Entah dimulai dari mana jika harus berbicara tentang cinta. Sepertinya rasa itu telah menjelma menjadi topik yang tak hanya diperbincangkan oleh orang-orang dewasa saja. Tapi banyak kalangan. Bahkan anak ABG pun cenderung gandrung dengan kata yang satu ini. Banyak dari mereka yang harus putus sekolah hanya karena masalah cinta. Harus memendam cita-cita yang telah terukir demi sebuah hasrat untuk memiliki.
Teringat masa aku berseragam putih abu-abu dulu. Dimana semua orang sibuk memperbincangkan masalah cinta. Hingga tiap waktu istirahatpun tidak hanya di kantin di ruang kelaspun, topik itu memjadi bahan pokok pembicara'an.
Pernah suatu ketika sahabatku yang kerap di panggil mocin itu terlihat murung dan uring-uringan. Semangat yang terpancar seakan bersembunyi di balik senyum yang dipaksakan. Waktu aku bertanya kepadanya " kamu kenapa?" dia hanya diam. Menatapku denga peluh di ujung matanya. "Aku benci dengan wanita"timpalnya.
"kenapa? berarti kamu benci juga sama aku?'' ucapku sedikit menahan rasa sabar.
"Tidak semua. TApi kau tau sahabat gadis yang teramat diam itu. Kini pergi dengan menancapkan seribu sembilu dalam peluhku, haaah aku bosan dengan kata maaf yang tiap kali dia ucapkan di balik sikap munafiknya itu. Aku hanya mampu berkata cinta itu omong kosong." aku resapi apa yang ia rasakan. Kubiarkan dia sejenak dengan amarahnya. Ku katakan padanya bahwa cinta memang demikian. Jika memang sudah siap untuk merasakan bahagia dan kecewa maka rasa cinta itu hadir sebagai jembatan pembentukan mental.
Pernah juga aku diajaknya hadir ke acara pernikahan mantan kekasinya itu. Hanya dengan tertunduk dia berjalan di sebelahku. Senyum palsu yang harus di suguhkannya. Rasa malu yang harus disimpan saat semua teman mengulang kembali kisah cinta masa purbanya. Aku seakan merasakan sakit yang ia rasakan. Apalagi saat mempelai perempuan menyambutnya dengan menggandeng mesra tangan imam hidupnya. Tak tau bagaimana aku mengungkapkannya. Yang jelas aku hanya melihatnya terus tertunduk.
Benar memang kawan, cinta itu mampu mengubah segalanya. Orang yang kuat menjadi lemah dan orang yang lemah menjadi kuat.. Semua tergantung bagaimana kita mampu menyikapinya.
Jumat, 27 Desember 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Jumat, 27 Desember 2013
CINTA ??
Entah dimulai dari mana jika harus berbicara tentang cinta. Sepertinya rasa itu telah menjelma menjadi topik yang tak hanya diperbincangkan oleh orang-orang dewasa saja. Tapi banyak kalangan. Bahkan anak ABG pun cenderung gandrung dengan kata yang satu ini. Banyak dari mereka yang harus putus sekolah hanya karena masalah cinta. Harus memendam cita-cita yang telah terukir demi sebuah hasrat untuk memiliki.
Teringat masa aku berseragam putih abu-abu dulu. Dimana semua orang sibuk memperbincangkan masalah cinta. Hingga tiap waktu istirahatpun tidak hanya di kantin di ruang kelaspun, topik itu memjadi bahan pokok pembicara'an.
Pernah suatu ketika sahabatku yang kerap di panggil mocin itu terlihat murung dan uring-uringan. Semangat yang terpancar seakan bersembunyi di balik senyum yang dipaksakan. Waktu aku bertanya kepadanya " kamu kenapa?" dia hanya diam. Menatapku denga peluh di ujung matanya. "Aku benci dengan wanita"timpalnya.
"kenapa? berarti kamu benci juga sama aku?'' ucapku sedikit menahan rasa sabar.
"Tidak semua. TApi kau tau sahabat gadis yang teramat diam itu. Kini pergi dengan menancapkan seribu sembilu dalam peluhku, haaah aku bosan dengan kata maaf yang tiap kali dia ucapkan di balik sikap munafiknya itu. Aku hanya mampu berkata cinta itu omong kosong." aku resapi apa yang ia rasakan. Kubiarkan dia sejenak dengan amarahnya. Ku katakan padanya bahwa cinta memang demikian. Jika memang sudah siap untuk merasakan bahagia dan kecewa maka rasa cinta itu hadir sebagai jembatan pembentukan mental.
Pernah juga aku diajaknya hadir ke acara pernikahan mantan kekasinya itu. Hanya dengan tertunduk dia berjalan di sebelahku. Senyum palsu yang harus di suguhkannya. Rasa malu yang harus disimpan saat semua teman mengulang kembali kisah cinta masa purbanya. Aku seakan merasakan sakit yang ia rasakan. Apalagi saat mempelai perempuan menyambutnya dengan menggandeng mesra tangan imam hidupnya. Tak tau bagaimana aku mengungkapkannya. Yang jelas aku hanya melihatnya terus tertunduk.
Benar memang kawan, cinta itu mampu mengubah segalanya. Orang yang kuat menjadi lemah dan orang yang lemah menjadi kuat.. Semua tergantung bagaimana kita mampu menyikapinya.
Teringat masa aku berseragam putih abu-abu dulu. Dimana semua orang sibuk memperbincangkan masalah cinta. Hingga tiap waktu istirahatpun tidak hanya di kantin di ruang kelaspun, topik itu memjadi bahan pokok pembicara'an.
Pernah suatu ketika sahabatku yang kerap di panggil mocin itu terlihat murung dan uring-uringan. Semangat yang terpancar seakan bersembunyi di balik senyum yang dipaksakan. Waktu aku bertanya kepadanya " kamu kenapa?" dia hanya diam. Menatapku denga peluh di ujung matanya. "Aku benci dengan wanita"timpalnya.
"kenapa? berarti kamu benci juga sama aku?'' ucapku sedikit menahan rasa sabar.
"Tidak semua. TApi kau tau sahabat gadis yang teramat diam itu. Kini pergi dengan menancapkan seribu sembilu dalam peluhku, haaah aku bosan dengan kata maaf yang tiap kali dia ucapkan di balik sikap munafiknya itu. Aku hanya mampu berkata cinta itu omong kosong." aku resapi apa yang ia rasakan. Kubiarkan dia sejenak dengan amarahnya. Ku katakan padanya bahwa cinta memang demikian. Jika memang sudah siap untuk merasakan bahagia dan kecewa maka rasa cinta itu hadir sebagai jembatan pembentukan mental.
Pernah juga aku diajaknya hadir ke acara pernikahan mantan kekasinya itu. Hanya dengan tertunduk dia berjalan di sebelahku. Senyum palsu yang harus di suguhkannya. Rasa malu yang harus disimpan saat semua teman mengulang kembali kisah cinta masa purbanya. Aku seakan merasakan sakit yang ia rasakan. Apalagi saat mempelai perempuan menyambutnya dengan menggandeng mesra tangan imam hidupnya. Tak tau bagaimana aku mengungkapkannya. Yang jelas aku hanya melihatnya terus tertunduk.
Benar memang kawan, cinta itu mampu mengubah segalanya. Orang yang kuat menjadi lemah dan orang yang lemah menjadi kuat.. Semua tergantung bagaimana kita mampu menyikapinya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar