“PLAAaaak”
Tamparan laki-laki itu tepat
mendarat dipipi kirinya. Isak tangis di pendamnya. Digosok-gosoknya pipinya
yang terasa panas. Di tatapnya wajah laki-laki itu dengan segumpal rasa
jengkel. Wajahnya merah padam. Emosinya mulai naik. Ingin berteriak. Namun, ia
sadar itu hanya akan menambah tamparan dipipinya.
“Sudah
berkali-kali ayah bilang, jangan pernah membantah omongan ayah. Jika kamu masih
ingin hidup bersama ayah.” Ucap laki-laki yang kerap disapa pak Darma itu. Kekesalan
membuatnya kehilangan kendali.
“Ayah,,
kenapa ayah selalalu bilang seperti itu ke Linda !! Apa salah Linda ayah ??
Apa??” Teriak gadis remaja itu. Di pandangnya ayahnya dengan luapan emosi.
Matanya tak bisa menyembunyikan rasa sakit dalam batinnya.
“Ayah
sudah berkali-kali bilang, jangan pernah pergi main-main sama teman-temanmu.
Kamu itu berbeda dengan mereka. Mereka masih punya dua orang tua. Sedangkan
kamu, cuma punya ayah. Tugas kamu cuma belajar dan merawat adikmu dirumah. Jika
kamu pergi, siapa yang akan mengurus adikmu?? Apa menurut kamu ayah salah??”
Ditatapnya putri pertamanya itu. “Jawab ??” Gertak pak Darma yang mengejutkan
Linda.
“Ayah
gak pernah salah. Ayahkan yang paling sempurna. Ayah gak akan pernah mengerti
perasaan Linda. Walaupun Linda pergi, Linda tau mana yang penting dan mana yang
tidak. Kemaren Linda pergi menjenguk guru Linda yang sakit. Kemaren Linda juga
sudah izin sama ayah. Ayah bilang bolehkan? Terus kenapa sekarang ayah marah
sama Linda?”
“Diam
kamu Linda,,, kemarin ayah mengizinkan karena kamu tidak bilang kalau kamu
perginya sama sepupumu. Sudah ayah ingatkan, jangan pernah pergi sama Dio anak
adik ibumu itu” Bentaknya lagi.
“Kenapa
yah ?? ayah melarang tanpa alasan yang jelas. Ayah selalu melarang Linda ini
itu. Tapi ayah tidak pernah memberi alasan yang jelas kenapa ayah melarang.
Jelaskan sama Linda yah !! biar linda bisa mengerti apa maksud ayah melarang
Linda. Linda bukan anak kecil lagi yah!! Linda ti,,,”
“CUKUP.
Cukup Linda jangan diteruskan. Belum saatnya kamu tau.” Tanpa berkata apa-apa
lagi pak Darma beranjak menuju kamarnya. Meninggalkan Linda dengan ribuan tanda
tanya. Hal yang berulang kali terjadi. Dengan keadaan yang hampir sama. Selalu
melarang tanpa alasan yang jelas namun, selalu berakhir dengan tamparan diwajah
mungilnya. Gejolak batin yang selalu dialaminya. Terkadang membuatnya merasa
lelah menjalani hidup. Ingin pergi dari segala ketidaknyamanan. Lari dari
masalah dan ketertindasan. Dengan masih menyimpan tanda tanya besar, ia
berjalan menuju kamarnya.
“Assalamualaikuuum………”
Seorang anak kecil berbalut jilbab putih berhambur memeluk Linda dari belakang.
Tanpa menoleh Linda menjawab salam adiknya. Diusapnya butiran-butiran Kristal
putih yang membasahi pipinya.
“Kak
Linda kenapa?”
“Gak
pa pa kok dek. Cuma lagi sakit mata saja. Kakak gak mau Rita tertular.”
“Waah
kalau gitu Rita sholat duluan ya kak… Cepet sembuh kaaak” Ucap adik kecil itu
sembari ngeloyor pergi. Tingkah adiknya sedikit mengembangkan senyum tipis di
bibirnya. Hanya Rita alasan satu-satunya yang membuatnya kuat bertahan dengan
tekanan ayahnya.
*********
Segerombol remaja berpakaian putih
abu-abu pagi itu memenuhi meja kantin. Dari yang sibuk mengisi panggilan
cacing-cacing perutnya sampai yang mulutnya berbusa ngobrol ngalor ngidul, ada
juga yang sibuk menyalin tugas rumahnya dengan ditemani aneka ragam camilan
kantin. Ditambah pidato pagi bang Togar. Abang bakso yang satu ini emang paling
hobi senam mulut. Mulai dari ngomongin pemain bola favoritnya sampai bintang
iklan sampoo idolanya. Para pengunjung setianya hanya manggut-manggut
mengiyakan. Salah satunya seorang cewek maniak bakso yang kerap disapa Tanti
itu. Tiap pagi baginya kurang komplit jika tidak menyantap hidangan mantap
bakso bang Togar yang dikenal murah meriah.
“DuuUUoOOorrRR
!!!!!!!!!!!!!!” Getak Linda pada Tanti sahabat terbaik sejagat raya. Gadis
bertubuh mungil bermuka bulat itu batuk-batuk karena tersedak. Diraihnya
segelas es teh di samping mangkok baksonya.
“Hiiiiiichh
LiiiinnnDAAAAAAaaaaaaaaa !!!!!!!!!!!! Kamu mau bikin aku mati konyol karena
tersedak ya !!!!!!! Huuuufttttt.” Omel Tanti. Linda hanya nyengir mendengar
omelan sahabatnya itu. Tanpa cas cis cus lagi ditariknya lengan Tanti.
“AAAAAAAHHHggg
LiiiiINNDAAaaaaaaa,,,,, baksoku belum habis tauuk. Mubadzirkan. Sayang tu ke
makan angin. Aduuuh perutku masih keroncongan,,,” Rengek Tanti. Tanpa ada respon
apapun dari Linda. Digeretnya Tanti menuju taman sekolah SMA HARAPAN BARU. “IIIiiiiiiiiiiihhhh
pelan-pelan Lindaaaaaaa !!! mau kemana siiiih???” belum sampai menjawab Tanti
sudah mulai nerocos lagi “ Iiiidiiiih Liindaaa cayyyaaaaank,,,, ada apa dan kenapa
kamu samapi merusak jadwalku sarapan pagi. Membuat cacing-cacing perutku demo
masal. Ditambah lagi tadi aku belum bayar. Apa kata bang Togar coba. Pelanggan
terbaiknya mulai ngutang. Padahal itu tidak ada dalam kamus hidup Tanti Putri
Pertiwi. Lin,,”
“Ssssssssssttttttttttt,,,
BISA DIAM GAAAK” potong Linda. Sedikit membuat sahabatnya refleksi jantung.
Tanti ratu centil seantero sekolah itu hanya menekuk mukanya. “Maaf tan,, aku
lagi ada masalah. Maaf ya,, jadi bentak kamu. Maaf juga sarapan pagi kamu jadi
terganggu. Tadi aku pengen cerita pas dikantin tapi tempatnya kurang kondusif.”
Tanti tersenyum. Dipeluknya Linda sembari ditepuk-tepuk punggung sahabatnya
yang sudah dianggap saudaranya sendiri.
“Iya,
gak pa pa Lin.” Diajaknya Linda duduk di bangku panjang dekat pohon beringin. “
Ada apa Lin?” Ditatapnya mata Linda yang berkaca-kaca.
“Aku
pengen pergi dari rumah Tan ,,, pengen kerumah nenekku di Surabaya untuk
menemui Ibu. Aku kangen Ibuku Tan. Tapi aku juga sayang Ayah. Jika aku menemui
Ibu, sudah pasti ayah tidak mau menganggap aku anaknya lagi. Aku bingung Tan.”
“Lindaaa,,kamu
jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Pikirkan dulu matang-matang. Jangan
sampai kamu menyesal gara-gara keputusanmu yang gegabah. Sudahlah kamu sabar
dulu.”
“Aku
juga sudah sabar Tan,, tapi aku kangen Ibu. Aku kangen keharmonisan yang dulu
menyelimuti keluargaku. Aku harus berani mengambil resiko Tan.”
“Terus
nasib adik kamu gimana jika kamu tinggal pergi? Kamu juga gak boleh egois. Fikirkan
juga perkembangan mental adikmu. Dia terlalu kecil untuk menanggung semua beban
ini. Kamu jangan mementingkan kebahagiaanmu sendiri. Fikirkan juga adikmu
Lin,,” Linda hanya menunduk. Air mata membanjiri pipinya. Dadanya terasa sesak.
Sesaat ingatan memasuki dimensi masalalu. Kenangan-kenangan indah bersama ibu,
ayah dan adiknya menari-nari di sudut kecil memorynya. Belum sampai semua
impian tercapai. Tawa dan canda itu lenyap. Menghampus rona-rona
bahagia.”Ibu,,kenapa kamu pergi tanpa alasan yang jelas. Aku kangen pelukan dan
kasih sayangmu. Aku merindukan masa itu ibu. Saat kau rela kedinginan demi
menghangatkanku. Kau temani aku saat aku ketakutan. Kau rela menahan lapar
hanya agar aku merasa kenyang. Kamu tak pernah membeli baju untuk lebaran hanya
agar aku memakai baju baru. Aku kangen cerewetmu ibu. Kamu yang selalu marah
saat aku gak mengerjakan tugas rumah. Satu katamu yang ku sesalkan. Kamu selalu
bilang sayang, mungkin saat ini masih ada ibu. Coba kalau nanti ibu sudah
gak bias selalu bersamamu. Kamu pasti akan merasakan perbedaannya. Ya.
Nasehatmu itu kini menjadi kenyataan yang sulit ku hadapi. Menjadi nasehat
sekaligus penyesalan bagiku ibu,,” Rintih hati kecil Linda.
“Linda,,”
Ucap Tanti sembari mengusap air mata sahabatnya. Hal ini juga membuat hatinya
miris. “Gimana kalau kita kerumah Dio. Cari informasi dari mamanya Dio Lin,
tante Virna pasti tau masalah antara ayah dan ibu kamu. Gimana ?” Sambung Tanti
memberi solusi.
“Ehhmmm,
boleh juga Tan. Tapi nanti kalau ayah tau gimana?”
“Gini
aja deh. Biar aku yang nemuin tante Virna.” Linda tersenyum dengan tawaran
sahabatnya. Sahabat yang selalu menemaninya dalam suka duka. Disamping sifat
centilnya terkadang sahabatnya itu juga memiliki sifat keibuan.
******
Bel tanda berakhirnya jam pelajaran
menggemuruhkan sorak-sorak siswa-siswi SMA HARAPAN BARU. Linda bergegas
merapikan buku-buku pelajarannya. Segera ia hampiri sahabatnya dikelas IPA2.
“Tanti,,jangan
lupa ya nanti segera kabari aku.”Tanti mengedipkan mata kirinya. “Siiip”
Linda
berlari menuju tempat parkir. Distaternya motor pink kesayangannya. Karena
motor itu kenangan dia dengan ibunya. Di kendarai motor pinknya dengan
kecepatan diatas rata-rata. Dia ingin segera menjemput adiknya dan segera
membereskan rumah sebelum ayahnya pulang kerja. Semenjak ibunya pergi. Lindalah
yang menggantikan segala macam tugas ibunya dirumah. Tiba-tiba saja di
pertigaan rem motornya blong. Tampak dari jauh truk kuning pengangkut pasir
membunyikan klaksonnya.
“Bruuuuuuuuuuuuaaaaaaaaak”
Kepala Linda terasa berat. Pandangannya terasa kabur. Dia merasakan ada yang
mengalir di dahinnya.
*******
Terdengar lantunan ayat Al-qur’an
dari gadis kecil berjilbab abu-abu. Sesekali gadis kecil itu mengusap air
matanya. Seusai melantunkan ayat-ayat Al-qur’an. Dipegangnya ke dua tangan
kakaknya. Dibisikkannya kalimat-kalimat Allah ditelinga kakaknya. Seakan tak
ingin kehilangan sosok kakak yang dicintainya.
“Kak
Linda,,,bangun kak. Jangan biarin Rita kesepian.” Rengek gadis kecil itu.
Meskipun usiannya masih terbilang dini . Namun terkadang Rita bisa bersikap
layaknya orang dewasa. Jauh berbeda dengan sifat Linda yang terkadang masih
mengedepankan emosi. Gadis kecil ini sangat halus dan lembut hatinya. Ia
berbeda dengan ibu dan kakaknya. Tanpa disuruh dan diminta. Ia ingin terus
mengenakan jilbab. “Krreeek” terdengar suara pintu terbuka. Rita segera menoleh
kebelakang. Teryata ayahnya datang. Tak seperti biasanya. Matanya berkaca-kaca.
Laki-laki bertubuh kekar yang hampir tak pernah menangis. Ini untuk kedua
kalinya dia menangis. Pertama ia menangis saat melihat istrinya pergi. Beberapa
saat setelah itu, dilihatnya Linda mulai membuka mata perlahan.
“Linda
sudah sadar nak ?” Tanya pak Darma.
“A-Aaayaah,,”
Linda tertegun kaget melihat wajah ayahnya berlinang air mata. Sungguh tak
dapat dipercaya. Inilah sosok ayah yang selama ini dirindukannya.
“Linda
tidak apa-apa kan nak ? apa yang terasa sakit? Ayo bilang ke ayah.” Ucap pak
darma khawatir. Dibelainya rambut Linda dengan penuh kasih sayang. Linda hanya
menggeleng. Hatinya terasa bahagia. Syukur berkali-kali diucapkannya. Ia dan
adiknya Rita terisak dipelukan ayahnya. Pelukan yang hampir setengah tahun ini
tak pernah ia rasakan lagi. Kasih sayang yang teramat dirindukannya. “Terima
kasih Tuhan,,,” Jerit hati kecilnya.
******
Linda tampak sibuk menata barang-barang
yang hendak dibawanya ke Surabaya. Setumpuk rasa bahagia menghilangkan gundukan
rasa lelah. Meski Pak Darma bersikeras melarangnya pergi. Linda tetap memaksa.
Sifat keras kepala yang membuat pak darma mengiyakan keputusannya. Tak sanggup
ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara ia dan istrinya. Bahkan pak
Darma telah melarang Tanti dan tante Virna memberi tahu yang sebenarnya terjadi
pada Linda. Mungkin lebih baik Linda tau sendiri dari ibunya masalah apa yang
sebenarnya terjadi antara ia dan istrinya. Hingga diizinkannya anak
perempuannya itu pergi ke Surabaya untuk menjenguk ibunya.
“Linda,,”Panggil
pak Darma.
“Iya
ayah,,,”Jawab Linda dengan nada bahagia.
“Hati-hati
di Surabaya. Jaga diri Linda baik-baik. Ayah akan izinkan Linda pergi asal
ditemani Dio.” Linda tersentak kaget mendengar ucapan ayahnya.
“Tapi
ayah kan selama ini melarang Linda pergi dengan Dio. Kenapa sekarang malah ayah
menyuruh Linda pergi dengan Dio ??” Tampak ada tanda Tanya besar dimata Linda.
“Karena
kamu tidak punya saudara laki-laki sayaang,, Dio pasti akan menjaga kamu
seperti menjaga adik kandungnya sendiri. Ayah sadar ayah salah melarang kamu
pergi dengan Dio. Hanya karena masalah ayah dengan ibumu yang tidak ada sangkut
pautnya dengan Dio.”
“Tapi
kalau boleh Linda tau. Sebenarnya ada masalah apa antara ayah dengan ibu?”
“Tanyakan
pada ibumu saja” Tanpa melanjutkan kalimanya pak Darma beranjak pergi. Linda
diam dengan menyimpan beribu pertanyaan dalam benaknya.
*****
Panasnya terik matahari kota Surabaya
tak menyurutkan semangat Linda. Rasa tak sabar ingin segera bersua dengan ibu
tercinta. Hingga membuatnya tak merasa lapar meski sedari pagi perutnya belum
terisi secuil roti ataupun sesendok nasi. Bahkan ia tak sadar sedari tadi ia
tak menghiraukan sepupunya, Dio. Senyum sumringah bertahta diwajah ayunya. Yang
tak jauh berbeda dengan wajah ibunya. Di pandanginya foto wanita berambut
panjang bergelombang itu.Otak kecilnya mulai bernostalgia dengan
kenangan-kenangan indah tempo dulu. Kenangan yang membuatnya selalu optimis
kalau masa itu akan kembali lagi. Harapan yang tak kan pupus. Ia akan membawa
ibunya kembali pulang kerumah. Mobil angkot bewarna biru muda yang
ditumpanginya berhenti tepat di depan rumah yang tak asing baginya. Rumah kecil
bercat merah jambu. “Masih sama seperti yang dulu” Batinnya. Terlihat seorang
wanita tua sibuk menyirami bunga-bunga mawar diteras rumah.
“Nenek,,”
Panggil Linda menghampiri wanita tua itu. Wanita itu hanya menoleh sekilas dan
Nampak tak menghiraukan kedatangan Linda. Ia kembali sibuk dengan bunga-bunga
mawarnya.
“Nenek,,
ini Linda nek,,”Sambung Linda. “Linda kengen nek, sama ibu dan nenek.”
Dipeluknya nenek yang kerap disapa nek Warsih itu dari belakang.
“LEPASKAN
PELUKANMU,,, KAMU BUKAN CUCUKU” Hardik nek Warsih.
“Nenek,,kenapa
nenek bilang seperti itu?”Linda terisak mendengar ucapan neneknya. Dio yang
sedari tadi hanya memperhatikan Linda dan neneknya dari kejauhan mulai berlari
menghampiri.
“Nek,,Linda
tidak pernah bersalah. Linda gak pernah tau kejadian antara om Darma dan Tante
Tias. Nenek tidak boleh bicara seperti itu. Sahut Dio tanpa menunggu jawaban
neneknya.
“Nenek
malu Dio. Nenek malu dengan apa yang telah dilakukan tantemu.” Nek Warsih tak
melanjutkan. Diletakkannya gembor air ditangannya. Diajaknya Dio dan Linda
masuk rumah kecilnya.
“Linda,,
apa kamu benar-benar belum tau apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya nek Warsih.
“Belum
nek,, sebenarnya ada apa? Selama ini Linda hanya mendapatkan perlakuan tak adil
dari apa yang Linda tak mengerti. Linda gak tau bagaimana Linda harus bersikap.
Marah, diam, atau sabar” ucap Linda sembari mengusap air matanya yang sedari
tadi membasahi pipinya.
“Hiks,,Hiks,,,nenek
gak tau harus cerita dari mana. Semenjak pergi meninggalkan ayahmu. Ibumu pergi
bersama teman laki-lakinya. Hingga kini nenek gak tau kabar ibumu. Jangankan
menjenguk, sekedar telefon untuk memberi kabar saja tak pernah. Lebih parahnya
lagi, sebelum meninggalkan ayahmu, ibumu pernah berselingkuh hingga hamil tanpa
disadari ayahmu bahwa bayi dalam kandungan itu bukan anak kandungnya. Tapi
ayahmu tetap merawat bayi kecil itu hingga saat ini.”
“Apa
bayi kecil itu Rita nek?” Potong Linda. Nek Warsih hanya mengangguk lemah. Melihat
neneknya mengiyakan hati Linda bagai terhimpit lempengan benua. Benar-benar tak
dapat dipercaya. Orang yang selama ini ia rindukan. Pergi tanpa kabar.
Meninggalkannya dengan ribuan pertanyaan. Ibu yang dulu menasehatinya tentang
arti harga diri. Kenapa melakukan hal semacam itu. Linda hanya bisa menangis. “Ya ALLAH siapapun
dan bagaimanapun ibuku dia tetap ibuku. Pertemukan aku dengan ibuku ya Rabb,,,
Kembalikan ibuku menuju jalan lurusMU lagi. Apapun yang telah dilakukannya. Tak
mebuatku membencinya ya Rabb. Karena aku lahir dari rahimnya. Aku besar dengan
asi dan kasih sayangnya. Jaga dia ya Rabb,,karena dia adalah surgaku.” Rintih
hati kecil Linda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar