Ini Ceritaku Mana Ceritamu

Cerpen (9) Bebas (6) Surat (6) puisi (2) Hariku (1)

Selasa, 09 April 2013

FLP MALIKI

FLP MALIKI
            07-04-2013  15:51
            Celoteh segerombol mahasantri kala itu menerobos celah-celah embun pagi. Tawa-tawa renyah itu mulai melempem tat kala rasa lelah menelusup tulang kaki. Langkah kaki mencari alur menuju gedung serbaguna sedikit menyematkan tumpukan gerutu kekesalan. Mondar-mandir bertanya ke penduduk sekitar taman merjosari. Rasa jengkel sedikit terealisasi saat mata tertuju pada gedung ber cat hijau muda yang terdapat tulisan FLP Uin Maliki Malang. Ya, tidak salah lagi. Itulah gedung yang kita cari. Sambutan senyum ceria dari panitia OR FLP Uin Maliki mengembangkan kuncup-kuncup kecemberutan. Tegur sapa dan perkenalan antar calon anggota FLP Uin Maliki menjadi pemandangan di forum kecil itu. Forum kecil yang dihadiri kurang lebih 90 calon anggota baru FLP Uin Maliki. Namun ada yang berbeda. Terus kuamati dan kulirikkan mataku kekanan-kekiri. Bak ditektif conan mencari alibi. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan. Cukup. Hanya 9. Tak lebih dan tak kurang. Kugigit bibir bawahku. Benar-benar tak dapat dipercaya. Hanya 9 orang panitia OR FLP Uin Maliki. Jumlah yang minim sekali. Apa karena sebuah forum kecil hingga jarang ada yang berminat berkecimpung didalamnya. Tapi senyum tulus mereka benar-benar membuatku yakin mereka adalah orang-orang hebat yang mampu bertahan dalam  eliminasi alam. Melihat mereka mengingatkanku pada tokoh 9 wali. Mungkin bedanya kalau 9 wali berjuang dalam menyebarkan islam. Kalau mereka berjuang mempertahankan dan mengembangkan FLP Uin Maliki. Benar-benar berhasil membuatku berdecak kagum. (^_^)
            Kekecewaan singgah di hati calon anggota FLP Uin Maliki saat mas Fahri selaku ketua FLP Uin Maliki mengumumkan bahwa kedua pemateri berhalangan hadir. Seketika mas Fahri mencoba menghidupkan suasana. Sembari menggenggap mikorofon. Ia kisahkan perjalanan FLP Uin Maliki. Program-program kerja dipaparkannya panjang lebar. Dengan sedikit sentuhan motivasi. “Karya seorang penulis akan tetap hidup meskipun dia sudah mati” begitu tuturnya yang merupakan filosofi seorang penulis. Juga tak luput ia perkenalkan rekannya seorang ketua FLP MALANG. Mas Mahfud namannya. Ada yang sama dari kedua ketua FLP ini. Merka sama-sama berkaca mata. Yang membedakan hanya kecondongan keduannya. Mas Fahri lebih condong ke satra dan mas Mahfud lebih condong ke cerita humor. Itulah uniknya FLP. Ada beragam imajinasi disana.
            Gema tepuk tangan memenuhi gedung serbaguna. Senyum mengembang lebar menampakkan barisan-barisan putih berjejer rapi. Tak ada beban. Sang pemateri yang kerap dipanggil Masdar Zainal itu telah menggenggam ribuan motivasi. Seorang penulis cerpen dan novel sekaligus seorang guru anak kelas satu SD ini terkesan sangat santai. Gaya pakaiannya yang rapi manambah kesan kewibawaannya. Sesekali senyum mengiringi suntikan stimulusnya. “Suarakan pikiranmu pada dunia, biarkan penamu berbicara, menyampaikan kata-kata yang pemalu” itu kata-kata pertamannya saat menyampaikan materi tentang dasar-dasar kepenulisan. Perjalanannya menuju dunia imajinatif tak pernah ia duga. Seorang alumni Uin Maliki Malang jurusan PAI ini tak pernah mempunyai impian untuk jadi seorang penulis. Berawal dari banyaknya waktu kosong setelah ujian skripsi. Ia mencoba menuangkan tarian kata-katanya. Berkali-kali ia jatuh. Berkali-kali ditolak media. Berkali-kali mondar-mandir ke rental. Tak membuatnya jera untuk terus berkarya. “Penolakan karya bukanlah kiamat” ucapnya. Berbagai tips di beberkannya.
“MALAS obati dengan KEDISIPLINAN”
“TAKUT obati dengan TERUS MENCOBA”
“TIDAk BISA obati dengan TERUS BERKARYA”
“TAK TAHU obati dengan TERUS MEMBACA”
Kata-kata yang terjebak dalam memory otakku. Terus bersemayam dan mengalahkan sedikit rasa malasku.
            Pemateri selanjutnya tak kalah heboh. Laki-laki berambut agak gelombang. Bertubuh sedikit bulat dan tingginya kira-kira 160cm. Bermata lebar dan berwajah oval ini kerap disapa dengan nama yang tak asing. Mas Hafid. Seorang mahasiswa Uin Maliki semester 8 jurusan ekonomi ini ternyata berjiwa sastra.  Sifatnya yang humoris membuat orang betah lama-lama didekatnya. Penyampaian materi tentang diksi terasa hidup saat ia mengkoarkan “Apa arti diksi menurut kalian? Saya minta jawaban yang nakal, yang nyleneh, tapi masuk akal” begitu ucapnya sembari mondar-mandir kebelakang dan kedepan calon anggota baru FLP Uin Maliki.
“Diksi itu selingkuhan kata”
“Diksi itu nyawa tulisan kita”
“Diksi itu oksigen kehidupan” diksi itu bla,,,bla,,bla,, begitu seterusnya. Mereka saling bersahut-sahutan menanggapi pertannyaan mas hafid. Tidak berhenti dari situ. Mas Hafid terus memacu daya fikir kami. Bagai mengolah adonan kue. Terus ia putar kata. Dengan tanpa ba-bi-bu dia menyuruh kami untuk membuat rangkaian kata ini itu. Sedikit membuatku pusing. Kemampuan mengarangku yang masih kurang. Tak bisa jika langsung dipaksakan. Dibatasi waktu. Dan di tentukan. Karena bagiku mengarangku terserah bagaimana mauku. Tentang apa kisah yang ku torehkan. Perkara apa yang ku jabarkan. Karena aku masih belajar. Di forum ini ku tanam ke yakinan kelak akupun bisa seperti mereka. Menciptakan karya dengan berbagai ketentuan dan batasan. FLP Maliki. Disini aku akan berproses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selasa, 09 April 2013

FLP MALIKI

FLP MALIKI
            07-04-2013  15:51
            Celoteh segerombol mahasantri kala itu menerobos celah-celah embun pagi. Tawa-tawa renyah itu mulai melempem tat kala rasa lelah menelusup tulang kaki. Langkah kaki mencari alur menuju gedung serbaguna sedikit menyematkan tumpukan gerutu kekesalan. Mondar-mandir bertanya ke penduduk sekitar taman merjosari. Rasa jengkel sedikit terealisasi saat mata tertuju pada gedung ber cat hijau muda yang terdapat tulisan FLP Uin Maliki Malang. Ya, tidak salah lagi. Itulah gedung yang kita cari. Sambutan senyum ceria dari panitia OR FLP Uin Maliki mengembangkan kuncup-kuncup kecemberutan. Tegur sapa dan perkenalan antar calon anggota FLP Uin Maliki menjadi pemandangan di forum kecil itu. Forum kecil yang dihadiri kurang lebih 90 calon anggota baru FLP Uin Maliki. Namun ada yang berbeda. Terus kuamati dan kulirikkan mataku kekanan-kekiri. Bak ditektif conan mencari alibi. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan. Cukup. Hanya 9. Tak lebih dan tak kurang. Kugigit bibir bawahku. Benar-benar tak dapat dipercaya. Hanya 9 orang panitia OR FLP Uin Maliki. Jumlah yang minim sekali. Apa karena sebuah forum kecil hingga jarang ada yang berminat berkecimpung didalamnya. Tapi senyum tulus mereka benar-benar membuatku yakin mereka adalah orang-orang hebat yang mampu bertahan dalam  eliminasi alam. Melihat mereka mengingatkanku pada tokoh 9 wali. Mungkin bedanya kalau 9 wali berjuang dalam menyebarkan islam. Kalau mereka berjuang mempertahankan dan mengembangkan FLP Uin Maliki. Benar-benar berhasil membuatku berdecak kagum. (^_^)
            Kekecewaan singgah di hati calon anggota FLP Uin Maliki saat mas Fahri selaku ketua FLP Uin Maliki mengumumkan bahwa kedua pemateri berhalangan hadir. Seketika mas Fahri mencoba menghidupkan suasana. Sembari menggenggap mikorofon. Ia kisahkan perjalanan FLP Uin Maliki. Program-program kerja dipaparkannya panjang lebar. Dengan sedikit sentuhan motivasi. “Karya seorang penulis akan tetap hidup meskipun dia sudah mati” begitu tuturnya yang merupakan filosofi seorang penulis. Juga tak luput ia perkenalkan rekannya seorang ketua FLP MALANG. Mas Mahfud namannya. Ada yang sama dari kedua ketua FLP ini. Merka sama-sama berkaca mata. Yang membedakan hanya kecondongan keduannya. Mas Fahri lebih condong ke satra dan mas Mahfud lebih condong ke cerita humor. Itulah uniknya FLP. Ada beragam imajinasi disana.
            Gema tepuk tangan memenuhi gedung serbaguna. Senyum mengembang lebar menampakkan barisan-barisan putih berjejer rapi. Tak ada beban. Sang pemateri yang kerap dipanggil Masdar Zainal itu telah menggenggam ribuan motivasi. Seorang penulis cerpen dan novel sekaligus seorang guru anak kelas satu SD ini terkesan sangat santai. Gaya pakaiannya yang rapi manambah kesan kewibawaannya. Sesekali senyum mengiringi suntikan stimulusnya. “Suarakan pikiranmu pada dunia, biarkan penamu berbicara, menyampaikan kata-kata yang pemalu” itu kata-kata pertamannya saat menyampaikan materi tentang dasar-dasar kepenulisan. Perjalanannya menuju dunia imajinatif tak pernah ia duga. Seorang alumni Uin Maliki Malang jurusan PAI ini tak pernah mempunyai impian untuk jadi seorang penulis. Berawal dari banyaknya waktu kosong setelah ujian skripsi. Ia mencoba menuangkan tarian kata-katanya. Berkali-kali ia jatuh. Berkali-kali ditolak media. Berkali-kali mondar-mandir ke rental. Tak membuatnya jera untuk terus berkarya. “Penolakan karya bukanlah kiamat” ucapnya. Berbagai tips di beberkannya.
“MALAS obati dengan KEDISIPLINAN”
“TAKUT obati dengan TERUS MENCOBA”
“TIDAk BISA obati dengan TERUS BERKARYA”
“TAK TAHU obati dengan TERUS MEMBACA”
Kata-kata yang terjebak dalam memory otakku. Terus bersemayam dan mengalahkan sedikit rasa malasku.
            Pemateri selanjutnya tak kalah heboh. Laki-laki berambut agak gelombang. Bertubuh sedikit bulat dan tingginya kira-kira 160cm. Bermata lebar dan berwajah oval ini kerap disapa dengan nama yang tak asing. Mas Hafid. Seorang mahasiswa Uin Maliki semester 8 jurusan ekonomi ini ternyata berjiwa sastra.  Sifatnya yang humoris membuat orang betah lama-lama didekatnya. Penyampaian materi tentang diksi terasa hidup saat ia mengkoarkan “Apa arti diksi menurut kalian? Saya minta jawaban yang nakal, yang nyleneh, tapi masuk akal” begitu ucapnya sembari mondar-mandir kebelakang dan kedepan calon anggota baru FLP Uin Maliki.
“Diksi itu selingkuhan kata”
“Diksi itu nyawa tulisan kita”
“Diksi itu oksigen kehidupan” diksi itu bla,,,bla,,bla,, begitu seterusnya. Mereka saling bersahut-sahutan menanggapi pertannyaan mas hafid. Tidak berhenti dari situ. Mas Hafid terus memacu daya fikir kami. Bagai mengolah adonan kue. Terus ia putar kata. Dengan tanpa ba-bi-bu dia menyuruh kami untuk membuat rangkaian kata ini itu. Sedikit membuatku pusing. Kemampuan mengarangku yang masih kurang. Tak bisa jika langsung dipaksakan. Dibatasi waktu. Dan di tentukan. Karena bagiku mengarangku terserah bagaimana mauku. Tentang apa kisah yang ku torehkan. Perkara apa yang ku jabarkan. Karena aku masih belajar. Di forum ini ku tanam ke yakinan kelak akupun bisa seperti mereka. Menciptakan karya dengan berbagai ketentuan dan batasan. FLP Maliki. Disini aku akan berproses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar