Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Minggu, 13 April 2014

SURGAKU




“PLAAaaak” Tamparan laki-laki itu tepat mendarat dipipi kirinya. Isak tangis di pendamnya. Digosok-gosoknya pipinya yang terasa panas. Di tatapnya wajah laki-laki itu dengan segumpal rasa jengkel. Wajahnya merah padam. Emosinya mulai naik. Ingin berteriak. Namun, ia sadar itu hanya akan menambah tamparan dipipinya.
“Sudah berkali-kali ayah bilang, jangan pernah membantah omongan ayah. Jika kamu masih ingin hidup bersama ayah.” Ucap laki-laki yang kerap disapa pak Darma itu. Kekesalan membuatnya kehilangan kendali.
“Ayah,, kenapa ayah selalalu bilang seperti itu ke Linda !! Apa salah Linda ayah ?? Apa??” Teriak gadis remaja itu. Di pandangnya ayahnya dengan luapan emosi. Matanya tak bisa menyembunyikan rasa sakit dalam batinnya.
“Ayah sudah berkali-kali bilang, jangan pernah pergi main-main sama teman-temanmu. Kamu itu berbeda dengan mereka. Mereka masih punya dua orang tua. Sedangkan kamu, cuma punya ayah. Tugas kamu cuma belajar dan merawat adikmu dirumah. Jika kamu pergi, siapa yang akan mengurus adikmu?? Apa menurut kamu ayah salah??” Ditatapnya putri pertamanya itu. “Jawab ??” Gertak pak Darma yang mengejutkan Linda.
“Ayah gak pernah salah. Ayahkan yang paling sempurna. Ayah gak akan pernah mengerti perasaan Linda. Walaupun Linda pergi, Linda tau mana yang penting dan mana yang tidak. Kemaren Linda pergi menjenguk guru Linda yang sakit. Kemaren Linda juga sudah izin sama ayah. Ayah bilang bolehkan? Terus kenapa sekarang ayah marah sama Linda?”
“Diam kamu Linda,,, kemarin ayah mengizinkan karena kamu tidak bilang kalau kamu perginya sama sepupumu. Sudah ayah ingatkan, jangan pernah pergi sama Dio anak adik ibumu itu” Bentaknya lagi.
“Kenapa yah ?? ayah melarang tanpa alasan yang jelas. Ayah selalu melarang Linda ini itu. Tapi ayah tidak pernah memberi alasan yang jelas kenapa ayah melarang. Jelaskan sama Linda yah !! biar linda bisa mengerti apa maksud ayah melarang Linda. Linda bukan anak kecil lagi yah!! Linda ti,,,”
“CUKUP. Cukup Linda jangan diteruskan. Belum saatnya kamu tau.” Tanpa berkata apa-apa lagi pak Darma beranjak menuju kamarnya. Meninggalkan Linda dengan ribuan tanda tanya. Hal yang berulang kali terjadi. Dengan keadaan yang hampir sama. Selalu melarang tanpa alasan yang jelas namun, selalu berakhir dengan tamparan diwajah mungilnya. Gejolak batin yang selalu dialaminya. Terkadang membuatnya merasa lelah menjalani hidup. Ingin pergi dari segala ketidaknyamanan. Lari dari masalah dan ketertindasan. Dengan masih menyimpan tanda tanya besar, ia berjalan menuju kamarnya.
“Assalamualaikuuum………” Seorang anak kecil berbalut jilbab putih berhambur memeluk Linda dari belakang. Tanpa menoleh Linda menjawab salam adiknya. Diusapnya butiran-butiran Kristal putih yang membasahi pipinya.
“Kak Linda kenapa?”
“Gak pa pa kok dek. Cuma lagi sakit mata saja. Kakak gak mau Rita tertular.”
“Waah kalau gitu Rita sholat duluan ya kak… Cepet sembuh kaaak” Ucap adik kecil itu sembari ngeloyor pergi. Tingkah adiknya sedikit mengembangkan senyum tipis di bibirnya. Hanya Rita alasan satu-satunya yang membuatnya kuat bertahan dengan tekanan ayahnya.
                                    *********
            Segerombol remaja berpakaian putih abu-abu pagi itu memenuhi meja kantin. Dari yang sibuk mengisi panggilan cacing-cacing perutnya sampai yang mulutnya berbusa ngobrol ngalor ngidul, ada juga yang sibuk menyalin tugas rumahnya dengan ditemani aneka ragam camilan kantin. Ditambah pidato pagi bang Togar. Abang bakso yang satu ini emang paling hobi senam mulut. Mulai dari ngomongin pemain bola favoritnya sampai bintang iklan sampoo idolanya. Para pengunjung setianya hanya manggut-manggut mengiyakan. Salah satunya seorang cewek maniak bakso yang kerap disapa Tanti itu. Tiap pagi baginya kurang komplit jika tidak menyantap hidangan mantap bakso bang Togar yang dikenal murah meriah.
“DuuUUoOOorrRR !!!!!!!!!!!!!!” Getak Linda pada Tanti sahabat terbaik sejagat raya. Gadis bertubuh mungil bermuka bulat itu batuk-batuk karena tersedak. Diraihnya segelas es teh di samping mangkok baksonya.
“Hiiiiiichh LiiiinnnDAAAAAAaaaaaaaaa !!!!!!!!!!!! Kamu mau bikin aku mati konyol karena tersedak ya !!!!!!! Huuuufttttt.” Omel Tanti. Linda hanya nyengir mendengar omelan sahabatnya itu. Tanpa cas cis cus lagi ditariknya lengan Tanti.
“AAAAAAAHHHggg LiiiiINNDAAaaaaaaa,,,,, baksoku belum habis tauuk. Mubadzirkan. Sayang tu ke makan angin. Aduuuh perutku masih keroncongan,,,” Rengek Tanti. Tanpa ada respon apapun dari Linda. Digeretnya Tanti menuju taman sekolah SMA HARAPAN BARU. “IIIiiiiiiiiiiihhhh pelan-pelan Lindaaaaaaa !!! mau kemana siiiih???” belum sampai menjawab Tanti sudah mulai nerocos lagi “ Iiiidiiiih Liindaaa cayyyaaaaank,,,, ada apa dan kenapa kamu samapi merusak jadwalku sarapan pagi. Membuat cacing-cacing perutku demo masal. Ditambah lagi tadi aku belum bayar. Apa kata bang Togar coba. Pelanggan terbaiknya mulai ngutang. Padahal itu tidak ada dalam kamus hidup Tanti Putri Pertiwi. Lin,,”
“Ssssssssssttttttttttt,,, BISA DIAM GAAAK” potong Linda. Sedikit membuat sahabatnya refleksi jantung. Tanti ratu centil seantero sekolah itu hanya menekuk mukanya. “Maaf tan,, aku lagi ada masalah. Maaf ya,, jadi bentak kamu. Maaf juga sarapan pagi kamu jadi terganggu. Tadi aku pengen cerita pas dikantin tapi tempatnya kurang kondusif.” Tanti tersenyum. Dipeluknya Linda sembari ditepuk-tepuk punggung sahabatnya yang sudah dianggap saudaranya sendiri.
“Iya, gak pa pa Lin.” Diajaknya Linda duduk di bangku panjang dekat pohon beringin. “ Ada apa Lin?” Ditatapnya mata Linda yang berkaca-kaca.
“Aku pengen pergi dari rumah Tan ,,, pengen kerumah nenekku di Surabaya untuk menemui Ibu. Aku kangen Ibuku Tan. Tapi aku juga sayang Ayah. Jika aku menemui Ibu, sudah pasti ayah tidak mau menganggap aku anaknya lagi. Aku bingung Tan.”
“Lindaaa,,kamu jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Pikirkan dulu matang-matang. Jangan sampai kamu menyesal gara-gara keputusanmu yang gegabah. Sudahlah kamu sabar dulu.”
“Aku juga sudah sabar Tan,, tapi aku kangen Ibu. Aku kangen keharmonisan yang dulu menyelimuti keluargaku. Aku harus berani mengambil resiko Tan.”
“Terus nasib adik kamu gimana jika kamu tinggal pergi? Kamu juga gak boleh egois. Fikirkan juga perkembangan mental adikmu. Dia terlalu kecil untuk menanggung semua beban ini. Kamu jangan mementingkan kebahagiaanmu sendiri. Fikirkan juga adikmu Lin,,” Linda hanya menunduk. Air mata membanjiri pipinya. Dadanya terasa sesak. Sesaat ingatan memasuki dimensi masalalu. Kenangan-kenangan indah bersama ibu, ayah dan adiknya menari-nari di sudut kecil memorynya. Belum sampai semua impian tercapai. Tawa dan canda itu lenyap. Menghampus rona-rona bahagia.”Ibu,,kenapa kamu pergi tanpa alasan yang jelas. Aku kangen pelukan dan kasih sayangmu. Aku merindukan masa itu ibu. Saat kau rela kedinginan demi menghangatkanku. Kau temani aku saat aku ketakutan. Kau rela menahan lapar hanya agar aku merasa kenyang. Kamu tak pernah membeli baju untuk lebaran hanya agar aku memakai baju baru. Aku kangen cerewetmu ibu. Kamu yang selalu marah saat aku gak mengerjakan tugas rumah. Satu katamu yang ku sesalkan. Kamu selalu bilang sayang, mungkin saat ini masih ada ibu. Coba kalau nanti ibu sudah gak bias selalu bersamamu. Kamu pasti akan merasakan perbedaannya. Ya. Nasehatmu itu kini menjadi kenyataan yang sulit ku hadapi. Menjadi nasehat sekaligus penyesalan bagiku ibu,,” Rintih hati kecil Linda.
“Linda,,” Ucap Tanti sembari mengusap air mata sahabatnya. Hal ini juga membuat hatinya miris. “Gimana kalau kita kerumah Dio. Cari informasi dari mamanya Dio Lin, tante Virna pasti tau masalah antara ayah dan ibu kamu. Gimana ?” Sambung Tanti memberi solusi.
“Ehhmmm, boleh juga Tan. Tapi nanti kalau ayah tau gimana?”
“Gini aja deh. Biar aku yang nemuin tante Virna.” Linda tersenyum dengan tawaran sahabatnya. Sahabat yang selalu menemaninya dalam suka duka. Disamping sifat centilnya terkadang sahabatnya itu juga memiliki sifat keibuan.
                        ******
            Bel tanda berakhirnya jam pelajaran menggemuruhkan sorak-sorak siswa-siswi SMA HARAPAN BARU. Linda bergegas merapikan buku-buku pelajarannya. Segera ia hampiri sahabatnya dikelas IPA2.
“Tanti,,jangan lupa ya nanti segera kabari aku.”Tanti mengedipkan mata kirinya. “Siiip”
Linda berlari menuju tempat parkir. Distaternya motor pink kesayangannya. Karena motor itu kenangan dia dengan ibunya. Di kendarai motor pinknya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia ingin segera menjemput adiknya dan segera membereskan rumah sebelum ayahnya pulang kerja. Semenjak ibunya pergi. Lindalah yang menggantikan segala macam tugas ibunya dirumah. Tiba-tiba saja di pertigaan rem motornya blong. Tampak dari jauh truk kuning pengangkut pasir membunyikan klaksonnya.
“Bruuuuuuuuuuuuaaaaaaaaak” Kepala Linda terasa berat. Pandangannya terasa kabur. Dia merasakan ada yang mengalir di dahinnya.
            *******
            Terdengar lantunan ayat Al-qur’an dari gadis kecil berjilbab abu-abu. Sesekali gadis kecil itu mengusap air matanya. Seusai melantunkan ayat-ayat Al-qur’an. Dipegangnya ke dua tangan kakaknya. Dibisikkannya kalimat-kalimat Allah ditelinga kakaknya. Seakan tak ingin kehilangan sosok kakak yang dicintainya.
“Kak Linda,,,bangun kak. Jangan biarin Rita kesepian.” Rengek gadis kecil itu. Meskipun usiannya masih terbilang dini . Namun terkadang Rita bisa bersikap layaknya orang dewasa. Jauh berbeda dengan sifat Linda yang terkadang masih mengedepankan emosi. Gadis kecil ini sangat halus dan lembut hatinya. Ia berbeda dengan ibu dan kakaknya. Tanpa disuruh dan diminta. Ia ingin terus mengenakan jilbab. “Krreeek” terdengar suara pintu terbuka. Rita segera menoleh kebelakang. Teryata ayahnya datang. Tak seperti biasanya. Matanya berkaca-kaca. Laki-laki bertubuh kekar yang hampir tak pernah menangis. Ini untuk kedua kalinya dia menangis. Pertama ia menangis saat melihat istrinya pergi. Beberapa saat setelah itu, dilihatnya Linda mulai membuka mata perlahan.
“Linda sudah sadar nak ?” Tanya pak Darma.
“A-Aaayaah,,” Linda tertegun kaget melihat wajah ayahnya berlinang air mata. Sungguh tak dapat dipercaya. Inilah sosok ayah yang selama ini dirindukannya.
“Linda tidak apa-apa kan nak ? apa yang terasa sakit? Ayo bilang ke ayah.” Ucap pak darma khawatir. Dibelainya rambut Linda dengan penuh kasih sayang. Linda hanya menggeleng. Hatinya terasa bahagia. Syukur berkali-kali diucapkannya. Ia dan adiknya Rita terisak dipelukan ayahnya. Pelukan yang hampir setengah tahun ini tak pernah ia rasakan lagi. Kasih sayang yang teramat dirindukannya. “Terima kasih Tuhan,,,” Jerit hati kecilnya.
            ******
            Linda tampak sibuk menata barang-barang yang hendak dibawanya ke Surabaya. Setumpuk rasa bahagia menghilangkan gundukan rasa lelah. Meski Pak Darma bersikeras melarangnya pergi. Linda tetap memaksa. Sifat keras kepala yang membuat pak darma mengiyakan keputusannya. Tak sanggup ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara ia dan istrinya. Bahkan pak Darma telah melarang Tanti dan tante Virna memberi tahu yang sebenarnya terjadi pada Linda. Mungkin lebih baik Linda tau sendiri dari ibunya masalah apa yang sebenarnya terjadi antara ia dan istrinya. Hingga diizinkannya anak perempuannya itu pergi ke Surabaya untuk menjenguk ibunya.
“Linda,,”Panggil pak Darma.
“Iya ayah,,,”Jawab Linda dengan nada bahagia.
“Hati-hati di Surabaya. Jaga diri Linda baik-baik. Ayah akan izinkan Linda pergi asal ditemani Dio.” Linda tersentak kaget mendengar ucapan ayahnya.
“Tapi ayah kan selama ini melarang Linda pergi dengan Dio. Kenapa sekarang malah ayah menyuruh Linda pergi dengan Dio ??” Tampak ada tanda Tanya besar dimata Linda.
“Karena kamu tidak punya saudara laki-laki sayaang,, Dio pasti akan menjaga kamu seperti menjaga adik kandungnya sendiri. Ayah sadar ayah salah melarang kamu pergi dengan Dio. Hanya karena masalah ayah dengan ibumu yang tidak ada sangkut pautnya dengan Dio.”
“Tapi kalau boleh Linda tau. Sebenarnya ada masalah apa antara ayah dengan ibu?”
“Tanyakan pada ibumu saja” Tanpa melanjutkan kalimanya pak Darma beranjak pergi. Linda diam dengan menyimpan beribu pertanyaan dalam benaknya.
            *****
            Panasnya terik matahari kota Surabaya tak menyurutkan semangat Linda. Rasa tak sabar ingin segera bersua dengan ibu tercinta. Hingga membuatnya tak merasa lapar meski sedari pagi perutnya belum terisi secuil roti ataupun sesendok nasi. Bahkan ia tak sadar sedari tadi ia tak menghiraukan sepupunya, Dio. Senyum sumringah bertahta diwajah ayunya. Yang tak jauh berbeda dengan wajah ibunya. Di pandanginya foto wanita berambut panjang bergelombang itu.Otak kecilnya mulai bernostalgia dengan kenangan-kenangan indah tempo dulu. Kenangan yang membuatnya selalu optimis kalau masa itu akan kembali lagi. Harapan yang tak kan pupus. Ia akan membawa ibunya kembali pulang kerumah. Mobil angkot bewarna biru muda yang ditumpanginya berhenti tepat di depan rumah yang tak asing baginya. Rumah kecil bercat merah jambu. “Masih sama seperti yang dulu” Batinnya. Terlihat seorang wanita tua sibuk menyirami bunga-bunga mawar diteras rumah.
“Nenek,,” Panggil Linda menghampiri wanita tua itu. Wanita itu hanya menoleh sekilas dan Nampak tak menghiraukan kedatangan Linda. Ia kembali sibuk dengan bunga-bunga mawarnya.
“Nenek,, ini Linda nek,,”Sambung Linda. “Linda kengen nek, sama ibu dan nenek.” Dipeluknya nenek yang kerap disapa nek Warsih itu dari belakang.
“LEPASKAN PELUKANMU,,, KAMU BUKAN CUCUKU” Hardik nek Warsih.
“Nenek,,kenapa nenek bilang seperti itu?”Linda terisak mendengar ucapan neneknya. Dio yang sedari tadi hanya memperhatikan Linda dan neneknya dari kejauhan mulai berlari menghampiri.
“Nek,,Linda tidak pernah bersalah. Linda gak pernah tau kejadian antara om Darma dan Tante Tias. Nenek tidak boleh bicara seperti itu. Sahut Dio tanpa menunggu jawaban neneknya.
“Nenek malu Dio. Nenek malu dengan apa yang telah dilakukan tantemu.” Nek Warsih tak melanjutkan. Diletakkannya gembor air ditangannya. Diajaknya Dio dan Linda masuk rumah kecilnya.
“Linda,, apa kamu benar-benar belum tau apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya nek Warsih.
“Belum nek,, sebenarnya ada apa? Selama ini Linda hanya mendapatkan perlakuan tak adil dari apa yang Linda tak mengerti. Linda gak tau bagaimana Linda harus bersikap. Marah, diam, atau sabar” ucap Linda sembari mengusap air matanya yang sedari tadi membasahi pipinya.
“Hiks,,Hiks,,,nenek gak tau harus cerita dari mana. Semenjak pergi meninggalkan ayahmu. Ibumu pergi bersama teman laki-lakinya. Hingga kini nenek gak tau kabar ibumu. Jangankan menjenguk, sekedar telefon untuk memberi kabar saja tak pernah. Lebih parahnya lagi, sebelum meninggalkan ayahmu, ibumu pernah berselingkuh hingga hamil tanpa disadari ayahmu bahwa bayi dalam kandungan itu bukan anak kandungnya. Tapi ayahmu tetap merawat bayi kecil itu hingga saat ini.”
“Apa bayi kecil itu Rita nek?” Potong Linda. Nek Warsih hanya mengangguk lemah. Melihat neneknya mengiyakan hati Linda bagai terhimpit lempengan benua. Benar-benar tak dapat dipercaya. Orang yang selama ini ia rindukan. Pergi tanpa kabar. Meninggalkannya dengan ribuan pertanyaan. Ibu yang dulu menasehatinya tentang arti harga diri. Kenapa melakukan hal semacam itu.  Linda hanya bisa menangis. “Ya ALLAH siapapun dan bagaimanapun ibuku dia tetap ibuku. Pertemukan aku dengan ibuku ya Rabb,,, Kembalikan ibuku menuju jalan lurusMU lagi. Apapun yang telah dilakukannya. Tak mebuatku membencinya ya Rabb. Karena aku lahir dari rahimnya. Aku besar dengan asi dan kasih sayangnya. Jaga dia ya Rabb,,karena dia adalah surgaku.” Rintih hati kecil Linda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minggu, 13 April 2014

SURGAKU




“PLAAaaak” Tamparan laki-laki itu tepat mendarat dipipi kirinya. Isak tangis di pendamnya. Digosok-gosoknya pipinya yang terasa panas. Di tatapnya wajah laki-laki itu dengan segumpal rasa jengkel. Wajahnya merah padam. Emosinya mulai naik. Ingin berteriak. Namun, ia sadar itu hanya akan menambah tamparan dipipinya.
“Sudah berkali-kali ayah bilang, jangan pernah membantah omongan ayah. Jika kamu masih ingin hidup bersama ayah.” Ucap laki-laki yang kerap disapa pak Darma itu. Kekesalan membuatnya kehilangan kendali.
“Ayah,, kenapa ayah selalalu bilang seperti itu ke Linda !! Apa salah Linda ayah ?? Apa??” Teriak gadis remaja itu. Di pandangnya ayahnya dengan luapan emosi. Matanya tak bisa menyembunyikan rasa sakit dalam batinnya.
“Ayah sudah berkali-kali bilang, jangan pernah pergi main-main sama teman-temanmu. Kamu itu berbeda dengan mereka. Mereka masih punya dua orang tua. Sedangkan kamu, cuma punya ayah. Tugas kamu cuma belajar dan merawat adikmu dirumah. Jika kamu pergi, siapa yang akan mengurus adikmu?? Apa menurut kamu ayah salah??” Ditatapnya putri pertamanya itu. “Jawab ??” Gertak pak Darma yang mengejutkan Linda.
“Ayah gak pernah salah. Ayahkan yang paling sempurna. Ayah gak akan pernah mengerti perasaan Linda. Walaupun Linda pergi, Linda tau mana yang penting dan mana yang tidak. Kemaren Linda pergi menjenguk guru Linda yang sakit. Kemaren Linda juga sudah izin sama ayah. Ayah bilang bolehkan? Terus kenapa sekarang ayah marah sama Linda?”
“Diam kamu Linda,,, kemarin ayah mengizinkan karena kamu tidak bilang kalau kamu perginya sama sepupumu. Sudah ayah ingatkan, jangan pernah pergi sama Dio anak adik ibumu itu” Bentaknya lagi.
“Kenapa yah ?? ayah melarang tanpa alasan yang jelas. Ayah selalu melarang Linda ini itu. Tapi ayah tidak pernah memberi alasan yang jelas kenapa ayah melarang. Jelaskan sama Linda yah !! biar linda bisa mengerti apa maksud ayah melarang Linda. Linda bukan anak kecil lagi yah!! Linda ti,,,”
“CUKUP. Cukup Linda jangan diteruskan. Belum saatnya kamu tau.” Tanpa berkata apa-apa lagi pak Darma beranjak menuju kamarnya. Meninggalkan Linda dengan ribuan tanda tanya. Hal yang berulang kali terjadi. Dengan keadaan yang hampir sama. Selalu melarang tanpa alasan yang jelas namun, selalu berakhir dengan tamparan diwajah mungilnya. Gejolak batin yang selalu dialaminya. Terkadang membuatnya merasa lelah menjalani hidup. Ingin pergi dari segala ketidaknyamanan. Lari dari masalah dan ketertindasan. Dengan masih menyimpan tanda tanya besar, ia berjalan menuju kamarnya.
“Assalamualaikuuum………” Seorang anak kecil berbalut jilbab putih berhambur memeluk Linda dari belakang. Tanpa menoleh Linda menjawab salam adiknya. Diusapnya butiran-butiran Kristal putih yang membasahi pipinya.
“Kak Linda kenapa?”
“Gak pa pa kok dek. Cuma lagi sakit mata saja. Kakak gak mau Rita tertular.”
“Waah kalau gitu Rita sholat duluan ya kak… Cepet sembuh kaaak” Ucap adik kecil itu sembari ngeloyor pergi. Tingkah adiknya sedikit mengembangkan senyum tipis di bibirnya. Hanya Rita alasan satu-satunya yang membuatnya kuat bertahan dengan tekanan ayahnya.
                                    *********
            Segerombol remaja berpakaian putih abu-abu pagi itu memenuhi meja kantin. Dari yang sibuk mengisi panggilan cacing-cacing perutnya sampai yang mulutnya berbusa ngobrol ngalor ngidul, ada juga yang sibuk menyalin tugas rumahnya dengan ditemani aneka ragam camilan kantin. Ditambah pidato pagi bang Togar. Abang bakso yang satu ini emang paling hobi senam mulut. Mulai dari ngomongin pemain bola favoritnya sampai bintang iklan sampoo idolanya. Para pengunjung setianya hanya manggut-manggut mengiyakan. Salah satunya seorang cewek maniak bakso yang kerap disapa Tanti itu. Tiap pagi baginya kurang komplit jika tidak menyantap hidangan mantap bakso bang Togar yang dikenal murah meriah.
“DuuUUoOOorrRR !!!!!!!!!!!!!!” Getak Linda pada Tanti sahabat terbaik sejagat raya. Gadis bertubuh mungil bermuka bulat itu batuk-batuk karena tersedak. Diraihnya segelas es teh di samping mangkok baksonya.
“Hiiiiiichh LiiiinnnDAAAAAAaaaaaaaaa !!!!!!!!!!!! Kamu mau bikin aku mati konyol karena tersedak ya !!!!!!! Huuuufttttt.” Omel Tanti. Linda hanya nyengir mendengar omelan sahabatnya itu. Tanpa cas cis cus lagi ditariknya lengan Tanti.
“AAAAAAAHHHggg LiiiiINNDAAaaaaaaa,,,,, baksoku belum habis tauuk. Mubadzirkan. Sayang tu ke makan angin. Aduuuh perutku masih keroncongan,,,” Rengek Tanti. Tanpa ada respon apapun dari Linda. Digeretnya Tanti menuju taman sekolah SMA HARAPAN BARU. “IIIiiiiiiiiiiihhhh pelan-pelan Lindaaaaaaa !!! mau kemana siiiih???” belum sampai menjawab Tanti sudah mulai nerocos lagi “ Iiiidiiiih Liindaaa cayyyaaaaank,,,, ada apa dan kenapa kamu samapi merusak jadwalku sarapan pagi. Membuat cacing-cacing perutku demo masal. Ditambah lagi tadi aku belum bayar. Apa kata bang Togar coba. Pelanggan terbaiknya mulai ngutang. Padahal itu tidak ada dalam kamus hidup Tanti Putri Pertiwi. Lin,,”
“Ssssssssssttttttttttt,,, BISA DIAM GAAAK” potong Linda. Sedikit membuat sahabatnya refleksi jantung. Tanti ratu centil seantero sekolah itu hanya menekuk mukanya. “Maaf tan,, aku lagi ada masalah. Maaf ya,, jadi bentak kamu. Maaf juga sarapan pagi kamu jadi terganggu. Tadi aku pengen cerita pas dikantin tapi tempatnya kurang kondusif.” Tanti tersenyum. Dipeluknya Linda sembari ditepuk-tepuk punggung sahabatnya yang sudah dianggap saudaranya sendiri.
“Iya, gak pa pa Lin.” Diajaknya Linda duduk di bangku panjang dekat pohon beringin. “ Ada apa Lin?” Ditatapnya mata Linda yang berkaca-kaca.
“Aku pengen pergi dari rumah Tan ,,, pengen kerumah nenekku di Surabaya untuk menemui Ibu. Aku kangen Ibuku Tan. Tapi aku juga sayang Ayah. Jika aku menemui Ibu, sudah pasti ayah tidak mau menganggap aku anaknya lagi. Aku bingung Tan.”
“Lindaaa,,kamu jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Pikirkan dulu matang-matang. Jangan sampai kamu menyesal gara-gara keputusanmu yang gegabah. Sudahlah kamu sabar dulu.”
“Aku juga sudah sabar Tan,, tapi aku kangen Ibu. Aku kangen keharmonisan yang dulu menyelimuti keluargaku. Aku harus berani mengambil resiko Tan.”
“Terus nasib adik kamu gimana jika kamu tinggal pergi? Kamu juga gak boleh egois. Fikirkan juga perkembangan mental adikmu. Dia terlalu kecil untuk menanggung semua beban ini. Kamu jangan mementingkan kebahagiaanmu sendiri. Fikirkan juga adikmu Lin,,” Linda hanya menunduk. Air mata membanjiri pipinya. Dadanya terasa sesak. Sesaat ingatan memasuki dimensi masalalu. Kenangan-kenangan indah bersama ibu, ayah dan adiknya menari-nari di sudut kecil memorynya. Belum sampai semua impian tercapai. Tawa dan canda itu lenyap. Menghampus rona-rona bahagia.”Ibu,,kenapa kamu pergi tanpa alasan yang jelas. Aku kangen pelukan dan kasih sayangmu. Aku merindukan masa itu ibu. Saat kau rela kedinginan demi menghangatkanku. Kau temani aku saat aku ketakutan. Kau rela menahan lapar hanya agar aku merasa kenyang. Kamu tak pernah membeli baju untuk lebaran hanya agar aku memakai baju baru. Aku kangen cerewetmu ibu. Kamu yang selalu marah saat aku gak mengerjakan tugas rumah. Satu katamu yang ku sesalkan. Kamu selalu bilang sayang, mungkin saat ini masih ada ibu. Coba kalau nanti ibu sudah gak bias selalu bersamamu. Kamu pasti akan merasakan perbedaannya. Ya. Nasehatmu itu kini menjadi kenyataan yang sulit ku hadapi. Menjadi nasehat sekaligus penyesalan bagiku ibu,,” Rintih hati kecil Linda.
“Linda,,” Ucap Tanti sembari mengusap air mata sahabatnya. Hal ini juga membuat hatinya miris. “Gimana kalau kita kerumah Dio. Cari informasi dari mamanya Dio Lin, tante Virna pasti tau masalah antara ayah dan ibu kamu. Gimana ?” Sambung Tanti memberi solusi.
“Ehhmmm, boleh juga Tan. Tapi nanti kalau ayah tau gimana?”
“Gini aja deh. Biar aku yang nemuin tante Virna.” Linda tersenyum dengan tawaran sahabatnya. Sahabat yang selalu menemaninya dalam suka duka. Disamping sifat centilnya terkadang sahabatnya itu juga memiliki sifat keibuan.
                        ******
            Bel tanda berakhirnya jam pelajaran menggemuruhkan sorak-sorak siswa-siswi SMA HARAPAN BARU. Linda bergegas merapikan buku-buku pelajarannya. Segera ia hampiri sahabatnya dikelas IPA2.
“Tanti,,jangan lupa ya nanti segera kabari aku.”Tanti mengedipkan mata kirinya. “Siiip”
Linda berlari menuju tempat parkir. Distaternya motor pink kesayangannya. Karena motor itu kenangan dia dengan ibunya. Di kendarai motor pinknya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia ingin segera menjemput adiknya dan segera membereskan rumah sebelum ayahnya pulang kerja. Semenjak ibunya pergi. Lindalah yang menggantikan segala macam tugas ibunya dirumah. Tiba-tiba saja di pertigaan rem motornya blong. Tampak dari jauh truk kuning pengangkut pasir membunyikan klaksonnya.
“Bruuuuuuuuuuuuaaaaaaaaak” Kepala Linda terasa berat. Pandangannya terasa kabur. Dia merasakan ada yang mengalir di dahinnya.
            *******
            Terdengar lantunan ayat Al-qur’an dari gadis kecil berjilbab abu-abu. Sesekali gadis kecil itu mengusap air matanya. Seusai melantunkan ayat-ayat Al-qur’an. Dipegangnya ke dua tangan kakaknya. Dibisikkannya kalimat-kalimat Allah ditelinga kakaknya. Seakan tak ingin kehilangan sosok kakak yang dicintainya.
“Kak Linda,,,bangun kak. Jangan biarin Rita kesepian.” Rengek gadis kecil itu. Meskipun usiannya masih terbilang dini . Namun terkadang Rita bisa bersikap layaknya orang dewasa. Jauh berbeda dengan sifat Linda yang terkadang masih mengedepankan emosi. Gadis kecil ini sangat halus dan lembut hatinya. Ia berbeda dengan ibu dan kakaknya. Tanpa disuruh dan diminta. Ia ingin terus mengenakan jilbab. “Krreeek” terdengar suara pintu terbuka. Rita segera menoleh kebelakang. Teryata ayahnya datang. Tak seperti biasanya. Matanya berkaca-kaca. Laki-laki bertubuh kekar yang hampir tak pernah menangis. Ini untuk kedua kalinya dia menangis. Pertama ia menangis saat melihat istrinya pergi. Beberapa saat setelah itu, dilihatnya Linda mulai membuka mata perlahan.
“Linda sudah sadar nak ?” Tanya pak Darma.
“A-Aaayaah,,” Linda tertegun kaget melihat wajah ayahnya berlinang air mata. Sungguh tak dapat dipercaya. Inilah sosok ayah yang selama ini dirindukannya.
“Linda tidak apa-apa kan nak ? apa yang terasa sakit? Ayo bilang ke ayah.” Ucap pak darma khawatir. Dibelainya rambut Linda dengan penuh kasih sayang. Linda hanya menggeleng. Hatinya terasa bahagia. Syukur berkali-kali diucapkannya. Ia dan adiknya Rita terisak dipelukan ayahnya. Pelukan yang hampir setengah tahun ini tak pernah ia rasakan lagi. Kasih sayang yang teramat dirindukannya. “Terima kasih Tuhan,,,” Jerit hati kecilnya.
            ******
            Linda tampak sibuk menata barang-barang yang hendak dibawanya ke Surabaya. Setumpuk rasa bahagia menghilangkan gundukan rasa lelah. Meski Pak Darma bersikeras melarangnya pergi. Linda tetap memaksa. Sifat keras kepala yang membuat pak darma mengiyakan keputusannya. Tak sanggup ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara ia dan istrinya. Bahkan pak Darma telah melarang Tanti dan tante Virna memberi tahu yang sebenarnya terjadi pada Linda. Mungkin lebih baik Linda tau sendiri dari ibunya masalah apa yang sebenarnya terjadi antara ia dan istrinya. Hingga diizinkannya anak perempuannya itu pergi ke Surabaya untuk menjenguk ibunya.
“Linda,,”Panggil pak Darma.
“Iya ayah,,,”Jawab Linda dengan nada bahagia.
“Hati-hati di Surabaya. Jaga diri Linda baik-baik. Ayah akan izinkan Linda pergi asal ditemani Dio.” Linda tersentak kaget mendengar ucapan ayahnya.
“Tapi ayah kan selama ini melarang Linda pergi dengan Dio. Kenapa sekarang malah ayah menyuruh Linda pergi dengan Dio ??” Tampak ada tanda Tanya besar dimata Linda.
“Karena kamu tidak punya saudara laki-laki sayaang,, Dio pasti akan menjaga kamu seperti menjaga adik kandungnya sendiri. Ayah sadar ayah salah melarang kamu pergi dengan Dio. Hanya karena masalah ayah dengan ibumu yang tidak ada sangkut pautnya dengan Dio.”
“Tapi kalau boleh Linda tau. Sebenarnya ada masalah apa antara ayah dengan ibu?”
“Tanyakan pada ibumu saja” Tanpa melanjutkan kalimanya pak Darma beranjak pergi. Linda diam dengan menyimpan beribu pertanyaan dalam benaknya.
            *****
            Panasnya terik matahari kota Surabaya tak menyurutkan semangat Linda. Rasa tak sabar ingin segera bersua dengan ibu tercinta. Hingga membuatnya tak merasa lapar meski sedari pagi perutnya belum terisi secuil roti ataupun sesendok nasi. Bahkan ia tak sadar sedari tadi ia tak menghiraukan sepupunya, Dio. Senyum sumringah bertahta diwajah ayunya. Yang tak jauh berbeda dengan wajah ibunya. Di pandanginya foto wanita berambut panjang bergelombang itu.Otak kecilnya mulai bernostalgia dengan kenangan-kenangan indah tempo dulu. Kenangan yang membuatnya selalu optimis kalau masa itu akan kembali lagi. Harapan yang tak kan pupus. Ia akan membawa ibunya kembali pulang kerumah. Mobil angkot bewarna biru muda yang ditumpanginya berhenti tepat di depan rumah yang tak asing baginya. Rumah kecil bercat merah jambu. “Masih sama seperti yang dulu” Batinnya. Terlihat seorang wanita tua sibuk menyirami bunga-bunga mawar diteras rumah.
“Nenek,,” Panggil Linda menghampiri wanita tua itu. Wanita itu hanya menoleh sekilas dan Nampak tak menghiraukan kedatangan Linda. Ia kembali sibuk dengan bunga-bunga mawarnya.
“Nenek,, ini Linda nek,,”Sambung Linda. “Linda kengen nek, sama ibu dan nenek.” Dipeluknya nenek yang kerap disapa nek Warsih itu dari belakang.
“LEPASKAN PELUKANMU,,, KAMU BUKAN CUCUKU” Hardik nek Warsih.
“Nenek,,kenapa nenek bilang seperti itu?”Linda terisak mendengar ucapan neneknya. Dio yang sedari tadi hanya memperhatikan Linda dan neneknya dari kejauhan mulai berlari menghampiri.
“Nek,,Linda tidak pernah bersalah. Linda gak pernah tau kejadian antara om Darma dan Tante Tias. Nenek tidak boleh bicara seperti itu. Sahut Dio tanpa menunggu jawaban neneknya.
“Nenek malu Dio. Nenek malu dengan apa yang telah dilakukan tantemu.” Nek Warsih tak melanjutkan. Diletakkannya gembor air ditangannya. Diajaknya Dio dan Linda masuk rumah kecilnya.
“Linda,, apa kamu benar-benar belum tau apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya nek Warsih.
“Belum nek,, sebenarnya ada apa? Selama ini Linda hanya mendapatkan perlakuan tak adil dari apa yang Linda tak mengerti. Linda gak tau bagaimana Linda harus bersikap. Marah, diam, atau sabar” ucap Linda sembari mengusap air matanya yang sedari tadi membasahi pipinya.
“Hiks,,Hiks,,,nenek gak tau harus cerita dari mana. Semenjak pergi meninggalkan ayahmu. Ibumu pergi bersama teman laki-lakinya. Hingga kini nenek gak tau kabar ibumu. Jangankan menjenguk, sekedar telefon untuk memberi kabar saja tak pernah. Lebih parahnya lagi, sebelum meninggalkan ayahmu, ibumu pernah berselingkuh hingga hamil tanpa disadari ayahmu bahwa bayi dalam kandungan itu bukan anak kandungnya. Tapi ayahmu tetap merawat bayi kecil itu hingga saat ini.”
“Apa bayi kecil itu Rita nek?” Potong Linda. Nek Warsih hanya mengangguk lemah. Melihat neneknya mengiyakan hati Linda bagai terhimpit lempengan benua. Benar-benar tak dapat dipercaya. Orang yang selama ini ia rindukan. Pergi tanpa kabar. Meninggalkannya dengan ribuan pertanyaan. Ibu yang dulu menasehatinya tentang arti harga diri. Kenapa melakukan hal semacam itu.  Linda hanya bisa menangis. “Ya ALLAH siapapun dan bagaimanapun ibuku dia tetap ibuku. Pertemukan aku dengan ibuku ya Rabb,,, Kembalikan ibuku menuju jalan lurusMU lagi. Apapun yang telah dilakukannya. Tak mebuatku membencinya ya Rabb. Karena aku lahir dari rahimnya. Aku besar dengan asi dan kasih sayangnya. Jaga dia ya Rabb,,karena dia adalah surgaku.” Rintih hati kecil Linda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar