Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Jumat, 19 Desember 2014

Jawaban dari Tuhan




Suntuk. Satu-satunya kata yang tepat untukku saat ini. Tugas kantor yang berjibun membuat fikiranku sedikit senewen. Tapi sudahlah aku enggan mengeluh. Segera aku beranjak berwudhu. Sayang, jika waktu sepertiga malam mini kulewati dengan sia-sia.
            Baca’an Qur’anku hari ini telah sampai pada surat Al-Luqman. Aku baca ayat 12-19. Dari ayat ke 14, aku berhenti sejenak. Aku baca maknannya berulang-ulang. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.

 
Ku baca kembali ayatnya berulang-ulang. Hingga tak terasa akupun menghafalnya hingga melekat dalam hatiku. Aku merasakan kedamaian menjalar dalam benakku. Ketenangan menemaniku. Pipiku basah. Aku sesenggukan dalam hening. “Ya Rabb,, sampaikan rinduku buat kedua orang tuaku” rintihku. Ingatanku kembali pada masa perjuanganku dengan ibuku dulu.
Setelah membaca beberapa ayat. Aku beranjak. Kurebahkan tubuhku. Sembari mengingat kembali masa perjuanganku dulu. Iya hari yang benar-benar ku ingat sampai saat ini adalah pagi itu.
            Nyanyian burung gereja menemani pagiku kala itu. Kulangkahkan kakiku menuju perkebunan milik bu Narsih tetangga dekatku. Kebetulan hari ini hari minggu. Tak ada yang namanya refreshing dalam hariku. Selama aku mampu dan bisa untuk bekerja. Maka apapun ku lakukan. Tawaran untuk bekerja menjadi buruh tani di kebun bu Narsihpun tak pernah kutolak selama aku mampu. Selama halal dan tidak menjadikanku seorang peminta-minta, pekerjaan apapun yang ditawarkan pasti akan kujalani.Demi sesuap nasi dan tunggakan uang SPP yang terus mengusik fikiranku. Dua hari yang lalu aku hanya bisa terbaring di tempat tidurku. Dua hari itu pula ibuku yang bekerja mati-matian untuk biaya berobatku dan dua hari itu pula ibuku bersusah payah mencari rumput untuk tiga ekor kambingku. Tak tega aku melihatnya. Aku hanya mampu mengutuki diriku sendiri.
            Ibuku yang hanya seorang janda. Bekerja banting tulang untuk biaya hidup dan pendidikanku. Ya, dia wanita perkasa menurutku. Tak pernah ada gurat susah diraut wajahnya. Hanya senyum tulus yang selalu ia suguhkan. Bukan hanya untukku, tapi untuk semua orang. “Senyum itu ibadah nak, kalau orang susah seperti kita ini ya lebih baik terus bersyukur dan tersenyum atas apa yang kita miliki. Tak perlu mengeluh. Hidup itu indah, jika kita mampu menghayati dan mensyukuri” ucapnya beberapa waktu yang lalu. Saat aku mulai putus asa dan mengeluh dengan keadaan. Hatiku menangis mendengar apa yang diucapkannya. Kerutan dikulitnya tak pernah membuat ia enggan untuk tidak bekerja. Apapun yang bisa beliau kerjakan, pasti akan dikerjakan. Beban, tak lagi mengusik hati dan tekadnya, agar aku bisa terus sekolah.
            Pengorbanan ibulah yang membuatku enggan berhenti melangkah. Aku punya mimpi dan cita-cita yang harus ku perjuangkan. “Aku harus bisa” bisik hati kecilku. Ku ayunkan cangkul kesanganku. Tanah basah ini cukup membantu. Aku tak harus mengeluarkan banyak tenaga.
“Le[1], setelah selesai mencangkulnya bisa minta tolong panjatkan pohon kelapa?” suara bu Narsih menghentikan ayunan cangkulku. Aku menoleh. Aku mengangguk pasti. Bu Narsih tersenyum dan berlalu. Jilbab merah yang dikenakannya seakan melambai kearahku. Menyampaikan pesan yang tak boleh ku lupakan.
            Aku kembali sibuk dengan cangkulku. Genggaman tanganku tiba-tiba tak seimbang. Gang-gang cangkul yang ku pegang terlepas. Darah mengalir. Aku merasakan nyeri di sela-sela jari kakiku. Aku meringis, menutup lukaku dengan sobekan kain kaosku. Aku berdiri kembali. Kuraih cangkul. Kuselesaikan tugasku tanpa menggubris jari kakiku yang semakin nyeri. “Ya Allah,,kuatkan aku” bisik batinku berkali-kali.
            Setelah mencangkul kebun ku bergegas menuju perkebunan kelapa bu Narsih. Aku yakin masih bisa memanjat. Aku terlanjur menghiyakan. Ku dongakkan kepalaku. Pohon kelapa dihadapanku ini tidak terlalu tinggi. Pelan-pelan aku memanjat. Aku meringis menahan sakit. Ku pejampkan mataku. Hanya dengan berkali-kali membaca basmalah aku merasa lebih tenang.
            Sampaiku di rumah. Ku balut kembali lukaku yang semakin lebar. Tak ingin aku mencipta khawatir di wajah ibuku. Wanita yang teramat istimewa dan luar biasa.
“Le, kenapa kakimu?” sontak aku menoleh ke asal suara.
“Tidak apa-apa , Cuma luka biasa tidak parah kok bu.” Ibu duduk merangkulku. Mengecup hangat keningku.
“Dari pada kamu yang sakit nak, lebih baik ibu yang sakit” kedua pipinya basah. Ku usap pelan kedua pipinya. Aku paling tak kuat melihat ibu menangis.
“Sudahlah bu, Ridho tidak apa-apa. Ini Cuma luka kecil” ucapku lagi meyakinkan. Ibu hanya diam. Dia merengkuhku dalam pelukannya.
“Kau benar-benar tegas dan pekerja keras seperti ayahmu nak, ibu tak minta apa-apa. Ibu hanya ingin kau menjadi orang yang selalu sabar dan penuh kasih sayang. Jangan pernah lupakan Rabbmu. Dimanapun dan kapanpun ingatlah selalu kepadaNYA dzat yang maha segalanya. Percayalah nak ALLAH tidak akan pernah tidur. Allah akan mengganjar segala apa yang kau perbuat.”
“Do’anya ya bu,, Semoga Ridho bias menjadi orang yang seperti ibu harapkan” Hening. Aku hanya merasakan hangat dan ketulusan ibu dalam pelukannya.
            Hari ini aku hanya mampu melihat bunda lewat bingkai yang ku pajang di dinding kamar. Senyum tulus itu tak kan pernah ku lupakan. Semoga kau menjadi bidadari  untuh ayah di surga sana bunda. “Do’a ananda untuk bunda.” Ucapku sembari memandang bingkai biru muda yang ku pajang besar di dinding kamar. Kesuksessan yang ku raih saat ini adalaj jawaban Tuhan dari segala do’a yang bunda haturkan.

           


[1] Panggilan untuk anak laki-laki di jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jumat, 19 Desember 2014

Jawaban dari Tuhan




Suntuk. Satu-satunya kata yang tepat untukku saat ini. Tugas kantor yang berjibun membuat fikiranku sedikit senewen. Tapi sudahlah aku enggan mengeluh. Segera aku beranjak berwudhu. Sayang, jika waktu sepertiga malam mini kulewati dengan sia-sia.
            Baca’an Qur’anku hari ini telah sampai pada surat Al-Luqman. Aku baca ayat 12-19. Dari ayat ke 14, aku berhenti sejenak. Aku baca maknannya berulang-ulang. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.

 
Ku baca kembali ayatnya berulang-ulang. Hingga tak terasa akupun menghafalnya hingga melekat dalam hatiku. Aku merasakan kedamaian menjalar dalam benakku. Ketenangan menemaniku. Pipiku basah. Aku sesenggukan dalam hening. “Ya Rabb,, sampaikan rinduku buat kedua orang tuaku” rintihku. Ingatanku kembali pada masa perjuanganku dengan ibuku dulu.
Setelah membaca beberapa ayat. Aku beranjak. Kurebahkan tubuhku. Sembari mengingat kembali masa perjuanganku dulu. Iya hari yang benar-benar ku ingat sampai saat ini adalah pagi itu.
            Nyanyian burung gereja menemani pagiku kala itu. Kulangkahkan kakiku menuju perkebunan milik bu Narsih tetangga dekatku. Kebetulan hari ini hari minggu. Tak ada yang namanya refreshing dalam hariku. Selama aku mampu dan bisa untuk bekerja. Maka apapun ku lakukan. Tawaran untuk bekerja menjadi buruh tani di kebun bu Narsihpun tak pernah kutolak selama aku mampu. Selama halal dan tidak menjadikanku seorang peminta-minta, pekerjaan apapun yang ditawarkan pasti akan kujalani.Demi sesuap nasi dan tunggakan uang SPP yang terus mengusik fikiranku. Dua hari yang lalu aku hanya bisa terbaring di tempat tidurku. Dua hari itu pula ibuku yang bekerja mati-matian untuk biaya berobatku dan dua hari itu pula ibuku bersusah payah mencari rumput untuk tiga ekor kambingku. Tak tega aku melihatnya. Aku hanya mampu mengutuki diriku sendiri.
            Ibuku yang hanya seorang janda. Bekerja banting tulang untuk biaya hidup dan pendidikanku. Ya, dia wanita perkasa menurutku. Tak pernah ada gurat susah diraut wajahnya. Hanya senyum tulus yang selalu ia suguhkan. Bukan hanya untukku, tapi untuk semua orang. “Senyum itu ibadah nak, kalau orang susah seperti kita ini ya lebih baik terus bersyukur dan tersenyum atas apa yang kita miliki. Tak perlu mengeluh. Hidup itu indah, jika kita mampu menghayati dan mensyukuri” ucapnya beberapa waktu yang lalu. Saat aku mulai putus asa dan mengeluh dengan keadaan. Hatiku menangis mendengar apa yang diucapkannya. Kerutan dikulitnya tak pernah membuat ia enggan untuk tidak bekerja. Apapun yang bisa beliau kerjakan, pasti akan dikerjakan. Beban, tak lagi mengusik hati dan tekadnya, agar aku bisa terus sekolah.
            Pengorbanan ibulah yang membuatku enggan berhenti melangkah. Aku punya mimpi dan cita-cita yang harus ku perjuangkan. “Aku harus bisa” bisik hati kecilku. Ku ayunkan cangkul kesanganku. Tanah basah ini cukup membantu. Aku tak harus mengeluarkan banyak tenaga.
“Le[1], setelah selesai mencangkulnya bisa minta tolong panjatkan pohon kelapa?” suara bu Narsih menghentikan ayunan cangkulku. Aku menoleh. Aku mengangguk pasti. Bu Narsih tersenyum dan berlalu. Jilbab merah yang dikenakannya seakan melambai kearahku. Menyampaikan pesan yang tak boleh ku lupakan.
            Aku kembali sibuk dengan cangkulku. Genggaman tanganku tiba-tiba tak seimbang. Gang-gang cangkul yang ku pegang terlepas. Darah mengalir. Aku merasakan nyeri di sela-sela jari kakiku. Aku meringis, menutup lukaku dengan sobekan kain kaosku. Aku berdiri kembali. Kuraih cangkul. Kuselesaikan tugasku tanpa menggubris jari kakiku yang semakin nyeri. “Ya Allah,,kuatkan aku” bisik batinku berkali-kali.
            Setelah mencangkul kebun ku bergegas menuju perkebunan kelapa bu Narsih. Aku yakin masih bisa memanjat. Aku terlanjur menghiyakan. Ku dongakkan kepalaku. Pohon kelapa dihadapanku ini tidak terlalu tinggi. Pelan-pelan aku memanjat. Aku meringis menahan sakit. Ku pejampkan mataku. Hanya dengan berkali-kali membaca basmalah aku merasa lebih tenang.
            Sampaiku di rumah. Ku balut kembali lukaku yang semakin lebar. Tak ingin aku mencipta khawatir di wajah ibuku. Wanita yang teramat istimewa dan luar biasa.
“Le, kenapa kakimu?” sontak aku menoleh ke asal suara.
“Tidak apa-apa , Cuma luka biasa tidak parah kok bu.” Ibu duduk merangkulku. Mengecup hangat keningku.
“Dari pada kamu yang sakit nak, lebih baik ibu yang sakit” kedua pipinya basah. Ku usap pelan kedua pipinya. Aku paling tak kuat melihat ibu menangis.
“Sudahlah bu, Ridho tidak apa-apa. Ini Cuma luka kecil” ucapku lagi meyakinkan. Ibu hanya diam. Dia merengkuhku dalam pelukannya.
“Kau benar-benar tegas dan pekerja keras seperti ayahmu nak, ibu tak minta apa-apa. Ibu hanya ingin kau menjadi orang yang selalu sabar dan penuh kasih sayang. Jangan pernah lupakan Rabbmu. Dimanapun dan kapanpun ingatlah selalu kepadaNYA dzat yang maha segalanya. Percayalah nak ALLAH tidak akan pernah tidur. Allah akan mengganjar segala apa yang kau perbuat.”
“Do’anya ya bu,, Semoga Ridho bias menjadi orang yang seperti ibu harapkan” Hening. Aku hanya merasakan hangat dan ketulusan ibu dalam pelukannya.
            Hari ini aku hanya mampu melihat bunda lewat bingkai yang ku pajang di dinding kamar. Senyum tulus itu tak kan pernah ku lupakan. Semoga kau menjadi bidadari  untuh ayah di surga sana bunda. “Do’a ananda untuk bunda.” Ucapku sembari memandang bingkai biru muda yang ku pajang besar di dinding kamar. Kesuksessan yang ku raih saat ini adalaj jawaban Tuhan dari segala do’a yang bunda haturkan.

           


[1] Panggilan untuk anak laki-laki di jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar