FLP MALIKI
07-04-2013 15:51
Celoteh
segerombol mahasantri kala itu menerobos celah-celah embun pagi. Tawa-tawa
renyah itu mulai melempem tat kala rasa lelah menelusup tulang kaki. Langkah
kaki mencari alur menuju gedung serbaguna sedikit menyematkan tumpukan gerutu
kekesalan. Mondar-mandir bertanya ke penduduk sekitar taman merjosari. Rasa
jengkel sedikit terealisasi saat mata tertuju pada gedung ber cat hijau muda
yang terdapat tulisan FLP Uin Maliki Malang. Ya, tidak salah lagi. Itulah
gedung yang kita cari. Sambutan senyum ceria dari panitia OR FLP Uin Maliki
mengembangkan kuncup-kuncup kecemberutan. Tegur sapa dan perkenalan antar calon
anggota FLP Uin Maliki menjadi pemandangan di forum kecil itu. Forum kecil yang
dihadiri kurang lebih 90 calon anggota baru FLP Uin Maliki. Namun ada yang
berbeda. Terus kuamati dan kulirikkan mataku kekanan-kekiri. Bak ditektif conan
mencari alibi. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan.
Cukup. Hanya 9. Tak lebih dan tak kurang. Kugigit bibir bawahku. Benar-benar
tak dapat dipercaya. Hanya 9 orang panitia OR FLP Uin Maliki. Jumlah yang minim
sekali. Apa karena sebuah forum kecil hingga jarang ada yang berminat
berkecimpung didalamnya. Tapi senyum tulus mereka benar-benar membuatku yakin
mereka adalah orang-orang hebat yang mampu bertahan dalam eliminasi alam. Melihat mereka mengingatkanku
pada tokoh 9 wali. Mungkin bedanya kalau 9 wali berjuang dalam menyebarkan
islam. Kalau mereka berjuang mempertahankan dan mengembangkan FLP Uin Maliki.
Benar-benar berhasil membuatku berdecak kagum. (^_^)
Kekecewaan
singgah di hati calon anggota FLP Uin Maliki saat mas Fahri selaku ketua FLP
Uin Maliki mengumumkan bahwa kedua pemateri berhalangan hadir. Seketika mas
Fahri mencoba menghidupkan suasana. Sembari menggenggap mikorofon. Ia kisahkan
perjalanan FLP Uin Maliki. Program-program kerja dipaparkannya panjang lebar.
Dengan sedikit sentuhan motivasi. “Karya seorang penulis akan tetap hidup
meskipun dia sudah mati” begitu tuturnya yang merupakan filosofi seorang
penulis. Juga tak luput ia perkenalkan rekannya seorang ketua FLP MALANG. Mas
Mahfud namannya. Ada yang sama dari kedua ketua FLP ini. Merka sama-sama
berkaca mata. Yang membedakan hanya kecondongan keduannya. Mas Fahri lebih
condong ke satra dan mas Mahfud lebih condong ke cerita humor. Itulah uniknya
FLP. Ada beragam imajinasi disana.
Gema tepuk
tangan memenuhi gedung serbaguna. Senyum mengembang lebar menampakkan
barisan-barisan putih berjejer rapi. Tak ada beban. Sang pemateri yang kerap
dipanggil Masdar Zainal itu telah menggenggam ribuan motivasi. Seorang penulis
cerpen dan novel sekaligus seorang guru anak kelas satu SD ini terkesan sangat
santai. Gaya pakaiannya yang rapi manambah kesan kewibawaannya. Sesekali senyum
mengiringi suntikan stimulusnya. “Suarakan pikiranmu pada dunia, biarkan penamu
berbicara, menyampaikan kata-kata yang pemalu” itu kata-kata pertamannya saat
menyampaikan materi tentang dasar-dasar kepenulisan. Perjalanannya menuju dunia
imajinatif tak pernah ia duga. Seorang alumni Uin Maliki Malang jurusan PAI ini
tak pernah mempunyai impian untuk jadi seorang penulis. Berawal dari banyaknya
waktu kosong setelah ujian skripsi. Ia mencoba menuangkan tarian kata-katanya.
Berkali-kali ia jatuh. Berkali-kali ditolak media. Berkali-kali mondar-mandir
ke rental. Tak membuatnya jera untuk terus berkarya. “Penolakan karya bukanlah
kiamat” ucapnya. Berbagai tips di beberkannya.
“MALAS obati dengan KEDISIPLINAN”
“TAKUT obati dengan TERUS MENCOBA”
“TIDAk BISA obati dengan TERUS BERKARYA”
“TAK TAHU obati dengan TERUS MEMBACA”
Kata-kata yang terjebak dalam memory otakku. Terus bersemayam
dan mengalahkan sedikit rasa malasku.
Pemateri
selanjutnya tak kalah heboh. Laki-laki berambut agak gelombang. Bertubuh
sedikit bulat dan tingginya kira-kira 160cm. Bermata lebar dan berwajah oval
ini kerap disapa dengan nama yang tak asing. Mas Hafid. Seorang mahasiswa Uin
Maliki semester 8 jurusan ekonomi ini ternyata berjiwa sastra. Sifatnya yang humoris membuat orang betah
lama-lama didekatnya. Penyampaian materi tentang diksi terasa hidup saat ia
mengkoarkan “Apa arti diksi menurut kalian? Saya minta jawaban yang nakal, yang
nyleneh, tapi masuk akal” begitu ucapnya sembari mondar-mandir kebelakang dan
kedepan calon anggota baru FLP Uin Maliki.
“Diksi itu selingkuhan kata”
“Diksi itu nyawa tulisan kita”
“Diksi itu oksigen kehidupan” diksi itu bla,,,bla,,bla,,
begitu seterusnya. Mereka saling bersahut-sahutan menanggapi pertannyaan mas
hafid. Tidak berhenti dari situ. Mas Hafid terus memacu daya fikir kami. Bagai
mengolah adonan kue. Terus ia putar kata. Dengan tanpa ba-bi-bu dia menyuruh
kami untuk membuat rangkaian kata ini itu. Sedikit membuatku pusing. Kemampuan
mengarangku yang masih kurang. Tak bisa jika langsung dipaksakan. Dibatasi
waktu. Dan di tentukan. Karena bagiku mengarangku terserah bagaimana mauku.
Tentang apa kisah yang ku torehkan. Perkara apa yang ku jabarkan. Karena aku
masih belajar. Di forum ini ku tanam ke yakinan kelak akupun bisa seperti
mereka. Menciptakan karya dengan berbagai ketentuan dan batasan. FLP Maliki.
Disini aku akan berproses.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar