghilang rasa malas. Langkahnya bagai pejuang perang melawan mungsuh bersenjatakan meriam. Matanya terus berbinar. Sebuah sejarah kehidupan yang tersimpan dan toleransi yang terus berkembang. Menambah rasa damai memupuk persahabatan. Tiba-tiba saja Kiki berdiri mematung.
“Heeh,, kenapa Ki?” tanpa menjawab. Jari telunjuknya menunjuk kesuatu arah. Mataku seakan meloncat bebas. “Tuhan,, tempat bersejarah ini telah menjadi saksi insiden cinta kasih dua insan yang kasmaran” gumam batinku.
“Benar kata bu Ais tadi ki. Gak semua orang yang kesini dengan niat berziarah.”
“Semoga saja tak terus seperti itu.”
“Justru itu warna-warni kehidupan Ki. Yang juga merupakan tantangan buat kekuatan kita. Kekuatan untuk tetap bertahan dengan akidah kita atau malah sebaliknya. Hal semacam ini tak akan pernah lepas dari kehidupan.” Digenggamnya tanganku. Beruntung aku memiliki sahabat sepertimu Za. Kita saling pandang dan bertukar senyum.
            Perjalanan yang indah. Banyak pelajaran yang ku dapat. Sebuah sejarah yang tak boleh terlupakan. Sebuah dusun penuh toleransi. Tanpa batas ras, agama maupun golongan. Tak sabar rasanya ingin segera sampai dirumah. Ingin segera berbagi cerita dengan keluarga dan teman-teman.
*****
            Jam istirahat siang itu waktuku menjadi pendongeng di siang bolong. Kiki hanya menjadi saksi dalam petualangan kisah yang ku paparkan. Teman-temanku dengan kidmat menyimak tiap rangkaian kataku. Ditemani camilan-camilan ringan dan beberapa gelas minuman. Suasana kelas sejurus menjadi bioskop mini tanpa ada actor dan aktris pemeran adegan. Hanya imajinasi yang menjadi pemeran adegan bioskop mini itu. Bak orator ulung aku berteriak “Jas Merah” jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Teman-temanku bagai rakyat yang menuruti titah sang Raja. Sambutan senyum ceria memuncakkan semangat mereka. Seakan tak mau ketinggalan. Ada diantara mereka yang berniat terjun bebas meneliti sejarah dunia. Ku tanggapi keinginan mereka dengan sedikit kapsul pantang menyerah. Sorak-sorak bangga berhenti sejenak. Saat temanku yang menjabat sebagai merpati informasi dikelas berlari terengah-engah. Gayanya yang super penting dan memang penting informasinya menurut anak-anak menghentikan gelegak tawa diantara mereka.
“Gaswat,,eeeh gawat teman-teman. Ada kabar burung eh kabar buruk. Itu,, anu,,itu si itu,,,anu eh,,,”
“Hedeeechh,,santai aja fril. Yang jelas dong ngomongnya,,!!” sahut sahabatku Kiki.
“Gini lho temen-temen. Sahabat kita Firman Nur Fauzan sekarang lagi ada dirumah sakit. Katanya infeksi. Lukanya yang dulu kena belati tuh kena infeksi katanya.”
“Hus, jangan gosip kamu!!” ucapku tak percaya.
“Sumpriiit di sambar burung empriit dah gue brani.”
“Yaudah kasih tau temen-temen kelas yang lain. Bagi yang mau ikut menjenguk suruh konfirmasi ke aku fril.”
“Ongkrik boos” ucapnya sembari berlagak seperti iklan sampoo.
 Segera ku hubungi beberapa guru-guru yang mungkin hendak ikut menjenguk temanku itu atau mungkin mau menyumbangkan beberapa rupiah untuk membantu biaya rumah sakit. Ada beberapa teman yang ku sarankan untuk langsung menuju rumah sakit. Aku dan teman-temanku yang lain menuju rumah Firman untuk memastikan kebenaran kabar tersebut. Yang katanya mereka hanya tinggal berdua saja. Ya, seorang janda yang hanya tinggal dengan satu orang anak laki-lakinya saja.
“Assalamualaikum,,” koor salam yang terdengar serempak.
“Walaikumsalam” terdengar dibalik pintu suara wanita paruh baya. “Kreeek” suara derak pintu tua. Sambutan senyum kami terima. Nampak ada goresan kesedihan yang disimpannya. Ku perhatikan wajah wanita dihadapanku itu. Memory otakku mulai bernostalgia dengan wajah wanita itu. Benar-benar tak dapat ku percaya. Wanita itu. Seorang paruh baya yang ku temui di pesarean. Wanita berjilbab panjang berkursi roda. Ibu Ais. Ya, berkali-kali ku kucek-kucek kedua mataku tak percaya. Yang benar saja. Ini sebuah kebetulan atau memang takdir Tuhan.
“Neng Riza” sapa bu Ais membuatku yakin bahwa ini bukan mimpi tapi nyata.
“Eh,,,I-yaa bu Ais,,” jawabku terbata.
“Begini bu saya dan teman-teman kemari karena mendengar kabar bahwa Firman sedang berada di rumah sakit.” Sambungku.
“Iya neng, ini ibu baru pulang dari sana. Ibu pulang dulu karena ada pekerjaan yang harus ibu kerjakan.” Sebuah jawaban yang sedikit menyelipkan pertanyaan dalam benakku. “Kenapa saat anaknya masih sakit bu Ais masih saja memikirkan tentang pekerjaan? Atau karena factor ekonomi atau apa??” hmm segera kuusir pertanyaan-pertanyaan itu dari hatiku. Aku harus berperasangka baik, ku tekankan kata-kata itu pada hatiku.
“Mari masuk, maaf rumah ibu sempit”
“Jangan bilang seperti itu bu. Sama kok dengan rumah kami.”jawab salah satu temanku.
“Oya, mau minum apa? tapi maaf adanya hanya teh.”
“Gak perlu repot-repot bu. Kami kesini hanya ingin menemani ibu. Jika memang ibu tidak bisa kerumah sakit, nanti biyar saya dan teman-teman yang bergantian menunggui Firman di rumah sakit bu.”jawab sahabatku Kiki.
“Apakah tidak merepotkan neng? Mungkin ibu tidak bisa menemani jika waktu siang hari saja neng. Karena ibu harus mencarikan rumput untuk kambing-kambing ibu.”
 “Tidak bu,, Ehmm iya biar kami saja bu kalau siang yang jaga Firman” sahut joko selaku sahabat Firman.
“Iya nak sebelumnya ibu berterimakasih atas keperdulian kalian dan tawaran kalian untuk menolong. Tapi setiap siang sudah ada bibi Firman yang menemaninya disana. Mungkin kalian bisa menjenguknya kesana tapi tak perlu menemaninya menggantikan ibu. Karena kalian juga pasti memiliki kesibukan masing-masing”
“Iya tapi kita sahabat bu. Bahkan sudah seperti saudara. Bukankah kalau dalam islam saudara itu diibaratkan satu tubuh. Satu saja anggota tubuh yang sakit, anggota yang lain turut merasakannya bu.” Ibu Ais menanggapi dengan senyuman dan anggukan kepala. Wajahnya mewakili hatinya yang setuju dengan ucapan Joko tadi. Tanpa bilang apapun bu Ais berpamitan ke belakang. Tak lama setelah itu delapan teh diatas nampan berada di pangkuannya. Naluri sebagai seorang wanita mendorongku untuk membantunya. Seperti sebelumnya. Bu Ais hanya tersenyum menanggapi apa yang ku lakukan. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan. Kebenaran bahwa beliau hanya tinggal dengan Firman saja. Tapi menurutku itu sebuah privasi yang tak boleh ku campuri. Dengan keadaannya fisik yang terbatas dan musibah yang menimpa anak satu-satunya tak menampakkan guratan kesedihan diraut mukanya. Mungkin bu Ais hanya menyimpan kepedihan-kepedihan itu dalam hatinya. Setelah banyak berbincang dengan bu Ais kami semua bermpamitan pulang. Dalam perjalanan pulang kami hanya diam. Merenungi arti kehidupan. Selama ini banyak waktu kami yang terbuang sia-sia. Tak ada rasa keperdulian terhadap sesama. Selalu merasa diri paling baik dan benar. Selalu membanggakan diri sendiri dalam forum kecil dikelas kami. Onggokan-onggokan penyesalan menyelundup sejenak dalam batin kami. Saat itu juga kami berjanji untuk sering-sering menjenguk Firman dan menemani bu Ais untuk sementara waktu sebelum Firman sembuh.
******
            Bagaikan ibu-ibu arisan menunggu giliran. Gemuruh rasa keperdulian menyulap teman sekelasku menjadi seorang relawan. Satu kelas yang tadinya mengedepankan ego dan individualisme, Sejenak berubah berjiwa patriotisme yang menciptakan rasa kekeluargaan dan keharmonisan. Tanpa ragu aku unjuk gigi.
Dulur-dulur[1]  IPA 1,, bagaimana kalau satu minggu kedepan ini aku saja yang menemani bu Ais. Berhubung jadwal longgar dan banyak tugasku yang udah pada kelar.” Ucapku mantap.
“Hmmm boleh tuh. Tapi sendiri atau gimana Za kamu?” Tanya anita sekertaris kelas IPA 1.
“Aku sih terserah saja. Kalau ada yang menawarkan diri untuk menemani nggeh monggo[2] ,,,” jawabku.
“Aku mau Za.” Sahut Kiki
“Ok deh.. Mulai ntar siang ya??”
“Seeep” jawab kiki sembari mengacungkan jempolnya.
            Panas sengatan mentari tak menggugurkan niat yang membara siang itu. Rumah kecil bergaya jawa kuno itu tampak sepi. Hanya deretan tanaman hias di dekitar rumah yang menari-nari tanpa beban. Goyanagn-goyangan ranting pepohonan yang seakan menyimpan rasa duka sang pemilik rumah, mencoba menciptakan nuansa asri yang mendamaikan. Ku parkir motorku tepat dibawah pohon jambu di depan pelataran rumah bu Asri. Ku ketuk pintu sembari mengucapkan salam. Hampa. Tak ada jawaban. Aku tak putus asa. Aku duduk di teras depan. Mengamati jalanan sekitar. Bocah-bocah kecil berlarian girang. Ku hampiri mereka.
“Dek ,, dek,,,tau ibu Ais gak?” teriakku.
“ooww kalau jam segini biasanya bu Ais ada di pekarangan belakang rumahnya mencari rumput mbak.” Jawab bocah-bocah kecil itu.
“Ehmm ,,terimakasih ya dek” tanpa menjawab mereka menggeluyur pergi.
            Ku telusuri jalan setapak dengan barisan pohon-pohon jati yang tumbuh perkasa. Daun-daun rindang berguguran. Gesekan pohon-pohon bamboo menjadi music alam. Mataku menari-nari kegirangan. Tak sabar mencari sosok wanita perkasa. Yang sanggup menerima musibah sebagai berkah. Hambatan sebagai tantangan. Hinaan sebagai kekuatan. Kekurangan sebagai kelebihan.
“RIIIIZAAAAAAAAAAAAAAAa” triak Kiki membuatku berlari tunggang-langgang. Kulihat sahabatku itu menangis sesenggukan. Dirangkulnya seorang wanita yang tergeletak lemas. “ Astagfirullah,, bukankah itu bu Ais”batinku.
“Zaa,, bu Ais Za,,”
“Bu Ais kenapa kii??”
“Gak tau,, aku lihat bu Ais sudah tergeletak ditanah. Cepet Za cari bantuan.”  Aku hanya mengganggukkan kepala dan berlari mencari bantuan. Bingung bercampur kawatir. Ku panggil segerombol anak muda di pos kampling. Mereka dengan sigap berlari menuju pekarangan belakang rumah bu Ais. Dibopongnya bu Ais. Beberapa menit, detik dan jam. Kuhitung maju mundur. Jantungku berdetak tak karuan. Perasaan tak enak menggerogoti hati kecilku. Keringat dingin bercucuran membanjiri kedua telapak tanganku. Gugup dan takut. Kulihat bibir sahabatku komat-kamit. Sepertinya Kiki juga merasakan apa yang aku rasakan. Dipegangnya tangan bu Ais. Sosok ibu yang sudah kita anggap seperti ibu kita sendiri. Tak lama setelah itu jari bu Ais bergerak-gerak. Perlahan-lahan matanya terbuka.
“Neng,,” sapanya lemas.
“Ibu istirahat saja. Biar nanti Kiki minta tolong Joko untuk nemenin Firman di rumah sakit. Ibu istirahat saja.”
“Ibu gak pa pa neng.”
“Tapi ibu tadi pingsan.bu Ais sudah makan?”
“Ibu puasa neng.”
“Ibu tadi sahur?” Tanya Kiki.
“Iya neng. Segelas air putih.”
“Ya Allah ,, bu Ais jangan memaksakan diri jika memang dirasa tidak kuat lagi.” Ucapku khawatir.
“Iya neng tapi ibu harus lebih berhemat dan cari kerja tambahan untuk  biaya rumah sakit neng. Ibu tidak tega jika harus menjual kambing-kambing Firman. Kambing-kambing itu harapan Firman untuk dapat terus melanjutkan pendidikan neng.”
“Masalah biaya rumah sakit jangan difikirkan dulu bu. Biar Riza dan Kiki bantu cari solusinya.”
“Saya gak mau merepotkan siapa-siapa neng. Selama ibu masih mampu. Ibu akan berusaha.”
“Tapi ibu juga harus menjaga kesehatan. Ibu gak boleh memaksakan diri.”Sahut Kiki.
“Ibu gak memaksakan diri. Ibu tidak mengerjakan apa yang ibu rasa itu berat untuk ibu. Ibu hanya menjalankan apa yang seharusnya ibu jalankan. Firman satu-satunya keluarga ibu. Anak satu-satunya. Ibu ingin dia menjadi anak yang berpendidikan. Kambing-kambing itu punya Firman. Ibu tidak tega menjualnya untuk biaya rumah sakit. Ibu akan cari cara lain untuk melunasi biaya rumah sakit. Beruntung ibu masih punya tabungan neng. Cita-cita dan semangatnya mencari ilmu yang tinggi membuat ibu terus bersemangat mengais rizki ALLAH yang masih tersimpan. Entah dengan cara bagaimanapun ibu akan terus mencarinya selama itu tidak melanggar laranganNYA. Ibu yakin ALLAH  tidak akan menelantarkan hamba-hambaNYA.” Aku dan Kiki hanya terdiam. Hati kami terenyuh mendengar penuturan bu Ais. Kondisinya tak mebuatnya menyerah.
“Ibu, apa ibu tak pernah merasa Allah itu tidak adil?” tanyaku.
‘Kenapa ibu harus merasa demikian neng. Allah itu maha adil. Maha welas[3]. Ini jalan yang diberikan Allah untuk ibu. Mungkin saat ini Allah sedang menguji kesabaran ibu dan Firman. Ini juga merupakan bentuk kasih sayang Allah untuk hambaNYA. Agar lebih mendekat padaNYA. Bagi ibu hidup itu jika dijalani dengan rasa syukur bagaikan oase di padang sahara. Memberikan sumber kehidupan dalam kekeringan. Melapangkan dalam kesempitan. Menyegarkan dahaga dalam keterpurukan. Menjadikan kegersangan itu sebagai oase kehidupan.”
“kata-kata yang membuat diriku dan sahabatku merasa kerdil.” Ku peluk Kiki dan bu Ais erat. Aku bersyukur Allah mempertemukanku dengan wanita berhati samudera. Wanita yang membuatku iri dengan kesabaran dan ketegarannya. Satu kata yang melekat dalam benakku “ Jadikan kegersangan menjadi oase kehidupan”

            Oleh : فضيلةالصا لحة



[1] Istilah jawa yang berarti saudara-saudara.
[2] Ya silakan
[3] Kasih sayang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar