Kamis, 13 Maret 2014
Belajar tentang Kesetiaan
Jika berbicara tentang kesetiaan, mungkin tak akan jauh-jauh dari kata ketulusan. Ada yang bilang kesetiaan itu adalah sebuah perjuangan.Perjuangan untuk tetap bertahan dengan pilihan. Perjuangan untuk tetap menjaga ikatan ( bagi mereka yang dilanda kata kasmaran). Yah seperti itulah jika kata setia telah tersemat. Seakan tak ada lagi kata curiga. Sebuah rasa yang dipadukan dengan keikhlasan dan kesabaran.
Akan panjang jika kita bahas itu semua. Cukup saja kau tau setia itu tak hanya untuk belahan jiwa saja, kekasihlah tepatnya atau yang sering disebut pacar. Hmmm tidak ada yang bisa disalahkan jika jiwa-jiwa muda itu mulai terikat dengan rasa yang nano-nano (Wuuiiih enak tuuh asem2 manis hehehe) tapi sepertinya kita juga harus pandai-pandai jaga diri dan jaga hati. Jangan sampai kata setia dijadikan alasan untuk kita merelakan segalanya. Kalian pasti tau apa maksudku merelakan segalanya,,, merelakan mahkota berharga (bagi yang cewek nih) kepada para penjahat cinta yang berlebel setia. Huuuffftt terlalu ciut kalau kitamengartikan setia hanya sebatas itu saja.
Setia itu banyak guys.. Gak harus dengan pacar kok. TApi juga pada sahabat, partner kerja, dan banyak lagi. Sebenarnya kita bisa belajar setia dari kedua ortu kita. Dari kesabaran, keikhlasan dan pengorbanan mereka. Pernah nggak kalian berfikir tentang bagaimana perasaan ortu kita, satu hari dalam agenda harianmu mungkin atau satu jam saja,, atau 1 meniit saja. Pernah nggak berfikir kalau kalian itu lagi menabung kekecewaan di hatimereka, saat kamu lagi asyik ngobrol gak jelas ngalor-ngidul, lagi ngabisin jatah bulanan buat beliin pacar kosmetik atau baju baru, lagi males-malesan ato ogah-ogahan buat masuk kuliah atau sekolah. Eiiitttss penulis bilang sgini bukanberarti penulis gak pernah ngalamin lhoo !!! pernah kok rasa malas itu hadir. TApi ya kudu dipikir lagi kita ini lagi memegang harapan kedua ortu kita.
Coba deh belajar setia kaya ortu kita. Meski berkali-kali kita salah, berkali-kali buat airmata beharga mengalir, berkali-kali mengukir kekecewaan. Tetap saja mereka sayang sama kita. Selalu setia menanti perubahan kita, selalu setia mema'afkan kesalahan kita yang berulang-ulang kali, selalu setiamenasehati dan ngingetin kita. Hmmm banyak banget deh pkoknya. Lha kalo dah gitu masih mau terus-terusan buat mereka kecewa ??? Kalau mereka bisa mengamalkan ilmu setia,, kenapa kita tidak ??
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kamis, 13 Maret 2014
Belajar tentang Kesetiaan
Jika berbicara tentang kesetiaan, mungkin tak akan jauh-jauh dari kata ketulusan. Ada yang bilang kesetiaan itu adalah sebuah perjuangan.Perjuangan untuk tetap bertahan dengan pilihan. Perjuangan untuk tetap menjaga ikatan ( bagi mereka yang dilanda kata kasmaran). Yah seperti itulah jika kata setia telah tersemat. Seakan tak ada lagi kata curiga. Sebuah rasa yang dipadukan dengan keikhlasan dan kesabaran.
Akan panjang jika kita bahas itu semua. Cukup saja kau tau setia itu tak hanya untuk belahan jiwa saja, kekasihlah tepatnya atau yang sering disebut pacar. Hmmm tidak ada yang bisa disalahkan jika jiwa-jiwa muda itu mulai terikat dengan rasa yang nano-nano (Wuuiiih enak tuuh asem2 manis hehehe) tapi sepertinya kita juga harus pandai-pandai jaga diri dan jaga hati. Jangan sampai kata setia dijadikan alasan untuk kita merelakan segalanya. Kalian pasti tau apa maksudku merelakan segalanya,,, merelakan mahkota berharga (bagi yang cewek nih) kepada para penjahat cinta yang berlebel setia. Huuuffftt terlalu ciut kalau kitamengartikan setia hanya sebatas itu saja.
Setia itu banyak guys.. Gak harus dengan pacar kok. TApi juga pada sahabat, partner kerja, dan banyak lagi. Sebenarnya kita bisa belajar setia dari kedua ortu kita. Dari kesabaran, keikhlasan dan pengorbanan mereka. Pernah nggak kalian berfikir tentang bagaimana perasaan ortu kita, satu hari dalam agenda harianmu mungkin atau satu jam saja,, atau 1 meniit saja. Pernah nggak berfikir kalau kalian itu lagi menabung kekecewaan di hatimereka, saat kamu lagi asyik ngobrol gak jelas ngalor-ngidul, lagi ngabisin jatah bulanan buat beliin pacar kosmetik atau baju baru, lagi males-malesan ato ogah-ogahan buat masuk kuliah atau sekolah. Eiiitttss penulis bilang sgini bukanberarti penulis gak pernah ngalamin lhoo !!! pernah kok rasa malas itu hadir. TApi ya kudu dipikir lagi kita ini lagi memegang harapan kedua ortu kita.
Coba deh belajar setia kaya ortu kita. Meski berkali-kali kita salah, berkali-kali buat airmata beharga mengalir, berkali-kali mengukir kekecewaan. Tetap saja mereka sayang sama kita. Selalu setia menanti perubahan kita, selalu setia mema'afkan kesalahan kita yang berulang-ulang kali, selalu setiamenasehati dan ngingetin kita. Hmmm banyak banget deh pkoknya. Lha kalo dah gitu masih mau terus-terusan buat mereka kecewa ??? Kalau mereka bisa mengamalkan ilmu setia,, kenapa kita tidak ??
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar