Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Senin, 31 Maret 2014

Cahaya Metropolitan 2


Tidak pernah ada hawa sejuk yang kurasakan selama di kota metropolitan ini. Apalagi musim panas semacam ini. Matahari sepertinya tidak lagi memperdulikan kulit yang mulai demo massal. "Hooaaamm,," berkali-kali aku menguap. Terpaksa aku bolos kuliah. Segera aku berhambur menuju kamar kos ku yang tidak jauh dari tempat kuliah. Sekitar 30 meter. Menjadi mahasiswa jurusa HI di Universitas Bung Karno tak membuatku merasakan beban berat tinggal di ibu kota. Tapi semenjak mendengar kabar ayahku di malang sakit. Aku memutar otak. Bagaimana caranya agar aku bisa kulliah sambil bekerja. Beberapa teman sudah ku hubungi tapi belum ada yang memberiku kabar. Tak taulah aku tiba-tiba merasa bosan. Aku ingin marah. Tapi kenapa dan pada siapa? entahlah. Ku paksa mataku untuk terpejam.

Belum sempat aku merambat kealam mimpi, ponselku berdering.
"Hallo.. hallo" tak ada jawaban hening. "Hellooooo... ini siapa???" ucapku sedikit membentak.
"Diinn ini gue. Tanti."
"ooh elu tan. Ada apa?"
"Eh lu katanya butuh pekerjaan ya? ntr malem bisa ketemu gak nih. Gue ada partner nih buat lu."
"Partner apa? kerja apaan emang?"
"Yaaa hanya sekedar menghibur mereka cowok-cowok kesepian."
"Gilaaaa luu. Lu pikir gue pelacur apa. Tan jangan gitu lu. Masak lu mau hancurin temen lu sendiri"
"Lu mau kagak? ini jakarta boook... jakarta keras buuuk." aku diam sejenak. Ku fikir matang-matang. Tak ada salahnya. Selama aku tidak melakukan free sex saja. Just Fun. "Ok" jawabku singkat.
Apa yang sebenarnya kupikirkan. Kenapa aku bilang iya. Entahlah, lihat saja apa yang terjadi nanti.

Malam itu ku temui Tanti di cafe pisa menteng. Sesuai perjanjian dia bersama dengan seorang laki-laki. Usianya berkisar antara 24-26. Wajanya sedikit bolat. Nampak lesung pipi saat dia tersenyum. "Sini din" tanti melambai ke arahku. Aku menganguk menuju tempatnya.
"Tio, kenalin ini temen gue Dinda. Din kenalin ini Tio." kami saling bersalaman. Aku hanya diam. Ku biarkan tanti nyerocos menjelaskan.
"Tenang saja Din, gue bukan orang yang suka free sex kok. Gue gak minta lu buat nemenin gue buat gitu. Ehmm lebih tepatnya gue butuh partner buat jadi Baby Sitter buat adek gue. Gue hanya tinggal sama adek dan pembantu saja. Gimana Din? Keberatan" aku menggeleng. "Ya boleh, tapi gue belum ada pengalaman."
"gak papa. cuma butuh kesabaran aja. Adek gue masih kelas 5 SD kok"
"Baiklah" ucapku mantap. Aku merasa sedikit lega. "Kapan gue bisa mulai kerja?"
"Besok gimana? bisa?"
"Yuups, tapi kalo waktunya kuliah, gue boleh izin?"
"Boleh, tinggal kasih gue jadwal kuliah lu aja. entar kalo pas lu kuliah, gue bisa jemput dan nganter adek gue. Gimana" aku mengangguk. Kita sudai pertemuan malam ini. Tio menawarkan diri mengantarkanku dan Tanti. Tapi aku menolak. Tapi Tanti tampak begitu antusias.Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Sepertinya dia berhasil mengerjaiku. Dari pertama tadi dia nampak cengar-cengir sendiri. "Awaaas yaaa" batinku saat melihatnya tersenyum jahil.

Aku tak bisa memejamkan mata. Bayanganku masih menerawang jauuh. Bagaimana besok au harus bersikap. Ini adalah pengalaman pertamaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Senin, 31 Maret 2014

Cahaya Metropolitan 2


Tidak pernah ada hawa sejuk yang kurasakan selama di kota metropolitan ini. Apalagi musim panas semacam ini. Matahari sepertinya tidak lagi memperdulikan kulit yang mulai demo massal. "Hooaaamm,," berkali-kali aku menguap. Terpaksa aku bolos kuliah. Segera aku berhambur menuju kamar kos ku yang tidak jauh dari tempat kuliah. Sekitar 30 meter. Menjadi mahasiswa jurusa HI di Universitas Bung Karno tak membuatku merasakan beban berat tinggal di ibu kota. Tapi semenjak mendengar kabar ayahku di malang sakit. Aku memutar otak. Bagaimana caranya agar aku bisa kulliah sambil bekerja. Beberapa teman sudah ku hubungi tapi belum ada yang memberiku kabar. Tak taulah aku tiba-tiba merasa bosan. Aku ingin marah. Tapi kenapa dan pada siapa? entahlah. Ku paksa mataku untuk terpejam.

Belum sempat aku merambat kealam mimpi, ponselku berdering.
"Hallo.. hallo" tak ada jawaban hening. "Hellooooo... ini siapa???" ucapku sedikit membentak.
"Diinn ini gue. Tanti."
"ooh elu tan. Ada apa?"
"Eh lu katanya butuh pekerjaan ya? ntr malem bisa ketemu gak nih. Gue ada partner nih buat lu."
"Partner apa? kerja apaan emang?"
"Yaaa hanya sekedar menghibur mereka cowok-cowok kesepian."
"Gilaaaa luu. Lu pikir gue pelacur apa. Tan jangan gitu lu. Masak lu mau hancurin temen lu sendiri"
"Lu mau kagak? ini jakarta boook... jakarta keras buuuk." aku diam sejenak. Ku fikir matang-matang. Tak ada salahnya. Selama aku tidak melakukan free sex saja. Just Fun. "Ok" jawabku singkat.
Apa yang sebenarnya kupikirkan. Kenapa aku bilang iya. Entahlah, lihat saja apa yang terjadi nanti.

Malam itu ku temui Tanti di cafe pisa menteng. Sesuai perjanjian dia bersama dengan seorang laki-laki. Usianya berkisar antara 24-26. Wajanya sedikit bolat. Nampak lesung pipi saat dia tersenyum. "Sini din" tanti melambai ke arahku. Aku menganguk menuju tempatnya.
"Tio, kenalin ini temen gue Dinda. Din kenalin ini Tio." kami saling bersalaman. Aku hanya diam. Ku biarkan tanti nyerocos menjelaskan.
"Tenang saja Din, gue bukan orang yang suka free sex kok. Gue gak minta lu buat nemenin gue buat gitu. Ehmm lebih tepatnya gue butuh partner buat jadi Baby Sitter buat adek gue. Gue hanya tinggal sama adek dan pembantu saja. Gimana Din? Keberatan" aku menggeleng. "Ya boleh, tapi gue belum ada pengalaman."
"gak papa. cuma butuh kesabaran aja. Adek gue masih kelas 5 SD kok"
"Baiklah" ucapku mantap. Aku merasa sedikit lega. "Kapan gue bisa mulai kerja?"
"Besok gimana? bisa?"
"Yuups, tapi kalo waktunya kuliah, gue boleh izin?"
"Boleh, tinggal kasih gue jadwal kuliah lu aja. entar kalo pas lu kuliah, gue bisa jemput dan nganter adek gue. Gimana" aku mengangguk. Kita sudai pertemuan malam ini. Tio menawarkan diri mengantarkanku dan Tanti. Tapi aku menolak. Tapi Tanti tampak begitu antusias.Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Sepertinya dia berhasil mengerjaiku. Dari pertama tadi dia nampak cengar-cengir sendiri. "Awaaas yaaa" batinku saat melihatnya tersenyum jahil.

Aku tak bisa memejamkan mata. Bayanganku masih menerawang jauuh. Bagaimana besok au harus bersikap. Ini adalah pengalaman pertamaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar