Pagi itu tepat jam 12.20 WIB aku terjaga dari tidurku. Mataku seakan enggan mengatup. Hanya berkali-kali aksi guling badan kekiri dan kekanan itu ku lakukan. Al-hasil tak kutemukan sedikitpun ketenangan. Bergegas aku berjalan ke kamar mandi. Ritual wudhu itu telah berhasil meleburkan sedikit kegelisahan dalam hatiku. Aaah,, mushaf kudus ukuran sedang inilah sahabat karibku. Kutemukan damai disetiap sajak-sajak indahNYA. Sesekali daun telingaku melebar, menangkap desis-desis lembut dari ayah dan bundaku. Percakapan dua insan yang tengah melawan rindu yang kian membara. Rindu yang belum sepenuhnya terobati itu akan merangkai jaring-jaring rindu selanjutnya. Dua insan yang harus rela menjalin cinta kasih dalan jauh. Melebur rindu dalam do'a. Begitulah cara ayah dan bundaku menjaga ikatan suci yang telah mereka ikrarkan. Dengan berbagai keadaan, rasa syukurlah yang mereka jadikan landasan. Dan sejenak lantunan sajak indah ini tak mampu ku lantunkan. Aku berhenti sejenak. Ada rasa sakit di ulu hatiku saat daun telingaku menangkap kata yang begitu tulus darinya. Lelaki luar biasa. Sosok tegar dan kuat."Rasanya enggan kaki ini melangkah meninggalkan keluarga, meninggalkan orang-orang yang dicintai, melangkah kembali ke tempat perantauan" begitu lirih laki-laki yang kini rambut hitamnya muali bercampur warna putih. Bibirku seakan membeku. Kristal-kristal itu berhasil menetesi mushaf kecil yang dari q genggam. Hatiku bergetar mendengarnya. Seakan aku merasakan sesak yang dirasakan ayah dan bundaku.
"tok,,tok,, tok" terdengar pintu kamarku diketuk. "Nduuuk ayah mau berangkat" begitu lirih bundaku seakan tanpa semangat. aku segera beranjak. Degup jantungku serasa lebih cepat dari biasanya. Ku tahan butiran kristal yang mencoba menerobos benteng pertahananku. Hatiku menjerit. Ingin rasanya aku berteriak"jangan pergi ayaaahhh,,"
"Nduk, ayah pergi dulu ya, meneruskan kembali perjuangan ayah. Mb Dila harus semangat,,ngajinya, kuliahnya, belajarnya, menggapai mimpi-mimpinya. Seperti ayah yang tetap semangaat untuk mencari nafkah di perantauan meski sebenarnya fisik ayah ingin berkata tidak. Inilah hidup nduk. Inilah perjuangan. Jangan menyerah dengan keadaan. Jangan lemah dengan segala rintangan. Semangaaatt dan kuat itu kuncinya nduuk."Tuturnya sembari membelai lembut rambutku yang berbalut kerudung. "Taa--pii kapan ayah tidak lagi bekerja di negeri jiran? kapan ayah tetap di rumah. Bekerja disini." aku tak mampu melanjutkan kata. Ayah merengkuhku dalam pelukannya. "Percayalah nduk,, perjuangan ini tak kan sia-sia selama mb Dila dan adek tetap semangat belajar" gusti kemuruh hatiku tak mampu lagi aku bendung. Ku peluk ayahku erat. Ku kecup kedua pipinya. Dan akupun harus merelakannya melangkah meninggalkan gerbang rumah. Aku lihat ia melambaikan tangan sembari mengusap perih di kedua pipinya.
Ya,, itulah laki-laki dengan sejuta cintanya. Ia tak pernah menuntutku dengan segala kesempurnaan. Ia selalu menasehatiku dengan kelembutannya. Dengan sabar dan kasih sayang tulusnya ia mengajariku arti cinta dan kesetian. Arti kuat dan ketegaran. Aaah,,, ayah tak bisa ku paparkan bagaimana perjuangannya. Aku hanya mampu berkata, Ayah, you're my Hero
Kamis, 06 Agustus 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kamis, 06 Agustus 2015
Ayah, you're my Hero
Pagi itu tepat jam 12.20 WIB aku terjaga dari tidurku. Mataku seakan enggan mengatup. Hanya berkali-kali aksi guling badan kekiri dan kekanan itu ku lakukan. Al-hasil tak kutemukan sedikitpun ketenangan. Bergegas aku berjalan ke kamar mandi. Ritual wudhu itu telah berhasil meleburkan sedikit kegelisahan dalam hatiku. Aaah,, mushaf kudus ukuran sedang inilah sahabat karibku. Kutemukan damai disetiap sajak-sajak indahNYA. Sesekali daun telingaku melebar, menangkap desis-desis lembut dari ayah dan bundaku. Percakapan dua insan yang tengah melawan rindu yang kian membara. Rindu yang belum sepenuhnya terobati itu akan merangkai jaring-jaring rindu selanjutnya. Dua insan yang harus rela menjalin cinta kasih dalan jauh. Melebur rindu dalam do'a. Begitulah cara ayah dan bundaku menjaga ikatan suci yang telah mereka ikrarkan. Dengan berbagai keadaan, rasa syukurlah yang mereka jadikan landasan. Dan sejenak lantunan sajak indah ini tak mampu ku lantunkan. Aku berhenti sejenak. Ada rasa sakit di ulu hatiku saat daun telingaku menangkap kata yang begitu tulus darinya. Lelaki luar biasa. Sosok tegar dan kuat."Rasanya enggan kaki ini melangkah meninggalkan keluarga, meninggalkan orang-orang yang dicintai, melangkah kembali ke tempat perantauan" begitu lirih laki-laki yang kini rambut hitamnya muali bercampur warna putih. Bibirku seakan membeku. Kristal-kristal itu berhasil menetesi mushaf kecil yang dari q genggam. Hatiku bergetar mendengarnya. Seakan aku merasakan sesak yang dirasakan ayah dan bundaku.
"tok,,tok,, tok" terdengar pintu kamarku diketuk. "Nduuuk ayah mau berangkat" begitu lirih bundaku seakan tanpa semangat. aku segera beranjak. Degup jantungku serasa lebih cepat dari biasanya. Ku tahan butiran kristal yang mencoba menerobos benteng pertahananku. Hatiku menjerit. Ingin rasanya aku berteriak"jangan pergi ayaaahhh,,"
"Nduk, ayah pergi dulu ya, meneruskan kembali perjuangan ayah. Mb Dila harus semangat,,ngajinya, kuliahnya, belajarnya, menggapai mimpi-mimpinya. Seperti ayah yang tetap semangaat untuk mencari nafkah di perantauan meski sebenarnya fisik ayah ingin berkata tidak. Inilah hidup nduk. Inilah perjuangan. Jangan menyerah dengan keadaan. Jangan lemah dengan segala rintangan. Semangaaatt dan kuat itu kuncinya nduuk."Tuturnya sembari membelai lembut rambutku yang berbalut kerudung. "Taa--pii kapan ayah tidak lagi bekerja di negeri jiran? kapan ayah tetap di rumah. Bekerja disini." aku tak mampu melanjutkan kata. Ayah merengkuhku dalam pelukannya. "Percayalah nduk,, perjuangan ini tak kan sia-sia selama mb Dila dan adek tetap semangat belajar" gusti kemuruh hatiku tak mampu lagi aku bendung. Ku peluk ayahku erat. Ku kecup kedua pipinya. Dan akupun harus merelakannya melangkah meninggalkan gerbang rumah. Aku lihat ia melambaikan tangan sembari mengusap perih di kedua pipinya.
Ya,, itulah laki-laki dengan sejuta cintanya. Ia tak pernah menuntutku dengan segala kesempurnaan. Ia selalu menasehatiku dengan kelembutannya. Dengan sabar dan kasih sayang tulusnya ia mengajariku arti cinta dan kesetian. Arti kuat dan ketegaran. Aaah,,, ayah tak bisa ku paparkan bagaimana perjuangannya. Aku hanya mampu berkata, Ayah, you're my Hero
"tok,,tok,, tok" terdengar pintu kamarku diketuk. "Nduuuk ayah mau berangkat" begitu lirih bundaku seakan tanpa semangat. aku segera beranjak. Degup jantungku serasa lebih cepat dari biasanya. Ku tahan butiran kristal yang mencoba menerobos benteng pertahananku. Hatiku menjerit. Ingin rasanya aku berteriak"jangan pergi ayaaahhh,,"
"Nduk, ayah pergi dulu ya, meneruskan kembali perjuangan ayah. Mb Dila harus semangat,,ngajinya, kuliahnya, belajarnya, menggapai mimpi-mimpinya. Seperti ayah yang tetap semangaat untuk mencari nafkah di perantauan meski sebenarnya fisik ayah ingin berkata tidak. Inilah hidup nduk. Inilah perjuangan. Jangan menyerah dengan keadaan. Jangan lemah dengan segala rintangan. Semangaaatt dan kuat itu kuncinya nduuk."Tuturnya sembari membelai lembut rambutku yang berbalut kerudung. "Taa--pii kapan ayah tidak lagi bekerja di negeri jiran? kapan ayah tetap di rumah. Bekerja disini." aku tak mampu melanjutkan kata. Ayah merengkuhku dalam pelukannya. "Percayalah nduk,, perjuangan ini tak kan sia-sia selama mb Dila dan adek tetap semangat belajar" gusti kemuruh hatiku tak mampu lagi aku bendung. Ku peluk ayahku erat. Ku kecup kedua pipinya. Dan akupun harus merelakannya melangkah meninggalkan gerbang rumah. Aku lihat ia melambaikan tangan sembari mengusap perih di kedua pipinya.
Ya,, itulah laki-laki dengan sejuta cintanya. Ia tak pernah menuntutku dengan segala kesempurnaan. Ia selalu menasehatiku dengan kelembutannya. Dengan sabar dan kasih sayang tulusnya ia mengajariku arti cinta dan kesetian. Arti kuat dan ketegaran. Aaah,,, ayah tak bisa ku paparkan bagaimana perjuangannya. Aku hanya mampu berkata, Ayah, you're my Hero
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar