Rabu, 19 Maret 2014
Cahaya Metropolitan
Menunggu. Pria berkemeja putih itu nampak berkali-kali menatap jam tangan putih yang melingkar dipergelangan tangannya. Risau. Tampak diraut mukanya. Detikkan jarum jam mewakili detak jantungnya yang berbisik pada sang waktu.
"Hhaas masih setengah jam lagi" gerutunya sendiri. Tanpa menghiraukan pandangan orang-orang di sekelilingnya. Nyanyian lagu campur sari nampaknya tak mampu sedikit memalingkan perhatiannya. Asap rokok para penghuni statiun semut tak juga membuatnya terganggu. Tetap saja ia bermain dengan gejolak hatinya. Tangan kanannya merogoh saku celana jeans abu-abu panjangnya Dari dompet kulit hitam, ia cermati foto wanita berambut pirang yang nampak mesra dengannya.
"Assalamualaikum,,,"sapa seorang wanita berkerudung biru."Assalamualaikum !!" salam kedua yang sama tak mendapatkan tanggapan. "Assalamualaikum.. mas dika .." sapa perempuan itu untuk yang ke tiga kalinya. Pria berkemeja putih itu menoleh. Raut mukanya berubah. Nama Dika tak asing baginya. Tapi perempuan yang ada di hadapannya begitu asing. Meski hatinya merasa begitu dekat.
"Mas.."sapa perempuan berkerudung biru itu. Dijentikkannya jemari didepan Dika.
"Kamu siapa?"
"Mas lupa dengan saya?" Dika mencoba menyelami memori kenangan-kenangannya. Wajah yang tak asing.
"Dinda??" Perempuan berkerudung biru itu hanya mengangguk dan tersenyum. "Tapiii.."
"Tapi kenapa mas? Ada yang beda?" Dika mengangguk. Dinda hanya tersenyum tanpa menjelaskan.
"Kita maka dulu yuk mas, nanti saya akan berbagi cerita. Kenapa saya berkerudung" meski tampak ragu-ragu. Dika beranjak menuruti pinta perempuan yang di panggilnya dinda. Hatinya di penuhi ribuan pertanyaan. Antara percaya dan tidak percaya.
Berjalan dengan perempuan berjilbab agaknya tak membuat tangan nakalnya taubat. Diraihnya tangan mungil Dinda. Dinda yang tekejut dengan segera menarik pergelangan tangannya.
"kanapa? bukankah kita masih kekasih?"
"Sepertinya saya sudah kenyang. Lebih baik kita pulang sekarang mas. Biar saya pulang naik angkot saja." tanpa menunggu jawaban Dika. Dinda berbalik arah dan segera berlari kecil mencari angkot di sekitar stasiun.
"Ada apa dengan gadis ini." Dika membatin. "Dia tampak begitu berbeda, sebenarnya apa yang terjadi. Rasa penasaranlah yang kini merajai hati Dika. Ia tak segera pulang kerumah. Mobil kijangnya ia balikkan arah menuju rumah Dinda. Mobilnya berhenti tepat dipelataran rumah Dika. Aneh. Rumah besteksturadat jawa kuno itu ramai. Banyak saudara-saudara dinda yang tak asing baginya disana.
"Eeehh nak Dika,, mana Dinda??" tanya ibu Dinda begitu mengetahui sosok Dika yang berada di ambang pintu.
"Dinda belum sampai rumah bu?? tadi dia pulang duluan naik angkot."
"Lho, kok bisa begitu. Kenapa? Kalian bertengkar? Bukannya sudah lama kalian tidak bertemu" ibu Dinda heran. Segera diajaknya Dika duduk bergabung dengan semua keluarganya.
"Assalamualaikum,,," terdengar salam seorang perempuan dibalik pintu. Semua mata terkejut. Begitu juga dengan ibu Dinda. "Ini Dinda Bu,,"
"Kau begitu berbeda sayang" Dinda menghampiri Ibunya dan memeluknya erat. Dinda terisak di pelukan Ibunya. Pelukan yang lama tk dirasakannya. Pelukan yng dirindukannya.
"Izinkanlah sejenak Dinda bercerita kenapa Dinda berjilbab bu."
....
Bersambung,,
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Rabu, 19 Maret 2014
Cahaya Metropolitan
Menunggu. Pria berkemeja putih itu nampak berkali-kali menatap jam tangan putih yang melingkar dipergelangan tangannya. Risau. Tampak diraut mukanya. Detikkan jarum jam mewakili detak jantungnya yang berbisik pada sang waktu.
"Hhaas masih setengah jam lagi" gerutunya sendiri. Tanpa menghiraukan pandangan orang-orang di sekelilingnya. Nyanyian lagu campur sari nampaknya tak mampu sedikit memalingkan perhatiannya. Asap rokok para penghuni statiun semut tak juga membuatnya terganggu. Tetap saja ia bermain dengan gejolak hatinya. Tangan kanannya merogoh saku celana jeans abu-abu panjangnya Dari dompet kulit hitam, ia cermati foto wanita berambut pirang yang nampak mesra dengannya.
"Assalamualaikum,,,"sapa seorang wanita berkerudung biru."Assalamualaikum !!" salam kedua yang sama tak mendapatkan tanggapan. "Assalamualaikum.. mas dika .." sapa perempuan itu untuk yang ke tiga kalinya. Pria berkemeja putih itu menoleh. Raut mukanya berubah. Nama Dika tak asing baginya. Tapi perempuan yang ada di hadapannya begitu asing. Meski hatinya merasa begitu dekat.
"Mas.."sapa perempuan berkerudung biru itu. Dijentikkannya jemari didepan Dika.
"Kamu siapa?"
"Mas lupa dengan saya?" Dika mencoba menyelami memori kenangan-kenangannya. Wajah yang tak asing.
"Dinda??" Perempuan berkerudung biru itu hanya mengangguk dan tersenyum. "Tapiii.."
"Tapi kenapa mas? Ada yang beda?" Dika mengangguk. Dinda hanya tersenyum tanpa menjelaskan.
"Kita maka dulu yuk mas, nanti saya akan berbagi cerita. Kenapa saya berkerudung" meski tampak ragu-ragu. Dika beranjak menuruti pinta perempuan yang di panggilnya dinda. Hatinya di penuhi ribuan pertanyaan. Antara percaya dan tidak percaya.
Berjalan dengan perempuan berjilbab agaknya tak membuat tangan nakalnya taubat. Diraihnya tangan mungil Dinda. Dinda yang tekejut dengan segera menarik pergelangan tangannya.
"kanapa? bukankah kita masih kekasih?"
"Sepertinya saya sudah kenyang. Lebih baik kita pulang sekarang mas. Biar saya pulang naik angkot saja." tanpa menunggu jawaban Dika. Dinda berbalik arah dan segera berlari kecil mencari angkot di sekitar stasiun.
"Ada apa dengan gadis ini." Dika membatin. "Dia tampak begitu berbeda, sebenarnya apa yang terjadi. Rasa penasaranlah yang kini merajai hati Dika. Ia tak segera pulang kerumah. Mobil kijangnya ia balikkan arah menuju rumah Dinda. Mobilnya berhenti tepat dipelataran rumah Dika. Aneh. Rumah besteksturadat jawa kuno itu ramai. Banyak saudara-saudara dinda yang tak asing baginya disana.
"Eeehh nak Dika,, mana Dinda??" tanya ibu Dinda begitu mengetahui sosok Dika yang berada di ambang pintu.
"Dinda belum sampai rumah bu?? tadi dia pulang duluan naik angkot."
"Lho, kok bisa begitu. Kenapa? Kalian bertengkar? Bukannya sudah lama kalian tidak bertemu" ibu Dinda heran. Segera diajaknya Dika duduk bergabung dengan semua keluarganya.
"Assalamualaikum,,," terdengar salam seorang perempuan dibalik pintu. Semua mata terkejut. Begitu juga dengan ibu Dinda. "Ini Dinda Bu,,"
"Kau begitu berbeda sayang" Dinda menghampiri Ibunya dan memeluknya erat. Dinda terisak di pelukan Ibunya. Pelukan yang lama tk dirasakannya. Pelukan yng dirindukannya.
"Izinkanlah sejenak Dinda bercerita kenapa Dinda berjilbab bu."
....
Bersambung,,
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar